Kenapa di awali dengan Bismillah ??

Posted: April 23, 2013 in NGAJI ONLINE

Bismillah

Ada beberapa alasan para ulama memulai dalam tulisan dan karya-karya-nya selalu dengan Bismillah / Basmalah. Sebenarnya kalimat Basmalah itu sendiri bukan sebuah singkatan dari Bismillahirrahmaanirrahiim tapi Basmalah adalah kalimat Masdar.

Adapun alasan-alasan dan sandaran selalu dimulai dengan Bismillah dalam karya-karya tulisnya karena :

1.             Mengikuti pola Kitab yang agung ( اقتداء بالكتاب العزيز) yaitu Al-Quran khususnya, dan menurut beberapa keterangan bahwa semua Kitab yang di turunkan di awali dengan Bismillah.

2.             Mengikuti langkah Rasulullah ( صلى الله عليه و سلم   )dalam hal tulis menulis dan surat menyurat dan sunnah para nabi seperti Nabi Sulaiman AS yang mengirim surat kepada Ratu Bilqis degan di awali Bismillah

3.            Mengamalkan Hadits Nabi

كل أمر ذي بال، لا يبدأ فيه، ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أقطع

Setiap perkara yang baik yang   tidak di awali dengan Bismillahirrahmaanirrahiim maka perbuatan itu ( terputus ) maksudnya kurang berkah

4.            Meminta pertolongan kepada Allah.

Meminta pertolongan kepada Allah melalui membaca Bismillah keluar dari Huruf “Ba” dalam kalimat “Bismi” karena Ba disana di kategorikan “Ba Istiaanah”   ( Ba yang mempunyai arti pertolongan ) bila diterjemahkan kata ” Bismi ”  maka akan mengeluarkan arti ” Dengan pertolongan Allah ” menurut Qaul Ismun Bi Ma’na Al-Musamma

5.            Mengakui kelemahan diri.

Meminta pertolongan adalah bukti bahwa yang meminta adalah lemah dan memerlukan bantuan orang lain. Dan disini adalah kelemahan Haqiqi sebagai Makhluq ( yang diciptakan ) yang pasti membutuhkan Khaliq ( yang menciptakan ), karena Ahlisunnah wal Jamaah sudah menjelaskan bahwa tidak ada daya dan kekuatan di makhluq untuk membuat perbuatanya sendiri.

6.            Bertabaruk dengan nama Allah

Bertabaruk adalah ingin mendapat kebaikan dan kebagusan juga keuntungan dalam segala hal, maka kata Bismillah mengandung unsure Tabaruk dengan nama Allah, karena ingin mendapat keberkahan dengan membaca Bismillah karena kata Allah dalam Bismillah adalah Ismun Li Dzati Al-Wajibil Wujudi

Dan keberkahan itu sendiri keluar dari sebuah hadits

كل أمر ذي بال، لا يبدأ فيه، ببسم الله الرحمن الرحيم)   فهو أقطع(   أي: ناقص البركة

Setiap perkara yang baik yang   tidak di awali dengan Bismillahirrahmaanirrahiim maka perbuatan itu ( terputus ) maksudnya kurang berkah

7.            Bertawasul dengan nama Allah

Kenapa Bismillah dikategorikan bertawasul dengan nama Allah ? karena didalam Bismillah ada 3 Nama Allah, dan menurut sebahagian ulama ada 4 Nama Allah ( termasuk Ismun )

قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن أيا ما تدعوا فله الأسماء الحسنى….

Artinya: “Katakanlah, ‘Serulah   oleh   kalian Nama Allah   atau serulah   oleh   kalian Nama Al-Rahman   dengan nama apa saja yang kamu seru, Dia memiliki Al-Asma` Al-Husna, ‘…. ” [ Al-lsra`: 110 ]

8.            Menjauhi godaan Syetan

Sudah pasti Syetan sangat benci kepada Hamba yang selalu berdzikir dan mengingat Allah dalam setiap langkah dan geraknya, maka dari  itu setan tidak akan berdaya   bila diucapkan Nama Allah dengan hati yang hadir.

Wallahu A’lam Bis Showab

Pembahasan Bismillah Versi Ilmu Nahwu

BismillahBismillah versi Ilmu Nahwu

يَنْبَغِى لِكَلِّ شَارِعٍ فِى فَنٍّ مِنَ الفُنُوْنِ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِطَرْقِ البَسْمَلَةِ مِمَّايُنَاسِبُ ذَلِكَ الفَنِّ , وَفَاءً بِالحَقِّ البَسْمَلَةِ وَوَفَاءً بِالحَقِّ الفَنِّ المَشْرُوْعِ , وَالحَقُّ الفَنِّ أَنْ يَتَكَلَّمَ الشَّارِعُ بِطَرْفِ البَسْمَلَةِ مِمَّا يُنَسِبُ ذَلِكَ الفَنِّ المَشْرُوْعِ , وَالحَقُّ البَسْمَلَةِ أَنْ لاَيَتْرُكَ الكَلاَمَ عَلَى البَسْمَلَةِ رَأْساً

Dianggap perlu / Seyogia yang mengandung pahala sunnah bagi setiap orang yang hendak mempelajari suatu ilmu agar membicarakan sepucuk uraian Bismillah menurut ilmu tersebut, karena memenuhi hak Bismillah dan memenuhi hak ilmu yang hendak dia pelajari, hak ilmu adalah setiap yang hendak mempelaari harus memicarakan uraian Bismillah menurut ilmu yang dipelajari sedangkan hak bismillah adalah sama sekali tidak meninggalkan pembicaraan uraian Bismillah.

وَنَحْنُ الآنَ نُشَرِعُوْنَ فِى فَنِّ النَّحْوِ فَيَنْبَغِى عَلَيْنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِطَرْفِ البَسْمَلَةِ مِمَّايُنَاسِبُ ذَلِكَ الفَنِّ النَّحْوِ

Kita sekarang hendak mempelajari ilmu Nahwu maka seyogia kita membicarakan sepucuk bahasan Bismillah menurut ilmu Nahwu

إِعْلَمْ اَنَّ البَاءَ فِى البَسْمَلَةِ يَصِحُ أَنْ تَكُوْنَ أَصْلِيَّةً وَيَصِحُ أَنْ تَكُوْنَ زَائِدَةً فَاِنْ كَانَتْ أَصْلِيَّةً فَتَحْتَجُ اِلَى مُتَعَلَقٍ يَتَعَلَقُ بِهَا وَلَهُ مَعْنًى وَيَحْتَالُ أَصْلُ مَعْنَى الكَلاَمِ بِاِسْقَاطِهاَ

Ketahuilah ! huruf ba pada lafadz bismillah sah dijadikan huruf Ba asliyah (asal) dan sah dijadikan huruf Ba zaidah (penambah), apa bila dijadikan huruf Ba asliyah maka huruf Ba tersebut membutuhkan muta’alaq (sandaran jenis kerja) untuk bersandar, dan huruf Ba itu memiliki makna sendiri kemudian asal makna perkataan dalam Bismillah akan sirna bila huruf Ba pada lapadz bismillah dihilangkan.

وَمُتَعَالِقَتُهَا ثَمَانِيَّةٌ لاِنَّهَا ؛

Muta’alaq-muta’alaq atau sandaran-sandaran Bismillah ada delapan karena muta’alaq-muta’alaq tersebut bermacam-macam, diantaranya :

-     اِسْمٌ خَاصٌ مُقَدَّمٌ نَحْوُ تَألِيْفِى بِسْم اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Isim-khos-Muqoddam : Karanganku dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang.

-     اِسْمٌ خَاصٌ مُؤَخَّرٌ نَحْوُ بِسْم اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ تَألِيْفِى

Isim-khos-Muakhor : Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Karanganku

-     اِسْمٌ عَامٌ مُقَدَّمٌ نَحْوُ إِبْتِدَائِىْ بِسْم اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Isim-Am-Muqoddam : Permulaanku dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang.

-     اِسْمٌ عَامٌ مُؤَخَّرٌ نَحْوُ بِسْم اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ  إِبْتِدَائِى

Isim-Am-Muakhor : Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang permulaanku.

-     فِعْلٌ خَاصٌ مُقَدَّمٌ نَحْوُ أُؤَلِّفُ بِسْم اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Fi’il-Khos-Muqoddam : Aku mengarang dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang

-     فِعْلٌ خَاصٌ مُؤَخَّرٌ نَحْوُ بِسْم اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ أُؤَلِّفُ

Fi’il-Khos-Muakhor : Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang aku mengarang.

-     فِعْلٌ عَامٌ مُقَدَّمٌ نَحْوُ يَبْتَدِأُ بِسْم اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Fi’il-Am-Muqoddam : Dia memulai dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang

-     فِعْلٌ عَامٌ مُؤَخَّرٌ نَحْوُ بِسْم اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ يَبْتَدِأُ

Fi’il-Am-Muakhor : Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang dia memulai .

وَأُوْلاَهَا الفِعْلُ الخَاصُ المُؤَخَّرُ , أَمَّا الفِعْلُ فَلاَِنَّهُ الاَصْلُ فِى العَمَلِ وَلِكَثْرَةِ التَّصْرِيْحِ بِهِ وَلِقِلَّةِ المَخْذُوْفِ لاَِنَّهُ عَلَيْهِ كَلِمَتَانِ الفِعْلُ وَالفَاعِلُ

Yang lebih utama adalah muta’alaq Fi’il-Khos-Muakhor.

Adapun muta’alaqnya Fi’il, karena :

a.      Fi’il (Kata kerja) itu asal dalam perbuatan

b.     Banyak kejelasan disebabkan Fi’il.

c.      Sedikit kalimat yang di buang yaitu hanya fi’il dan fa’il.

وَأَمَّا الخَصُ فَلاَِنَّهُ الشَّارِعَ فىِ كُلِّ شَيْئٍ يَضْمَرُ مَاكَانَتْ التَّسْمِيَّةُ مَبْدَأً لَهُ فَالشَّارِعُ فِى الاَكْلِ اذَا قَالَ بِسْمِ اللهِ يَنْوِى آكِلُ وَفىِ الشُّرْبِ أَشْرُبُ وَفِى الرُّكُوْبِ أَرْكَبُ فَلاَجَرَمَ كَانَ التَّقْدِيْرُ فىِ التَّأْلِيْفِ أُؤَلِّفُ أَوْلىَ

Adapun muta’alaqnya khos, karena  ;

Apa bila seseorang menghendaki sesuatu maka ia menyimpan sebuah kalimat dalam mengawali sesuatu itu, seperti ketika mau makan ia membaca bismillah maka dalam membaca Bismillah-nya ia menyimpan kalimat “saya akan makan” apa bila mau minum menyimpan kalimat “saya akan minum” apa bila mau berkendara menyimpan kalimat “saya akan berkendara”, oleh sebab itu tidak ada salahnya kalimat yang tersimpan ketika hendak mengarang adalah kalimat Uallifu artinya “saya akan mengarang” inilah yang paling utama.

وأَمَّا المُؤَخَّرُ فَلِلإْهْتِمَامِ بِاسْمِهِ تَعَالىَ وَلِيَكُوْنَ اسْمُهُ مُقَدَّمًا

Adapun muta’alaqnya Muakhor, karena ;

a.      Mementingkan nama Allah

b.     Mendahulukan nama Allah

وَلاَيُرَدُّ تَقَدُّمُ البَاَء ِوَلَفْظ ُاِسْمِ عَلَيْهِ لأَِنَّ البَاءَ وَسِيْلَةٌ لِذِكْرِهِ عَلَى وَجْهِ يُؤْذَنُ بِالبَدْءِ فَهِىَ مِنْ تَتِمَّةِ ذِكْرِهِ عَلَى وَجْهِ المَطْلُوْبِ , وَلَفْظُ اِسْمٍ دَالٌ عَلَى اسْمِهِ تَعَالىَ لاَ أَجْنَبِىٍ عَنْهُ بِدَلِيْلٍ وَاذْكُرِاسْمَ رَبِّكَ

Tidak ada larangan mendahulukan huruf Ba kemudian lafadz Ismi, karena huruf Ba adalah perantara penyebutan nama Allah dari sisi permulaan, oleh karena itu huruf Ba adalah sebagian dari kesempurnaan penyebutan nama Allah dari sisi yang diharapkan. Dan lafadz Ismi ini mengandung arti nama Allah bukan selain nama Allah berdasarkan dalil dalam Al-Qur’an “Sebutlah nama Tuhanmu !” ( QS. Al-Muzammil 8 )

فَاِنْ كَانَتْ زَائِدَةً فَلاَ تَحْتَاجُ اِلىَ مُتَعَلَقٍ

Andaikata huruf Ba tersebut dijadikan huruf Ba zaidah maka tidak lagi membutuhkan muta’alaq (sandaran).

Sementara hanya inilah uraian Bismillah versi ilmu Nahwu, walaupun baru sebagian kecil dari pembahasan huruf Ba pada Bismillah, kemudian bila anda ingin mengetahui lebih luas bahasan Bismillah, silahkan baca kitab-kitab Ilmu Nahwu lainnya seperti kitab Jurumiyah Al-‘Asmawiy, Nadlom Jurumiyah Al-Imritiy, Nadlom Alfiyyah Ibnu Malik dan lain sebagainya.

Source: http://santri-bantargedang.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s