PEMALSUAN WAHABI – SALAFY TERHADAP RIWAYAT IBNU ABBAS TENTANG PENAFSIRAN ISTAWA

Posted: Oktober 29, 2013 in TAHRIF KITAB & KHIANAT ILMIAH, WAHABI, WAHABI - SALAFY HALALKAN SEGALA CARA
Tag:

menggunting1

Di antara perbedaan akidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah dengan Salafi- Wahabi adalah tentang konsep keberadaan Allah SWT itu tanpa tempat atau bertempat. Ahlussunnah Wal-Jama’ah meyakini bahwa Allah ada tanpa tempat Sedangkan Salafi-Wahabi meyakini Allah bertempat di arasy. Di antara dasar yang digunakan oleh Salafi-Wahabi dalam meyakini Allah bertempat di ‘arasy adalah beberapa ayat mutasyabihat dalam alQur’an yang menjelaskan Allah ber-istiwa’ pada ‘arasy, dimana mereka mengartikannya secara literal, dengan arti bersemayam Ahlussunnah Wal-Jama’ah menafsirkan istiua’ tersebut dengan dua pendekatan. Pertama, pendekatan tafwidh yaitu menyerahkan makna yang sesungguhnya kepada Allah. Pendekatan ini diambil oleh mayoritas ulama Salaf. Kedua, pendekatan ta’wil, yaitu mengartikan istiwa’ Allah dengan makna yang dapat dibenarkan secara bahasa, misalnya bermakna menguasai Pendekatan ini diambil oleh mayoritas ulama khalaf.
Scan pemalsuan kitab riwayat Ibnu Abbas oleh Salafy
Penafsiran Salafi-Wahabi terhadap istawa dalam al-Qur’an dengan arti bersemayam dan bertempat, tidak memiliki dasar yang kuat, baik secara syar’i maupun secara logika. Al-Imam al-Baihaqi meriwayatkan dalam al-Asma’ wa al-Shifat, melalui jalur sanad yang sangat lemah, bahwa Ibnu Abbas RA menafsirkan ayat istawa dengan bersemayam. Tetapi kemudian al-Baihaqi menjelaskan bahwa riwayat tersebut munkar atau dusta, karena diriwayatkan melalui beberapa perawi yang tidak dapat dijadikan hujjah dan pendusta. Selanjutnya Ibnu al-Qayyim dalam kitabnya Ijtima’ al-Juyusy al-lslamiyyah, kitab yang ditulis untuk menghimpun pernyataan para ulama yang mendukung akidah kaum ghulat alhanabilah, mengutip penafsiran Ibnu Abbas tersebut dari al-Baihaqi dalam al-Asma’ wa al-Shifat. Hanya saja, Ibnu al-Qayyim membuang penjelasan al-Baihaqi, bahwa riwayat tersebut munkar alias dusta dan palsu.
Keterangan dalam scan di atas:
(1) Ibnu al-Qayyim dalam kitab Ijtima’ al- Juyusy al-lslamiyyah halaman 249, mengutip penafsiran Ibnu Abbas terhadap istawa dengan bersamayam, dari al-Baihaqi, tetapi membuang penjelasan al- Baihaqi bahwa riwayat tersebut dusta dan palsu.
(2) Al-Baihaqi dalam kitab al-Asma” wa al-Shifat, halaman 383-384, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang menafsirkan istawa dengan istaqarra (bersemayam).
(3) Lalu al-Baihaqi menjelaskan bahwa riwayat dari Ibnu Abbas tersebut dusta, di dalam sanadnya terdapat Abu Shalih al-Kalbi dan Muhammad bin Marwari al-Suddi, dua perawi yang pendusta.
M. Idrus Ramli
Bekal Pembela Ahlussunnah Wal-Jama’ah Menghadapi Radikalisme Salafi-Wahabi , hal. 65
Komentar
  1. mohammad taufiq mengatakan:

    Saya bkn wahabi,bkn aswaja, bkn muhammadiyah pula, saya hanya berpegang pd Al Qur’an dan As Sunnah, pd saat ada pendapat baik aswaja, muhammadiyah dan wahabi yg saya liat tdk bertentangan dgn Al Qur’an dan As Sunnah,maka akan saya pakai, klo yg ragu, saya akan cari dan berdiskusi, baik itu dari NU, Muhammadiyah,Tarekat, dll, bolehkah saya bersikap spt ini,mohon dijawab terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s