KEAGUNGAN BULAN RAJAB

Posted: Mei 20, 2013 in STOP MENUDUH BID'AH !!

rajab

Jauh sebelum Nabi Muhammad saw lahir orang-orang Arab sudah mengenal perhitungan tahun bulan, tanggal dan hari. Perhitungan kalender yang mereka pakai adalah mengikuti pergerakan peredaran bulan, yang sekarang popular dengan sebutan kalender Qomariah (lunar calendar). Di dalam kitab suci Al Qur’an, Allah azza menjelaskan kepada kita semua tentang adanya 12 bulan dalam setahun, di mana  empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan haram (suci dan agung).

attaubah36

Firman Allah azza :
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At Taubah: 36)

Dalam menjelaskan ayat di atas Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya zaman itu berputar seperti keadaanya semula sejak hari Allah azza menciptakan langit dan bumi. Dan sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah azza adalah 12 bulan dalam ketetapan Allah azza di saat Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara 12 bulan itu, empat di antaranya adalah bulan haram (suci dan agung); tiga di antaranya berturut-turut yaitu bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam sedangkan yang satu lagi terpisah yaitu bulan Rajab, terletak di antara bulan Jumadai dan bulan Sya’ban.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam hadis di atas antara lain:

  1. Nabi saw mengakui adanya peredaran waktu sejak peristiwa terjadinya langit dan bumi. Dalam ilmu modern manusia meyakini bahwa kejadian langit dan bumi berasal dari sebuah “ledakan besar” (big bang) yang menyebabkan alam yang pada mulanya merupakan sebuah benda yang sangat besar yang luar biasa besarnya, berasal dari gumpalan gas yang memadat, kemudian meledak menjadi serpihan-serpihan berupa bintang-bintang, planet-planet dan benda-benda angkasa di seluruh jagat raya. Teori manusia ini sebenarnya bukan barang baru. Allah azza telah menceritakannya pada kita di dalam Al Qur’an surat Al Anbiya ayat 30: ”Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?”

    Dengan demikian Islam lebih dahulu mengakui bahwa bumi itu beredar mengelilingi matahari dan menimbulkan pergesaran waktu siang dan malam, sebagai salam satu ketetapan Allah azza hal ini penting kami tegaskan sebab sudah ada segelintir umat Islam yang mengikuti fatwa ulama mereka dari Negara Saudi Arabia yang menghukumkan “kafir” atas orang-orang yang tidak mempercayai bahwa bumi ini diam, dan tidak bergerak. Menurut mereka justru mataharilah yang bergerak mengelilingi bumi. Kasihan mereka……
  2. Bahwa jumlah bulan itu jumlahnya 12 bulan dalam setahun, tidak lebih dan tidak kurang.
  3. Ada empat bulan yang digelari bulan suci dan agung, yakni bulan haram antara lain: Rajab, Dzulqa’idah, Dzulhijjah, dan Muharam.

Dengan demikian keempat bulan ini berbeda derajatnya dengan bulan-bulan yang lain. Dan, Allah azza Maha Kuasa meninggikan derajat sesuatu dan memilih makhluknya menduduki tempat yang utama dibandingkan derajat makhluk yang lain. (HR. Ibnu Abbas, Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal: 157 – 158)

Salah satu perbedaan bulan-bulan haram yang empat di atas dengan bulan-bulan biasa adalah ganjaran pahala yang didapat jika beramal di dalamnya lebih besar dibandingkan dengan amalan yang sama di bulan yang lain. Sebaliknya ganjaran dosa yang diterima jika melakukan perbuatan durhaka kepada Allah azza juga lebih besar jika dibandingkan dengan berbuat dosa di bulan lain.

Qatadah ra berkata: “Sesungguhnya Allah azza telah memilih banyak pilihan dari kalangan makhluk-Nya. Allah azza memilih dari kalangan malaikat yang dijadikan sebagai utusan-Nya, juga memilih dari kalangan manusia yang dijadikan sebagai utusan-Nya. Allah azza juga memilih dari kalam-Nya yaitu al-Qur’an; dari permukaan bumi ini masjid-masjid; dari bulan-bulan yang ada dipilih bulan Ramadhan dan bulan-bulan Haram; dari hari-hari yang ada, Allah azza memilih hari Jum’at; dan dari malam-malam yang ada, Allah azza memilih Lailatul Qadar. Oleh sebab itu agungkanlah apa yang telah diagungkan oleh Allah azza, karena sesungguhnya keagungan itu hanyalah kepada apa yang diagungkan oleh Allah azza saja. Demikian menurut orang-orang yang berakal dan memiliki kepahaman (Lihat Tafsir Ibnu Katsir halaman: 157 – 158)

Puasa di Bulan Rajab

Bulan Rajab adalah satu dari pada bulan-bulan haram yang ada di samping Dzulqaidah  Dzulhijjah dan Muharam. Akhir-akhir ini telah beredar pendapat yang sangat nyaring yang mengatakan berpuasa di bulan Rajab adalah haram karena puasa Rajab ini hukumnya bid’ah. Kelompok yang segelintir ini beralasan bahwa dalil melaksanakan ibadah puasa di bulan Rajab hanya terdiri atas hadis-hadis dhaif dan maudhu’ saja. Dan, sama sekali tidak ada dalil yang memerintahkan untuk berpuasa di bulan Rajab itu. Demikian kata segelintir orang itu…!

Benarkah demikian……?

Kami mendapatkan dalil yang nyata dari hadis yang sanadnya sangat bagus, tentang dalil melaksanakan puasa di bulan haram. Imam Nawawi juga membahas satu cabang khusus dalam bab puasa-puasa sunat pada kitab beliau yang paling besar dan agung, yakni Majmu’ Syarah Muhadzdzab. Beliau berkata sebagai berikut: “Telah berkata sahabat-sahabat kita dalam mazhab Imam Syafi’i:  “……dan salah satu dari puasa yang disunatkan adalah puasa pada bulan-bulan haram, yakni puasa pada bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan bulan Rajab…… dan dari antara empat bulan haram yang ada itu, maka yang paling afdhal adalah berpuasa di bulan Muharam. Namun demikian Imam Royani dalam kitab Al Bahri berpendapat bahwa berpuasa di bulan haram yang paling afdhal adalah di bulan Rajab. (lihat kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab, jilid VII halaman 653).

Dalil puasa di bulan Haram itu dapat kami kemukakan di sini dari hadis yang menceritakan tentang seorang Arab Badui yang bernama Mujibah Albahili yang menceritakan tentang bapaknya atau pamannya. Bapaknya itu telah datang kepada Nabi sawmasuk Islam kemudian mendapat perintah untuk berpuasa. Setahun kemudian orang itu kembali bertemu Nabi saw dalam keadaan kurus kering dan Nabi saw tidak mengenalinya lagi karena perubahan bentuk tubuhnya itu. Maka Nabi saw bertanya kenapa tubuhnya menjadi kurus, orang itu menjawab bahwa semenjak berpisah dari Rasulullah saw, setahun yang lalu dia terus-menerus berpuasa setiap hari. Kemudian nabi saw bersabda kepada orang itu: “Kenapakah engkau menyiksa dirimu? Puasalah di bulan Ramadhan saja ditambah (puasa sunat) satu hari tiap-tiap bulan”. Orang itu mengatakan: “Tambahi lagi ya Rasul”. Kemudian Nabi berkata: “Dua hari tiap bulan”. Orang itu berkata lagi: ”Tambahi lagi ya Rasul”. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Puasalah tiga hari tiap bulan”. Orang itu berkata lagi: “Tambahi lagi ya Rasulullah”. Maka kemudian Rasulullah saw bersabda: “Puasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah, Puasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah, Puasalah pada bulan-bulan haram dan tinggalkanlah”. (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Baihaqi, dengan sanad yang sangat bagus). Terang benderang dalam hadis ini nabi saw menyebutkan “Puasalah pada bulan-bulan haram!” Adalah dimaklumi salah satu bulan haram yang ada termasuk bulan Rajab, bukan…?  

Selanjutnya, Imam Nawawi menegaskan bahwa memenuhkan  ibadah puasa pada semua hari-hari yang terdapat pada bulan-bulan haram itu keseluruhannya, (bagi orang yang tidak merasa berat atasnya),  adalah merupakan keuntungan besar baginya di sisi Allah azza. Dan, perlu ditegaskan di sini sekali lagi, bahwa bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram yang ada itu. Lantas bagaimana tuduhan “bid’ah lagi haram“ atas pelaku puasa di bulan Rajab  itu bisa muncul…..?

Di dalam Islam puasa yang diharamkan Nabi saw hanya ada 5 hari saja dalam setahun, yaitu: Pertama,Puasa pada Hari Raya Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal. Kedua,  Puasa pada Hari Raya Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah. Ketiga, Puasa pada tiga hari Tasyrik yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Inilah saja lima hari yang diharamkan berpuasa padanya di dalam Islam. Adapun hari-hari selebihnya merupakan ibadah sunat di sisi Allah azza jika diisi dengan berpuasa oleh setiap kaum muslimin. Hal ini berdasarkan hadis bahwa Rasulullah saw pernah ditanya oleh seorang Arab Badui tentang puasa yang wajib, maka nabi menjawab: “Puasa wajib adalah puasa di bulan Ramadhan”. Badui itu bertanya lagi: “Adakah tambahan puasa wajib atasku selain di bulan Ramadhan itu?” Nabi saw menjawab: “Tidak ada lagi puasa yang wajib atas mu selain puasa di bulan Ramadhan itu. Sedangkan sisa hari-hari yang lain dalam setahun semuanya sunat belaka. (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Dengan demikian jika ada segelintir umat Islam yang mengharamkan puasa selama 30 hari di bulan Rajab, maka orang ini telah menambah satu syariat baru dalam hukum Islam dan melawan Nabi Muhammad saw. Betapa tidak…….? Jika selama ini Nabi saw kita hanya mengharamkan puasa lima hari dalam setahun, mereka malah berani mengharamkan 35 hari puasa dalam setahun, karena ditambah 30 hari bulan Rajab.

Dengan demikian jadi timbul tanda tanya di hati kita: ”Apakah mereka pengikut nabi baru, ya……?”

GOLONGAN PELARANG PUASA RAJAB MENURUT IMAM IBNU HAJAR

Termasuk kategori apakah orang yg melarang puasa rajab…???

Inilah jawabannya :

Imam Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fatawa-nya juz 2 hal. 53 :

… وأما استمرار هذا الفقيه على نهي الناس عن صوم رجب فهو جهل منه وجزاف على هذه لشريعة المطهرة فإن لم يرجع عن ذلك وإلا وجب على حكام الشريعة المطهرة زجره وتعزيره التعزير البليغ المانع له ولأمثاله من المجازفة في دين الله تعالى
ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام إنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه : نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى. اهـ

“Orang yang melarang puasa Rajab maka itu adalah kebodohan dan ketidak tahuan terhadap hukum syariat. Apabila ia tidak menarik ucapannya itu maka wajib bagi hakim atau penegak hukum untuk menghukumnya dengan hukuman yang keras yang dapat mencegahnya dan mencegah orang semisalnya yang merusak agama Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Sependapat dengan ini ‘Izzuddin Abdusssalam, sesungguhnya beliau ditanya dari apa yang dinukil dari sebagian Ahli Hadits tentang larangan puasa Rajab dan pengharamannya, dan apakah sah orang yang bernadzar puasa Rajab sebulan penuh maka beliau menjawab “Nadzar puasa Rajab itu sah dan bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Adapun larangan puasa Rajab itu adalah pendapat orang yang bodoh akan pengambilan hukum-hukum syariat. Bagaimana bisa dilarang sedangkan para Ulama’ yang dekat dengan syariat tidak ada yang menyebutkan tentang dimakruhkannya puasa Rajab bahkan dikatakan puasa Rajab adalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (sunnah)”.

Beliau juga berfatwa :

فتاوى ابن حجر الهيثمى – (ج 1 / ص 4)
وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعاً ولا شك أن صوم رجب من فضائل الأعمال فيكتفي فيه بالأحاديث الضعيفة ونحوها ولا ينكر ذلك إلا جاهل مغرور

Sesungguhnya telah ditetapkan bahwa hadits Dhaif, Mursal, Munqothi’, Mu`dhal serta hadist Mauquf itu bisa diamalkan dalam fadhailul a’maal sesuai dengan kesepakatan para ulama’, DAN TIDAK ADA KERAGUAN MENGENAI ‘KEUTAMAAN PUASA RAJAB’ ADALAH TERMASUK DARI FADHAILUL A`MAAL, maka cukupkanlah dalam mengamalkannya dengan hadits hadits dhaif dan seumpamanya, SERTA TIDAK ADA ORANG YANG INGKAR TERHADAP HAL ITU KECUALI ORANG TERSEBUT BODOH YANG TERTIPU….

Wallahu A’lam bishshowab

Source , Ust. SGM & Ust. Dody. Elhasyimi

Komentar
  1. gayuh mengatakan:

    jika sudah ada hadist sahih yang nyata lebih kuat. kenapa harus mengamalkan hadist yang lemah ?? ibarat ada 2 buah kue yang sama. satu dikemas dengan kardus dan bersertifikat halal. satu lagi dikemas dengan koran. mana yg anda pilih ?? sudah pasti ya yang bersertifikat. itu sama dengan hadist sahih tadi. hadist sahih pun juga banyak yg amalan2 sunnah. yang nyata itu hadist yang kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s