FATWA ULAMA ANGGOTA MAJELIS SYURO KSA TENTANG ZIKIR BID’AH YANG DILAKUKAN IBNU TAIMIYAH

Posted: Maret 17, 2014 in KONTROVERSI BID'AH WAHABI - SALAFY, STOP MENUDUH BID'AH !!

Ust. Arifin Ilham - Pimpinan Majelis Dzikir Adz Dzikra

Ust. Arifin Ilham – Pimpinan Majelis Dzikir Adz Dzikra

Fatwa Syaikh Sulaiman bin Abdullah al Majid [anggota Majelis Syuro KSA], tentang Dzikir tanpa dalil yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah.

س: قال ابن القيم: سمعت شيخ الإسلام ابن تيمية يقول: من واظب على أربعين مرة كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر على قول: (يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت برحمتك استغيث) حصلت له حياة القلب ولم يمت قلبه، فهل هذه المقالة صحيحة؟ وما حكم العمل بها؟

Pertanyaan:
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Aku mendengar Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Barang siapa yang merutinkan untuk membaca sebanyak empat puluh kali di antara sholat qabliyah subuh dengan sholat shubuh ‘Ya Hayyu Ya Qoyyum la ilaha illa anta birohmatika astaghitsu’ maka dia akan memiliki hati yang hidup dan hatinya tidak akan mati”. Apakah perkataan ini benar? Apa hukum mengamalkan perkataan tersebut?

ج: هذا الكلام نقله ابن القيم عن شيخه في المدارج (1/448)،
Jawaban :
“Perkataan tersebut dikutip oleh Ibnul Qoyyim dari gurunya dalam kitab Madarijus Salikin 1/448.

ولا نعلم لهذا الذكر في هذا الموضع المعين أصلا في السنة،
Kami tidak mengetahui hadits yang bisa dijadikan dasar syariat untuk membenarkan perbuatan membaca bacaan dzikir di atas dalam waktu yang disebutkan dalam perkataan tersebut.

والإمام ابن تيمية يرى في مثل هذه المسائل أنه يفرق بين القليل والكثير والظاهر والخفي؛ فإن كان ذلك خفيا فلا بأس به،
Pandangan Ibnu Taimiyyah dalam semisal permasalahan ini adalah membedakan antara sering atau rutin dilakukan ataukah tidak, dilakukan terang terangan ataukah sembunyi sembunyi. Jika dilakukan sembunyi sembunyi hukumnya tidak mengapa. (Bukan Bid’ah)

لكن لا ينبغي أن يداوم على صيغة معينة من الذكر أو الدعاء في زمان أو مكان معينين إلا بدلبل. والله أعلم.
Akan tetapi tidaklah sepatutnya merutinkan bacaan dzikir atau doa tertentu dalam waktu tertentu atau tempat tertentu kecuali jika ada dalil yang mendasarinya”. Wallahu a’lam

Sumber: http://www.salmajed.com/fatwa/findnum.php?arno=2518

Owh, jadi kalo Ibnu Taimiyah yang melakukan suatu tanpa dalil tidak apa2, sedangkan yang lain BID’AH.
Trus apa bedanya kalo melakukannya secara terang2an dengan secara sembunyi-sembunyi, kok hukumnya bisa tidak apa2, itu cara istinbath hukumnya bagaimana ya??, dan apakah Ibnu Taimiyah akan berada di neraka (setiap bid’ah sesat dan masuk neraka), karena merutinkannya hingga wafat (terbukti dengan perkataan muridnya sendiri).

Source: Robiatul ‘Adawiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s