USTADZ SALAFY: ABU UMAR ALMAEDANI USTADZ SALAFY PARLENTE PEMBOHONG

Posted: April 19, 2013 in SESAMA SALAFY SALING MENCACI & MEMUSUHI

pembohong

Tulisan ini 100% di ambil dari blog Salafy sendiri [sumber ada paling bawah], sebagai nasehat (umumnya kepada kita semua) agar bercermin untuk membenahi & memperbaiki permasalahan yang ada di tubuh ‘internal’ sebelum membenahi atau memperbaiki diluar golongannya (external).

ABU IHSAN, USTADZ PARLENTE (PAMBOHONG) DARI MEDAN! (UPDATE 25/06/07)

Telah berlalu buktinya ketika si “parlente” al-atsari al-maidani menjual kehormatan diri dan manhajnya dengan menerjemahkan pujian terhadap Abdurrahman Abdul Khaliq dan cs hizbinya dalam buku yang diterjemahkan oleh At-Tibyan.

pembohong

http://img483.imageshack.us/img483/3496/sururiaihsantibyansz5.jpg
http://img166.imageshack.us/img166/1634/qsururiabuihsan2st6.jpg
http://fakta.blogsome.com/2006/12/dua-sejoli-yg-mengelu-elukan-gembong-ihkwani
At-Tibyannya Abu Ihsan inilah yang mempropagandakan buku gembong Sururi Internasional yang menjadi “wakil” Salman Al-Audah: http://img504.imageshack.us/img504/4369/karyawakilsalmanalaudahsv2.jpg
http://img509.imageshack.us/img509/7749/karyawakilsalmanalaudahaq6.jpg                                   Di bawah ini adalah bukti lainnya bagaimana Mister plin-plan yang banyak penggemarnya ini sedang beraksi mempertontonkan ketegasannya….yang tiada bukti kenyataannya… sampai sekarang! Dan entah, sampai kapan…

Kutipan Fakta :
Ini perkembangan terakhir sebelum saya meninggalkan At-Turots. Termasuk juga hubungan dengan beberapa orang, misal Muhammad Khalaf[24] dan dengan beberapa jum’iyyah. Salah satunya At-Turots yang santer disoroti para ulama. Terutama tentang misi di belakang itu tidak bisa ditutup-tutupi, memang ada misi di belakangnya dan itu akan nampak sendiri[25].
Insya Allah [pernyataan saya] ini bukan diplomasi. Seandainya [perbaikan] itu tidak terlaksana, sediakan saja mobil untuk mengangkat barang-barang saya dari sana. Misalnya terlaksana, saya tetap akan ke sini dalam jangka satu tahun lagi, sebab di sana masih ada binaan. Misalnya ini bisa terwujud, berarti mereka menyadari. Dan ini suatu perkembangan yang besar, kita katakan kegemparan bagi semua pihak. Kalau tidak terjadi, apa boleh buat. Mungkin santri-santrinya akan saya bawa seluruhnya, sebab yang menangani santri-santri itu adalah saya. Memang saya akui, selama ini saya tidak santer dan karena kurang perhatian. Dan ini kekurangan, kelemahan, ini saya akui. Saya banyak mengurusi santri, saya sering ke dalam dan kurang gencar keluar. Itu akan kita lihat kejelasannya di lapangan.” (Abu Ihsan, Parlente dari Medan)

Komentar Nyata:
Tampaknya mobil “omprengan” Salafiyyin Medan tidak cukup kuat untuk memikat hati Abu Ihsan agar berpaling dari iming-iming menggiurkan misi di belakang Ihya’ut Turats dan beberapa jum’iyyah yang santer disoroti para ulama yang tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Bukan hanya Abu Ihsan “tidak berhasil memperbaiki’ (seperti ucapannya di atas) tetapi bahkan “diperbaiki’ oleh kenikmatan dakwah At-Turots yang santer disoroti para ulama! Abu Ihsan hingga saat ini tetap lengket-ket kayak prangko nempel di amplop mereka. Inilah kejelasan Abu Ihsan di lapangan “yang menyebabkan slip dan keliru yang fatal sehingga terjadilah apa yang terjadi.”
Semoga Allah Ta’ala memberi kekuatan iman kepada kita semua dari dakwah hizbiyyah dan iming-iming harta mereka dan semoga Allah teguhkan kita sebagai orang-orang yang jujur baik ucapan maupun perbuatan, amin. Na’am, jujur dalam membela kebenaran dan menyingkap kebatilan para pengusungnya.
Mukadimah:
Telah menjadi jalannya para Salafush Shalih dan termasuk da’wah ilallah (menyeru ke jalan Allah) bahkan jihad fi sabilillah, adalah dengan menerangkan aqidah Ahlus Sunnah dan membelanya, membongkar aurat ahlul bid’ah, mulhiddin (orang-orang yang menyimpang), dan mentahdzirnya (mengingatkan akan bahayanya keadaan mereka). Allah berfirman, artinya:

“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap…” (Al-Anbiyaa`: 18).
Semoga Allah merahmati para Salaf yang telah menjadikan tahdzir terhadap ahli bid’ah sebagai metodologi yang ditempuh dan prinsip yang dijunjung luhur sepanjang sejarah kehidupan mereka.
Akhir-akhir ini telah banyak permintaan mengenai penjelasan seputar “Siapakah Abu Ihsan?”. Pasalnya, terlalu banyak para penuntut ilmu yang baru mengenal Manhaj Salaf dibuat bingung. Muncul anggapan “di sini ada Salafy dan di situ ada Salafy”. Untuk penjelasan ini, sepatutnya kita simak hasil dialog antara Al-Ustadz Muhammad Faishal bin Jamil dengan Abu Ihsan agar syubhat yang beredar selama ini terjawab.
Sengaja di sini hanya dibawakan dialog antara Al-Ustadz Muhammad Faishal dengan Abu Ihsan, yang membicarakan seputar munculnya fitnah dakwah Sururiyyah dan tokoh-tokohnya di Indonesia. Serta  keberadaan yayasan Ihya’ut Turots. Agar terfokus perhatian kita padanya.

Abu Ihsan berkata:
Syarif bin Fuad Hazza’[1] orangnya memang suka buat ulah menurut informasi Abu Uqbah. Sikap kita akan memblokir apa-apa yang datang dari Syarif ini, baik berupa tulisan maupun ceramah-ceramah. Telah nyata bagi kita dari orang-orang yang mengenalnya. Kita tidak keberatan untuk melepas hubungan-hubungan dengannya, baik berupa buku-buku dan lainnya[2].
Asy-Syaikh Ali Hasan Al-Halabi Al-Atsari[3] berpesan bahwa kita berkonsultasilah pada para ulama yang tsiqoh jika ada masalah-masalah atau pertanyaan-pertanyaan, dan jangan diputuskan sendiri. Konsultasi dengan informasi yang jujur, akurat, ittiba’ul haq (ikut kebenaran), dan terbuka.
Kita sibukkan diri menuntut ilmu kepada mereka yang terpecaya dan dinyatakan tsiqoh oleh para ulama, jadi tidak dengan Qila wa Qala (kata-kata orang tanpa bukti/saksi)
At-Turots[4] adalah lembaga Ta’awun ’alal birri wa taqwa dan tidak ada misi pemikiran dan manhaj, hanya saja terpengaruh oleh hal-hal yang ada di dalamnya. Itu yang menyebabkan slip dan keliru yang fatal sehingga terjadilah apa yang terjadi. Beberapa masalah yang berhubungan dengan jum’iyyah (Yayasan/Organisasi) yang ada, dan ini akan kita tanya pada Ulama secara resmi, mana saja yang boleh, yang tidak boleh. Jika tidak boleh, kita tidak keberatan meninggalkannya dan kita akan balik ke majelis ilmu. Latar belakang fitnah, saya tidak tahu persis[5], tanya saja mereka yang berkecimpung. Saya baru ikut setelah Asy-Syaikh Ali Hasan ke sini. Selama ini memang di sini slipnya.
Kita jangan cenderung menyalahkan kelompok tertentu. Mencari kebenaran butuh bimbingan para Ulama, di sini kuncinya. Dan satu lagi adalah kejujuran.
Imam Al-Auza’i, berkata: “Tidak akan samar bagi kita pada orang yang menyembunyikan kebid’ahannya, kita lihat kepada siapa dia loyal. Jika dia loyal pada ulama ahlul bid’ah, jelaslah itu”.
Ishlah di antara manusia adalah amalan yang sangat baik. Mengusahakan Ishlah diantara para ikhwah Salafiyyin. Saya pribadi tidak ada kecondongan kepada At-Turots[6]. Bahkan saya ada upaya untuk memperbaiki. Alhamdulillah, sudah ada perkembangan yang bagus di tubuh mereka sendiri (At-Turots). Berusaha mendinginkan perseteruan yang memuncak, yang akan menjurus kepada bentrok fisik.
Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhaly, berkata: “Jika benar seseorang itu ahli bid’ah, bantahlah dia (ahli bid’ah), perangi dan tumpaslah mereka”.
Di Jogja mereka perlu contoh dan selama ini tidak didapatkan orang yang bisa dicontoh. Dan kita juga minta dana[7] ke At-Turots untuk menyediakan anggaran khusus untuk masalah apa saja agar ditanyakan pada Ulama. Dan untuk periode ini Saya diangkat menjadi Ra’is Majlisul Amal (Ketua dewan Assatidz) yang bertugas mengontrol operasional yang ada di At-Turots.
Kita akan putuskan hubungan dengan Tengaran[8] karena Yusuf Ba’isa[9] yang selama ini kita percayai ternyata mengulah kembali. Pemutusan hubungan ini dilandasi dengan penerapan manhaj yang benar.
Demikianlah semoga dapat dipahami, dan saya agak kecewa karena selama saya di sini, tidak ada yang menanyakan pada saya hal-hal yang ilmiah. Hendaknya kita mengambil kebenaran itu dari mana saja datangnya.

Al-Ustadz Muhammad Faishal berkata :
Alhamdulillah, sesuai pengetahuan saya tentang fitnah di Jogja karena saya santri disana, sehubungan dengan pembicaraan Al-Akh Abu Ihsan, saya lihat beberapa unsur perbedaan yang menyolok dari apa yang saya pahami selama ini di Jogja. Saya memandang bahwasanya perselisihan dakwah yang ada di Jogja, tidaklah menyebabkan akan runtuhnya dakwah Salafiyyah ketika itu. Tetapi malahan sebaliknya, Alhamdulillah, dengan ini memunculkan mana sesungguhnya dakwah Salafiyyah secara hakekatnya. Dan kita terdorong untuk mengenal kitab besar yang agung yang berisikan manhaj yang haq yakni Kitab Syarah Ushul I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah oleh Al-Imam Al-Lalikai, apa sesungguhnya hakekat dakwah Salafiyyah dan siapa yang berhak menyandangnya agar makin jelas umat bagi ini. Saya selalu teringat terus dengan pesan Ibnu Abbas  , bahwa tidak ada satu zamanpun, kecuali di situ hidup satu bid’ah dan mati satu sunnah sampai akhirnya semua bid’ah hidup dan mati semua sunnah. Dengan zaman seperti itu berarti umat perlu kepastian, mana yang sunnah mana yang bid’ah, maka kita butuh menonjolkan bagaimana sesungguhnya hakekat dakwah Salafiyyah.
Kemudian tentang kedatangan Asy-Syaikh Ali Hasan Al-Halabi Al-Atsari ke Indonesia, yang saya sesalkan dari Ikhwan yang tinggal di At-Turots dan sekitarnya adalah, tentang mereka hanya mengambil beberapa ucapan Asy-Syaikh Ali Hasan yang terkesan di situ mendukung belajarnya mereka selama ini kepada Syarif Hazza’, padahal Syarif yang sudah sering kita khabarkan, – terus terang saya bukan karena lancang -, bahwa ikhwan At-Turots hanya sekedar omongan saja,  kalau mereka mencari yang al-haq dan mencari keterangan ulama. Karena Asy-Syaikh Rabi’ telah bicara siapa itu Syarif. Tetapi selebaran yang diterjemahkan dari hasil telepon diremehkan, dengan sekian banyak lontaran, mengatakan Syaikh itu sebagai Syaikh biasa, tidak kibar Ulama, dengan lontaran-lontaran yang tidak pantas diucapkan[10].
Kemudian mereka ambil dari Asy-Syaikh Ali Hasan perkataan yang bolehnya belajar kepada Syarif, untuk menetralisir keadaan yang ada. Padahal seharusnya, sebagaimana yang dianjurkan tadi pada kita, untuk mencari yang al-haq (kebenaran), ittiba’ul haq (mengikuti yang benar), dan ta’zhimul haq (mengagungkan kebenaran).
Tetapi kenapa ta’zhimul haq yang selalu Asy-Syaikh Ali Hasan dengungkan ketika mengisi di Degolan[11], atau di Jamilurrahman[12], kok nggak ada dan nggak diterapkan, mungkin hanya sebagian kecil saja yang tidak seperti itu.
Tentang keterangan Asy-Syaikh Rabi’, padahal itu haq, yang mendukung Asy-Syaikh Rabi’ bukan hanya Masyaikh sekitar itu, tetapi juga Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Asy-Syaikh Bin Baz, Asy-Syaikh Muqbil. Bukankah itu al-haq? Itu yang saya tanyakan. Kalau bukan al-haq, lantas itu apa? Yang katanya kita selalu untuk ittiba’ dan ta’zhimul haq, itulah al-haq dari ucapan beliau, dari keterangan tentang Syarif. Bukti konkrit tidak adanya ta’zhimul haq dari ikhwan kita, yakni bukan mereka tidak mengerti al-haq, tapi memang tidak ada ta’zhim (pengagungan) di situ, mereka terus belajar pada Syarif, padahal Asy-Syaikh Rabi’ telah menjelaskan pada Al-Akh Usamah Mahri dalam telepon, “Jangan belajar pada dia (Syarif), peringatkan ikhwan jangan mendekati dia, mubtadi’! “ kata beliau.
Ada yang menganggap bahwa perkataan (mubtadi’) itu karena emosional beliau. Karena di situ ada sedikit dialog, mungkin ada masalah pribadi antara Syarif dengan Syaikh Rabi’. Tetapi kaset ini berisi Jarh (kritikan) dari Asy-Syaikh Rabi’ dan pencabutan tazkiyah (rekomendasi) yang pernah diberikan. Kaset ini dibawa langsung kepada Asy-Syaikh Rabi’ oleh Ustadz Ja’far[13] dan Ustadz Muhammad[14]. Dan di stel di situ, lalu ditanyakan, apakah beliau emosi dan setuju dengan rekaman itu? Syaikh Rabi’ menjawab, “hapus kalimat yang terakhir!”, – yakni akhir dari kalimat dialog ada kata ‘laknat’ -, “tetapi kalimat yang lainnya biarkan![15]”, jadi tahdzir terhadap Syarif bukan emosi dari Asy-Syaikh Rabi’.
Kemudian yang penting bahwa sekarang sudah diketahui umat perlu kejelasan, sehingga Al-Akh Abu Ihsan tidak usah heran dengan kedatangan Antum kesini, tidak banyak ikhwan yang menanyakan ilmu yang ilmiah. Karena zaman sekarang perlukan kejelasan, dengan siapa kita mengambil ilmu, karena yang saya ketahui keberadaan Antum di Jogja, saya tidak ada melihat sikap tegas yang antum tunjukkan dan tidak ada suara lantang yang antum angkat di permukaan tentang penentangan antum yang antum katakan tadi terhadap At-Turots, Yusuf, dan Syarif [16].
Padahal seharusnya kalau Antum ingin menunjukkan bencinya Antum kepada kesalahan yang dia lontarkan, sikap kita ialah menunjukkannya, agar umat jelas siapa kita. Itulah seharusnya yang disikapi oleh seorang da’i, di zaman fitnah seperti ini.
Kemudian tentang pengakuan Askari[17], Saya juga kenal dia karena dia juga santri beberapa bulan di pondok[18] itu.
Dia telah mengakui kesalahan Syarif. Tetapi pengakuan itu setelah Syarif pergi ke Mesir, setelah meninggalkan Indonesia. Dimana selama ini tahdziran Asy-Syaikh Rabi’ diremehkan. Kalau memang sadar tentang salahnya Syarif, lontarkan didepan umum, karena umat sedang bingung, tentang apa sikap At-Turots selama ini. Dan tidak ada sedikitpun urusan pribadi dalam masalah ini (ini murni urusan manhaj). Memang benar sabda Rasulullah, artinya  :
”Seseorang itu sesuai dengan agama temannya…” (Silsilah Ahadits Ash-Shahihah, karya Syaikh Al-Albani, no. 927).
Agamanya Syarif, itulah agama para pengikutnya! Itulah yang dipahami dari hadits Rasulullah  .
Kemudian kalau kita ingin ishlah, jangan kita menutup diri, tapi tunjukkan siapa kita, apa sikap kita, ini zaman butuh kejelasan. Tidak ada lagi sembunyi-sembunyi atau perbaikan dari dalam, tapi kita tunjukkan bahwa kita sudah bara’ (berlepas diri) dari fulan bin fulan dengan kesalahan yang ada pada dia. Kalau dia kembali – kepada kebenaran -, kitapun seluruhnya kembali pada dia. Kita bukan suka berpecah belah, kita ingin ikhwah itu kuat, saling bersaudara. Sudah berulang kali jalan ishlah kita tempuh. Kalau Al-Akh Abu Ihsan ingin mengadakan ishlah, ketahuilah bahwa jalan ishlah itu bukan dengan tabayyun (mencari keterangan) sana tabayyun sini, sebagaimana yang Antum ketahui. Tapi dengan jalan mengajarkan ilmu dan menjelaskan siapa kita sebenarnya didepan umat. Sehingga tidak ada lagi istilah omong kosong, katanya mau ta’zhimul haq, tapi keterangan dari para ulama kita anggap remeh. Malahan terlontar dari murid Aunur Rofiq[19] dari Gresik, “Itukan hanya Asy-Syaikh Rabi’….”. Perkataan ini sudah meremehkan al-haq, padahal yang bicara ulama ‘alim.
Kita sangat butuh kejelasan, kenapa selama ini Antum tidak menunjukkan sikap tegas. Tidak cukup kita sekedar mengatakan “kita tidak usah mengurusi perselisihan yang ada, kita urusi ilmu saja…”. Perkataan itu keliru, karena menurut saya mengurusi perkara ini juga termasuk ilmu. Ini juga harus diurusi. Karena kita sedang mencari kepastian kepada siapa kita menuntut ilmu. Berbahaya di zaman seperti ini sembarangan dalam mengambil ilmu.
Dalam Ta’zhimus Sunnah, As-Sahibani menjelaskan bahwasanya Ahlus Sunnah itu benar-benar bersikap tegas kepada Ahlul Ahwa wal Bida’. Bukan itu saja, tapi juga pada orang yang nggak mau tegas pada Ahlul Ahwa wal Bida’ juga harus ditegasi. Jadi semua orang yang nggak mau tolong menolong dalam bersikap tegas kepada Ahlul Ahwa wal Bida’ juga harus disikapi. Karena bahaya mereka lebih tersembunyi.
Kita tidak meng-counter Syi’ah, Khawarij dan lainnya, karena bahaya mereka lebih ringan dibandingkan bahaya Sururiyyah didalam tubuh Salafiyyun. Mereka memakai baju Salafiyyah sehingga orang menganggap itu dakwah Salafiyyah, ternyata bukan dakwah Salafiyyah. Sehingga rusaklah apa yang telah ditetapkan oleh ulama Salaf tentang sikap kita terhadap Mubtadi’ dan para pengikut-pengikutnya. Sehingga betul jelas di sini. Selama ini Antum di Jawa disoroti sebagai orang yang tidak tegas dalam menyikapi adanya fitnah ini. Padahal ini bukan fitnah biasa, tapi fitnah penentu apa sikap umat pada perusak-perusak agama ini, yaitu Mubtadi’. Fitnah ini diremehkan oleh Syarif dan Yusuf Ba’isa dengan istilah Muwazanah (adil dalam menilai kesalahan seseorang), yang tersebar dikasetnya, dengan istilah: “adil ya ikhwan.., inshaf…”, dll. Semua ini terjawab dalam kitab Al-Ajwibah Al-Mufidah, Asy-Syaikh Shalih Fauzan membantah istilah Muwazanah dipakai untuk mengkritik.
Itu yang perlu saya jelaskan. Jadi saya minta Antum tidak menutup-nutupi apa yang terjadi di Jawa kepada ikhwan di kota Medan ini. Tunjukkan mana yang haq mana yang batil, walaupun itu menyinggung sikap kita selama ini, atau mengkritik orang-orang yang dekat dengan kita selama ini. Karena yang kita cari adalah kebenaran dan kepastian dalam berdakwah, dan dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau tegas terhadap da’i yang menentang Sunnah dan menyebarkan bid’ah. Wallahu Ta’ala A’lam.

Abu Ihsan berkata:
Saya tidak menanggapi apa yang telah disampaikan, sebagaimana yang telah dikatakan, perlunya kejelasan. Kejelasan ini akan ditunjukkan di lapangan. Sebagai orang yang sudah disana , saya mempunyai tanggung jawab moril atau lainnya, untuk mengadakan usaha terakhir dalam menjelaskan ini. Kemudian saya akan mendatangi Ustadz Ja’far setelah kepulangan saya dari Medan ini[20], Untuk membicarakan masalah ini. Kemudian penegasan secara umum, baik itu mereka suka ataupun tidak suka dari pihak At-Turots. Itu memang tanggung jawab kita. Saya juga ada pemikiran untuk lari ke sini (ke Medan, pen.), tapi kita sebagai orang yang di situ, dianggap tidak bertanggung jawab. Jadi kita bertanggung jawab menyelamatkan mereka-mereka yang sudah terimbas ini dengan membuat suatu pernyataan  terakhir kali. Dan misalnya mereka nggak mau, saya tarik diri. Perlu diketahui, sekarang yang menjalankan secara operasional (di At-Turots) adalah saya, tidak lagi Sholeh Suaidi[21]. Tentu akan saya buat kebijaksanaan baru setelah dari sini. Dan konsultasi dengan Ustadz Ja’far, juga Ustadz Yazid[22] kalau ada waktu, tentang penyelesaian masalah ini dan kebijaksanaan baru tentang masalah ini. Itu ada dua point. Satu hubungan dengan Tengaran, kemudian masalah Syarif dan hubungan dengan jum’iyyah. Insya Allah kita bicarakan langsung dengan para Masyaikh dan minta kejelasan. Kalau mereka tidak menyetujui, jelaslah selama ini. Dan misal jika disetujui akan kita sebarkan pernyataan resmi[23] tersebut, dan memang ini sudah jadi pembicaraan pokok pada rapat terakhir disana. Ini perkembangan terakhir sebelum saya meninggalkan At-Turots. Termasuk juga hubungan dengan beberapa orang, misal Muhammad Khalaf[24] dan dengan beberapa jum’iyyah. Salah satunya At-Turots yang santer disoroti para ulama. Terutama tentang misi di belakang itu tidak bisa ditutup-tutupi, memang ada misi di belakangnya dan itu akan nampak sendiri[25].
Insya Allah [pernyataan saya] ini bukan diplomasi. Seandainya [perbaikan] itu tidak terlaksana, sediakan saja mobil untuk mengangkat barang-barang saya dari sana. Misalnya terlaksana, saya tetap akan ke sini dalam jangka satu tahun lagi, sebab di sana masih ada binaan. Misalnya ini bisa terwujud, berarti mereka menyadari. Dan ini suatu perkembangan yang besar, kita katakan kegemparan bagi semua pihak. Kalau tidak terjadi, apa boleh buat. Mungkin santri-santrinya akan saya bawa seluruhnya, sebab yang menangani santri-santri itu adalah saya. Memang saya akui, selama ini saya tidak santer dan karena kurang perhatian. Dan ini kekurangan, kelemahan, ini saya akui. Saya banyak mengurusi santri. Saya sering kedalam dan kurang gencar keluar. Itu akan kita lihat kejelasannya di lapangan, bagaimana realisasinya. Kesalahan yang sudah terjadi mudah-mudahan tidak terulang lagi[26]. Kita akan buat pernyataan resmi. Sebenarnya sudah terancang, akan tetapi karena kepergian saya kesini, maka tertunda. Yang saya ketahui Abu Nida’[27] hanya ikut Sholeh Suaidi, kebijaksanaan-kebijaksanaan At-Turots selama ini dari Sholeh.

Abu Ihsan berkata:
Dari keterangan yang saya ketahui, kesalahan hanya terjadi di dalam penerapan dan penempatan manhaj. Saya baru datang dan tidak tahu asal usul fitnah ini. Mungkin Al-Akh Faishal yang lebih mengetahui, karena mengikutinya dari awal. Sedangkan Saya baru mulai ikut setelah kedatangan Asy-Syaikh Ali Hasan. Informasi terakhir memang Yusuf berulah lagi, menyebarkan Muwazanah. Dan mungkin dia tidak akan berubah. Kita akan buat sikap terakhir bagi Yusuf, sekaligus akan kita buat pernyataan. Karena akan khianat jika ditutupi. Misalnya hal ini terjadi di Jogja, saya tidak akan lama lagi berada di sana[28], karena hanya tinggal tanggung jawab moril.

Penutup
Demikianlah transkrip kami yang berisi dialog antara Al-Ustadz Muhammad Faishal dengan Abu Ihsan. Dan ini bukanlah untuk menganggap Abu Ihsan sebagai Ahlul Bid’ah, tetapi dikarenakan Abu Ihsan berteman dan bergaul dengan Ahlul Ahwa’, yang justru menjadikan dirinya sebagai Shohibul Hawa’ (pengikut hawa nafsu). Sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Barbahari:
“Apabila engkau melihat seseorang duduk bersama Ahlul Ahwa’, maka berilah peringatan kepadanya dan beritahukan tentang keadaan orang tersebut. Dan apabila dia tetap duduk bersamanya setelah dia mengetahui, maka hati-hatilah darinya, karena dia adalah pengikut hawa nafsu” (Syarhus Sunnah, hal. 121)
Semua ini semata-mata bertujuan untuk menyingkap kebenaran yang mungkin selama ini masih tersamar bagi sebagian pihak. Mudah-mudahan dengan ini kita bisa kembali ke jalan yang benar di atas manhaj yang lurus. Dan semoga Allah menjadikan ini sebagai nasehat bagi orang-orang yang masih memiliki hati yang bersih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s