DIALOG SYEKH AL-ARIFI DENGAN SANTRI INDONESIA (MEMBACA QUR’AN DI KUBURAN)

Posted: November 12, 2013 in STOP MENUDUH BID'AH !!
Syekh Al-Arifi kunjungan ke London

Syekh Al-Arifi menunjukkan kemahirannya bermain kartu saat kunjungannya di London

Membaca Al-Quran di samping makam haram pelakunya quburiyyun ???

Begitulah kira – kira judul pada video yang sering disebarkan oleh golongan Salafy – Wahabi dibanyak tulisan yang disebarkan di internet, Di Video ini (http://www.youtube.com/watch?v=jKSjTuvSX88), saya maklumi jawaban santri tersebut tidak ilmiyyah sebab mungkin ia adalah dari kaum pemula. Andai syaikh al-Arifi mau bersikap gantle dengan mewawancari seorang ustadz atau ulama di sana saat berziarah dan membaca al-Quran di turbah, niscaya syaikh al-Arifi akan bungkam seribu bahasa.

Seandainya saya yang ditanya syaikh al-Arifi saat itu, maka jawaban saya ketika ia bertanya adalah :
Syaikh : Kamu membaca al-Quran di sini ? faedah apa yang kamu dapati membaca al-Quran di kuburan ?
Saya : Sangat banyak ya syaikh, di antaranya selain saya mendapat pahala membaca al-Quran, saya pun mendapat pahala ziarah, mengingat kematian, mengingat akherat sebagaimana anjuran Nabi : “ Ziarahlah kubur, karena akan mengingatkanmu pada akherat “, dan banyak lagi faedahnya.
Syaikh : siapa yang mengajarkanmu ini ?
Saya : Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkanku dan juga para ulama salaf serta jumhur ulama madzhab dan kaum muslimin. Jika syaikh bertanya mana dalilnya ?
Saya jawab : Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Dahulu saya melarang kalian menziarahi kubur, sekarang telah diizinkan dengan Muhammad untuk berziarah pada kubur ibunya, karena itu berziarah lah ke perkuburan sebab hal itu dapat mengingatkan pada akhirat”. (HR. Muslim (lht.shohih Muslim jilid 2 halaman 366 Kitab al-Jana’iz), Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, Ahmad).
Jika syaikh bertanya mana dalil membaca Quran di kuburan ?
Saya jawab : Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
اقرءوا يس على موتاكم

“Bacalah surat Yaasiin untuk orang yang mati di antara kamu.” (Riwayat Imam Abu Dawud; kitab Sunan Abu Dawud, Juz III, halaman 191)

Asy-syaukani berkomentar :

واللفظ نص في الأموات وتناوله للحي المحتضر مجاز فلا يصار إليه إلا لقرينة

Lafazd hadits tsb berkenaan pada mayit, mengarahkannya pada orang yang sekarat menjelang wafat adalah majaz, maka tidak boleh diarahkan ke sana kecuali ada qarinah “. (Nail al-Awthar : 2/679)

Al-Faqih al-Hanbali al-Ushuli al-Mutqin al-‘allamah Qadhi qudhah, Ibnu an-Najjar berkomentar :

الحديث يَشْمَلُ الْمُحْتَضَرَ وَالْمَيِّتَ قَبْلَ الدَّفْنِ وَبَعْدَهُ , فَبَعْدَ الْمَوْتِ حَقِيقَةٌ , وَقَبْلَهُ مَجَازٌ

Hadits tersebut mencangkup orang yang sekarat maupun sudah wafat, baik sebelum dimakamkan atau pun sudah dimakamkan. Setelah dimakamkan, maka itu adalah makna hadits secara hakikat (dhahir) dan sebelum dimakamkan, maka itu makna hadits secara majaz “ (Mukhtashar at-Tahrir syarh al-Kaukab al-Munir : 3/193)

Imam Nawawi berkata dalam Majmu’nya :

وَيُـسْـتَحَبُّ لِلزَّائِرِ اَنْ يُسَلِّمَ عَلىَ اْلمَقَابِرِ وَيَدْعُوْ لِمَنْ يَزُوْرُهُ وَلِجَمِيْعِ اَهْلِ اْلمَقْبَرَةِ. وَاْلاَفْضَلُ اَنْ يَكُوْنَ السَّلاَمُ وَالدُّعَاءُ بِمَا ثَبـَتَ مِنَ اْلحَدِيْثِ وَيُسْـتَـحَبُّ اَنْ يَقْرَأَ مِنَ اْلقُرْأٰنِ مَا تَيَسَّرَ وَيَدْعُوْ لَهُمْ عَقِبَهَا وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّاِفعِىُّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ اْلاَصْحَابُ

Dan disunnahkan bagi peziarah kubur untuk memberikan salam atas (penghuni) kubur dan mendo’akan kepada mayit yang diziarahi dan kepada semua penghuni kubur, salam dan do’a itu akan lebih sempurna dan lebih utama jika menggunakan apa yang sudah dituntunkan atau diajarkan dari Nabi Muhammad Saw. dan disunnahkan pula membaca al-Qur’an semampunya dan diakhiri dengan berdo’a untuknya, keterangan ini dinash oleh Imam Syafi’i (dalam kitab al-Um) dan telah disepakati oleh pengikut-pengikutnya”. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, V/258)

Syaikh : Lebih bnyak mana faedah yang kau dapat ketika membaca Quran di masjid atau di kuburan ?

Saya : Adakah Nabi, sahabat dan ulama salaf membatasi membaca al-Quran di masjid saja?? Setelah apa yang saya sampaikan SEBAGIAN dalilnya di atas?

Syaikh : Maksud saya lebih afdhal mana membaca al-Quran di masjid dengan di kuburan ?

Saya jawab : Apakah anda menyangka kami tidak pernah membaca al-Quran di dalam masjid ?? kami membaca al-Quran di manapun tempat selain tempat-tempat yang dilarang. Para ulama salaf hingga jumhur ulama melakukan hal ini yakni sering membaca al-Quran di sisi makam para wali dan bertawassul. Apakah anda akan menyalahkan mereka atau bahkan menuduh mereka quburiyyun ya syaikh ?

Jika syaikh bertanya : siapa ulama yang anda maksud, bias anda sebutkan ?
Saya : al-hafidz al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad berkata : “ DARI Ubaidillah bin Abdurrahman bin Muhammad az-Zuhri, ia berkata :

“قبر معروفٍ الكرخي مجرب لقضاء الحوائج، ويقال: إنه من قرأ عنده مائة مرةٍ: {قل هو الله أحد} وسأل الله تعالى ما يريد قضى الله له حاجته”.

“ Kubur Ma’ruf al-Kurkhi mujarrab untuk terlaksana hajat, dikatakan ;

Bahwa barangsiapa yang membaca di samping makamnya surat al-Ikhlash 100 kali dan memohon kepada Allah apa yang ia inginkan, maka Allah akan menunaikan hajatnya “.

Abu Jakfar al-Hasyimi, syaikh Hanabilah (W 470 H) ketika wafat dan dimakamkan di samping makam imam Ahmad, maka banyak kaum Hanabilah yang membaca al-Quran di samping makamnya bahkan hingga khatam 10.000 kali. Lihat siyar a’lam an-Nubala : 18/547

Jadi selain kami membaca al-Quran di masjid, maka kami pun juga membaca al-Quran di manapun seperti rubath, mushollah, di rumah, di toko, di pasar, di rumah sakit, di hotel atau di pekuburan. Dan kami juga bertawassul dan berdoa di sisi makam orang-orang sholeh. Karna makam orang sholeh termasuk tempat diijabahi doa oleh Allah, sebagaimana banyak dikatakan oleh ulama di antaranya al-Hafidz al-Jazri dalam kitabnya Hishnul Hashin :

من مواضع إجابة الدعاء قبور الصالحين

“ Di antara tempat-tempat pengabulan doa, adalah makam-makam orang-orang shalih “.

Al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikhnya berkata dari Abi Abdillah al-Mahamili bahwa ia berkata :

أعرف قبر معروفٍ الكرخي منذ سبعين سنةً، ما قصده مهموم إلا فرج الله همه

“ Aku tahu makam Ma’ruf AL-Kurkhi sejak 70 tahun, tidaklah seorang yang susah mendatanginya, kecuali Allah melapangkan kesusahannya “.

Seorang ulama salaf bernama Ibrahim al-Harbi di mana imam Ahmad bin Hanbal pernah memondokkan putranya pada beliau, seorang Hafidz, Faqih dan Mujtahid pernah berkata :

قبر معروفٍ الترياق المجرب

“ Kuburan Ma’ruf al-Kurkhi adalah obat yang mujarrab “, al-Baghdadi mengomentarinya : “ Tiryaq adalah obat yang diracik dari berbagai bahan yang dikenal di kalangan para tabib masa lalu karena banyaknya manfaatnya, dan banyak macamnya. Al-Harbi menyerupakan makam Ma’ruf al-Kurkhi dengan obat di dalam banyaknya manfaat, maka seolah-olah al-Harbi berkata : “ Wahai manusia, datanglah ke kuburan Ma’ruf al-Kurkhi dengan bertabarruk karena banyak manfaat yang akan diperoleh “.

Al-Khatib berkata dari Hasan bin Ibrahim al-Khallal, bahwa beliau berkata :

ما همني أمر فقصدت قبر موسى بن جعفرٍ فتوسلت به إلا سهل الله تعالى لي ما أحب

“ Tidaklah ada satu perkara yang membuatku susah, lalu aku dating ke makam Musa bin Jakfar, kemudian aku bertawassul dengannya, maka Allah akan memudahkan apa yang aku inginkan “.

MEMBACA AL-QUR’AN DIKUBURAN
Syaikh ad-Duri berkata:
سألت يحيى بن معين عن القراءة عند القبر فقال حدثنا مبشر بن إسماعيل الحلبي عن عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه أنه قال لبنيه إذا أدخلت القبر فضعوني في اللحد وقولوا بسم الله وعلى سنة رسول الله وسنوا على التراب سنا واقرؤوا عند رأسي أول البقرة وخاتمتها فإني رأيت بن عمر يستحب ذاك سمعت العباس قال سألت أحمد بن حنبل ما يقرأ عند القبر فقال ما أحفظ فيه شيئا (تاريخ ابن معين – الدوري – ج 2 / ص 380)
“Saya bertanya kepada (ahli hadis) Yahya bin Main tentang membaca al-Quran di kuburan. Yahya bin Main menjawab: Telah bercerita kepada kami Mubasyir bin Ismail dari Abdurrahman bin Ala’ bin Lajlaj, ia berkata: Bapakku berpesan kepadaku: jika aku dimasukkan ke kubur maka buatkan liang lahad untukku, jika meletakkan aku maka bacalah ‘Bismillah wa ala millati Rasulillah’, kemudian tutuplah debu perlahan. lalu bacalah di kepalaku pembukaan al-Baqarah dan akhirnya. Sebab saya melihat Ibnu Umar senang terhadap hal itu. Saya mendengar Abbas, ia bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: “Apa yang dibaca di makam?” Ahmad menjawab: “Saya membaca sedikit yang saya hafal dari al-Quran” (Tarikh Ibnu Main, 2/380).
Syekh 'Arifi bermain kartu
Source & Istadz Munib
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s