NIAT SHOLAT & TALAFUZ BIN NIYAT

Posted: November 21, 2012 in BID'AH, MADZHAB & KHILAFIYAH, STOP MENUDUH BID'AH !!, TAFSIR & QOUL ULAMA

Niat adalah sebagai bagian dari rukun shalat, niat shalat merupakan hal yang tidak boleh terlupakan ketika kita shalat. Jadi melakukan niat shalat hukumnya wajib walaupun shalat yang kita lakukan adalah shalat sunat. Dengan kata lain, niat shalat fardhu ataupun niat shalat sunah, maka wajib adanya.
Adapun melafalkan bacaan niat shalat, itu baru hukumnya sunat. Jadi harus bisa dibedakan antara niat shalat dan bacaan niat shalat 5 waktu. Kalau niat shalat, tempatnya di dalam hati, sedangkan melafalkan bacaan niat shalat, tempatnya adalah lisan. Dengan demikian niat shalat yang wajib adalah di dalam hati, sedangkan mengucapkannya adalah sunat. Tujuan melafalkan bacaan niat shalat adalah membantu hati agar fokus dengan apa yang akan kita niatkan sehingga menjadi lebih khusyu.

“Melafazkan Niat Shalat (Sebelum Takbir) Dan Niat (Bersamaan Dgn Takbir ula)”
وكيف يكون التلفظ بالنية بدعة؟ وقد ثبت ان النبي صلى الله عليه وسلم تلفظ بها فى بعض العبادات منها قوله مسمعا الناس فى احرامه بالحج ،لبيك بعمرة وحجة، ومنها انه صلى الله عليه وسلم لما دخل ذات يوم على السيدة عائشة فقال وهو يريد ان يأكل طعاما “هل عندكم شيء؟” فقالت لا فقال فإني إذا صائم.

Bagaimana mungkin melafalkan niat itu di katakan bid’ah (tercela)? (Padahal) telah jelas bahwasannya nabi Saw telah melafalkan niat di dalam sebagian ibadah, di antaranya: beliau memperdengarkan niat kepada para sahabat di dalam ihram hajinya “Labbaika hajjan wa umrotan”.
Di antaranya: bahwasannya pada suatu hari Nabi Saw masuk kepada Aisyah, beliau hendak makan dan berkata” Apakah engkau mempunyai sesuatu (makanan)? Aisyah menjawab” tidak” kemudian beliau berkata” kalau begitu, Sungguh aku akan berpuasa”. (HR.Muslim: 2/809. Seri: 170)

قال الإمام النووي فى شرح صحيح مسلم: وفيه دليل لمذهب الجمهور على ان صوم النافلة يجوز بنية فى النهار قبل زوال الشمس. إه . قلت أي ان قوله صلى الله عليه وسلم فإني إذا صائم هو نية الصوم بنظر العلماء والله الموفق والهادي.

Imam nawawi berkata di dalam syarh sohih muslim 7/35: di dalam hadits tersebut, terdapat dalil bagi madzhab jumhur, bahwasannya puasa sunah itu boleh dengan niat di siang hari sebelum tergelincirnya matahari. (Titik)
Saya (Al habib hasan assegaf) berkata: Artinya perkataan Nabi Saw: ” kalau begitu, Sungguh aku akan berpuasa”. Itu merupakan niat puasa menurut pandangan para Ulama.
[Sohih sifat sholatin nabi: 68-69]

A. HUKUM DALAM SHALAT

– Melafazdkan Niat dengan lisan (Sebelum Takbir= sebelum shalat) adalah sunnah (tidak wajib) menurut madzab syafei, hambali dan hanafi.

Menurut pengikut mazhab Imam Malik (Malikiyah) bahwa melafalkan niat shalat sebelum takbiratul ihram tidak disyari’atkan kecuali bagi orang yang terkena penyakit was-was (peragu terhadap niatnya sendiri).

– Niat (dalam hati bersamaan dengan takiratul ula) adalah wajib.

B. TUJUAN MELAFADZKAN NIAT

Tujuan dari talafudz binniyah menurut kitab-kitab fiqh ahlusunnah adalah :

1. Liyusaa’idallisaanul qalbu (“ Agar lidah menolong hati”)
2. Agar menjauhkan dari was-was
3. Keluar dari khilaf orang yang mewajibkannya
4. karena qiyas pada niat haji, dan telah sabit bahwa Nabi s.a.w. berlafaz dengan niat haji seperti yang zahir pada riwayat Sayyidina Anas (yang tersebut dibawah).

C. AYAT – AYAT AL – QUR’AN DASAR TALAFUDZ BINNIYAH (melafadzkan niat sebelum takbir)

– Tidaklah seseorang itu mengucapkan suatu perkataan melainkan disisinya ada malaikat pencatat amal kebaikan dan amal kejelekan (Al-qaf : 18).

Dengan demikian melafadzkan niat dgn lisan akan dicatat oleh malaikat sebagai amal kebaikan.

– Kepada Allah jualah naiknya kalimat yang baik (Al-fathir : 10).

Maksudnya segala perkataan hamba Allah yang baik akan diterima oleh Allah (Allah akan menerima dan meridhoi amalan tersebut) termasuk ucapan lafadz niat melakukan amal shalih (niat shalat, haji, wudhu, puasa dsb).

D. HADITS – HADITS DASAR TALAFFUDZ BINNIYAH (melafadzkan niat sebelum takbir)

1. Diriwayatkan dari Abu bakar Al-Muzani dari Anas Ra. Beliau berkata :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلّّمَ

يَقُوْلُ لَبَّيْكَ عُمْرَةً وَحَجًّاً

“Aku pernah mendengar rasulullah Saw. Melakukan talbiyah haji dan umrah bersama-sama sambil mengucapkan : “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk melaksanakan haji dan umrah”.

”. (Hadith riwayat Muslim – Syarah Muslim Juz VIII, hal 216)).

Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah Saw. Mengucapkan niat atau talafudz binniyah diwaktu beliau melakukan haji dan umrah.

Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Tuhfah, bahwa Usholli ini diqiyaskan kepada haji. Qiyas adalah salah satu sumber hukum agama.

2. Hadits Riwayat Bukhari dari Umar ra. Bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda ketika tengah berada di wadi aqiq :”Shalatlah engkau di lembah yang penuh berkah ini dan ucapkanlah “sengaja aku umrah didalam haji”. (Hadith Sahih riwayat Imam-Bukhari, Sahih Bukhari I hal. 189 – Fathul Bari Juz IV hal 135)

Semua ini jelas menunjukan lafadz niat. Dan Hukum sebagaimana dia tetap dengan nash juga bias tetap dengan qiyas.

3. Diriwayatkan dari aisyah ummul mukminin Rha. Beliau berkata :

“Pada suatu hari Rasulullah Saw. Berkata kepadaku : “Wahai aisyah, apakah ada sesuatu yang dimakan? Aisyah Rha. Menjawab : “Wahai Rasulullah, tidak ada pada kami sesuatu pun”. Mendengar itu rasulullah Saw. Bersabda : “Kalau begitu hari ini aku puasa”. (HR. Muslim).

Hadits ini mununjukan bahwa Rasulullah Saw. Mengucapkan niat atau talafudz bin niyyah di ketika Beliau hendak berpuasa sunnat.

4. Diriwayatkan dari Jabir, beliau berkata :

“Aku pernah shalat idul adha bersama Rasulullah Saw., maka ketika beliau hendak pulang dibawakanlah beliau seekor kambing lalu beliau menyembelihnya sambil berkata : “Dengan nama Allah, Allah maha besar, Ya Allah, inilah kurban dariku dan dari orang-orang yang tidak sempat berkurban diantara ummatku” (HR Ahmad, Abu dawud dan turmudzi)

Hadits ini menunjukan bahwa Rasulullah mengucapkan niat dengan lisan atau talafudz binniyah diketika beliau menyembelih qurban.

E. FATWA – FATWA IMAM – IMAM AHLUSSUNNAH (SUNNI) MENGENAI MELAFAZKAN NIAT:

1. “Dan niat itu di dalam hati. Dan sunat (mandub) mengucapkannya sebelum takbir.” (Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (Imam Nawawi) , Minhajut Tholibin, Bab Sifat Sholat Juz. 1, h.343.).

2. “Dan sunat (mandub) mengucapkan apa yang diniatkan seketika sebelum takbir, gunanya supaya lisan dapat menolong hati, juga karena ada orang yang mengwajibkannya, dan pula diqiyaskan kepada apa yang terjadi dalam mengerjakan haji.” (Imam Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj, Juzuk 2).

3. “Sunat mengucapkan yang diniatkan itu seketika sebelum takbir, gunanya supaya lidah dapat menolong hati, untuk menjauhkan waswas dan jangan terlalu jauh dari ulama’ yang memfatwakan kewajibannya.” (Imam ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, Juzuk 1 mukatsurat nomor 340).

4. “Dan sunat mengucapkan apa yang diniatkan seketika sebelum takbir, gunanya supaya ucapan itu dapat menolong mennyegerakan niat ke dalam hati dan juga untuk menjauhkan waswas.” (Imam Khatib as-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, Juzuk 1).

5. “Dan mengucapkan niat seketika sebelum takbir, supaya bacaan dapat menolong hati.” (Syeikhul Islam Zakaria al-Ansori, Fathul Wahab, Jilid 1).

6. “Dan sunat mengucapkan yang diniatkan sebelum takbir, gunanya supaya bacaan dapat menolong hati, dan supaya jangan terlalu jauh dari fatwa orang yang menfatwakan wajib.” ( Syeikh Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in, Bab Solat).

7. “Dan telah tetap bagi sahabat-sahabat kita, bahwa sunnat melafazkan padanya (ya’ni lafaz niat sebelum takbir), dan mengqiyaskan sebahagian ulama’ dengan apa yang tersebut dalam Sahihain (kitab Bukhari dan Muslim), iaitu hadith dari Anas dan Ibn Umar radhiallahuanhuma.” (Imam al-Qastholani, Mawahibul Laduniyah, Jilid 2).

8. “Terlebih lagi yang telah tetap dalam fatwa para shahabat (Ulama syafiiyyah) bahwa sunnat melafadzkan niat (ushalli) itu. Sebagian Ulama mengqiyaskan hal tersebut kepada hadits yang tersebut dalam shahihain yakni Bukhari – Muslim.
Semua ini jelas menunjukan lafadz niat. Dan Hukum sebagaimana dia tetap dengan nash juga bias tetap dengan qiyas.” (Az-zarqani syarah Al-mawahib Al-laduniyyah jilid X/302).

9. يسن أن يتلفظ بلسانه بالنية، كأن يقول بلسانه “أصلي فرض الظهر” مثلاً، لأن فى ذلك تنبيهاً للقلب

“Disunnahkan melafazkan dengan lidah akan niat (yakni niat sholat) seperti dia mengucap dengan lidahnya, sebagai contoh : “Usholli Fardhadzh-Dzhohri”, karena pada yang demikian itu peringatan bagi hati (yakni dengan melafazkan niat dapat mengingatkan hati akan perbuatannya mendirikan sholat itu). ”
( al-Fiqh ‘alal Madzahibil Arba`ah, karangan Syeikh ‘Abdur Rahman al-Jazairi pada حكم التلفظ بالنية ونية الأداء أو القضاء أو نحو ذلك : – )

10. وهذا الحكم متفق عليه عند الشافعية والحنابلة، أما المالكية والحنفية قالوا : إن التلفظ بالنية ليس مشروعا في الصلاة، إلا إذا كـان المصلي موسوساً، على أن المالكية قالوا : إن التلفظ بالنية خلاف الأولى لغير الموسوس، ويندب للموسوس. الحنفية قالوا : إن التلفظ بالنية بدعة، ويستحسن لدفع الوسوسة.

“Dan hukum ini disepakati di sisi mazhab asy-Syafi`iyyah dan al-Hanabilah (yakni melafazkan niat ini hukumnya sunnat pada mazhab kita, (Syafi`i dan mazhab Hanbali). (Syeikh ‘Abdur Rahman al-Jazairi, al-Fiqh ‘alal Madzahibil Arba`ah – الفقه على المذاهب الأربعة, Juz 1, h. 195)”

11. ويندب عند الجمهور غير المالكية التلفظ بالنية، وقال المالكية : يجوز التلفظ بالنية.

“Disunatkan melafazkan niat (Talaffuz bin Niyyah) oleh jumhur kecuali Malikiyah. Berkata Ulama Maliki : Harus melafazkan niat (Talaffuz bin Niyyah).”
(Syeikh Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu – الفقه الإسلامي وأدلته , (Beirut – Lubnan, Darul Fikr Al-Mu`asir, 1984), Juz 1, (At-Thoharah, As-Sholah), h. 773.)

F. NIAT SEBAGAI RUKUN SYAHNYA SHALAT

Dalam berbagai kitab fiqh Syafi’i Rukun-rukun Shalat 13 (tiga belas) perkara dengan menjadikan segala thuma’ninah yang di empat rukun itu lazimnya satu rukun, adapun jikalau dijadikan tiap-tiap thuma’ninah yang di empat rukun itu bahwa ia rukun sendiri-sendiri, maka jadilah bilangan rukun Shalat itu 17 (tujuhbelas) perkara, yaitu:

Niat di dalam hati ketika mengucapkan takbiratul ihram (اَللهُ اَكْبَرُ)

Apabila Shalat Fardhu maka:

wajib qashad, artinya “sajahku Shalat”.
wajib ta’ridh lilfardhiyah, artinya menyebut kata “fardhu”
wajib ta’yin, artinya menentukan waktu “Zhuhur” atau “Ashar” atau lainnya.

Adapun jikalau Shalat Sunnat yang ada waktunya atau ada sebabnya, maka wajib qashad dan wajib ta’yin saja. Sedangkan jikalau Shalat Sunnat yang tidak ada waktu dan tidak ada sebabnya, yaitu nafal muthlaq maka wajib qashad saja, sebagian lagi mengatakan wajib maqarinah ‘arfiyah yaitu wajib mengadakan qashad ta’ridh ta’yin di dalam hati ketika mengucapkan اَللهُ اَكْبَرُ (takbiratul ihram).

Artinya maqarinah ‘arfiyah yakni dengan mengucapkan ketiga-tiganya itu di dalam hati seluruhnya, atau beraturan maka jangan ada yang keluar daripada masa mengucapkan اَللهُ اَكْبَرُ.

Adapun jikalau Shalat berjama’ah maka wajib hukumnya atas ma’mum menambah lagi niat مَأْمُوْمًا (artinya mengikuti imam)

Adapun jikalau Shalat Jum’at maka wajib hukumnya atas imam menambah niat اِمَامًا artinya menjadi imam.

Sedangkan pada Shalat yang lain seperti Shalat Zhuhur atau Ashar atau lainnya, maka hukumnya Sunnah bagi imam niat اِمَامًا.

G. FITNAH & TUDUHAN ANTI TALAFUZ BIN NIYAH

Apakah Imam Nawawi tidak usHolli ?

” Isu lafaz ushalli ini tercetus dari satu ucapan al-Imam Syafi’iy ra : “Jika seorang berniat haji atau umrah, ia mendapat pahala walaupun tidak melafazkannya, sedangkan sholat seseorang itu tidak sah kecuali dengan mengucapkan.” Ulama’ Syafi’iyah, iaitu Syaikh Abu Abdillah az-Zubairy dalam mentafsir ucapan Imam Syafi’iy ini telah mentafsirkan: “Solat itu tidak sah kecuali dengan mengucap lafaz niat.” Aliran dan fahaman azZubairy inilah yg tersebar luas saat ini. Sedangkan Imam syaraf an-Nawawi menjelaskan maksud `mengucapkan’ itu ialah lafaz takbiratul ihram dan bukannya Ushalli. Ini disahkan oleh Imam Jalaluddin asSyuyuti dan alQadhi Abu Rabi’ Umar as-Syafi’iy. Yang sebenarnya isu ushalli ini tidak ujud dalam madzhab Syafi’iy hinggalah ia disebarkan oleh azZubairy –”

Bantahan & jawaban

Benarkah komentar ini bersandarkan pendapat As-Syafi`iyyah? Adakah benar ulama Syafi`i tidak mengajarkan berlafaz niat ushalli? Apakah benar Imam an-Nawawi tidak melafazkan usholli? Atau mereka tidak faham ibarat kitab fiqh Syafi`ie?

Berbalik kepada persoalan talaffuz bin niyyah ini, isu sebenarnya yang ditolak oleh ulama – ulama kita adalah perkataan az-Zubairy yang MEWAJIBKAN talaffuz bin niyyah. Mereka bukan menolak talaffuz bin niyyah, tetapi menolak qaul Az-Zubairy yang MEWAJIBKANnya. Dan qaul yang muktamad dalam mazhab Syafi`ie, talaffuz bin niyyah itu hukumnya SUNNAT / MANDUB / MUSTAHAB. Pendapat yang mewajibkan itu hanyalah qil dalam mazhab. Imam an-Nawawi sendiri dalam kitab karangannya “Minhaj At-Tholibin”, Bab Sifat ash-Sholah (lihat point E No. 1 diatas)

H. KESIMPULAN

Dalam masalah ini, aqwal As-Syafi`iyyah lebih Ihtiyath (berhati-hati) dalam Bab Ibadah & Thaharah, khususnya dalam menetapkan hukum talaffuz bin niyyah, dengan meletakkan hubungan yang erat antara talaffuz bin niyyat sebagai peringatan bagi hati. Sebaliknya, mazhab Malikiyyah dan Hanafiyyah, hanya mnganjurkan jika musholli (orang yang sholat) itu mempunyai sifat was-was.
Mazhab Maliki dan Hanafi memandangnya sebagai tidak disyariatkan atau bid`ah yang dipandang baik, tetapi tidak menghukumkannya sebagai bid`ah dhalalah yang seharusnya ditentang habis-habisan pengamalannya seperti dakwaan beberapa pihak.

Jika berlafaz dengan usholli itu bid`ah dhalalah, maka apakah keseluruhan ulama kita ahli bid`ah dhalalah? yang semuanya terjun ke neraka. Siapakah yang berani menghukum demikian? Apakah semua ulama kita tidak mengerti hukum dan nas? Atau kita yang terlalu jahil dalam hal ini….

Hati-hati dengan ucapan fitnah pemecah barisan sunni yakni golongan anti madzab yang menebarkan isu khilafiah dan mereka mengambil fatwa bertentangan dengan pegangan mayoritas ummat sunni agar ummat menjadi ragu & terjauh dari mengikuti ulama yang haq dan terjauh dari kitab imam –imam sunni.

Perbedaan hukum lafaz niat (At-Talffuz bin Niyyat) dalam sholat adalah merupakan perkara khilafiyah yang berlaku dalam persoalan fiqhiyah, dan Perpaduan umat Islam adalah perkara wajib, membiarkan perpecahan berlaku adalah perkara mazmumah yang HARAM, hakikatnya inilah Bid`ah Dholalah yang wajib kita semua perangi.

Adabul Ikhtilaf (adab yang baik dalam menyikapi perbedaan pendapat) dalam masalah fiqhiyyah al-furu`iyyah adalah seperti ucapan Imam As-Syahid Hassan Al-Banna telah mengingatkan kita :

نتعاونوا فيما اتفقنا فيه ونعزر بغضنا بعضا فيما اختلفنا فيه

Kita saling tolong-menolong dalam perkara yang kita sepakati, kita berlapang hati menerima di antara satu sama lain dalam perkara yang menjadi perselisihan antara kita. (Rujuk – Imam Hassan Al-Banna, Majmu`atur Rasail – مجموعة الرسائل ), (Kaherah : Darul Wafa’, 1996)

Dan untuk kalangan Wahabi yang masih bersikukuh & tidak mau menerima perbedaan khilafiyah ini sebaiknya anda membaca tulisan ini http://almanhaj.or.id/content/2317/slash/0/contoh-perbedaan-pendapat-diantara-ulama-ahlus-sunnah-akan-tetapi-mereka-tidak-saling-mengingkarinya/

Wallahu a’lam

Rujukan :

– Al –ustadz Haji Mujiburrahman, Argumentasi Ulama syafei’yah terhadap tuduhan bid’ah, mutiara ilmu Surabaya.

– DR. Wahbah zuhaili, kitab Al-fiqhul islam, Jilid I/214

– DR. Wahbah zuhaili, kitab Al-fiqhul islam, Jilid I/767

– Imam ramli, KitabNihayatul Muhtaj, Jilid I/437

– Ibnu hajar Al-haitsami dalam Tuhfatul Muhtaj II/12

– Imam Qatshalani, Kitab Az-zarqani, jilid X/302

– Imam bukhari, Kitab Shahih Bukhary, Jilid I/189

– Imam Muslim, Kitab Shahih Muslim, Jilid VIII/216

Abu Haidar, Alumni Ponpes Darussa’adah, Gunung Terang, Bandar Lampung

Source: Bahrusshofa, Ahmad Akhyari Ismail, Abil Mikdad NK & salafytobat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s