SEMAKIN TAMBAH ILMU DAN LUAS CAKRAWALA SESEORANG AKAN SEMAKIN SEDIKIT MENYALAHKAN ORANG LAIN

Posted: Januari 13, 2014 in SILATURAHMI & PERSAUDARAAN ASWAJA
Buya Hamka Bersama Abah Anom (Mursyid Tarekat Naqsabandiyah Indonesia)

Buya Hamka Bersama Abah Anom (Mursyid Tarekat Naqsabandiyah Indonesia)

Sewaktu baru kepulangannya dari Timur Tengah, Prof. DR. Hamka, seorang pembesar Muhammadiyyah, menyatakan bahwa Maulidan haram dan bid’ah tidak ada petunjuk dari Nabi Saw., orang berdiri membaca shalawat saat Asyraqalan (Mahallul Qiyam) adalah bid’ah dan itu berlebih-lebihan tidak ada petunjuk dari Nabi Saw.

Tetapi ketika Buya Hamka sudah tua, beliau berkenan menghadiri acara Maulid Nabi Saw. saat ada yang mengundangnya. Orang-orang sedang asyik membaca Maulid al-Barzanji dan bershalawat saat Mahallul Qiyam, Buya Hamka pun turut serta asyik dan khusyuk mengikutinya. Lantas para muridnya bertanya: “Buya Hamka, dulu sewaktu Anda masih muda begitu keras menentang acara-acara seperti itu namun setelah tua kok berubah?”

Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya, dulu sewaktu saya muda kitabnya baru satu. Namun setelah saya mempelajari banyak kitab, saya sadar ternyata ilmu Islam itu sangat luas.”

Di riwayat yang lain menceritakan bahwa, dulu sewaktu mudanya Buya Hamka dengan tegas menyatakan bahwa Qunut dalam shalat Shubuh termasuk bid’ah! Tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Saw. Sehingga Buya Hamka tidak pernah melakukan Qunut dalam shalat Shubuhnya.

Namun setelah Buya Hamka menginjak usia tua, beliau tiba-tiba membaca doa Qunut dalam shalat Shubuhnya. Selesai shalat, jamaahnya pun bertanya heran: “Buya Hamka, sebelum ini tak pernah terlihat satu kalipun Anda mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh. Namun mengapa sekarang justru Anda mengamalkannya?”

Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya. Dulu saya baru baca satu kitab. Namun sekarang saya sudah baca seribu kitab.”

Gus Anam (KH. Zuhrul Anam) mendengar dari gurunya, Prof. DR. as-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dari gurunya asy-Syaikh Said al-Yamani yang mengatakan: “Idzaa zaada nadzrurrajuli waktasa’a fikruhuu qalla inkaaruhuu ‘alannaasi.” (Jikalau seseorang bertambah ilmunya dan luas cakrawalanya maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain).

Bahasa gaulnya sekarang mungkin begini: “Semakin pintar seorang Gus, maka ia akan semakin dicap Gus Liberal. Semakin pintar seorang Kiai, maka ia akan semakin dicap Kiai Liberal. Semakin pintar seorang Habib, maka ia akan semakin dicap Habib Liberal.”

Sedikit sedikit kok sukanya langsung memvonis: “LIBERAL! DAJJAL! ANTEK SYI’AH! ANTEK YAHUDI! ANTEK ZIONIS!”

Source : Ust. Sya’roni Asyamfuri

***

Aqidah Hamka & Mazhab Fiqhnya

Baca Juga

– TOLERANSI AS SUDAIS & BUYA HAMKA DALAM HAL KHILAFIYAH

– TOLERANSI KH IDHAM CHOLID & BUYA HAMKA DALAM QUNUT SUBUH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s