SYARAT & KEHATI-HATIAN ULAMA TERDAHULU DALAM MENGELUARKAN FATWA

Posted: Oktober 30, 2013 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT

Fatwa

Syarat Mufti di Masa Utsmaniyah

SYEIKH AL ISLAM SA’D AD DIN yang merupakan “syeikh Al Islam” ke 25 Daulah Al Utsmaniyah saat itu wafat, hingga Sulthan Utsman II meminta pertimbangan para ulama besar mengenai siapa pengganti Syeikh Sa’d. Dan saat itu yang ditanya adalah Syeikh Husain bin Muhammad yang merupakan ulama besar di masa itu.

Maka, Syeikh Husain pun memberikan jawaban,”Mintalah para ulama hadir dan berdiri di hadapan Anda. Dan aku akan memberikan kepada mereka 300 pertanyaan. Maka, barang siapa mampu menjawab 200 darinya tanpa membuka kitab, maka pantas menduduki jabatan mufti.” (Maqalat Al Kautsari, hal. 384,385)

At Thahawi Perlu Izin Qadhi Maliki Sebelum Berfatwa

QADHI ABU UTSMAN AL BAGHDADI meskipun termasuk ulama besar dan hakim madzhab Al Maliki namun beliau sering mengunjungi Imam At Thahawi yang bermadzhab Hanafi untuk menyimak karya-karya beliau.

Suatu saat ketika kedua ulama besar itu bertemu ada seorang datang untuk meminta fatwa. Imam At Thahawi pun menyampaikan kepada orang itu,”Madzhab Qadhi demikian…” Si penanya pun mengatakan kepada Imam At Thahawi,”Saya bukan datang untuk Qadhi, sesungguhnya saya datang kepada Anda.”

Qadhi Abu Utsman pun turut berbicara kepada Imam At Thahawi,”Berilah fatwa dengan pendapatmu.”

Imam At Thahawi pun menjawab,”Sebagaimana telah dizinkan oleh Qadhi, maka silahkan Anda (Qadhi) memberi fatwa kemudian baru saya.”

Dari kisah ini Al Hafidz As Sakhawi menyampaikan bahwa demikianlah adab Imam At Thahawi dan kelebihan beliau sebagaimana Qadhi Abu Utsman yang mengunjungi beliau juga memiliki adab dan keutamaan.

Kisah ini dinukil Syeikh Muhammad Az Zahid Al Kautsari ulama Kekhalifahan Al Utmani dari At Tibr Al Masbuq karya Al Hafidz As Sakhawi (Al Maqalat Al Kautsari, hal. 348

Utamakan Pihak Lain dalam Berfatwa

IMAM IBNU ABI LAIILI, salah seorang ulama besar dari kalangan tabi’in menyampaikan,”Aku mengetahui 120 kaum Anshar dari para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam. Ketika salah satu dari mereka ditanya mengenai sebuah masalah, maka ia menyarankan kepada si penanya untuk menanyakan kepada yang lain, dan yang lain pun menyarankan untuk bertanya kepada pihak lain juga, demikian selanjutnya hingga kembali kepada orang yang pertama.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Laili mengatakan,” Tidak ada dari mereka menyampaikan hadits kecuali mengutamakan saudaranya. Dan ia tidak diminta fatwa tentang sesuatu kecuali mengutamakan saudaranya.” (Adab Al Fatwa wa Al Mustafti wa Al Mufti, hal. 14)

Generasi awal memandang bahwa berfatwa merupakan perkara yang memiliki tanggung jawab amat besar, hingga mereka tidak “rakus” dalam masalah ini. Sehingga mereka saling melimpahkan fatwa kepada pihak lain

Yang Pandai dan yang Bodoh dalam Fatwa

Ibnu ‘Uyainah menyatakan,”Manusia yang paling pandai dalam fatwa adalah mereka yang paling banyak menahan untuk berfatwa. Dan manusia yang paling bodoh dalam berfatwa adalah yang paling mudah berfatwa.”

Khatib Al Baghdadi menjelaskan pernyataan Ibnu Uyainah tersebut, bahwa siapa yang rakus dalam berfatwa maka sedikit taufiq. Sedangkan siapa yang tidak suka diminta fatwa dan fatwa bukan pilihannya maka pertolongan dari Allah lebih banyak diperoleh jika ia berfatwa.

Merujuk kepada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada Abdurrahman bin Samurah yang diriwayatkan Imam Al Bukhari, ”Jika engkau diberi kekuasaan tanpa meminta, maka engkau akan ditolong atasnya.” (Al Faqih wa Al Muatafaqqih, 2/351).

Source: hidayatullah.com

Ciri Ulama Akhirat

“Ciri-ciri ulama akhirat antara lain: dia sangat berhati-hati dalam memberi fatwa, bahkan bersikeras untuk tidak berfatwa sama sekali. Apabila ditanya oleh orang tentang segala sesuatu yang diketahui baik yang bersumber dari Al Qurán, hadits, ijma’dan kiyas, maka ia menjelaskan sesuai dengan kemampuannya. Sebaliknya, jika ia tidak mengetahui secara pasti, maka dengan jujur ia berkata : aku tidak tahu.” (Imam al-Ghazali).

Imam Syafi’i

لا يجوز لاحد ان يقدم على امر حتى يعلم حكم الله فيه . قال الشافعي اجماعا لقوله صلى الله عليه و سلم : العلم امام العمل و العمل تابعه .

Artinya : “Seseorang tidak boleh mendahului atas sesuatu hingga mengetahui hukum Allah terdahulu di dalam sesuatu itu”. Telah berkata Imsm asy-Syafi’i dengan konsensus ulama, karena sabda Rasulullah SAW: Ilmu adalah pimpinan amal, dan amal adalah pengikutnya. Status diambil dari kitab “Qawa’id at-Tashawwuf”, karya Imam Abul Abbas Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa Zarruq al-Fasi al-Burnusi (846-899 H. / 1442-1493 M. ), halaman 62, cetakan “Darul Kutub al-‘Ilmiyyah”, Beirut – Libanon

Source: Ust. Al Mahbub & KH. Thobary Syadzily

“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya secara langsung dari manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mematikan ulama, sehingga apabila tidak terdapat orang yang alim, maka manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya serta memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” Hadits shahih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s