Tahlilan Bid’ah ??

Posted: Desember 1, 2012 in BID'AH, STOP MENUDUH BID'AH !!
Tag:
tahlilan1

Kami hendak mengemukahkan dalil atas rangkai tahlillan yang di bid’ahkan oleh wahabi. Sebenarnya hal tersebut tidak lah butuh dalil karena adakah larangan dalam membaca Al-qur’an akan tetapi guna meluruskan pemahaman tentang hal tersebut maka kami coba mengumpulkan dalil yang tersisah tertelan zaman semoga barokah dan hidayah selalu menyertai kita. Aamin
قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang
mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram
sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

Rangkaian Tahlilan

1. Al_fateha
2.Surat AL-Iklas . Surat An-Nass. Surat Al-Alaq
3.Al-Baqoroh Awal(1-5),Pertengahan (163) (Ayat kursi 255),Akhir (284-286)
4.Irhamnah Ya Arhamar Rohimin
5.Rahmatullahi wa barakatuh ‘alaikum ahlal baiti innahu hamidon majid
6.Al-Ahzab ayat 33
7.Al-ahzab ayat 56
8.Do’a/shalawat atas Nabi Muhammad
9.Ali-Imron 173
10.Al-anfal 40
11.Hauqolah
12.Istifar
13.Tahlil
14.Sholawat
15.Tasbi
16.do’a

Berikut dalil-dalil nya kenapa dalam rangkai tahlilan

1.Surah Al Fatihah (Pembukaan)

Surat Makiyyah
Disebut Al Fatihah artinya pembukaan kitab secara tertulis. Dan dengan Al Fatihah itu dibuka bacaan dalam shalat. Anas Bin Malik meriwayatkan: Al Fatihah itu disebut juga Ummul Kitab menurut jumhur ulama. Dalah hadist Shahih diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abu Hurairah : ia menuturkan, Rasulullah sholallhu ‘alaihi wasallam bersabda : {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} adalah Ummul Qur’an, Umml Kitab, As Sab’ul matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al Qur’anul ‘Adzhim.
Surat ini disebut juga dengan sebutan Al hamdu dan ash Salah. Hal itu didasarkan pada sabda Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam, dari Rabb-nya :”Aku membagi shalat antara diriku dengan hambaku dua bagian, jika seseorang mengucapkan {Alhamdulillahir rabbil ‘Alamin} maka Allah berfirman: ‘Aku telah dipuji hambaku.’
Al Fatihah disebut ash shalah, karena alafatihah itu sebagai syarat sahnya shalat. Selain itu Al fatihah disebut juga asy syifa. Berdasarkan hadist riwayat Ad Darimi dari Abu sa’id, sebagai hadist marfu’ : fatihatul Kitab itu merupakan As Syifa (penyembuh) dari setiap racun.’

Juga disebut ar ruqyah berdasarkan hadist Abu Sa’id yaitu ketika menjampi (ruqyah) seseorang yang terkena sengatan (binatang), maka Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Darimana engkau tahu bahwa Al fatihah itu adalah ruqyah.”
Sural Al Fatihah diturunkan di Mekah. Demikian dikatakan Ibnu Abbas, Qatadah dan Abu al ‘Aliyah. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa surat ini turun di madinah. Ini pendapat abu Hurairah, Mujahid, Atha bin Yasar, dan Az Zuhri. Ada yang berpendapat Surat Al Fatihah turun dua kali, sekali turun di Makkah dan yang sekalai lagi di Madinah.

Pendap pertama lebih sesuai dengan Firman Allah “Sesungguhnya Kami telah berikan kepdamu sab’an minal matsani (tujuh ayat yang berulan-ulang).” (QS Al Hijr: 87) Wallahu ‘alam.
Mereka mengatakan “Surat Al fatihah terdiri dari 25 kata dan 113 huruf.” Al Bukhari mengatakan bahwa dalam awal kitab Tafsir, disebutkan Ummul Kitab, karena Al fatihah ditulis pada permulaan Al Qur’an dan dibaca pada permulaan shalat. Ada juga yang berpendapat, disebut demikian karena seluruh makna Al Qur’an kembali kepada apa yang di kandungnya.
Ibnu jarir mengatakan : orang arab menyebut “Umm” untuk semua yang mencakup atau mendahului sesuatu jika mempunyai hal-hal lain yang mengikutinya dan ia sebagai pembuka yang meliputinya. Seperti Umm Al ra’a, sebutan untuk kulit yang meliputi otak. Mereka menyebut bendera dan panji tempata berkumpulnya pasukan dengan ‘umm’.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id bin al Muhalla, ia berkata “Aku pernah mengerjakan shalat, lalu Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya, hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah itu aku mendatangi beliau, maka beliaupun bertanya: ‘Apa yang menghalangi kamu datang kepadaku? Maka akau menjawab :Ya Rasululla, sesungguhnya aku tadi sedang mengerjakan shalat, lalu beliau bersabda: ‘Bukankah Allah ta’ala telah berfirman : ‘Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyerumu kepada yang memberikan kehidupan kepadamu. (QS Al Anfal:24). Dan sesdah itu beliau bersabda: Akan aku ajarkan kepadamu suatu surat yang paling agung didalam Al Qur’an sebelum engkau keluar dari Masjid ini. Mak beliaupun penggandeng tanganku. Dan ketika belaiu hendak keluar Masjid, aku katakana : ya Rasulullah engkau tadi telah berkata akan mengjarkan kepadaku surat yang paling agung di dalam Al Qur’an. Kemudian beliau menjawab : Benar, { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ia adalah as Sab’ul matsani dan Al Qur’an al ‘Adzhim yang teah diturunkan kepadaku. Demikian juga yang diriwayatkan oleh Bukhori, Abu Dawud, An Nasai dan Ibnu Majah melalui beberapa jalur dari Syu’bah.
Sedangkan segolongan lainnya berpendapat bahwasannya tidak ada keutamaan suatu ayat atau surat atas yang lainnya, karena semuanya merupakan Firman Allah. Supaya hal itu tidak menimbulkan dugaan adanya kekurangan pada ayat lainnya, meski semuanya itu memiliki keutamaan. Pendapat ini dinukil oleh Al Qurthubi dari Al Asy’ari, Abu Bakar al baqilani, Abu Hatim, Ibnu Hibban Al Busti, Abu hayyan, Yahya bin Yahya, dan sebuah riwayat dari Imam Malik.
Hadist lainnya, riwayat Muslim dalam Kitab Shahih an Nasai dalam kitab Sunan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam sedang bersama Malaikat Jibril, tiba-tiba Jibril mendengar suara dari atas. Maka Jibril mengarahkan pandangannya kelangit seraya berkata : Itu adalah dibukannya sebuah pintu di langit yang belum pernah terbuka sebelumnya.” Ibnu Abbas meneruskan, “dari pintu turun Malaikat dan kemudian menemui Nabi sholallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata : “Samapaikanlah kabar gembira kepad aumatmu mengenai dua cahaya. Kedua cahaya itu telah diberikan kepadamu, dan belum pernah sama sekali diberikan kepada seorang nabipun sebelum kamu, yaitu Fatihatul Kitab dan beberapa ayat terakhir surat Al Baqarah. Tidakkah engkau membaca satu huruf saja darinya melainkan akan diberi pahala kepadamu.”

2.SURAT AL-IKHLAS,SURAT AL-ALAQ,AN-NASS

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ’ala Rosulillah wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.
alquranSetelah kita mengetahui tafsiran surat Al Ikhlash ini, maka sangat bagus sekali jika kita mengetahui keutamaan surat ini dan kapan saja kita dianjurkan membaca surat ini. Silakan menyimak pembahasan berikut ini.
[Keutamaan Pertama]
Surat Al Ikhlas Setara dengan Tsulutsul Qur’an (Sepertiga Al Qur’an)
Hal ini berdasarkan hadits :
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) يُرَدِّدُهَا ، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ »
Dari Abu Sa’id (Al Khudri) bahwa seorang laki-laki mendengar seseorang membaca dengan berulang-ulang ’Qul huwallahu ahad’. Tatkala pagi hari, orang yang mendengar tadi mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut dengan nada seakan-akan merendahkan surat al Ikhlas. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya surat ini sebanding dengan sepertiga Al Qur’an”. (HR. Bukhari no. 6643) [Ada yang mengatakan bahwa yang mendengar tadi adalah Abu Sa’id Al Khudri, sedangkan membaca surat tersebut adalah saudaranya Qotadah bin Nu’man.]
Begitu juga dalam hadits:
عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِى لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ». قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ « (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) يَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ ».
Dari Abu Darda’ dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al Qur’an dalam semalam?” Mereka mengatakan,”Bagaimana kami bisa membaca seperti Al Qur’an?” Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al Qur’an.” (HR. Muslim no. 1922)
An Nawawi mengatakan,
Dalam riwayat yang lainnya dikatakan, ”Sesungguhnya Allah membagi Al Qur’an menjadi tiga bagian. Lalu Allah menjadikan surat Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) menjadi satu bagian dari 3 bagian tadi.” Lalu Al Qodhi mengatakan bahwa Al Maziri berkata, ”Dikatakan bahwa maknanya adalah Al Qur’an itu ada tiga bagian yaitu membicarakan (1) kisah-kisah, (2) hukum, dan (3) sifat-sifat Allah. Sedangkan surat Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash) ini berisi pembahasan mengenai sifat-sifat Allah. Oleh karena itu, surat ini disebut sepertiga Al Qur’an dari bagian yang ada. Ada pula yang mengatakan bahwa pahala membaca surat ini adalah dilipatgandakan seukuran membaca sepertiga Al Qur’an tanpa ada kelipatan. (Syarh Shohih Muslim, 3/165)
Apakah Surat Al Ikhlas bisa menggantikan sepertiga Al Qur’an?
Maksudnya adalah apakah seseorang apabila membaca Al Ikhlas sebanyak tiga kali sudah sama dengan membaca satu Al Qur’an 30 juz? [Ada sebagian orang yang meyakini hadits di atas seperti ini.]
Jawabannya: tidak. Karena ada suatu kaedah:
SESUATU YANG BERNILAI SAMA, BELUM TENTU BISA MENGGANTIKAN.
Itulah surat Al Ikhlas. Surat ini sama dengan sepertiga Al Qur’an, namun tidak bisa menggantikan Al Qur’an. Salah satu buktinya adalah apabila seseorang mengulangi surat ini sebanyak tiga kali dalam shalat, tidak mungkin bisa menggantikan surat Al Fatihah (karena membaca surat Al Fatihah adalah rukun shalat, pen). Surat Al Ikhlas tidak mencukupi atau tidak bisa menggantikan sepertiga Al Qur’an, namun dia hanya bernilai sama dengan sepertiganya.
Bukti lainnya adalah seperti hadits :
مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ
”Barangsiapa mengucapkan (لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ) sebanyak sepuluh kali, maka dia seperti memerdekakan emat budak keturunan Isma’il.” (HR. Muslim no. 7020)
Pertanyaannya : Apakah jika seseorang memiliki kewajiban kafaroh, dia cukup membaca dzikir ini?
Jawabannya : Tidak cukup dia membaca dzikir ini. Karena sesuatu yang bernilai sama belum tentu bisa menggantikan. (Diringkas dari Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah 97-98, Tafsir Juz ‘Amma 293)
Mudah-mudahan kita memahami hal ini.
[Keutamaan Kedua]
Membaca surat Al Ikhlash sebab mendapatkan kecintaan Allah
Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada seorang budak. Budak ini biasanya di dalam shalat ketika shalat bersama sahabat-sahabatnya sering mengakhiri bacaan suratnya dengan ’Qul huwallahu ahad.’ Tatkala para sahabatnya kembali, mereka menceritakan hal ini pada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lantas berkata,
سَلُوهُ لأَىِّ شَىْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ
”Tanyakan padanya, kenapa dia melakukan seperti itu?”
Mereka pun menanyakannya, dia pun menjawab,
لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا
”Surat ini berisi sifat Ar Rahman. Oleh karena itu aku senang membacanya.”
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda,
أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ
”Kabarkan padanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. Bukhari no. 7375 dan Muslim no. 813)
Ibnu Daqiq Al ’Ied menjelaskan perkataan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ”Kabarkan padanya bahwa Allah mencintainya”. Beliau mengatakan,
”Maksudnya adalah bahwa sebab kecintaan Allah pada orang tersebut adalah karena kecintaan orang tadi pada surat Al Ikhlash ini. Boleh jadi dapat kitakan dari perkataan orang tadi, karena dia menyukai sifat Rabbnya, ini menunjukkan benarnya i’tiqodnya (keyakinannya terhadap Rabbnya).” (Fathul Bari, 20/443)
Faedah dari hadits di atas:
Ibnu Daqiq Al ’Ied menjelaskan, ”Orang tadi biasa membaca surat selain Al Ikhlash lalu setelah itu dia menutupnya dengan membaca surat Al Ikhlash (maksudnya: setelah baca Al Fatihah, dia membaca dua surat, surat yang terakhir adalah Al Ikhlash, pen). Inilah yang dia lakukan di setiap raka’at. Kemungkinan pertama inilah yang nampak (makna zhohir) dari hadits di atas. Kemungkinan kedua, boleh jadi orang tadi menutup akhir bacaannya dengan surat Al Ikhlash, maksudnya adalah surat Al Ikhlas khusus dibaca di raka’at terakhir. Kalau kita melihat dari kemungkinan pertama tadi, ini menunjukkan bolehnya membaca dua surat (setelah membaca Al Fatihah) dalam satu raka’at.” Demikian perkataan Ibnu Daqiq. (Fathul Bari, 20/443)
Surat Al-A’Laq dan Surat An-Nass

Diriwayatkan oleh Abu Daud dan An-Nasa’i dani Uqbah bin Amir RA, ia berkata, “Suatu ketika aku menggiring unta Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan. Lalu beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Uqbah, maukah engkau aku ajarkan dua surah yang paling baik untuk dibaca?’ Beliau kemudian mengajarkankepadaku Qul a’uudzu birabbil falaq (surah Al Falaq) dan Qul a’uudzu birabbinnaas (surah An-Naas). [Sunan Abu Daud (1462), Sunan An-Nasa’i (21158), dan Shahih Mustim (814)]
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAw bersabda, “Wahai Uqbah, mintalah perlindungan dengan kedua surah tersebut, karena tidak ada orang yang meminta perlindungan dengannya dapat menyamai ke duanya.”
Ibnu Hibban di dalam kitab Shahihnya dan Al Hakim di dalam kitab Al Mustradrak meriwayatkan hadits ini dengan redaksi yang semakna. Dan setelah meriwayatkan hadits ini, Al Hakim berkata, “Sanad hadits ini shahih.”
Al Hakim disebutkan dengan redaksi: Rasulullah SAW berkata,”Wahai Uqbah, bacalah Qul a’uudzu birabbil falaq (Al Falaq), karena sesungguhnya tidak ada surah yang engkau baca lebih disukai dan lebih diterima oleh Allah daripadanya. Jika engkau bisa untuk tidak meninggalkannya, maka lakukanlah!”
An-Nasa’i dan Ibnu Hibban juga di dalam kitab Shahih’nya meriwayatkan hadits yand semakna bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bacalah wahai Jabir!” Aku berkata, “Demi ayahmu dan ibuku; Apakah yang aku baca?” Beliau berkata, “Qul a’uudzu birabbil falaq dan Qul a’uudzu birabbinnaas. ” Maka aku pun membaca keduanya. Setelah itu beliau berkata, “Engkau tidak akan membaca yang seumpama keduanya.”
Ahmad meriwayatkan hadits dari perawi-perawi yang tsiqah dari Uqbah, dia berkata,”Suatu ketika aku menemui Rasulullah SAW lalu beliau berkata kepadaku, ‘Wahai Uqbah bin Amir, maukah engkau aku ajarkan beberapa surah yang tidak diturunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur, dan surah dalam Al Furqan yang sama dengannya? Tidaklah datang satu malam pun kecuali aku membacanya, yaitu Qul huwallaahu ahad (surah Al lkhlaash), Qul a’uudzu birabbil falaq (surah Al Falaq), dan Qul a’uudzu birabbinnaas (surah An Naas).”
*Tidak ada orang yang meminta dan memohon perlindungan dengan surah yang dapat menyamai keduanya (surah -Al Falaq dan An-Naas).” (HR. Ibnu Abu Syaibah)
Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah di dalam kitab Al Mushannaf dari Uqbah bin Amir RA, ia berkata: Rasulullah SAW pernah berkata kepadanya, “Wahai Uqbah, bacalah keduanya setiap engkau (akan) tidur dan setiap engkau bangun. Tidak ada orang yang meminta dan memohon perlindungan dengan surah yang dapat menyamai keduanya.”
Redaksi ini adalah salah satu redaksi Uqbah yang telah disebutkan sebelumnya. Dan seperti itulah hadits Uqbah ini diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i, dan Al Hakim. Dan Imam As-Suyuthi menilainya shahih.
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dari Abu Sa’id Al Khudri RA, ia berkata, “Beliau (Rasulullah SAW) meminta perlindungan dari jin dan sihir mata manusia, sampai surah Al mu’awwidzatain (Al Falaq dan An-Naas) diturunkan. Ketika keduanya turun, beliau pun mengambil keduanya dan meninggalkan yang lain.” At-Tirmidzi berkata “Hadits ini hasan gharib)’ Selain itu, Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits yang semakna dari Abu Sa’id RA.
“Bacalah keduanya setiap engkau (akan) tidur dan setiap engkau bangun.” (HR. Ibnu Abu Syaibah di dalam kitabnya Al Mushannaf)
Imam As-Suyuthi mengatakan bahwa hadits ini shahih.
Ahmad meriwayatkan dari Yazid bin Abdullah bin Asy-Syukhair, dengan status perawi shahih, ia berkata: seorang pria berkata, “Suatu ketika kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, sementara orang-orang mengikuti di belakang. Dan pada waktu zhuhur tibalah saatnya Rasulullah SAW berhenti dan aku pun berhenti. Kemudian beliau menghampiriku lalu menepuk pundakku seraya berkata, ‘Qul a’uudzu birabbil
falaq.’ Lalu Rasulullah SAW membacanya dan aku pun membacanya bersama beliau. Kemudian beliau berkata kepadaku,’Qul a’uudzu birabbinnaas.’ Lalu Rasulullah SAW membacanya dan aku pun membacanya bersama beliau. Setelah itu beliau beikata, ‘Jika engkau shalat, bacalah keduanya’.”
AlBazzar meriwayatkan dari Abdullah bin Al Aslami, dengan status perawi shahih, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah SAW dalam sebuah perjalanan umrah. Hingga ketika kami sampai di lembah Waqim, tiba-tiba kabut muncul .menyelimuti sehingga kami pun tersesat jalan. Manakala melihat hal itu, Rasulullah SAW berpaling menuju kumpulan yang pekat, lalu mendudukkan untanya. Setelah itu beliau berdiri dan berdiam beberapa lama. Beliau terus menerus shalat hingga terbit fajar. Kemudian beliau memegang kepala untanya (mengambil tali kekangnya), kemudian berjalan sementara Abdullah Al Aslami di samping beliau. Lalu Rasulullah SAW meletakkan telapak tangannya di dadaku. Kemudian beliau berkata, ‘Bacalah!’Aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Beliau menjawab, ‘Bacalah Qul huwallaahu ahad (surah Al lkhlaash)!’ Kemudian beliau berkata, “Bacalah!”. Aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Beliau menjawab, ‘Qul a’uudzu birabbil faloq, min syarri maa khalaq (surah Al Falaq)’. Lalu aku membacanya hingga selesai. Kemudian beliau berkata, ‘Bacalah!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus aku baca?’ Beliau menjawab, ‘Qul a’uudzu birabbinnaas (surah An-Naas)!’ Aku pun membaca Qul A’uudzu birabbinnaas hingga selesai. Lalu Rasulullah SAW berkata, ‘Beginilah cara meminta perlindungan kepada Allah karena tak ada hamba yang meminta perlindungan dapat menyamainya’.”
Ahmad bin Mani’ di dalam Musnad-nya berkata: Yusuf bin ‘Athiyah menceritakan kepada kami, dia berkata: Harun bin Katsir menceritakankan kepada kami dari Zaidbin Aslam dari ayahnya dari Ubai bin Ka’ab RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda,”Siapa yang membaca mu’awwidzat (Al lkhlaash, Al Falaq dan An-Naas), maka dia seolah-olah telah membaca semua yang diturunkan kepada Muhammad.”

3.Al-Baqoroh Awal(1-5),Pertengahan (163) (Ayat kursi 255),Akhir (284-286)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a bahwa rasulullaah bersabda:
“Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari surat Al Baqarah di permulaan siang, maka ia tidak akan didekati oleh setan sampai sore. Dan jika membacanya sore hari, maka ia tidak akan didekati oleh setan sampai pagi hari dan ia tidak akan melihat sesuatu yang dibenci pada keluarga dan hartanya.”
Diriwayatkan pula dari Ibnu Mas’ud r.a bahwa Nabi s.a.w bersabda:
“Barangsiapa membaca sepuluh ayat; empat ayat dari awal surat Al Baqarah, ayat kursi dan dua ayat sesudahnya, serta ayat-ayat terakhir dari Al Baqarah, maka rumahnya tidak akan dimasuki setan sampai pagi.”
Dalam satu riwayat lain disebutkan bahwa dia dan keluarganya tidak akan didekati syaitan dan apa yang dibencinya ( binatang buas seumpamanya ). Dan tidaklah ayat ini jika bicakan kepada orang gila akan membuatkannya sadar.
Adapun keagungan dari surah Al Baqarah lainnya;
1. Rumah terbebas dari datangnya syaitan
Imam Ahmad, at-Tirmidzi, Muslim dan An-Nasa-I meriwayatkan dari Suhail bin shalih, dari ayahnya, dari abu hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“ Janganlah kamu menjadikan rumah kamu sebagai kuburan, sesungguhnya rumah yang di bacakan Surah Al Baqarah tidak akan dimasuki syaitan “
2. Malaikat senang dengan bacaan surah Al baqarah
Al Bukhari meriwayatkan dari Al-laits, dari yazid bin Al-Haad, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Usaid bin Hudhair :
“ Pada suatu malam dia membaca surah Al-Baqarah sementara kudanya ditambat berhampiran dengannya. Tiba-tiba kudanya itu pun berputar-putar. Ketika Usaid berhenti membaca, kudanya itu pun kembali tenang. Kemudian Usaid membacanya kembali dan kudanya itu pun kembali bergerak dan berputar-putar. Tatkala dia berhenti membaca, kudanya kembali diam. Kemudian dia membacanya lagi, kudanya itu pun bergerak dan berputar-putar. Maka dia pun berhenti membacanya sedangkan puteranya Yahya berada berhampiran kuda tersebut. Oleh karena merasa bimbang dan kasihan jika kuda itu akan memijak anaknya, dia pun mengambil anaknya seraya penglihatannya mengadap ke langit dan dia melihat satu bayangan putih (berkelip-kelip ) sampai dia tidak melihatnya lagi.
Ketika pagi menjelang, dia pun menceritakan perihal tersebut kepada Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda :
“Tahukah engkau apa itu “ Tanya Rasulullah. “ Tidak “ Jawabnya.
Beliau pun bersabda “ itulah malaikat yang mendekatimu untuk mendengar suara bacaanmu. Seandainya kamu terus membacanya (sampai pagi ), nescaya pagi ini manusia akan dapat melihatnya tanpa terhalang.”
bintang di langit : Mendapatkan Syafaat di Padang Mahsyar Surah Al baqarah dan surah Ali’- Imran dipanggil surah az-Zahrawain yang apabila dibaca akan mendapat syafaat di padang mahsyar kelak. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Umamah, dia berkata:
“ Aku pernah memdengar Rasulullah bersabda: “ Bacalah Al-Quran karena Al-quran itu akan memberi syafaat kepada pembacanya di Akhirat kelak. Dan bacalah az-Zahrawain yaitu Surah Al-Baqarah dan Ali’-Imran, karena kedua surah itu akan datang pada hari kiamat, seolah-olah keduanya bagai tumpukan awan, atau 2 bentuk payung yang menaungi, atau dua kelompok burung yang mengembangkan sayapnya. Keduanya akan berdalih untuk membela pambacanya di hari kiamat. “
4. Terkabulnya Doa
Ibnu Abbas r.a. bercerita: Pada suatu ketika Malaikat Jibril berada disisi Nabi Muhammad s.a.w., tiba-tiba terdengar suara dari atas, maka ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Ini sebuah pintu dilangit, pada hari ini dibuka dan turun seorang malaikat memberi salam dan berkata:
“Bergembiralah dengan dua cahaya penerangan yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepadamu dan belum pernah diberikan kepada seseorang Nabi sebelum kamu iaitu: FATIHUL KITAB dan akhir SURAH AL-BAQARAH. Tiada engkau membaca suatu huruf daripadanya melainkan pasti permintaanmu diberi.” (HR Muslim)
Sumber referensi:
Al qur’an
Al Ma’tsurat Hasan Al Banna
Tafsir Ibnu Katsir
Dari Anas bin Malik r.a. berkata, “Rasulullah S.A.W bersabda : Apabila seseorang dari umatku membaca ayat al kursi 12 kali, kemudian dia berwudhu dan mengerjakan shalat Subuh, niscaya Allah akan menjaganya dari kejahatan syaitan dan darjatnya sama dengan orang yang membaca seluruh al-Qur’an sebanyak tiga kali, dan pada hari kiamat ia akan diberi mahkota dari cahaya yang menyinari semua penghuni dunia.”
Berkata Anas bin Malik, “Ya Rasulullah, apakah hendak dibaca setiap hari?” Sabda Rasulullah S.A.W, ” Tidak, cukuplah membacanya pada setiap hari Jum’at.”
Umat-umat dahulu hanya sedikit saja yang mempercayai rasul-rasul mereka dan itu pun apabila mereka melihat mukjizat secara langsung. Kita sebagai umat Islam tidak boleh ragu-ragu tentang apa yang diterangkan oleh Allah dan Rasul. Janganlah kita ragu-ragu tentang Al-Qur’an, hadis dan sunnah Rasul kita. Janganlah kita menjadi seperti umat yang terdahulu yang mana mereka itu lebih suka banyak bertanya dan hendak melihat bukti-bukti terlebih dahulu sebelum mereka beriman.
Setiap yang dianjurkan oleh Rasulullah S.A.W kepada kita adalah untuk kebaikan kita sendiri. Rasulullah S.A.W menyuruh kita mengamalkan membaca surah Kursi. Kehebatan ayat ini telah diterangkan dalam banyak hadis. Kehebatan ayat al kursi ini adalah untuk kita juga, yakni untuk menangkis gangguan syaitan dan konco-konconya di Samping itu kita diberi pahala.
Begitu juga dengan surah al-Falaq, surah Yasin dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai keistimewaannya. Setiap isi al-Qur’an itu mempunyai kelebihan yang tersendiri. Oleh itu kita umat Islam, janganlah ada sedikit pun keraguan tentang ayat-ayat al-Qur’an, hadis Nabi dan sunnah Baginda S.A.W. Keraguan dan was-was itu datangnya dari syaitan.
Berikut adalah keutamaan ayat al kursi dari berbagai hadits :
1. Ketika ayat ini turun, semua berhala terjungkal, semua raja di dunia terjerembab dan jatuhlah mahkota dari kepala mereka. Setan berlari kocar-kacir, saling tabrak dan lindas. Mereka berkumpul untuk memberikan laporan kepada iblis tentang peristiwa ini. Iblis segera menyuruh mereka untuk mencari tahu apa penyebabnya. Segera mereka terbang mengelilingi timur dan barat. Merekapun datang ke Madinah. Akhirnya mereka mendapat berita bahwa ayat al kursi telah turun.
2.Dari Ubay bin Ka’ab ra. dia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Abu Al Mundzir, tahukah kamu ayat apa yang termulia dari Al-Qur’an?” Aku menjawab, “Allah, tiada sembahan selain Dia yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri (ayat al kursi).” Ubay berkata, “Maka Rasulullah saw. menepuk dadaku dan bersabda ‘Semoga engkau mudah memperoleh ilmu wahai Abu Mundzir’.” (HR. Muslim).
Diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan sanad yang Shahih, namun beliau (Ahmad) menambahkan redaksi hadits tersebut berbunyi, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya! Sesungguhnya surat ini memiliki lisan dan dua bibir. Mereka mensucikan Allah di bawah Arsy.” Hadits Shahih
3. Dari Abu Idris Al Khaulani bahwa Abu Dzar ra. Bercerita (ia berdialog dengan Rasulullah saw. Yang salah satu dialognya adalah), “Ayat apakah yang diturunkan kepadamu yang paling besar?” Rasulullah menjawab: “ayat al kursi dan tujuh langit itu dibandingkan dengan Kursi, melainkan seperti sebuah cincin yang berada di tengah-tengah padang pasir dan perbandingan Arsy terhadap Kursi adalah perbandingan padang pasir itu terhadap cincin itu.” (HR. Muhammad bin Alhusain – Tafsir Ibnu Katsir).
4. Dari Ubay bin Ka’ab ra. dahulu mereka memiliki suatu wadah tempat mengeringkan kurma. Di dalam wadah itu terdapat beberapa biji kurma. Pada suatu hari mereka mendapati jumlah kurma di dalamnya berkurang. Maka dalam suatu malam merekapun menjaganya tiba-tiba ada suatu makhluk seperti seorang anak yang berumur baligh. Lalu akupun (Ubay bin Ka’ab) memberinya salam dan ia menjawabnya. Aku berkata, “Engkau manusia atau jin?” Makhluk itu menjawab, “Jin.” Aku berkata “Perlihatkanlah tanganmu!” Ternyata tangan itu adalah tangan anjing dan rambutnya-pun rambut anjing. Aku berkata, “Beginikah bentuk jin?” Jin itu menjawab, “Engkau telah mengenal bentuk jin, tetapi di antara mereka ada lagi yang lebih menakutkan dariku.” Aku bertanya, “Mengapa engkau mencuri?” Jin itu menjawab, “Aku mendengar bahwa engkau adalah orang yang gemar bersedekah, karena itu aku ingin mendapatkan sebagian dari makananmu.” Aku bertanya, “Apa yang dapat menghalangi kalian (golongan jin) dari mengganggu kami?” Jin itu menjawab, “ayat al kursi.” Setelah itu aku pun meninggalkannya, dan keesokan harinya aku mendatangi Rasulullah saw. dan menceritakan perihal tersebut. Lalu beliau bersabda, “Makhluk buruk itu berkata benar.” (HR. Ibnu Hibban). Hadits Shahih
5. Dari Abu Ayyub Al Anshari, dahulu dia mempunyai sebuah wadah tempat menyimpan kurma dan syetan Al Ghul sering datang mencuri kurma-kurma tersebut. Aku berkata, -perawi menyebutkan hadits ini sampai pada kalimat- maka pada ketiga kalinya beliau menangkapnya dan berkata, “Aku tidak akan melepaskanmu hingga aku membawamu pada Rasulullah saw.” Syetan itu berkata, “ (Bebaskanlah aku). Aku akan memberimu sebuah resep yang ampuh, bacalah ayat al kursi dirumahmu, maka syetan dan makhluk-makhluk halus lain tidak akan mendekatimu.” Keesokkan harinya, datanglah ia menemui Rasulullah saw. maka Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang dilakukan oleh tawananmu?” Perawi berkata, “Maka beliau pun menceritakan –mengenai bacaan yang diberikan dari syetan- kepada Rasulullah saw.” Rasulullah saw. bersabda, “Ia benar meskipun ia adalah makhluk yang sangat pendusta.” (HR. Tirmidzi). Tirmidzi berkata, “Ini hadits Hasan.”
6. Dari Abu Hurairah ra. dia berkata, “Rasulullah saw. pernah menugaskanku untuk menjaga zakat Ramadhan. Ketika itu datanglah seseorang mencuri makanan, maka akupun menangkapnya. Aku berkata, ‘Sungguh akan kulaporkan kamu kepada Rasulullah saw. ia berkata, ‘Aku butuh, aku mempunyai utang dan tanggungan’. Kemudian akupun (Abu Hurairah) membebaskannya. Tatkala pagi, Nabi saw. berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, apa dilakukan oleh tawananmu semalam?’ Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, ia meminta belas kasih kepadaku, ia mengatakan bahwa ia sangat membutuhkannya untuk menghidupi keluarganya. Oleh karena itu, aku mengasihaninya dan membebaskannya’. Rasulullah saw. bersabda ‘Sungguh ia telah menipumu, dan sungguh ia akan kembali lagi’. Maka karena yakin dengan sabda beliau saw., akupun mengawasinya. Ketika ia datang mencuri makanan, aku lantas menangkapnya dan berkata, ‘Kali ini aku benar-benar akan menghadapkanmu kepada Rasulullah saw., dan ini yang ketiga kalinya engkau berjanji tidak akan kembali’. Ia berkata, ‘Lepaskan aku, dan aku akan mengajarimu beberapa kalimat yang akan bermanfaat bagimu’. Aku berkata, ‘Kalimat-kalimat apakah itu?’ Ia berkata, ‘Apabila engkau hendak tidur, maka bacalah ayat al kursi hingga selesai, maka engkau akan senantiasa berada dalam perlindungan Allah, dan syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi’. Maka akupun melepaskannya. Tatkala pagi, Rasulullah saw. bersabda, ‘Apa yang diperbuat tawananmu semalam?’ Aku berkata, ‘Ya Rasulullah, ia mengatakan bahwa ia akan mengajariku sesuatu yang bermanfaat, sehingga aku melepasnya’. Rasululluah saw. bersabda, ‘Apa yang ia ajarkan?’ Aku berkata, ‘Ia mengatakan bahwa jika engkau hendak tidur, maka bacalah ayat al kursi dengan sempurna’. Ia juga mengatakan bahwa engkau akan senantiasa berada dalam pelindungan Allah dan syetan tidak sanggup mendekati hingga tiba waktu Subuh’. Rasulullah saw. bersabda, ‘Sungguh ia telah berkata benar kepadamu, walaupun sesungguhnya ia adalah pendusta. Tahukah engkau siapakah orang yang engkau ajak bicara sejak tiga hari yang lalu?’ Aku (Abu Hurairah) berkata, ‘Tidak’. Rasulullah saw. bersabda, ‘Dia itu adalah syetan’.” (HR. Bukhari).
7. Bersabda Nabi saw., “Bagi tiap sesuatu ada gumbalnya. Bahwasannya gumbal Al-Qur’an ialah surat Al Baqarah. Di dalamnya ada satu ayat yang menjadi penghulu segala ayat. Jika dibaca ayat itu di dalam sebuah rumah, sedang di dalamnya ada setan, maka keluarlah setan itu dari rumah itu. Ayat itu adalah ayat al kursi.” (HR. Tirmidzi, hadits yang senada juga diriwayatkan oleh Al Hakim).
8. Bersabda Nabi saw., “Sebesar-besar ayat di dalam kitab Allah, ialah ayat Kursy.” (HR. Muslim).
9. Dari Imran bin Hushain ra. telah berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang membaca Al Fatihah dan ayat al kursi di rumahnya, tidak dapat menimpa kepadanya penyakit ‘ain dari manusia atau jin di hari itu.” (Bey Arifin-Samudra Al Fatihah).
10. Dari Abu Umamah ra. dia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca ayat al kursi setiap habis shalat, niscaya tidak ada yang akan menghalanginya ke surga, sesudah ia mati.” (HR. An-Nasa’i).
11. Dari Hasan bin ‘Ali r.huma. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca ayat al kursi sesudah shalat wajib, maka ia berada dalam perlindungan Allah sampai shalat berikutnya.” (HR. Thabrani).
12. Dari Abu Qatadah ra. Dari Rasulullah saw. “Barangsiapa membaca ayat al kursi ketika mendapat kesulitan, maka Allah swt. Akan menolongnya.” (Dalam kitab Al-Firdaus).
13. Dari Ibnu Mas’ud ra. “Barangsiapa membaca 4 ayat dari awal surat Al Baqarah, ayat al kursi, 2 ayat setelah ayat al kursi dan 3 ayat akhir surat Al Baqarah, maka setan dan sesuatu yang tidak disukai tidak akan mendekati dirinya dan keluarganya pada hari itu. Dan tidaklah keduanya dibacakan kepada orang yang gila, melainkan dia akan sembuh.” (HR. Darimi).
14. Dari Ali ra. berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca ayat al kursi ketika beranjak tidur, maka Allah swt. Akan melindungi rumahnya, rumah tetangganya dan rumah-rumah kecil yang berada di sekitarnya.” (HR. Baihaqi).
15. Dari Ali ra. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa membaca ayat al kursi ketika tengah berbekam, maka manfaat pembekaman itu adalah fungsi dua kali berbekam.” (HR. Dailami, Ibnu As Sinni).
16. Dari Anas ra. “Barangsiapa membaca ayat al kursi setiap kali usai shalat wajib, maka dia akan terjaga hingga shalat yang lain. Dan tidak ada yang melanggengkannya, kecuali seorang nabi, shiddiqin atau seorang syahid.” (HR. Baihaqi).
17. Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa keluar dari rumah dan membaca ayat al kursi, maka Allah swt. Akan mengutus 70.000 malaikat kepadanya, yang memintakan ampunan dan mendoakannya.” Rasulullah saw. juga bersabda, “Barangsiapa kembali ke rumahnya, lalu dia membaca ayat al kursi, maka Allah swt. Mencabut kemiskinan darinya.” Maka orang yang melanggengkan ayat al kursi akan menjadi kekasih Allah swt. Di mana Allah swt. Akan menjaganya sebagaimana Allah swt. Menjadi kekasih-Nya, yaitu Rasulullah saw.
18. Dari Salman Al-Farisi dari Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca ayat al kursi di dalam sakitnya, maka Allah swt. Akan memudahkan untuknya dalam sekarat mati. Tidaklah malaikat melewati sebuah rumah yang di dalamnya terdapat ayat al kursi, melainkan mereka akan berbaris. Dan tidak mereka melewati surat Al Ikhlas, melainkan mereka akan sujud. Dan tidak mereka melewati akhir surat Al Hasyr, kecuali mereka akan bersimpuh di atas lutut mereka.” (Syamsul Ma’arif).
19. Rasulullah saw. berpesan kepada Ali bin Abu Thalib ra. Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu menginginkan suatu kepentingan, maka bacalah ayat al kursi, kemudian meulailah dengan kaki kananmu.”
20. Dalam sebuah wasiat kepada Ali bin Abu Thalib ra Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kamu selalu membaca ayat al kursi, karena dalam setiap hurufnya terdapat 1.000 berkah dan 1.000 rahmat.” (Roudlotul Muttaqin).
21. Dari Ma’qil bin Yasar ra. dari Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca 10 ayat dari surat Al Baqarah, 4 ayat di bagian awalnya, ayat al kursi, 2 ayat sesudahnya dan 3 ayat dari akhir surat Al Baqarah, dalam suatu malam, maka setan dan apapun yang tidak disukai tidak akan dapat mendekatinya, juga anak dan keluarganya. Dan tidaklah dia dibaca kepada orang yang pingsan, melainkan dia akan sembuh dari gilanya dengan ayat tersebut.”
22. Dari Aisyah rah. Bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca 4 ayat dari awal Al Baqarah, ayat al kursi, 2 ayat sesudahnya dan 3 ayat akhir Al Baqarah dalam suatu malam, maka Allah swt. Menjaganya, menjaga keluarga, anak, harta, akhir dan dunianya.” (HR. Dailami).
23. Dari Ali bin Abi Thalib ra. disebutkan Rasulullah saw. bersabda, “Surat Al Fatiha, ayat al kursi, dua ayat dari surat Ali Imran, yaitu ayat 18-19,26-27 Mereka saling terkait, di antara ayat-ayat tersebut dengan Allah swt. Tidak ada lagi penghalang. Dengan kata lain, ketika Allah swt. Menghendaki mereka untuk turun, mereka bergantung kepada Arsy dan berkata, “Engkau menurunkan kami ke bumi MU dan kepada orang yang durhaka kepada-Mu.” Maka Allah swt. Berfirman, “Dengan diri-Ku sendiri aku bersumpah bahwa tidaklah seseorang dari hamba-Ku membaca kalian setiap usai shalat wajib, kecuali Aku akan menjadikan surga sebagai tempat berdiamnya, sesuai dengan apa yang ada darinya. Dan Aku pasti menempatkannya di hadirat yang suci dan Aku akan melihat kepadanya dengan mata-Ku yang tersembunyi setiap hari 70 kali. Aku pasti memenuhinya setiap hari 70 kebutuhan, yang paling rendah adalah ampunan. Aku akan melindunginya dari semua musuh dan orang yang dengki. Dan Aku pasti membantunya dari mereka. (Ma’alimi Tanzil).
24. Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. Memberikan wahyu kepada nabi Musa as. Bacalah ayat al kursi setiap usai shalat wajib, karena barangsiapa membacanya, akan dijadikan untuknya hati orang yang bersukur, lisan orang yang berdzikir, pahala para nabi dan amal para shiddiqin. Dan tak ada yang melanggengkannya kecuali seorang nabi, shiddiq, hamba yang Aku bersihkan hatinya dengan iman atau orang yang Aku ingin membunuhnya di jalan Allah swt.” (Bahrul Ulum).
25. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa membaca ayat al kursi setelah shalat wajib, maka tujuh langit terbelah dan tidak akan pernah menutup lagi sampai Allah swt. Melihat kepada orang yang membacanya dan mengampuninya. Dan Allah swt. Mengutus seorang malaikat untuk mencatat kebaikannya dari waktu itu sampai besok pagi.” (HR.Dailami, Ibnu Sinniy).
26. Dari Anas ra. “Barangsiapa membaca ayat al kursi setelah shalat wajib, maka Allah swt. Menjaganya sampai shalat berikutnya. Tak ada orang yang dapat menjaga dan melanggengkannya kecuali seorang nabi, shiddiqin atau syahidin.” (HR. Baihaqi).
27. Dari Ali bin Abi Thalib ra. dari Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah dibaca ayat ini di dalam sebuah rumah, kecuali setan akan meninggalkan rumah itu selama tiga puluh hari. Rumah itu tidak akan dimasuki oleh penyihir lelaki maupun wanita selama empat puluh hari. Hai Ali, ajarkan ayat itu kepada anakmu, keluarga dan tetanggamu, karena tidak ada ayat yang diturunkan yang lebih besar ketimbang dia.”
28. Dari Ibnu Abbas ra. berkata, “Tidaklah Allah swt. Menciptakan sesuatu dari langit, bumi, dataran maupun gunung, yang lebih besar dibandingkan ayat al kursi.” (HR. Baihaqi, Ibnu Dlurais, Said bin Manshur).
29. Rasulullah saw. bersabda, “Bahwa ayat yang paling agung di dalam Al Qur’an adalah ayat al kursi. Barangsiapa membacanya, maka Allah swt. Mengutus malaikat yang menulis kebaikannya dan menghapus keburukannya hingga keesokan harinya dari waktu itu.”
30. Rasulullah saw. bersabda, “Aku melihat ke dalam Luh Mahfudl. Aku melihat tiga cahaya di tiga tempat. Aku berkata, “Wahai Tuhanku apa ketiga warna itu?” Allah swt. Berfirman, “Itu adalah tempat ayat al kursi, Yasiin dan Al Ikhlas.” Aku berkata, “Wahai Tuhanku, apa pahala ayat al kursi?” Allah swt. Berfirman, “Dia adalah sifat-Ku. Barangsiapa membacanya satu kali, dia akan melihat wajah-Ku kelak di hari qiamat. Allah swt. Membaca ayat, “Di hari itu wajah-wajah bercahaya, melihat kepada Tuhannya.
8.Surat  Albaqoroh 285-286
Menurut hadis Bukhari (64:12) Rasulullah pernah bersabda bahwa barang siapa yang berdoa seperti yang diajarkan dalam dua ayat terakhir surat Albaqarah (Q 2: 285-286) maka cukuplah baginya (doa’ nya).
Menurut Maulana Muhammad Ali dalam catatan kaki no 380 terjemahan Al- Qur’an, Doa ini terdiri dari dua susunan yang terdiri masing- masing dari tiga permohonan : Pasangan pertama adalah: permohonan agar dihindari dari hukuman, permohonan agar jangan dibebani oleh dosa, hindari kami dari bencana yang lebih dari kemampuan seseorang untuk menanggungnya.

 

8.Do’a/shalawat atas Nabi Muhammad

Dibawah ini adalah dalil-dalil tentang shalawat baik dari Al-Quran maupun Al-Hadis Nabi Saw., serta para ulama
AL-QUR’AN
Surat Al-Ahzâb ayat 43:

Artinya: “Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohon ampunan untukmu) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya yang terang”.
Surah Al-Ahzâb ayat 56:

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.
Maksud Allah bershalawat kepada Nabi Saw. adalah dengan memberi rahmat-Nya; bershalawat malaikat kepada Nabi Saw. dengan memintakan ampunan; sedangkan bershalawatnya orang-orang mu’min kepada Nabi Saw. dengan berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan per-kataan “Allâhumma Shalli ‘alâ Muhammad”
Adapun salam kepada Nabi Saw. adalah dengan mengucapkan “Assalâmu Alayka Ayyuh al-Nabiyy.”
Al-Hadits

Artinya: “Bershalawatlah kamu kepadaku, karena sha-lawatmu itu menjadi zakat (penghening jiwa pembersih dosa) untukmu.” (HR. IbnMurdaweh)

Artinya: “Saya mendengar Nabi Saw. Bersabda janganlah kamu menjadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan, dan janganlah kamu menjadikan kuburanku sebagai per-sidangan hari raya. Bershalawatlah kepadaku, karena shalawatmu sampai kepadaku dimana saja kamu berada.” (HR. Al-Nasâ’i, Abû Dâud dan dishahihkan oleh Al-Nawâwî).

9.Ali-Imron 173
10.Al-anfal 40

Maksudnya : “ Cukuplah Allah untuk ( menolong ) kami, dan Ia sebaik-baik pengurus
( yang terserah kepada-Nya segala urusan kami ).”

Keterangan ayat

Menurut al-Imam al-Bukhari, Ibn al-Munzir, al-Hakim dan al-Baihaqi, daripada
Ibn Abbas berkata bahawa doa diatas merupakan kalimah yang terakhir diucapkan oleh nabi ibrahim a.s. sebelum dicampakkan ke dalam api. Ia juga diucapkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. ketika golongan kafir menakut-nakutkan nabi tentang tentera bersekutu yang akan menyerang Nabi s.a.w. ( Tafsir al-Fakhrurrazi, tafsir ayat 173, surah Ali-Imran. )
11.Hauqolah

Beberapa Keutamaan hauqalah
Sebaiknya kami bawakan beberapa keutamaan hauqalah sebelumnya:

– Merupakan tabungan/simpanan untuk surga

Rasulullah Shallalahu’alaihi  Wasallam bersabda,

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ ». فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « قُلْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ »

“Wahai Abdullah bin Qais, maukah engkau kuberitahu tentang salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi? Abdullah bin Qais menjawab: ‘Tentu, wahai Rasulullah’. Ia bersabda: ‘Ucapkanlah laa haula wa laa quwwata illa billah’”[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

أنَّ النبي صلى الله عليه وسلم قال:”هي كنز من كنوز الجنة” والكنز مال مجتمع لا يحتاج إلى جمع؛ وذلك أنَّها تتضمن التوكل والافتقار إلى الله تعالى.

“Nabi Shallalahu ’alaihi  Wasallam mengatakan “salah satu tabungan/simpanan dari simpanan-simpanan surgawi “, lafadz (الكنز) “al-Kanzu” maknanya adalah harta yang terkumpul dan tidak membutuhkan  lafadz jamak (كنوز), hal tersebut karena hauqalah mengandung makna tawakkal dan iftiqar (membutuhkan) Allah Ta’ala.”[2]

– Merupakan salah satu dari pinta surga

Rasulullah Shallalahu ’alaihi  Wasallam berkata kepada Abu Musa radhiallahu ‘anhu,

ألا أدلك على باب من أبواب الجنة ؟ قلت بلى ، قال: لا حول ولا قوة إلا بالله )) ، رواه الترمذي وأحمد

“Maukah engkau aku tunjukkan salah satu dari pintu surga? Aku berkata, ‘tentu’. Beliau bersabda, ‘ Laa haula wala quwwata illa billah”[3]

– Amalan yang dianjurkan untuk sering dibaca

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.[4]

Hauqalah hendaknya sering-sering dibaca oleh orang sakit

Syaikh Abdullah bin AL-Jibrin rahimahullah ditanya,

س: يوصي بعض الزائرين المريض بالإكثار من الحوقلة ( لا حول ولا قوة إلا بالله ) فهل لنا أن نعرف من فضيلتكم أهمية هذه الكلمة وهل ورد فيها شيء من السنة؟

“Sebagian penjenguk orang yang sakit memberikan nasihat agar si sakit banyak-banyak membaca hauqalah (laa haula wala quwwata illa billah), apakah urgensi dari kalimat ini dan apakah terdapat dalam sunnah?”

Beliau menjawab,

نعم …ومعنى هذه الجملة اعتراف الإنسان بعجزه وضعفه إلا أن يقويه ربه، فكأنه يقول: يا رب ليس لي حول ولا تحول من حال إلى حال ولا قدرة لي على مزاولة الأعمال إلا بك، فأنا محتاج إلى تقويتك وإمدادك، ففيها البراءة من الحول والقوة، وإن الرب تعالى هو الذي يملك ذلك، ويمد عباده بما يعينهم على أمر دنياهم ودينهم، والله أعلم وصلى الله على محمد وآله وصحبه وسلم.

“iya…Makna kalimat ini (hauqalah) adalah pengakuan manusia akan tidak berdaya serta lemahnya dirinya dan berharap agar Rabb-nya memberikan kekuatan padanya, seakan-akan ia  (si sakit) berkata, ‘wahai Rabb-ku, hamba tidak memiliki daya dan tidak bisa mengubah keadaan, tidak pula memiliki upaya dalam melakukan amal kecuali dengan bantuan-Mu, Hamba membutuhkan taufik dan bantuan-Mu. Dalam kalimat ini terdapat pengakuan ketidakmampuan dalam daya dan upaya karena hanya Allah Ta’ala yang memilikinya. Ia membantu dan menolong hamba-Nnya dalam urusan agama dan dunia.”[5]

Penyakit yang diderita termasuk bahaya dan bahaya tersebut bisa dihilangkan dan diangkat, Makhul rahimahullah berkata,

)) قال مكحول : فمن قال : (( لا حول ولا قوة إلا بالله ولا منجا من الله إلا إليه ، كشف الله عنه سبعين بابا من الضر أدناها الفقر ))

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘laa haula wala quwwata illa billah wala manjaa minallah illa ilaih’ maka Allah akan mengangkat darinya 70 pintu bahaya dan mencegah kefakiran darinya.[6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

وقول ” لا حول ولا قوة إلا بالله ” يوجب الإعانة ؛ ولهذا سنها النبي صلى الله عليه وسلم إذا قال المؤذن : ” حي على الصلاة . فيقول : المجيب : لا حول ولا قوة إلا بالله فإذا قال : حي على الفلاح قال المجيب : لا حول ولا قوة إلا بالله “

“Ucapan laa haula wala quwwata illa billah, memberikan konsekuensi “i’anah” (bantuan), oleh karena itu Rasulullah Shallalahu ’alaihi  Wasallam  memberikan contoh jika muadzzin mengucapkan “hayya ‘alas shalah”, maka dijawab, ‘laa haula wala quwwata illa billah’, jika muadzzin mengucapkan, ‘hayya ‘alal falah’, dijawab’ laa haula wala quwwata illa billah’ (minta bantuan kepada Allah Agar bisa melaksanakannya, pent)”[7]

Syaikh Abdurrazaq Al-Badr hafidzhullah berkata,

أنَّها كلمة استعانة بالله العظيم، فحريٌّ بقائلها والمحافظ عليها أن يظفر بعون الله له وتوفيقه وتسديده

“Kalimat ini adalah permohonan bantuan kepada Allah yang Maha Agung, layak bagi pengucapnya dan menjaganya (wiridnya) agar ia berhasil dengan bantuan, taufik dan  petunjuk dari Allah.”[8]

Demikianlan jika kita menjenguk orang sakit atau sedang ditimpa penyakit maka hendaknya memperbanyak membaca hauqalah.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.
12.Istifar

Kembali dan memohan perlidungan dari
perbuatan dosa yang sama dimasa yang akan datang.Ibnul Qoyyim
berpendapat Istighfar dua bagian, Istighfar mufrad dan Istighfar
yang diiringi dangan Taubat(maqrun). Pertama seperti ungkapan Nabi
Nuh terhadap kaumnya,
َفقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (نوح10 )
maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, –
sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun”, Nuh:10. Yang kedua seperti
firman Allah:
” وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا
حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ
عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat
kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan
memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada
waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap
orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu
berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari
kiamat”, Hud: 3.

Dalil-dalil Istighfar Dalam Hadis Nabi

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu aku mendengar Rasulullah bersabda: “Demi Allah sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dan mohon ampunan dari Allah setiap harinya lebih banyak dari 70 kali” (HR. Bukhari). Dalam riwayat Muslim: “Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dalam sehari 100 kali.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
  2. Ibnu Umar menceritakan, kami pernah bersama-sama dengan Rasulullah dan kami mendengar Rasulullah mengulang-ulang membaca sebanyak 100 kali doa yang berbunyi: “Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubat ku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengasih.” (Hadis Riwayat Abu Dawud, Turmidzi dan Ibnu Majah, dishohehkan oleh Imam Turmidzi)
  3. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah telah bersabda: “Barangsiapa melazimkan istighfar, maka Allah akan jadikan jalan keluar dalam setiap kesulitan hidup, dan jadikan setiap kegundah-gulanaannya menjadi kebahagiaan dan Allah akan memberinya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  4. Abdullah bin Bisry radhiyallahu ‘anhu berkata dia: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Berbahagialah orang yang mendapati dalam lembaran-lembaran amalnya istighfar yang banyak.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah)

13.Tahlil

Rasulullah saw pernah bersabda : “Perbaruilah imanmu sekalian! Kemudian ditanyakan oleh para sahabat  : “Bagaimana cara memperbarui iman kita Ya Rasulullah? Maka Rasulullah menjawab : Perbanyaklah mengucapkan kalimat   لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ   (HR. Ahmad dan Al Hakim)

Kalimat tahlil  yang berarti : “Tidak ada Tuhan kecuali Allah” mengandung beberapa keutamaan, antara lain:

1. Orang yang membaca kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  hanya untuk mencari ridha Allah, akan diharamkan oleh Allah masuk neraka. Rasulullah saw bersabda:

اِنَّ الله قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  يَبْتَغِى بِذٰلِكَ وَجْهَ اللهِ (رواه البخارى ومسلم)

Artinya : “Sesungguhnya  Allah   mengharamkan   masuk  neraka   orang  yang  mengucap  kalimat  لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  dengan tujuan mencari ridha Allah. (HR. Bukhari-Muslim)

2. Kalimat tahlil لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  merupakan benteng Allah dan orang yang masuk benteng Allah akan selamat    dari siksaNya. Rasul bersabda :

حَدَّ ثَنِى جِبْرِيْلُ قَالَ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  حِصْنِى فَمَنْ دَخَلَ اَمِنَ مِنْ عَذَابِى (رواه ابن عساكر عن على رضي الله عنه)

Artinya : “Malaikat Jibril bercerita kepadaku Jibril berkata : “Allah ta’ala berfirman kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  adalah bentengKu, maka barang siapa masuk ke bentengKu, niscaya selamat dari siksaKu (HR. Ibnu Asakir dari Ali RA)

3. Orang yang membaca لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  seratus kali, akan dibangkitkan oleh Allah   pada hari kiamat wajahnya seperti bulan purnama, Rasulullah saw bersabda :

لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقُوْلُ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  مِائَةَ مَرَّةٍ اِلاَّ بَعَثَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَلَمْ يَرْفَعْ لِاَحَدٍ يَوْمَئِدٍ عَمَلٌ اَفْضَلُ مِنْ عَمَلِهِ اِلاَّ قَالَ مِثْلَ قَوْلِهِ اَوْزَادَ (رواه الطبران)

Artinya : “Tidak ada seorang hamba yang mengucap kalimat  لاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ seratus kali kecuali Allah membangkitkannya pada hari kiamat sedang wajahnya seperti bulan purnama. Dan tidak ada amal seorang hamba yang melebihi keutamaannya pada hari kiamat daripada amalnya keculai orang yang mengucap seperti ucapannya atau melebihinya. (HR. Thobroni)

4. Orang yang bisa mengucap kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  ketika mau meninggal dunia akan masuk surga. Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ كَانَ اٰخِرَ كَلاَمِهِ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  دَخَلَ الْجَنَّةَ

Artinya : “Barangsiapa yang akhir ucapannya kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

5. Kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  merupakan dzikir yang paling utama. Rasulullah saw bersabda :

اَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  وَاَفْضَلُ الدُّعَاءِ اَلْحَمْدُ ِللهِ (رواه الترميد والنسائى)

Artinya : “Seutama-utama dzikir adalah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  dan seutama-utama do’a ialah    اَلْحَمْدُ ِللهِ (HR. At Turmudzi dan An Nasai)

6. Kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  timbangannya paling berat dibanding amalan yang lain. Rasulullah saw pernah menceritakan bahwa nabi Musa a.s. berdoa kepada Allah : “Wahai Tuhanku, beritahukanlah kepadaku sesuatu yang dengan itu aku bisa mengingatMu. Maka Allah berfirman : “Ucapkanlah لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  . Nabi Musa a.s. berkata : “Wahai Tuhanku, seluruh hamba-Mu mengucapkan yang demikian, tetapi saya mengharapkan sesuatu yang dengan sesuatu itu Engkau berkenan melindungi aku. Selanjutnya Allah berfirman :

يَامُوْسَ لَوْاَنَّ السَّمٰوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرُ هُنَّ غَيْرِى وَاْلاَرَضِيْنَ السَّبْعَ جُعِلَتْ فِى كَفَّةٍ وَلاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ فِى كَفَّةٍ لَمَالَتْ بِهِنَّ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ (رواه النسائى)

Artinya : “Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya selain Aku dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimat  لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat  لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  lebih berat timbangannya (HR. An-Nasa’i)

Shahabat Abu Bakar ra, pernah berkata

عَلَيْكُمْ بِلاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَاْلاِسْتِغْفَارِ وَاَكْثِرُوْا مِنْهُمَا فَاِنَّ اِبْلِيْسَ قَالَ اَهْلَكْتُ النَّاسَ بِالذُّنُوْبِ وَاَهْلَكُوْنِى بِلاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَاْلاِسْتِغْفَارِ فَلَمَّا رَاَيْتُ ذلِكَ اَهْلَكْتُهُمْ بِاْلاَهْوَاءِ وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ وَاَنَّهُمْ مُهْتَدُوْنَ(رواه ابويعلى)

Artinya : “Biasakanlah mengucapkan kalimat لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  dan membaca   istigfar   dan   perbanyaklah   membaca   keduanya,   karena sesungguhnya  iblis   berkata   “Saya   menghancurkan   manusia   dengan  dosa – dosa  dan manusia menghancurkan aku dengan bacaan لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُdan istigfar. Maka ketika saya mengetahui yang demikian itu, saya hancurkan mereka dengan hawa nafsu, sedang mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk (R. Abu Ya’la)

7. Diceritakan dari Syikh Abi Zail Al-Qurthubi bahwa dia berkata : “Saya mendengar dari sebagian Shahabat Rasulullah

اَنَّ مَنْ قَالَ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ سَبْعِيْنَ اَلْفَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ فِدَاءً مِنَ النَّارِ

Artinya : “Sesungguhnya orang yang membaca kalimat  لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ  70.000 kali, maka dapat menjadi tebusan dari neraka

Saudaraku, keluargaku dan santri-santriku, kalimat  لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ    tidak cukup hanya diucapkan saja, melainkan harus diamalkan maksud yang terkandung dalam kalimat tersebut yaitu mengabdikan diri kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Adapun membaca kalimat tersebut sebanyak-banyaknya akam memnambah fadhilah sesuai yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.

14.Sholawat

Adakah larangan bershalawat

14.Tasbih

أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ

“Maukah aku beritahukan kepadamu ucapan yang paling dicintai oleh Allah?”. Maka aku katakan, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku ucapan yang paling dicintai Allah itu.” Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai Allah adalah ‘Subhanallahi wa bihamdih

Hadits tentang keutamaan bacaan tasbih ini terdapat sekitar 12 riwayat di dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, yang menjelaskan makna kemuliaan bacaan ini. Di dalm Shahih Al Bukhari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَـانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ

“Dua kalimat yg ringan di lidah pahalanya berat di timbangan dan disenangi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih adalah: Subhaanallaah wabihamdih subhaanallaahil ‘azhiim.”

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang membaca: “Subhanallah wabihamdihi” dalam sehari seratus kali, maka kesalahannya dihapus sekalipun seperti buih air laut.”
Demikian agungnya makna kalimat “Subhanallah wabihamdihi, Maha Suci Allah”. Allah Maha Suci namun kita mensucikan Allah di dalam hati kita agar kita disucikan oleh Allah, disucikan dosa, disucikan dari musibah, disucikan dari penyakit, disucikan dari gundah, disucikan dari segala niat yang hina, dan disucikan di dunia dan akhirah. Diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari di dalam kitab Adab Al Mufrad bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita bahwa ketika nabi Nuh As akan wafat ia memanggil anak-anaknya dan berkata: “wahai anak-anakku jika aku wafat nanti maka aku wasiatkan kepada kalian dua kalimat, yang pertama : “Laa ilaaha illallah” dan yang kedua : “Subhanallah wabihamdih”, mengapa? karena kalimat Laa ilaaha illallah jika ditimbang dengan seluruh alam semesta maka akan lebih berat kalimat Laa ilaaha illallah. Sedangkan kalimat Subhanallah wabihamdih adalah shalatnya seluruh makhluk selain jin dan manusia, dan dari kalimat ini Allah memberi rizki seluruh hamba-hamba-Nya, semakin banyak orang yang mengulang-ulang kalimat ini, maka akan semakin diluaskan rizkinya zhahir dan batin. Maka jika ingin diluaskan rizki oleh Allah perbanyaklah bacaan Subhanallah wabihamdih, diucapkan dengan lisan dan hatimu, semakin engkau memuji dan mensucikan Allah, maka Allah akan membuatmu semakin suci dan semakin terpuji.

Sampainya hadits ini kepada kita, makna terbukanya rahasia keluhurannya untuk kita sudah dipersiapkan oleh Allah, maukah kalian mengambilnya?!. Rahasia kemuliaan tasbih mensucikan kita dari dosa dan dari musibah . Dijelaskan ketika Allah subhanahu wata’ala berfirman, dimana ketika nabiyullah Yunus As ditelan oleh ikan nun dan dibawa ke dasar samudera, maka di saat itu Allah subhanahu wata’ala berfirman :

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ ، لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

( الصفات : 143-144 )
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari dibangkitkan.” ( QS. As Shaffat : 143 – 144 )
Jika nabi Yunus As bukan orang yang banyak bertasbih maka dia akan tetap di dalam perut ikan hingga hari kebangkitan. Hal ini menunjukkan bahwa cobaan atau musibah yang semestinya ribuan tahun, akan dipersingkat oleh Allah dengan banyak bertasbih, dan ummat yang paling banyak bertasbih adalah ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika kita shalat kemudian ruku’ kita membaca “Subhana rabbi al ‘azhimi wabihamdih” , dan ketika sujud kita membaca “Subhana rabbi al a’laa wabihamdih”, dan tanpa kita sadari bahwa dengan sekali kita melakukan shalat maka beribu-ribu musibah yang telah Allah singkirkan dari kita, atau Allah persingkat waktunya, misalnya yang seharusnya diberi cobaan dengan sakit setahun, maka Allah hanya jadikan sakit sehari dikarenakan kita melakukan shalat, namun jika kita meninggalkan shalat maka berarti kita telah menciptakan musibah di masa mendatang, mungkin di dunia dan bisa juga di akhirah, semakin jauh dari dosa maka semakin jauh dari musibah, dan semakin banyak melakukan dosa maka kita telah membuat musibah untuk diri kita di masa mendatang, Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

( الشورى : 30 )
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
Semoga Allah menjauhkan kita dari musibah, menjauhkan kita dari perbuatan dosa dan menjadikan kita orang yang banyak bertasbih. Hadirin hadirat, shalat adalah menghadapanya kita kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaiamana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari :

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ

“Sesungguhnya diantara kalian jika berdiri untuk melakukan shalat, sungguh ia sedang berbicara pada Tuhan Nya”
Maka ketika shalat terbukalah hijab antara kita dengan Allah, mulai dari kita bertakbiratul ihram dengan mengucapkan “ Allahu Akbar ” terbukalah hijab antara kita dengan Allah, tabir ruhiyyah antara kita dengan Allah dibuka, namun tabir jasad tidak dibuka tidak bisa kita melihat Allah dengan mata kita, kecuali sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, namun mata hati kita dipersilahkan untuk berhadapan dengan Allah, sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“ Ihsan yaitu engkau beribadah kepada AllAh seakan-akan engkau melihat-Nya, maka apabila belum bisa melihat-Nya (sadarilah) sesungguhnya Allah  melihatmu.”
Maka di saat takbiratul ihram rasakan dan sadari bahwa ada satu dzat Yang Maha Tunggal yang melihatmu, melihat fikiranmu dan sanubarimu yang terdalam, mengetahui apa yang akan terjadi padamu, dan mampu mengubah keadaan untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk di masa mendatang, maka kita sedang berhadapan dengan Allah saat melakukan shalat mulai dari takbiratul ihram sampai salam. Al Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA dan juga Al Imam Ali Zainal Abidin, saat berwudhu untuk melakukan shalat maka ia gemetar dan wajahnya menjadi pucat, dan ketika ditanya mengapa demikian? Maka dia menjawab : “taukah engkau aku akan berhadapan dengan siapa?, Rabbul ‘alamin. Demikianlah keagungan shalat, dimana di saat engkau membaca surat Al Fatihah dengan menghadirkan hati dan mendalami maknanya, maka Allah menjawabnya sebagaimana Allah berfirman di dalam hadits qudsy:

قَسَّمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِيْ وَبَيْنَ عَبْدِيْ نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ ، فَإِذَا قَالَ : اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ قَالَ اللهُ : حَمَدَنِيْ عَبْدِيْ فَإِذَا قَالَ : اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ، قَالَ اللهُ : أَثْنَى عَليَّ عَبْدِيْ ، فَإِذَا قَالَ : مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ، قَالَ الله : مَجَّدَنِيْ عَبْدِيْ ، فَإِذَا قَالَ : إِياَّكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ، قاَلَ : هَذَا بَيْنْيِ وَبَيْنَ عَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ ماَ سَأَلَ ، فَإِذَا قاَلَ : إِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضّالِّيْنَ ، قَالَ اللهُ : هَذَا لِعَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ

“Aku (Allah) telah membagi salat diantara Aku dan hambu-Ku menjadi separuh, dan hamba-Ku akan mendapat apa yang dia minta. Apabila hamba berkata: “Segala puji bagi Allah, Tuhan yang Memelihara sekalian alam”, maka Allah mejawab : “hambaku telah memujiku”, apabila hamba berkata : “Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani”, Allah menjawab: “Hambaku telah memuliakan-Ku”, apabila hamba berkata : “Yang Menguasai hari Pembalasan (hari akhirat).” Mak Allah menjawab : “Hambaku telah mengagungkan Aku”, apabila hamba berkata : “ Hanya kepada Engkaulah (Ya Allah) kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”, Allah menjawab : “Ini adalah diantara Aku dan hamba Ku, dan hambaKu kan mendapatkan apa yang dia minta”, apabila hamba berkata :”Tunjukilah kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang Engkau telah karuniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat”, maka Allah menjawab : “Semua ini adalah untuk hamba ku, dan hamba ku akan mendapat apa yang dia minta”.
Maka selesai shalat akan kau rasakan ketenangan yang membuatmu lebih lebih malas untuk berbuat dosa dan lebih senang berbuat ibadah, itulah makna dari kalimat :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

( الفاتحة : 6-7 )
“Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” ( QS. Al Fatihah : 6-7 )
Dalami kedalaman maknanyadan rasakan kenikmatannya, dan setelah kau selesai shalat pun kenikmatanya akan kekal dan abadi, menuntun kita dari waktu ke waktu, dari satu shalat ke shalat berikutnya, kita akan semakin luhur, semakin indah dan semakin jauh dari musibah hingga kita berjumpa dengan dzat yang kita bersujud kepada-Nya, Allah subhanahu wata’ala. Demikian rahasia keluhuran yang disampaikan kepada kita dari guru kita, dari guru-gurunya sampai kepada imam para guru, guru dari semua guru sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tenangkan hatimu dengan kalimat tasbih, dengan membaca subhanallah wabihamdihi setiap harinya 100 kali maka hatimu akan merasa tenang, harimu akan lebih tenang dibanding hari yang engkau tidak membacanya, wajahmu akan lebih cerah daripada hari yang engkau tidak membacanya, perasaanmu lebih sejuk dibandingkan di hari yang engkau tidak membacanya. Begitu juga setiap selesai shalat membaca Subhanallah 33 x, Alhamdulillah 33 x, dan Allahu Akbar 33 x atau 34 kemudian diakhiri dengan bacaan Laailaaha illallah wahadahu laa syariika lah, lahu almulku wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu, namun dengan mendalami maknanya, jangan beramal untuk kau mendapatkan balasan dari Allah, jadikanlah amalan kita untuk mencapai keridhaan-Nya, maka Allah akan memberikan apa yang kita inginkan sebelum kita memintanya. Allah Maha Mengetahui hajat kita di masa ini, esok dan yang akan datang. Dan Allah Maha Tau apa yang harus dijauhkan dari kita dan apa yang harus diberikan kepada kita, Allah subhanahu wata’ala yang akan memilihkan yang terbaik dan yang terindah untuk kita, Allah subhanahu wata’ala akan memberikan ketenangan dan kebahagiaan kepada kita, jika Allah akan memberi apa yang kita kehendaki sebelum kita meminta, terlebih lagi jika kita memintanya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Semakin hari semakin banyak manusia yang menjauh dari kebenaran, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Terus menerus ada sekelompok dari ummatku yang mereka tetap nampak di atas kebenaran, tidak membahayakan mereka orang mencerca mereka sampai datang ketentuan Allah (hari kiamat) dan mereka dalam keadaan seperti itu.”
Kebenaran yang harus kita cari, teliti guru-gurumu, carilah guru-guru yang mempunyai sanad dan mengikuti guru-gurunya, bukan berarti guru yang tidak mempunyai sanad keguruan maka kita tidak boleh berguru kepadanya, namun harus kita lihat apakah bertentangan dengan guru-guru besar yang lainnya, jika bertentangan maka kita cari guru yang lain. Jika seandainya ada guru yang tidak diketahui sanad keguruannya namun yang diajarkan sama dengan guru-guru yang lain maka hal seperti itu tidak apa-apa berguru kepada seseorang yang tidak diketahui sanad keguruannya. Dijelaskan dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari ada sebuah Atsar sahabat bahwa Ummat tidak akan bersatu dalam kesesatan , pasti ada para ulama’ yang membawa pada kebenaran.

Wallahu a’lamu bish-shawab

15.do’a

jika Rangkai tahlilan tersebut diatas adalah apa yang di anjurkan oleh Rosulullah dan di jadikan menjadi kesatuan menjadi tahlillan dan di bacahkan oleh majlis zikir atau berjama’ah maka itu lah jama’ah nya ahlulsunah waljama’ah. sekian jika mau menyanggah hal tersebut di atas silakan tinggal kan kolom komentar, Terima kasih

http://bahterahaswaja.blogspot.com/2012/11/benar-kah-tahlilan-bidah.html

Baca Juga :

 

Komentar
  1. Ezy mengatakan:

    Memperingati Kematian di Agama Nasrani

    Sebagian Kristen ada yang Mereka yg mengadakan ritual tersebut berdalih katanya
    berdasarkan dengan Yesus naik ke surga pada hari yang keempat puluh setelah kebangkitan yesus.

    Dan juga mereka meyakini takhayul bahwa arwah dari orang yang telah meninggal itu masih ada dirumahnya dan akan ‘pergi’ setelah 40 hari.

    Menurut mereka katanya bertujuan peringatan 40 hari adalah untuk kebaktian dan mengingatkan bahwa hidup ini katanya hanya sementara saja,sebagai bentuk ucapan syukur pada Tuhan dan untuk menghibur / menguatkan keluarga yang ditinggalkan, dan selain melakukan PESTA MAKAN-MAKAN, mereka meminta pelayanan bidston kepada pendeta setempat.

    Namun orang kristen yang tinggal di Daerah Jawa(Keturunan Kejawen), biasanya tidak hanya 40 hari saja, namun mulai hari pertama meninggal sampai seminggu, 40 hari setelah meninggal, 100 hari setelah meninggal, dan setahun setelah meninggal.

    Ziarah Kubur sebagian umat islam, hampir mirip tata cara ziarahnya waktu saya dulu nasrani. tabur bunga, meminta berkah, dikhususkan waktunya. Kalau nasrani biasanya sehari sebelum natal, dan tanggal lahir / meninggal orang tersebut.

    Kalau sekte katholik biasanya yg suka ngalap berkah ke kuburan Santo ataupun Santa (mungkin kalo di indonesia disebut Wali) mereka berdo’a.

    Misalkan do’a mereka : “melalui perantara Santa Agnes, kami berdoa pada Tuhan Allah Bapa yang Maha Kuasa…. dst.

    Dan juga tabur bunga itu kristen sendiri meniru Adat Konghucu dalam Festival Ziarah Kubur Cheng Beng (Qing Ming), 1.800 tahun yang lalu, dan sekarang biasanya dirayakan tiap tanggal 5 April.

    Ber islam itu harus Kaffah, jangan setengah-setengah

    Man tasabbaha biqaumin fahua minhum”
    (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”
    ( HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar)

    wallahu a’lam bish showab
    Oleh : Muhammad Rhezi Ramdhani
    (Muallaf dari Nasrani)

    • generasisalaf mengatakan:

      Alhamdulillah jika antum adalah mualaf, tapi anda harus memiliki dasar pemahaman agama yang kuat, tampaknya anda tekena spekluatif dari para Salafy, belajarlah Qur’an & hadits (agama ini) jangan hanya terjemahannya saja, belajarlah dari ulama yang ‘alim & mempunyai sanad yang jelas, sebelum anda menmvonis orang lain dengan tasyabbuh menggunakan Hadis tsb, sudah tepatkah??, apakah anda tau hukum2 perkata hadits2 tsb??, asbabul wurud, matan haditsnya??, ingat ulama salaf dahulu sangatlah santun dan berhati2 dalam menuduh..trimksh

      • soleh mengatakan:

        maap.. sekedar sharing… insyaAllah sebagian keutamaan2 bacaan di atas adalah shahih. hanya saja, yg menjadi perdebatan, adalah melanggengkan bacaan2 tersebut di tiap pertemuan tahlilan misalnya, atau melanggengkan waktunya di tiap malam jumat, atau melanggengkan di 1-7 hari, 40, 100, dan 1000 kematian. karena dikuatirkan masyarakat nanti salah persepsi, dikira ini hal ‘yg wajib’, ‘yg kudu’ , klo g beginian dianggap salah.. padahal Imam Nawawi sensiri dalam Riyadhus Salihin sdh menyiratkan untuk memakruhkan ibadah tertentu di malam jumat, Imam Syafii sendiri tidak menyukai ‘tamam’ atau berkumpul di keluarga yg meninggal, ulama lain memberi keringanan agar takziah tidak lebih dari 3 hari (kecuali yg berhalangan sehingga baru bs datang). Sebagaimana kita tahu, bacaan dalam witir yg 3 rakaat adalah :al -a’la, al-kafiruun, al-ihkals sebagaimana petunjuk Nabi SAW. tp para ulama pun kurang sreg klo hal ini dijadikan kebiasaan, karena takutnya ini dianggap bacaan yang wajib seperti witir. karena yg kita hadapi adalah masyarakat yg awam. saya sendiri merasakan hal tersebut, bagaimana masyarakat yg awam ini gampang2 susah dalam masalah agama seperti ini.
        Kadangkala, meninggalkan amalan yang utama (dengan tujuan untuk menunjukkan hukumnya) adalah lebih utama daripada mendawamkannya. Karena, mengajari manusia tentang perkara agama mereka termasuk amal yang paling utama.
        Jadi yg kurang disreg-i dalam masalah ini bukanlah bacaan-bacaannya, namun pelaksanaannya sebagaimana yg saya sampaikan.
        Sekedar saran saja… saya pribadi lebih suka menyebut tahlilan ini sebagai pengajian. selain sebagai sarana silahturahim, juga sarana belajar. jika ingin mengadakan tahlilan, bisa diganti selain malam jumat, trus jangan pas 1-7, 40, 100, 1000 tapi yg variasi (sebisa mungkin 1-3 hari saja setelah kematian), diselang-seling bacaannya dengan bacaan yg juga shahih lainnya, termasuk ganti2 surat yg dibaca/ malah dibuat tadarusan juga bagus sekalian para jamaah belajar tajwid, dll

        sekian. mg berkenan. wassalammu’alaikum

  2. Edinano mengatakan:

    Ass. Apa yang diterangkan diatas sungguh jelas dalil-dalilnya. Dan bacaan di atas bebas dibaca kapan saja dan tidak ditentukan waktunya sperti membaca AlQuran, bershalawat, berzikir, berdoa boleh dilakukan kapan saja dimana saja oleh siapa saja umat Islam dan dalam peristiwa apapun. Oleh karena itu bebas bagaimana kita apakah bilangannya mau ditentukan oleh kita atau tidak. Apakah waktunya mau ditentukan oleh kita atau tidak. Contoh bebas ya kapan saja. Contoh ditentukan seperti bada shalat , ketika perkawinan, ketika mendapat kebahagiaa, ketika mendapat musibah seperti kematian satu harinya ,3 nya , tujuhnya dan sterusnya. Silahkan ditentukan sendiri karena bebas terserah kita dari sananya pun bebas bagaimana kita. Itu tidak ada larangan dan tidak ada perintah. jadi wenang semau kita. Oleh karena itu tahlilan itu bukan meniru orang nasrani atau hindu budha. Kalau kita memaknai Alquran dan Alhadis sampai molotok maka akan ketemu kedalaman dari dalil-dalil tersebut sehingga apa yang dilakukan oleh orang yang disangka tidak ada dalilnya atau ahli bid”ah ternyata kitanya sendiri yang masih kurang ilmunya dalam menadhor suatu dalil. Maafkan saya Wassalam

    • hery mengatakan:

      Kita semua saudara muslim kawan, semua itu adalah hak masing2, toh do’a dan lafal yang dibaca sama, tapi mungkin beda waktunya dalam membacanya. jangan saling menyalahkan sesama umat muslim di dunia maya, akan semakain buruk agama kita dimata agama lain, saat ini yg harus kita lakukan adalah memerangi penyusup2 yg akan merusak agama islam, mari kita perjuangkan dan kita junjung tinggi agama Alloh ini, bila perlu kita memuslimkan orang2 yg masih terperangkap dalam kekafiran,

      Wassalammualaikum….

  3. Nazwaf Fawzan mengatakan:

    SAYA SANGAT SETUJU DENGAN ARTIKEL DI ATAS,TAPI ADA YG KESUSUPAN DALIL DARI SYI’AH_YAITU TENTANG BATASAN AHLUL BAIT YG HANYA MENCAKUP 4 ORANG,PDHL SDH DI BAHAS TUNTAS OLEH ASWAJA,BAHWA AYAT ITU UNTUK ISTRI2 NABI SAW. SEDANGKAN DALIL HADITS HANYA MENGUATKAN. INTINYA : SELURUH ISTRI NABI SAW. ADALAH AHLUL BAITNYA AL QUR’AN,SEDANGKAN ALI,FATIMAH.HASAN+HUSEIN TERMASUK AHLU BAIT BERDASAR AS SUNNAH,JADI SALING MELENGKAPI.(Hati2 Syiah menyusup,dia lihai bagai belut_pura2 bela ASWAJA,tp sdikit demi sdikit….,pemahaman DALIL di bengkokkan !). jazakumulloh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s