MASALAH DENGAN SALAFY TURAST (TAHZIR KEPADA SALIM ATH THAWIL)

Posted: April 20, 2013 in SESAMA SALAFY SALING MENCACI & MEMUSUHI

Ihya’ At Turats

Tulisan ini 100% di ambil dari blog Salafy sendiri [sumber ada paling bawah], sebagai nasehat (umumnya kepada kita semua) agar bercermin untuk membenahi & memperbaiki permasalahan yang ada di tubuh ‘internal’ sebelum membenahi atau memperbaiki diluar golongannya (external).

Masalah Ihya’ At Turats Belum Selesai!!!

(Syubhat-syubhat dan Bantahannya)

– Asy Syaikh Ahmad bin ‘Umar bin Salim Bazmul Hafizhahullaah –

Pengantar:
Pada kesempatan mulia ini kita akan mengambil faidah dari sebuah makalah yang berjudul Tahdzir Asy Syaikh Ahmad Bazmul Hafizhahullaah terhadap Salim Ath-Thawil hadahullah. Subhanallah di dalamnya banyak sekali faidah-faidah yang akan kita dapatkan, mencakup di dalamnya jawaban-jawaban Asy Syaikh Hafizhahullaah dari syubhat-syubhat Salim Ath Thawil yang (ternyata) selama ini sering kita dengar dilemparkan oleh Turatsiyyun dan para pembela Turatsiyyun semisal Ihya’ At Turats adalah khilafiyah ijtihadiyah dll walaupun secara redaksional tidaklah sama persis, namun secara makna memiliki kemiripan dan kesamaan dengan fitnah-fitnah mereka di negeri ini. Wallahu a’lam, bukan hal yang tidak mungkin bahwa syubhat-syubhat tersebut memang didapatkan dari hasil membaca tulisan-tulisan Salim Ath Thawil atau orang-orang yang sejenis dengannya. Dan kita berdo’a kepada Allah Ta’ala bahwa acara kita sekarang ini dalam menyingkap syubhat-syubhat (seputar Ihya’ At Turats dan Abdurrahman Abdul Khaliq beserta balatentaranya) yang akrab terdengar di telinga kita tidak akan menjadikan sebagian orang menjadi gelisah dan menganggap bahwa ini semua hanya akan mengacaukan/merusak/memperkeruh acara dakwah mereka. Wallahul musta’an.

Adalah sebuah konsekwensi dari keberanian dan ketegasan sikap Asy Syaikh Ahmad Bazmul hafizhahullaah terhadap Hizbiyyin dan para pembelanya maka beliaupun dimusuhi bahkan dijadikan sebagai salah satu target sehingga dilaporkan kepada para Masyayikh lainnya dengan tujuan Masyayikh tersebut menyerang/membantah beliau. Sebuah keteladanan bagi kita semuanya, cobaan, fitnah itu semua tidaklah menjadikan beliau akhirnya diam dari menyuarakan kebenaran yang beliau yakini apalagi menjadi gemetar ketakutan bahkan beliau menyatakan dengan tegas “saya akan terus memegangi ucapan saya ini walaupun ada orang yang membantahnya”.…hafizhahullaah. -sekian-

….Salim Ath Thawil adalah seorang yang mengaku sebagai Salafy dan termasuk Salafiyin, tetapi dijumpai dalam manhajnya serta di dalam ucapan dan makalah-makalahnya banyak perkara yang mengharuskan untuk mentahdzirnya, padahal dia telah dinasehati. Diantaranya sebagai contoh yaitu pujiannya terhadap sebagian Turatsiyyin sebagaimana dalam sebuah makalahnya yang berjudul Raddul Isa’ah bil Ihsan Ta’qib ‘ala Duktur Khalid Sulthan ((رد الإساءة بالإحسان تعقيب على الدكتور خالد سلطان)) dimana dia menegaskan bahwa dia memiliki hubungan dengan mereka dan dia mengenali mereka.

Di makalahnya tersebut dia menyatakan:

“Dan sesungguhnya dengan memuji Allah saya mencintai saudaraku kaum Muslimin, apakah mereka yang berasal dari Jum’iyah Ihya’ At Turats atau dari yang lainnya. Saya mengerti hak-hak mereka dan menjaga kehormatan mereka dengan segala kekurangan yang ada pada saya. Dan saya berpendapat bahwa orang-orang yang menisbahkan kepada Jama’ah At Turats ada orang-orang yang memiliki keutamaan, ilmu dan agama. Saya menyangka demikian dan Allah saja yang menghisab mereka dan saya tidak mentazkiyah seorangpun dari hamba Allah. Sebagian mereka ada yang Ahlul Qur’an seperti Fadhilah Syaikh Muhammad Al Hamud An Najdi, Asy Syaikh Dawud Al ‘As’usy, Asy Syaikh Ibrahim Al Anshary, Asy Syaikh Faishal Al Qazhzhar serta selain mereka…”

Gambar 1. Screenshot publikasi kecintaannya kepada Turatsiyyun

Dia juga menyatakan: “Dan saya tidak ingat selama hidup saya bahwa saya telah bersikap buruk pada mereka dan saya juga tidak mengetahui seorangpun dari mereka yang berbuat buruk pada saya…”

Gambar 2. Screenshot ungkapan kebaikan dua arah antara Salim Ath Thawil dengan Turatsiyyun

(Syaikh): Ini menunjukkan pujian dia kepada sebagian tokoh-tokoh Ihya’ut Turats. Juga diantara kesalahan-kesalahan dia yang mengharuskan untuk memperingatkan dari kesalahan-kesalahan tersebut yaitu dia tidak menganggap bahwa perselisihan dengan Jum’iyah Ihya’ At Turats adalah perselisihan dalam masalah aqidah tetapi dia hanya menganggap bahwa mereka ini adalah orang-orang yang salah dan masih mungkin bagi kita untuk bermuamalah dengan mereka dan mereka ini tidak boleh diboikot.

Jadi perkataan dia dan perkataan sebagian ikhwan serta perkataan Syaikh Falah Mandakar bahwa Syaikh Salim Ath-Thawil memiliki bantahan-bantahan terhadap Ihya’ut Turats memang benar demikian, namun keadaan dia masih tetap bersahabat dengan mereka, makan dan minum bersama mereka[1]. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebutkan diantara sifat ahlul kitab adalah mereka tidak saling mencegah kemunkaran yang mereka lakukan sebagaimana firman Allah Ta’ala:

كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (٧٩)

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. (QS. Al Maidah: 79)

Juga diantara kesalahan-kesalahan Salim Ath-Thawil -dan kesalahan-kesalahan itu sangat banyak, tidak sedikit- yaitu dia menyamakan Salafiyyin dengan Takfiriyyin. Kalau Takfiriyyin menyatakan jihad…jihad…jihad maka Salafiyyin mengatakan Sunnah…Sunnah…Sunnah.

Dia juga menyatakan: “Mengulang-ulang bantahan terhadap Abdurrahman Abdul Khaliq tidak ada pahalanya.”

Apa ruginya bagimu wahai Ath Thawil dengan banyaknya bantahan terhadap Abdurrahman Abdul Khaliq?

Dia juga menyatakan tentang Asy Syaikh Muhammad Al Anjary –yang beliau ini salah seorang Masyayikh Kuwait- bahwa Asy Syaikh Muhammad Al Anjary tidak melakukan apapun dan bantahan-bantahan itu tidak akan menambah iman…

Lihatlah –baarakallaahufiik- makalah dia dengan judul yang mengherankan padahal Khalid Sulthan ini termasuk tokoh-tokoh At Turats. Di sisi lain dia membantah Syaikh Al Anjary padahal beliau ini termasuk Salafiyyin yang ditazkiyah oleh Syaikh Falah Mandakar[2].

Salim Ath Thawil telah membantah beliau dengan judul Ar Radd Al Jaly ‘ala Muhammad Al Anjary. Dia juga memiliki kaset dan majelis yang di dalamnya dia mencela Syaikh Al Anjary.

Diantara ucapannya adalah: “Banyaknya bantahan terhadap Jum’iyah Ihya’ At Turats itu AKANMENGERASKAN HATI.”

Dia juga menyatakan: “Salafiyyin menyamakan Al Khumainy kepada Ihya’ At Turats”. [3]

Dia juga menyatakan: “Menghukumi manusia dengan kebid’ahan bukan termasuk rukun Islam.” [4]

Dia juga memiliki ucapan yang membantah perkataan para ulama, bahkan ulama Salaf bahwasanya siapa saja yang memuji ahlul bid’ah maka dia digabungkan bersamanya.[5] Dia membantah perkara ini dan menyatakan: “Ilzam semacam ini batil.”

Perkara-perkara semacam ini semuanya/sebagiannya demi Allah seandainya muncul di masa Imam Ahmad, demi Allah….tetapi saya tidak mentabdi’ dia. Saya hanya mentahdzir dia.

Jadi hanya ada 2 pilihan, dia bertaubat kepada Allah dari perkara-perkara ini atau dia ditahdzir.

Secara umum saya belum mentabdi’[6] orang ini karena masih menunggu ucapan ulama[7] tetapi saya hanya menyebutkan kesalahan-kesalahannya atau sebagiannya dalam majelis tersebut dan saya akan terus memegangi ucapan saya ini walaupun ada orang yang membantahnya.

Sebagian murid Salim Ath Thawil telah berbicara kepada saya dan mengatakan: “Anda telah berbuat dhalim kepada Syaikh. Ittaqillah. Asy Syaikh juga telah membantah Turatsiyyin.”

(Syaikh): Baiklah dia memang membantah Turatsiyyin, tetapi apakah dia menganggap mereka itu mubtadi’? Jawabannya TIDAK, karena dia tidak menganggap mereka sebagai mubtadi’.

Berikutnya, apakah dia menganggap khilaf dengan mereka itu dalam masalah aqidah? Jawabannya TIDAK, dia tidak menganggap khilaf itu dalam masalah aqidah.

Apakah dia memiliki persahabatan dengan sebagian tokoh-tokoh mereka dan apakah dia memuji mereka? Jawabannya, YA, dia memiliki persahabatan dengan sebagian tokoh-tokoh mereka.

Jadi, jika demikian halnya lalu apa manfaat bantahan-bantahan dia terhadap mereka?? Tidak ada manfaatnya.

Apakah kita ini menggunakan manhaj muwazanah padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menyebutkan Khawarij beliau menyebutkan bahwa mereka melakukan shalat dan puasa yang menjadikan para shahabat menganggap rendah apa yang mereka lakukan dibandingkan mereka. Walaupun demikian mereka memiliki satu kesalahan yang dengannya mereka keluar dari agama ini sebagaimana anak panah keluar menembus buruannya.

Jadi yang menjadi penilaian tentang keadaan seseorang itu adalah dengan memperhatikan perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapannya, dan saya Insya Allah siap seandainya perkaranya tidak seperti yang saya sampaikan ini dan seandainya perkara-perkara ini semua adalah kedustaan atas nama Salim Ath Thawil maka saya akan ruju’ dari ucapan saya. Tetapi alangkah jauhnya hal semacam itu, kenapa? Karena dua perkara, bahkan tiga perkara:

Semua ini berdasarkan dari ucapan Salim Ath Thawil (terekam).
Apa yang saya katakan ini berdasarkan makalah-makalah Salim Ath Thawil dari webnya.
Persaksian orang-orang yang tsiqah dan adil terhadap perbuatan Salim Ath Thawil.

Jadi tidak ada pilihan baginya kecuali satu perkara saja yaitu hendaklah dia ruju’ dan mengumumkan taubatnya serta berlepas diri dari perkara-perkara ini Wallahu a’lam….

Sumber:

http://www.albaidha.net/vb/showthread.php?t=40924

Selesai diketik pada 27 Syawal 1433 H atau 14 September 2012

salafy tsurosi

Catatan Kaki:

[1] Asy Syaikh Ahmad An-Najmy rahimuhullaah berkata: “Siapa saja yang memberi tempat bagi ahlul bid’ah atau duduk-duduk bersama mereka atau makan bersama mereka atau safar bersama mereka dengan pilihan (sengaja -pent), maka dia disamakan dengan mereka. Apalagi jika dia telah dinasehati namun tetap membangkang dengan kesalahannya, walaupun dia mengaku bahwa dia duduk bersama mereka HANYA DALAM RANGKA MENASEHATI MEREKA. (Hiwar ma’al Halaby karya Asy Syaikh Ahmad An-Najmy dengan Ta’liq Asy Syaikh Ahmad Bazmul, hal. 31)

Beliau juga pernah ditanya dalam Al-Fatawa Al-Jaliyyah 2/141 no. 79: “Ada seseorang yang mengaku salafy, tetapi dia duduk-duduk bersama hizbiyyun. Ketika dinasehati dia mengatakan, “Aku mengarahkan dan menasehati mereka.” Maka bagaimanakah sikap kita dalam menghukumi orang ini?”

Beliau Rahimahullaah menjawab: “Menasehati tidak mengharuskan engkau berjalan bersama mereka. Menasehati hanya dalam waktu-waktu tertentu. Adapun dengan engkau berjalan bersama mereka dengan dalih bahwa engkau akan menasehati mereka, maka dijawab; seandainya engkau memang benar-benar menasehati mereka niscaya akan terlihat perubahan pada kelakuan mereka dan perbedaan dengan keadaan mereka yang dulu. Jika misalnya engkau mengatakan bahwa engkau menasehati mereka namun mereka tidak mendengar atau tidak menerima nasehatmu, jika demikian maka untuk apa engkau duduk atau berjalan bersama mereka, datang dan pergi bersama mereka?! Jadi jika mereka tidak mendengar nasehat, maka engkau jangan pergi dan jangan datang bersama mereka serta jangan duduk bersama mereka. Tetapi jika kami melihat engkau masih datang dan pergi serta duduk bersama mereka, maka kami jadi tahu bahwa sebenarnya engkau termasuk golongan mereka.” (Hiwar ma’al Halaby karya Asy Syaikh Ahmad An-Najmy dengan Ta’liq Asy Syaikh Ahmad Bazmul, hal. 31)

Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullaah ditanya:

Jika sebagian ikhwah dinasehati agar tidak berjalan dan bermajelis dengan ahlul bid’ah (maka) dia beralasan: “Ilmu saya sudah kokoh kuat”, bagaimana tanggapan anda?

Jawaban Asy Syaikh:

“Katakan kepadanya: Seandainya engkau benar-benar orang yang kokoh niscaya engkau tidak akan berjalan bersama mereka, seandainya engkau benar-benar orang yang kokoh dan mengerti manhaj Salaf serta bahaya-bahaya yang akan menghadangnya dan seandainya engkau mengetahui korban-korban yang berjatuhan dari orang-orang semacam dirimu yang mereka tertipu seperti dirimu -demi Allah- seandainya keadaanmu demikian, sekali-kali engkau tidak akan berjalan bersama Ahlul bid’ah. Banyak orang yang berjalan bersama ahlul bid’ah dengan dalih bahwa dia akan berusaha memberi nasehat kepada mereka, maka kita katakan: Ya akhi mereka saja tidak mau mengambil faidah maka bagaimana mungkin mereka akan mengambil faidah darimu? Mereka menolak nasehat Ibnu Bazz, Al Albani, Ibnu Utsaimin rahimahumullah serta para imam yang lain, lalu apa mungkin mereka akan menerima ucapanmu? Itu omong kosong, kemudian sesungguhnya 99% kelak engkau akan menjadi kaki tangan mereka.

Asy Syaikh Shalih Al Luhaidan Hafizhahullaahu Ta’ala beliau ditanya dalam durus Masjid Nabawi pada tanggal 23 Syawal 1418 H.

Pertanyaan: Seorang penuntut ilmu yang bermajelis dengan Ahlussunnah dan ahlul bid’ah dan dia mengatakan cukuplah perpecahan yang terjadi di umat ini, saya akan duduk dengan semua pihak. Bagaimana yang semacam ini?

Jawab: Orang yang semacam ini adalah seorang Mubtadi’. Barangsiapa yang tidak bisa membedakan antara Al Haq dengan Al Bathil dan dia mengklaim bahwa sikap dia seperti ini adalah dalam rangka menyatukan kalimat maka sikap seperti ini adalah Ibtida’ (mengada-adakan kebid’ahan). Kita memohon kepada Allah agar memberinya hidayah.

(Komentar Asy Syaikh Ahmad Bazmul):

Dan termasuk mutiara-mutiara bantahan Al Halabi terhadap dirinya sendiri adalah apa yang dia bawakan di dalam kitab Ilmu Ushulil Bida’ hal. 295-304 di bawah judul: Pasal ke-4: Menjauhi Ahlul Bid’ah. Diantara yang dia katakan pada hal. 299-301: “Di sini terdapat peringatan yang penting berkaitan dengan orang-orang yang menginginkan untuk bersikap tengah-tengah antara Ahlussunnah dengan Ahlul bid’ah, lalu engkau melihat mereka suka bermajelis dengan semua pihak dan ketika mereka ditanya, mereka menjawab: “Kami ini ingin mempersatukan dan tidak ingin memecahbelah.” Maka ucapan mereka ini justru merupakan pangkal sikap memecahbelah dan sikap yang jauh dari petunjuk Salaf dan jalan mereka yang lurus. Sebagian Salaf mengatakan: “Siapa yang tidak bersama kita berarti dia adalah musuh bagi kita”. Ini merupakan nash yang jelas yang menjelaskan hakekat sikap membedakan diri antara keistiqamahan Ahlussunnah dengan kesesatan Ahlul bid’ah….maka sikap pertengahan yang diklaim tersebut tertolak dan tidak diterima bahkan mardul.

Al-Auzai pernah ditanya: Ada orang yang mengatakan: Saya akan bermajelis dengan Ahlussunnah dan Ahlul bid’ah. Bagaimana?

Jawab: Orang ini ingin menyamakan antara kebenaran dan kebatilan. Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah di dalam Al Ibanah juz 1/456. Kemudian beliau mengomentari: “Telah benar Al Auza’i”. Saya katakan: Sesungguhnya orang itu tidak bisa membedakan antara kebenaran dengan kebatilan, antara kekafiran dengan keimanan dan terhadap orang yang demikian inilah Al Qur’an diturunkan dan As Sunnah dari Al Musthafa Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang. .” (Hiwar Ma’al Halaby karya Asy Syaikh Ahmad An-Najmy dengan Ta’liq Asy Syaikh Ahmad Bazmul, hal. 32)

Contoh ini mirip dengan statemen seseorang yang tiba-tiba nampak sekali ingin diketahui oleh umat bahwa dia anti Ja’far Umar Thalib dalam keadaan teman-temannya pada bulan suci Ramadhan kemarin, hari Jum’at tanggal 3 Agustus 2012 menampakkan ifthar mesra bersama Ja’far Umar Thalib di salah satu masjid di seputaran Jakarta dengan disaksikan oleh sekian banyak jama’ah shalat Maghribnya. Allahu Akbar! apakah dia akan menakut-nakuti mereka semuanya agar tutup mulut atau memerintahkan agar koor bersaksi mendustakan perkara yang terjadi DI BULAN SUCI RAMADHAN KEMARIN? Ittaqillah, Allahul musta’an.(-red)

[2] Fenomena Al Wala’ wal Bara’ yang sangat menyedihkan, begitu hebatnya serangan-serangan terhadap Salafiyyin dalam keadaan berteman dengan hizbiyyin, memberikan keleluasaan pada mereka untuk menyebarkan syubhat dan kesesatannya kepada umat melalui sarana yang dimilikinya semisal facebook atau yang semacam dengannya atau pujian, rekomendasi dan pembelaan terhadap hizbiyyin dikumandangkan. (-red). Ada dedengkot Quthbiyyah di wajah (face) Hanan Bahanan => http://goo.gl/PZDme atau http://www.box.com/s/a4ge38pqjln1ot31eb68

[3] Maksudnya -wallahu a’lam- mereka menuduh salafiyyin bersikap terlalu keras kepada Turatsiyyun, seakan-akan mereka ini sudah menyimpang jauh seperti Al-Khumainy dengan Rafidahnya.

[4] Tujuannya adalah untuk meremehkan urgensi membantah penyimpangan dan bid’ah atau menggembosinya. (red).

[5] Yahya bin Sa’id Al-Qaththan berkata: “Ketika Sufyan At-Tsaury tiba di Bashrah, beliau meneliti keadaan Ar-Rabi’ bin Shubaih dan kedudukannya di mata manusia, lalu dia bertanya kepada manusia: “Apa madzhabnya?” Orang-orang menjawab: “Madzhabnya tidak lain adalah As-Sunnah.” Beliau bertanya lagi: “Siapa teman-teman dekatnya?” Mereka menjawab: “Orang-orang Qodariyah.” Maka beliau menyimpulkan: “Jika demikian berarti dia juga adalah pengikut Qodariyah.” (Al-Ibanah karya Ibnu Baththah 1/452 no. 421, sebagaimana disebutkan dalam Hiwar ma’al Halaby karya Asy Syaikh Ahmad An-Najmy dengan Ta’liq Asy Syaikh Ahmad Bazmul, hal. 29)

Asy Syaikh Ibnu Baz Rahimahullaah ditanya: “Orang yang memuji ahlu bid’ah dan menyanjung mereka, apakah dia dianggap sama dengan mereka?”

Beliau Rahimahullaah menjawab: “Ya, tidak diragukan lagi bahwa siapa saja yang memuji ahlu bid’ah dan menyanjung mereka, berati dia adalah orang yang mengajak untuk mengikuti mereka, dia termasuk dai (corong) mereka. Kita memohon keselamatan kepada Allah.” (Hiwar ma’al Halaby karya Asy Syaikh Ahmad An-Najmy dengan Ta’liq Asy Syaikh Ahmad Bazmul, hal. 29-30)

[6] Ini berdasarkan kaedah bahwa: MENJELASKAN KESALAHAN SESEORANG TIDAK MESTI MENCAPNYA SEBAGAI AHLI BI’DAH.

Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahim Al-Bukhary Hafizhahullaah berkata:

“Di sini saya juga ingin mengingatkan perkara yang penting yang ini merupakan pemahaman yang salah yang disebabkan karena tidak mengerti dan tidak memahami macam-macam manusia dalam mengenal kebenaran dan kebatilan.

Sebagian penuntut ilmu dan sebagian manusia menyangka bahwa setiap bantahan maknanya adalah mencap sebagai ahli bid’ah. Yang benar bantahan tidaklah mesti apa?, tidak mesti membid’ahkan, tidak ada keharusan. Jadi pihak yang dibantah terkadang seorang mubtadi’ dan terkadang tidak.

Para ulama sejak dahulu hingga masa kita ini sebagian mereka membantah sebagian yang lain pada beberapa kritikan ilmiyah. Namun diantara mereka tidak ada apa?, tidak ada saling menyerang, permusuhan, menghukumi sebagai mubtadi. Bukankah demikian? Ini ada dan contoh-contohnya banyak.

Saya katakan: contoh-contohnya banyak, diantaranya -juga sebagai contoh- agar engkau mengetahui bahwa tidak setiap bantahan maknanya adalah mencap sebagai ahli bid’ah, yaitu bantahan Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullaah terhadap Al-Allamah Al-Albany dalam masalah mengangkat kedua tangan setelah bangkit dari rukuk, bantahan Asy Syaikh Al-Albany terhadap guru kami Asy Syaikh Badi’ As-Sindy dan bantahan Asy Syaikh As-Sindy Badi’uddin, juga bantahan fulan terhadap fulan. Namun tidak ada seorangpun dari mereka ada yang mencap pihak lain sebagai mubtadi’.

Selanjutnya bisa anda baca disini

http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2012/09/14/masalah-ihya-at-turats-belum-selesai/

http://tukpencarialhaq.wordpress.com/2012/07/05/tahdzir-asy-syaikh-muhammad-bin-hadi-al-madkhali-atas-ibrahim-ar-ruhaili/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s