ZARDAH TRADISI TAHLILAN KEMATIAN DI MAROKO

Posted: November 21, 2012 in BID'AH, STOP MENUDUH BID'AH !!
Tag:


Apakah tradisi Tahlilan hanya ada di Indonesia?, apakah benar tradisi tahlilan berasal dari agama Hindu ??

Walaupun belum genap dua tahun aku tinggal di negeri yang bermadzhab Maliki tulen ini, Maroko, paling tidak aku mulai mengenal budaya yang berkembang dan mereka anut. Salah satu pengalaman yang cukup berkesan bagiku, yaitu ketika aku sering diundang pada acara-acara jamuan makan mereka, baik itu pada walimah pengantin, tasyakuran, khitanan, maupun acara kirim doa untuk mayit.

Di Tanah Air acara seperti ini populer sekali dengan istilah kenduri atau selamatan (slametan). Istilah tersebut di Maroko lebih akrab dengan sebutan zardah/salkah dalam bahasa darijah (dialek) mereka.Satu hal yang sangat menarik ketika aku mendapatkan cerita dari salah seorang teman, anak Maroko, yang ayahnya baru saja meninggal. Kata dia, mereka biasanya mengadakan zardah dengan membaca Al-qur’an dengan memilih surat-surat khusus seperti surat Yasin, al-ikhlas, Muawidzatain, dan beberapa kalimat tayyibah (tahlil) pascakematian jenazah itu pada beberapa hari tertentu. Misalnya, ada beberapa orang yang memeringati hari berkabung itu sejak hari pertama meninggalnya hingga hari ke-7 dan ke-40 hari setelah kematiannya.Nah, ini merupakan bukti bahwa di Negeri seribu benteng ini, ternyata ada juga budaya semacam kenduri yang mirip sekali dan bahkan kalau boleh saya bilang hampir sama persis dengan budaya kita di tanah air. Mungkin yang paling membedakan adalah sajian makanannya, mereka menyajikan menu makanannya sebanyak tiga kali dan bahkan bisa lebih dari itu. Misalnya, menu pertama berupa ikan laut, kemudian disusul dengan menu kedua, yaitu ayam dan ketiganya berupa daging sapi atau kambing. Bahkan mereka kalau menyajikan daging kambing terkadang berupa kambing utuhan (kambing guling) yang hanya dipotong kepala dan kakinya saja. Jadi, masaknya seperti masak ayam panggang (ingkung).
Menu tersebut khususnya bagiku, itu sangat luar biasa, maklumlah perutku standar perut orang Indonesia yang cukup diisi dengan satu paha ayam saja. Terkadang aku baru melihatnya saja sudah terasa kenyang. Sesekali aku sempat berpikir, kalau seandainya aku dapat isteri orang Maroko kayaknya harus punya ternak ayam. Soalnya bagi mereka satu ekor ayam itu untuk porsi satu orang atau bahkan kadang-kadang bisa lebih.
Budaya yang sering menjadi buah bibir sebagian ulama’ kita di tanah air ini, ternyata disini tak sedikit juga penggemarnya. Walaupun ada juga beberapa kelompok yang enggan mengikutinya khususnya diacara-acara jamuan makan yang diadakan pasca ada orang yang meninggal, atau sering kita kenal dengan istilah kirim do’a kepada si mayyit. Bagi kelompok yang kontra dalam masalah ini, mereka beranggapan bahwa acara itu tidak ada tuntunannya didalam syari’at Islam, sehingga itu termasuk bid’ah dan tentu sangat sesat dan menyesatkan. Kelompok yang kontra itu biasanya berpedoman pada dalil yang sudah tidak asing lagi bagi kita, yaitu كل محدثة بدعة وكل بدعة ظلالة وكل ظلالة في النار. Dan argumen yang paling kuat bagi mereka, bahwa menurut mereka, ibadah itu bersifat tauqifi (tak bisa diedit/diotak-atik lagi).Perbedaan yang kalau boleh dibilang sudah kadaluarsa seperti ini, ternyata disini tak ubahnya seperti di Indonesia, masih sering jadi buah bibir diantara para ulama’. Bahkan tidak hanya dalam perkara ini saja, dalam perkara yang lain pun masih banyak. Hanya saja disini kalau ada yang kontra tidak berani vocal secara terang-terangan. Maklumlah disini Negara kerajaan, jadi kalau ada yang berani vocal, apalagi menyinggung soal Raja, berarti dia siap dimasukkan ke dalam karung oleh polisi.Jika begini kita pun akan bertanya, apakah Maroko dahulunya di kuasai oleh Hindu?? & apakah tradisi tahlilan berasal dari Hindu, untuk lebih mengetahui hal ini silahkan anda klik link ini http://www.facebook.com/photo.php?fbid=334013989998913&set=a.334013583332287.76793.100001709446335&type=3http://www.facebook.com/photo.php?fbid=388084897925155&set=a.334013583332287.76793.100001709446335&type=3&src=http%3A%2F%2Fsphotos-c.ak.fbcdn.net%2Fhphotos-ak-ash4%2F251509_388084897925155_640329363_n.jpg&size=858%2C714Maroko

Beberapa hari di Madinah sangat berkesan, sebab selain tujuan utama di masjid Nabawi, juga bisa berkenalan dengan Muslim dari berbagai negara. Yang menarik ketika berjumpa dengan Ust Umar (pakai songkok), beliau dari Maroko, guru agama. Saya tanya kepada beliau: "Apa benar di negara Maghribi ada kebiasaan sedekah kepada mayit di hari hari tertentu (tahlilan, maksud saya) ?". Beliau yang bermadzhab Malikiyah ini menjawab: ”Na'am, maujud, hadza ma'ruf fi baladina" (ya, ada, ini dikenal baik di negara kami", baik yang dilakukan di rumah atau di makam, imbuhnya.

Beberapa hari di Madinah sangat berkesan, sebab selain tujuan utama di masjid Nabawi, juga bisa berkenalan dengan Muslim dari berbagai negara. Yang menarik ketika berjumpa dengan Ust Umar (pakai songkok), beliau dari Maroko, guru agama. Saya tanya kepada beliau: “Apa benar di negara Maghribi ada kebiasaan sedekah kepada mayit di hari hari tertentu (tahlilan, maksud saya) ?”. Beliau yang bermadzhab Malikiyah ini menjawab: ”Na’am, maujud, hadza ma’ruf fi baladina” (ya, ada, ini dikenal baik di negara kami”, baik yang dilakukan di rumah atau di makam, imbuhnya. (source Ust. Ma’ruf Khozin)

*************************
Source:

http://cahsempi.blogspot.com/2012/03/tradisi-kenduri-di-maroko.html

http://www.jurnas.com/halaman/12/2012-07-29/217156

http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/kabar/12/09/17/mah9ca-melihat-tradisi-islam-di-maroko

Baca Juga :

Komentar
  1. Aboed mengatakan:

    Tapi tetap menurut saya itu dikategorikan hanya sebuah adat di suatu daerah, tidak masuk kategori “tata cara ibadah” yg diajarkan Rosul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s