BOLEH BERAMAL DENGAN HADITS DHOIF

Posted: Desember 10, 2012 in NGAJI ONLINE, STOP MENUDUH BID'AH !!
DHOIF

Imam Ahmad:
العمل بالضعيف أولى من القياس
“Mengamalkan dengan (hadits) dhoif itu lebih utama dari qiyas”
(An-Nukat ‘Ala kitabi Ibn Sholah Lil Hafidz Ibn Hajar Al-‘Asqolani, Halaman 119, cet: Darul Kutub Al-‘Ilmiah, Beirut 1994)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata:

قد ثبت عن الإمام أحمد وغيره من الأئمة أنهم قالوا إذا روينا في الحلال والحرام شددنا وإذا روينا في الفضائل ونحوها تساهلنا

“Telah tsabit dari Imam Ahmad bin Hanbal dan juga dari selain beliau, bahwa mereka berkata: Apabila kami meriwayatkan tentang masalah Halal dan Haram kami memperketat, dan apabila kami meriwayatkan tentang masalah fadhoil (keutamaan) dan sejenisnya kami mempermudah.” (Al-Qaulul Musaddad halaman 11)

Ibnu Muflih Al-Hanbaliyah berkata dalam “Al-Adab Asy-Syar’iyyah”:

والذي قطع به غير واحد ممن صنف في علوم الحديث حكاية عن العلماء أنه يعمل بالحديث الضعيف في ما ليس فيه تحليل ولا تحريم كالفضائل، وعن الإمام أحمد ما يوافق هذا. ا.هـ

“Sesuatu yang telah dipastikan oleh lebih dari satu orang yang pernah menulis dalam Ilmu Hadits adalah hikayat dari para ulama mengenai bolehnya beramal dengan hadits dha’if dalam masalah yang bukan penghalalan atau pengharaman, misalnya fadhoil (keutamaan). Riwayat dari Imam Ahmad juga sesuai dengan itu.”

Syihabuddin Ar-Ramli berkata dalam Fatawinya:

قال الحاكم: سمعت أبا زكريا العنبري يقول الخبر إذا ورد لم يحرم حلالاً ولم يحلل حراماً ولم يوجب حكماً، وكان فيه ترغيب أو ترهيب، أغمض عنه وتسهل في روايته …إلخ اهـ

“Al-Hakim berkata: Saya mendengar Abu Zakaria Al-Anbari berkata: sebuah kabar apabila telah datang tanpa mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram dan tidak mewajibkan suatu hukum, sedangkan di dalamnya terdapat anjuran dan ancaman, maka dibiarkan dan dimudahkan saja periwayatannya…dst.”

Ibnu Taimiyah berkata:

مَا عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ مِنْ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ : لَيْسَ مَعْنَاهُ إثْبَاتُ الِاسْتِحْبَابِ بِالْحَدِيثِ الَّذِي لَا يُحْتَجُّ بِهِ ؛ فَإِنَّ الِاسْتِحْبَابَ حُكْمٌ شَرْعِيٌّ فَلَا يَثْبُتُ إلَّا بِدَلِيلِ شَرْعِيٍّ وَمَنْ أَخْبَرَ عَنْ اللَّهِ أَنَّهُ يُحِبُّ عَمَلًا مِنْ الْأَعْمَالِ مِنْ غَيْرِ دَلِيلٍ شَرْعِيٍّ فَقَدْ شَرَعَ مِنْ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ كَمَا لَوْ أَثْبَتَ الْإِيجَابَ أَوْ التَّحْرِيمَ ؛ وَلِهَذَا يَخْتَلِفُ الْعُلَمَاءُ فِي الِاسْتِحْبَابِ كَمَا يَخْتَلِفُونَ فِي غَيْرِهِ بَلْ هُوَ أَصْلُ الدِّينِ الْمَشْرُوعِ . وَإِنَّمَا مُرَادُهُمْ بِذَلِكَ : أَنْ يَكُونَ الْعَمَلُ مِمَّا قَدْ ثَبَتَ أَنَّهُ مِمَّا يُحِبُّهُ اللَّهُ أَوْ مِمَّا يَكْرَهُهُ اللَّهُ بِنَصِّ أَوْ إجْمَاعٍ كَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ ؛ وَالتَّسْبِيحِ وَالدُّعَاءِ ؛ وَالصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ ؛ وَالْإِحْسَانِ إلَى النَّاسِ ؛ وَكَرَاهَةِ الْكَذِبِ وَالْخِيَانَةِ ؛ وَنَحْوِ ذَلِكَ

فَإِذَا رُوِيَ حَدِيثٌ فِي فَضْلِ بَعْضِ الْأَعْمَالِ الْمُسْتَحَبَّةِ وَثَوَابِهَا وَكَرَاهَةِ بَعْضِ الْأَعْمَالِ وَعِقَابِهَا : فَمَقَادِيرُ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَأَنْوَاعُهُ إذَا رُوِيَ فِيهَا حَدِيثٌ لَا نَعْلَمُ أَنَّهُ مَوْضُوعٌ جَازَتْ رِوَايَتُهُ وَالْعَمَلُ بِهِ بِمَعْنَى : أَنَّ النَّفْسَ تَرْجُو ذَلِكَ الثَّوَابَ أَوْ تَخَافُ ذَلِكَ الْعِقَابَ

“Apa yang telah menjadi kesepakatan para ulama mengenai bolehnya beramal dengan hadits dhoif maksudnya bukan penetapan anjuran dengan hadits yang tidak dapat dijadikan hujjah, karena anjuran juga termasuk hukum syar’i maka tidak boleh ditetapkan kecuali dengan dalil syar’i. Maka barangsiapa mengabarkan dari Allah bahwa Dia menyukai amalan tertentu tanpa dalil syar’i maka ia telah membuat syariat dalam agama yang tidak pernah diizinkan oleh Allah sebagaimana seandainya ia menetapkan kewajiban atau keharaman.”

“Maksud mereka sebenarnya adalah: beramal dengan apa-apa yang telah tetap bahwa amalan itu disukai atau dibenci oleh Allah, baik melalui nash maupun ijma’ seperti tilawatul Quran, Tasbih, Doa, sedekah, membebaskan budak, berbuat baik kepada orang, tercelanya berdusta, khianat dan sebagainya.”

“Maka apabila diriwayatkan tentang keutamaan sebagian amalan yang disunnahkan beserta pahalanya atau tercelanya sebagian amalan beserta hukumannya, maka ukuran pahala dan hukuman beserta macamnya itu apabila diriwayatkan melalui hadits yang tidak maudhu’, maka BOLEH meriwayatkannya dan mengamalkannya. Dengan artian, bahwa hati ini berharap pahala tersebut atau takut dari hukuman tersebut.” (Majmu’ Fatawa 4/50 Maktabah Syamilah)

Al-Khallal berkata:

مَذْهَبُهُ – يَعْنِي: الإِمَامَ أَحْمَدَ – أَنَّ الْحَدِيثَ الضَّعِيفَ إذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ مُعَارِضٌ قَالَ بِهِ

“Mazhab beliau (yaitu Imam Ahmad) adalah bahwa hadits dhaif apabila tidak ditemukan penentangnya, maka beliau akan mengambilnya.” (Al-Madkhal Ila Madzhabi Ahmad 97)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani juga berkata:

اشتهر أن أهل العلم يتسامحون في إيراد الأحاديث في الفضائل وإن كان فيها ضعف، ما لم تكن موضوعة

“Telah populer bahwa Ahli Ilmu (ulama) saling mentolerir penyebutan hadits-hadits tentang fadhoil meskipun di dalamnya ada kelemahan selama tidak sampai maudhu’.” (Tabyiinul ‘Ajab bima Warada fi Fadhli Rajab)

Imam Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ (3/226)

وقد قدمنا اتفاق العلماء على العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال دون الحلال والحرام

“Telah kami paparkan kesepakatan para ulama mengenai(bolehnya) beramal dengan hadits dha’if dalam Fadha’il A’mal (keutamaan amalan), bukan halal dan haram.”

Dalam Mawahib Al-Jalil (1/17) disebutkan:

فقد اتفق العلماء على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال

“Para ulama telah bersepakat mengenai bolehnya beramal dengan hadits dha’if dalam hal Fadha’il A’mal.”

Mulla Ali Al-Qari berkata dalam Al-Hazh Al-Aufar sebagaimana dalam Al-Ajwibah Al-Fadhilah karangan Al-Laknawi hal. 36:

الحديث الضعيف معتبر في فضائل الأعمال عند جميع العلماء من أرباب الكمال

“Hadits dha’if itu dijadikan I’tibar dalam Fadha’il A’mal menurut seluruh ulama…”

Yang dimaksud dhoif menurut Imam Ahmad adalah dhoif secara istilah. Ibnu Taimiyah sendiri menegaskan dengan dengan ungkapan “الْحَدِيثِ الَّذِي لَا يُحْتَجُّ بِهِ” hadits yang tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Kalau yang dimaksud adalah hadits hasan, tentu tidak ada perbedaan dalam masalah ini menurut seluruh ulama. Dan hadits-hadits Imam Ahmad dalam Musnadnya yang dimaudhu’kan oleh Ibnul Jauzi kemudian “dibela” oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Al-Qaulul Musaddad memang benar-benar dhoif secara istilah. Wallahu a’lam.

HADITS DHOIF KADANG DIPAKAI DALAM HUKUM

Hadits dhoif kadang bukan hanya dipakai dalam masalah keutamaan (fadhoil) amal saja, tapi juga dalam masalah hukum. Contohnya hadits berikut:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ التَّحْرِيشِ بَيْنَ الْبَهَائِمِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengadu binatang. (HR. Abu Daud 2562, Turmudzi 1708, dan yang lainnya).

Meskipun hadits di atas dhoif, tapi digunakan oleh para ulama untuk mengharamkan praktek mengadu binatang, seperti sabung ayam dan lain sebagainya. Wallahu a’lam.

Source: Ust. Danang Kuncoro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s