KESUNGGUHAN ULAMA TERDAHULU MENGUTAMAKAN BELAJAR AHLAK DAHULU DI BANDING ILMU LAINNYA

Posted: Oktober 30, 2013 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT

ahlak

IMAM QAHDI IYADHL AL MALIKI menyebutkan bahwa Abu Ali Ats Tsaqafi mengambil akhlak dari prilaku Muhammad bin Nashr Al Marwazi hingga perlu bermukim di Samarkand selama 4 tahun.

Sedangkan Muhammad bin Nashr mengambil dari Yahya bin Yahya, kemudian Yahya mengambil dari Imam Malik hingga bermukim bersama Imam Malik selama setahun setelah beliau mengambil periwayatan hadits.

Tatkala ada yang bertanya mengenai hal itu, maka Yahya bin Yahya menjawab,”Sesungguhnya aku bermukim dalam rangka mempelajari akhlaknya, sesungguhnya akhlaknya mencerminkan ahklak sahabat dan tabi’in.” (Tartib Al Madarik, 1/117)

Dengan demikian, tidak hanya ilmu fiqih atau periwatan hadits yang “bersanad”, mempelajari akhlak pun demikian, sehingga tidak cukup teori tapi perlu belajar melalaui “model hidup” dan ini perlu lama berinteraksi dengan ulama untuk mempelajari akhlak mereka.

mencium tangan ulama

—————————————–

IBU IMAM AT TSAURI pernah menyampaikan kapada At Tsauri saat kecil,”Wahai putraku, carilah ilmu dan aku akan mencukupimu dengan rajutanku. Wahai anakku, jika engkau telah mampu menulis sepuluh huruf maka lihatlah dirimu, apakah bertambah baik cara berjalan, kelembutan dan ketenanganmu. Jika hal itu tidak menambahmu, maka ketahuilah sesungguhnya ilmu itu tidak memberi manfaat padamu.” (Shifat Ash Shafwah, 3/125)

—————————————-

IMAM IBNU QASIM salah satu murid senior Imam Malik menyatakan,”Aku telah mengabdi kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Dari masa itu, 18 tahun aku mempelajari adab sedangkan sisanya 2 tahun untuk belajar ilmu”. (Tanbih Al Mughtarrin, hal. 12)

Demikianlah para ulama terdahulu, amat mementingkan belajar ahlak, bahkan menempuhnya dalam waktu yang cukup lama.

IBRAHIM BIN HABIB BIN AS SYAHID yang merupakan perawi hadits yang tsiqah demikian juga ayahnya, menyampaikan, bahwa ayah beliau pernah berpesan,”Wahai anakku, datangilah fuqaha dan ulama dan belajarlah dari mereka. Ambillah dari mereka adab dan akhlak, itu lebih aku cintai darimu daripada banyak hadits.” (Jami’ Adab As Sami’ wa Adab Ar Rawi, 1/80).

Imam Malik menuturkan: Dahulu ibuku menyiapkan imamahku ketika aku masih kecil sebelum aku pergi ke halaqoh-halaqoh ilmu. Maka ibuku mengatakan:

يَا مَالِك، خُذْ مِنْ شَيْخِكَ الْأَدَبَ قَبْلَ الْعِلْمِ

“Wahai Malik, ambillah dari syaikhmu adabnya sebelum ilmunya!”

Memang seharusnya waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari adab sebagai penuntut ilmu lebih panjang dari waktu untuk menuntut ilmu. Beginilah Abdullah ibn al-Mubarak menuturkan pengalamannya yang dinukil dalam kitab Ghayatun Nihayah Fii Thabaqatil Qurra’.

طَلَبْتُ الْأَدَبَ ثَلَاثِيْنَ سَنَةً، وَطَلَبْتُ الْعِلْمَ عِشْرِيْنَ سَنَةً، وَكَانُوْا يَطْلُبُوْنَ الْأَدَبَ قَبْلَ الْعِلْمِ

“Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun, dan saya mempelajari ilmu selama dua puluh tahun, mereka (para ulama salaf) mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu.

Source: hidayatullah.com & rumahfiqh.com

Komentar
  1. abdurrahim mengatakan:

    izn share ustadz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s