MENURUT WAHABI ONANI KETIKA BERPUASA TIDAK BATAL PUASANYA

Posted: Desember 7, 2012 in FATWA ANEH WAHABI, KONTROVERSI BID'AH WAHABI - SALAFY

albany

MENURUT WAHABI SALAFY JIMAK BULAN PUASA TIDAK BATAL (AKIBAT TIDAK BERMAZHAB)
Bismillahirrahmanirrahim

Lantaran ingin menuruti syahwat sexualnya, para ulama’ Wahabi dengan sengaja (secara tidak langsung) membolehkan hubungan intim di siang hari bulan Ramadan. Dalam pandangan ulama’ Wahabi, hubungan intim di bulan puasa itu haram tapi tak membatalkan puasa. Faham seperti ini dibela mati-matian. Bahkan nama Imam Nawawi mereka catut demi hasrat mereka. Berikut ungkapan Wahabi yang berhasil kami rekam

Kami sertakan scan kitab Majmu syarh Muhadzdzab, karya Imam Nawawi 6/347-348 yang dengan tegas menyatakan batalnya puasa sebab hubungan sexual di siang hari bulan Ramadhan
Zulkarnaen El Maduri aka Marhaban Ya Ra madhan sedang memegang Keris

Zulkarnaen El Maduri aka Marhaban Ya Ra madhan sedang memegang Keris

Pernyataan ini dikeluarkan oleh yang mengaku sebagai pengurus Muhammadiyah di Ja teng (tetapi ketika dikonfirmasi tak ada nama beliau), pemikiran Zulkarnaen El Maduri atau Intan Ramadhani atau Marhaban ya Ramadhan ini sangat bertentangan dari organisasi “yang katanya” tempatnya bernaung yang menyatakan akan batalnya puasa jimak di siang bulan Ramadhan.
intan ramadani
 Kata Salafy Onani tidak Batal Puasa
Hal ini terlahir dan dimotori oleh pendapat Al Bani yang berpendapat demikian
tamamul minnah - albany
Masalah:
Apakah keluarnya mani baik disebabkan karena mencium isteri, atau memeluknya, atau onani dapat membatalkan puasa dan harus mengqadha’nya?Pendapat Syaikh al-Albani :
Tidak ada dalil yang menunjukkan, bahwa hal tersebut dapat membatalkan puasa. Adapun menyamakannya dengan menggauli isteri adalah pendapat yang kurang jelas. Oleh sebab itulah ash-Shan’ani mengatakan: ‘Yang nampak jelas adalah tidak mengqadha’nya dan tidak ada kafarah (denda) baginya, kecuali karena jimaa’. Adapun menyamakan dengan hukum menggauli isteri adalah pendapat yang jauh dari kebenaran. Asy-Syaukani cenderung kepada pendapat ini. Ini merupakan pendapat Ibnu Hazm. Lihat ‘al-Muhalla’ (VI/175-177).
Di antara bukti, bahwa menganalogikan istimna’ dengan jimaa’ adalah analogi yang bermuatan beda, sebagian orang berpendapat begini, dalam masalah batalnya puasa mereka berpendapat tidak sama dengan masalah kafarat. Mereka mengatakan: Karena jima’ adalah lebih berat, dan hukum asal menetapkan tidak ada  kafarat. Lihat al-Muhadzdzab dan Syarahnya oleh an-Nawawi (VI/328).
Demikian pula kami mengatakan, bahwa hukum asal menetapkan tidak batal puasanya, dan jima lebih berat daripada istimna’, dan makna istimna’ tidak bisa dianalogikan dengan jima’. Renungkanlah!!
[Tamaamu al-Minnah hal. 418-419]
****
Kontra dengan Pak. Zul & Albani
 Lihat Fatwa Tarjih Muhammadiyah yang berlawanan dengan fatwa Wahabi ini (khususnya pak. Zul yang membawa Organisasi yang diakuinya tsb), yaitu pada point F nomer 2 http://www.muhammadiyah.or.id/muhfile/download/fatwa_putusan_wacana_tarjih/tuntunan_ibadah_bulan_ramadhan.pdf
Fatwa Muhammadiyah Batalnya puasa seorang yang bersenggama

Fatwa Muhammadiyah Batalnya puasa seorang yang bersenggama

Dan hal ini tentu saja berlawanan dengan fatwa bin baz yang dikutip di web salafy sendiri http://radiocileungsi.blogspot.com/2012/03/masturbasi-membatalkan-puasa-apakah.html
Fatwa lajnah bin baz Onani - senggama batal

Fatwa lajnah Daimah diketuai bin baz Onani – senggama batalkan puasa

.Hal ini membatalkan puasa, seperti halnya ejakulasi yang dicapai dengan jima’ (bersetubuh) yang merupakan pembatal puasa, berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini dikuatkan dengan hadits qudsi di atas bahwa orang yang berpuasa menahan diri dari makanan, minuman dan syahwat yang merupakan pembatal-pembatal puasa. Sementara ejakulasi merupakan syahwat, dengan dalil sabda Rasulullah n:
وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ
“Pada kemaluan setiap kalian ada shadaqah.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya dan dia mendapat pahala dengannya?” Rasulullah n bersabda: “Tahukah kalian, kalau dia meletakannya dalam perkara yang haram, apakah dia berdosa karenanya? Demikian pula halnya jika dia meletakkanya dalam perkara yang halal, maka dia mendapat pahala karenanya.”(HR. Muslim dari Abu Dzar z)
Tentu saja ejakulasi saat orgasme (puncak kenikmatan syahwat) adalah syahwat yang terlarang saat berpuasa dan membatalkan puasa, dengan cara apapun seseorang mencapainya. Meskipun memang benar bahwa jima’ (bersetubuh) itu sendiri membatalkan puasa, walaupun tanpa ejakulasi.
Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad. Pendapat ini dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa(25/224), Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/386-388) dan difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz dalam Fatawa Al-Lajnah (10/259-260).
Komentar
  1. rully mengatakan:

    IJIN SHARE…BIAR WAHABI MELEEKK….

  2. haryadi mengatakan:

    Baik tidak batal tapi dosa dan bayar kifarat atau batal dan harus bayar kifarat sama sama tidak baik untuk dilakukan, intinya hindari melakukan senggama di siang hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s