NA’UDZUBILLAH, PEMBAKARAN KITAB-KITAB MAZHAB MALIKI OLEH PARA ANTI MAZHAB

Posted: April 1, 2014 in MADZHAB & KHILAFIYAH, NEWS & INFO, TAFSIR & QOUL ULAMA, WAHABI - SALAFY HALALKAN SEGALA CARA
Tag:
Memprihatikan: Kitab-kitab madzhab Maliki yang dibakar

Memprihatikan: Kitab-kitab madzhab Maliki yang dibakar

PADA akhir April 2012 lalu di Nouakchott Mauritania, sekelompok orang yang disebut-sebut sebagi pendukung organisasi IRA dipimpin oleh Biram Walid Abidi sengaja membakar kitab-kitab madzhab Maliki di tempat terbuka setelah shalat Jumat. Yang ikut dibakar pada waktu itu disamping Al Mudawwanah yang ditulis oleh Imam As Suhnun yang berisi pendapat Imam Malik bin Anas juga sejumlah kitab-kitab lainnya seperti Hasyiyah Ad Dasuki ala As Syarh Al Kabir karya Imam Ad Dasuki serta Syarh Khalil, Syarh Ibnu Asyir serta Syarh Al Akhdhari.

Biram Walid Abidi menyebutkan  alasan pembakaran itu bahwa kitab-kitab itu merupakan hasil pemikiran manusia, bisa benar dan bisa salah berbeda dengan Al-Qur`an dan As Sunnah.

Aksi yang membuat para pelajar Islam melakukan protes itu ditanggapi oleh para ulama Mauritania yang dipimpin oleh Dr. Syeikh Abdullah Bin Bayah, mereka pun menyatakan bahwa pemisahan antara fiqih dengan Al-Quran serta As Sunnah akan membangun subhat bahwa fiqih tidak mengandung Al-Qur`an dan As Sunnah atau bahkan bertentangan dengan keduannya, padahal tidaklah demikian.

Dan opini itu sendiri bisa menyebabkan kaum awam meremehkan kitab-kitab madzhab beserta para ulamanya, sebagaimana dilansir hidayatullah.com (13/05/2012).

Demikian juga hakikat fiqih madzhab, tidak perlu dipertentangkan dengan sumbernya yakni As Sunnah, karena As Sunnah merupakan sumber dari fiqih madzhab para ulama muktabar. Karena ushul madzhab Maliki sendiri menegaskan posisi As Sunnah sebagai sumber dalam pengambilan hukum.

Ibnu Rusyd ulama besar Malikiyah menyebutkan bahwa Syariat diambil dari 4 dasar, Al-Qur`an kemudian As Sunnah, ijma’ serta qiyas. (lihat, Muqaddimat, 1/26-27)

Tidak adanya dalil dalam sejumlah kitab Imam Malik dan Madzhab Maliki bukan karena tidak memiliki dalil, tapi karena metode pembukuan yang ditempuh, yakni metode tajrid (pengosongan dari dalil) itu dianut oleh sebagian ulama Malikiyah karena beberapa faktor. Pertama, karakter Imam Malik yang amat ketat dalam periwayatan hadits, dan kehati-hatian beliau dalam berfatwa serta kewibawaan beliau. Sifat-sifat Imam Malik itu menjadikan murid-murid beliau memandang ketsiqahan Imam Malik, hingga mereka menerima fatwa-fatwa Imam Malik dan tidak perlu lagi mempertanyakan dalil.

Faktor kedua, kembali kapada metode Imam Malik dalam menyampaikan ilmu dimana beliau membagi majelis menjadi dua, pertama untuk periwatan hadits yang kedua membahas khusus masalah fatwa. Untuk Majelis hadits Imam Malik tidak menghadiri kecuali dengan mandi dan memakai wangi-wangian dengan pakaian bagus dalam rangka mengagungkan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sedangkan untuk menyampaikan fatwa beliau keluar dengan penampilan apa adanya (Al Madarik, 2/14-15). Dari hal itu bisa disimpulkan bahwa Imam Malik dalam menyampaikan fatwa tidak menyertakan dalil dari hadits Rasulullah Shallallahu Alahi Wasallam, karena jika beliau menyampaikan hadits maka beliau pun bersuci dan memakai wangi-wangian serta pakaian bagus, namun beliau dalam hal ini tidak melakukannya.

Dampaknya, kitab-kitab yang membukukan pendapat dan fatwa Imam Malik semisal Al Mudawwanah, yang merupakan Al Umm-nya madzhab Maliki, baik yang disusun oleh Imam As Suhnun atau Asad tidak banyak menyebutkan dalil. Dan metode tajrid ini yang memperngaruhi penulisan kitab-kitab Malilkiyah selanjutnya.

Metode Ta’shil

Namun meski demikian, bukan berarti semua kitb Madzhab Maliki tidak berdalil, banyak pula para ulama menyebutkan dalil dalam kitab mereka yang disebut sebagai metode ta’shil, yakni mengembalikan seluruh masalah kepada asalnya alias dalilnya. Ini yang banyak ditempuh oleh para ulama Maliki di Iraq, karena di wilayah itu ramai dengan perdebatan dan situasi demikian menjadikan mereka perlu untuk menunjukkan dalil. Jika para ulama yang menempuh metode tajrid (pengosongdan dalil) merujuk kepada kitab-kitab fatwa dan pendapat Imam Malik yang dibukukan oleh para murid beliau semisal Al Mudawwah, maka para ulama yang menempuh metode ta’shil (pengembalian masalah kepada dalil) merujuk kepada Al Muwaththa’ Imam Malik.

Al Muwaththa’ Sebagai Dasar Madzhab Maliki

Al Muwaththa’ sendiri yang disebut sejumlah ulama sebagai kitab hadits shahih yang paling awal (lihat, Risalah Al Mustatharrifah, hal. 6), merupakan hasil dari jerih payah Imam Malik yang menjadi panutan ulama madzhab Malikiyah. Dan Al Muwaththa’ disamping berisi hadits-hadits namun berisi ijtihad ulama Ahlul Madinah juga ijtihad Imam Malik sendiri. Imam Malik menyampaikan mengenai Al Muwaththa`, ”Di dalamnya mengandung hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam , perkataan sahabat dan tabi’in dan pendapatku dan aku kadang menyatakan dengan pendapatku dan ijtihadku dan atas apa yang aku ketahui dari ahlul ilmi negeri kami (Madinah) dan aku tidak keluar dari mereka.” (Al Madarik, 2/73)

Dan posisi Al Muwaththa’ dalam madzhab Malikiyah adalah landasan dalam mengambil kesimpulan hukum. Al Hafidz Abu Bakr bin Al Arabi Al Maliki menyampaikan mengenai Al Muwaththa’,  ”Sesungguhnya ini merupakan kitab pertama yang ditulis dalam syariat Islam dan dia juga yang penghabisan, karena tidak ada kitab yang ditulis yang setaraf dengannya, dimana Malik Radhiyallahu anhu membangunnya dengan memulai pada pokok untuk cabangnya dan beliau memperingatkan sebagian besar ushul fiqih yang kembali kepadanya masalah-masalahnya dan cabang-cabangnya.” (Al Qabas, 1/75)

Hanya sebagai contoh dan belum mencakup seluruhnya, kitab-kitab madzhab Maliki yang menyebutkan dalil antara lain Al Mabsuth dan As Syuf’ah karya Qadhi Ismail, Syarh Mukhtashar Al Kabir karya dan Syarh Risalah Ibnu Abi Zaid karya Abu Bakr Al Abhari, Al Isyraf dan Al Mu’awwanah serta Syarh Al Mudawwanah karya Qadhi Abdul Wahhab, Al Majmu’ah karya Ibnu Abdus, Thuraz Al Majalis karya Ibnu Huraiz Al Azdi, Bayan wa At Tahshil Al Jami’ li Masa’il wa Al Mukhtalithah dan Al Muqadimat Al Mumhidat karya Ibnu Rusyd (kakek), Bidayah Al Mujtahid karya Ibnu Rusyd (cucu), At Tamhid dan Al Istidzkar karya Ibnu Abdil Barr, Syarh At Talqin karya Imam Ali Bin Umar Al Maziri, Tahdzib Al Masalik fi Nushrah Madzhab Malik karya Ibnu Dunas Al Maghribi, Adz Dzkahirah karya Imam Al Qarrafi dan Manahij At Tahsil oleh Ibnu Said Ar Rajraji.

Lebih dari itu, para ulama muhadditsun Malikiyah juga mentakhrij hadits-hadits dalam kitab-kitab fiqih mereka. Beberapa contoh kitab yang berkonsentrasi dalam bidang ini antara lain Al Hidayah fi Takhrij Ahadits Al Bidayah karya Al Muhaddits Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari, Takhrij Al Ahadits Al Waridah fi Al Mudawwanah oleh Syeikh Thahir Muhammad Ad Dardiri, Al Ithaf bi Takhrij Ahadits Al Isyraf oleh Syeikh Badawi Abdushamad Thahir Shalih, Takhrij Ahadits Kifayah Ath Thalib Ar Rabani oleh Abu Araki As Syeikh Abdul Qadir, Takhrij Ahadits Hasyiyah Ash Shafthi oleh Dr. Umar Ma’ruf dan kitab-kitab takhrij lainnya.

Dan kedua metode penulisan, baik ta’shil maupun tajrid sendiri tidaklah saling menafikan, keduanya malah saling menguatkan madzhab Maliki. Untuk karya yang menganut metode tajrid berkonsentrasi mengenai validitiasi periwayatan pendapat Imam Malik dan madzhab sedangkan karya yang menganut metode ta’shil memperkuat fiqih Malikiyah dari segi dalil.

Walhasil, fiqih madzhab Maliki bersumber dari As Sunnah yang ditunjukkan dengan ushul madzhab Maliki serta kitab-kitab madzhab yang menyertakan dalilnya. Sedangkan kitab-kitab yang tidak menyertakan dalil juga tidak menjukkan bahwa fiqih madzhab Maliki tidak berdasarkan dalil, namun karena ia ditulis dengan metode yang berbeda dan konsentrasi pada validitas periwayatan pendapat Imam Malik dan madzhab. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.*

Source: hidayatullah.com

Mengapa Imam Malik menjadikan Amal Ahli Madinah sebagai salah satu sumber hukum?

Amal Madinah

Oleh Hajjah Aishah Bewley

Anda mungkin pernah mendengar istilah “Amal Penduduk Madinah” dan bertanya-tanya apa artinya dan makna dari perbincangan ini. Apakah amal atau perilaku itu? Apa artinya dan dari mana asalnya? Apa ada hubungannya dengan kita?

Topik ini merupakan salah satu yang penuh dengan kesalahpahaman karena kebanyakan orang tidak tahu apa artinya. Kesulitan dalam menangkap konsep amal ini adalah hasil dari apa yang telah terjadi di kalangan muslimin, karena metodologi dan mentalitas statis yang dikembangkan dan dipaksakan dalam proses pembelajaran Muslim – sebuah proses yang mulai menguat semenjak kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, sekitar 250 hijrah, suatu proses yang telah tertutupi dan terabaikan, suatu proses yang telah membuat umat Islam lumpuh dan tidak mampu menghadapi situasi sesuai dengan kenyataan atau yang terjadi, seperti yang kini mereka alami.

Memahami mengapa konsep amal Madinah telah dilupakan adalah untuk memahami pula mengapa Muslim kini tak berdaya. Dan memahami dengan tepat  amal Madinah sebenarnya adalah untuk memahami arah bahwa umat Islam harus kembali menganggap Islam sebagai sebuah kekuatan politik. Ini, saya harap, akan jadi jelas dalam pembahasan ini.

Kita harus bertanya kepada diri sendiri: apa yang merupakan dasar dari suatu perilaku Muslim? Sumber-sumber apa saja yang harus kita pegang untuk mengetahui bagaimana seharusnya kita hidup? Apa yang menjadi panduan bagi perilaku kita? Jawabannya sederhana: Al-Qur’an dan Sunnah. Kita hampir tak punya masalah dengan Al-Qur’an. Tapi kemudian kita sampai pada inti dari masalah yang telah saya sebutkan: jika kita ingin mengikuti Sunnah, apa itu Sunnah dan bagaimana kita menemukannya? Ini adalah pertanyaan inti yang harus dijawab karena, pada kenyataannya, Sunnah menjelaskan Al-Qur’an dalam  berperilaku. Ini adalah cara di mana Nabi, salallahu alayhi wasalam, berperilaku, dan itu menunjukkan kepada kita bagaimana petunjuk Al Quran diejawantahkan menjadi perilaku nyata yang dapat kita teladani.

Untuk mengungkap jawaban tentang  apa itu Sunnah, kita perlu memahami dua istilah tambahan: hadits dan amal.

Hadits dan Sunnah

Apa itu hadits? Hadits adalah penyampaian tertulis dari Nabi, salallahu alayhi wasalam. Ini adalah laporan dari apa yang ia katakan atau lakukan yang disampaikan dari perawi ke perawi lain melalui sebuah rantai periwayatan (isnad). Banyak orang yang akhirnya memandang hadits sama dengan Sunnah, dan memang kebanyakan orang terang-terangan mengatakan seperti ini. Misalnya, “Sumber utama agama Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits” (Syariah: Hukum Islam, ‘Abdu’r-Rahman I.) atau “Semua pembahasan tentang keimanan… adalah berdasarkan pada dan berasal dari ajaran Al-Qur’an dan tradisi Nabi Muhammad “(Islam in Focus, Hammudah Abdalati). Ada kerancuan dari kedua istilah tersebut.

Sering kita dengar seorang muslim terperangkap dalam keadaan panik takut kehilangan Sunnah dan berusaha mengesahkan dan mencatatnya sebelum terhapus. Tapi apa yang telah ditulisnya adalah hadits, sehingga berasumsi hadits = sunnah. Kalau Anda ingin penjelasan lebih rinci tentang bagaimana gerakan “Islam berdasarkan hadits” terjadi dan bagaimana keseluruhan metodologi hadits dikembangkan dan disusun, bacalah buku Root Islamic Education oleh Syaikh Dr Abdalqadir Al-Murabit. Diperlukan waktu yang cukup panjang apabila kita masuk ke pembahasan topik ini.

Dalam perkara apapun, pandangan yang berdasar pada hadits pandangan masa awal yang agak salah kaprah. Orang-orang melakukan salat, haji, wudu, menarik zakat, menyatu dalam kehidupan mereka sebagai Muslim di Madinah seperti yang mereka lakukan dari masa Nabi hingga masa Imam Malik dan seterusnya. Setiap konflik akan muncul jika seseorang datang dengan sesuatu yang baru, dan kemudian harus dibandingkan dengan praktek yang ada. Mereka tidak mencari dari kitab hadits. Mereka bukanlah orang-orang kutu buku. Periwayatannya terjadi dengan segera dan langsung. Apa yang orang-rang itu lakukan? Atau, sebagaimana Malik berkata, “Jika Anda ingin menuntut ilmu, tinggalah di sini (Madinah). Al-Qur’an tidak diturunkan di Sungai Eufrat (Iraq)”.

Meski  di Iraq tinggal beberapa Sahabat Islam masih terbilang baru di sana. Untuk mengetahui apa yang benar, orang akan pergi ke seorang Sahabat dan bertanya, dan kemudian mereka akan mendapatkan satu pendapat dari satu orang, baik dalam bentuk pendapat, fatwa, atau sebuah hadits. Lebih dari itu, dalam lingkungan ini, di Iraq, pemalsuan hadits terjadi dan seluruh ilmu hadits, baik teksnya, orang-orangnya, dll dikembangkan untuk memastikan keaslian sebuah hadits. Seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyah, “Tidak ada penduduk sebuah kota yang berbohong lebih banyak daripada penduduk Kufah”. Telah diketahui pula bahwa Malik dan orang-orang dari Madinah biasanya tidak menerima hadits yang diriwayatkan oleh penduduk Iraq karena begitu banyaknya pembohong di sana dan rakyat Iraq tidak membedakan antara perawi yang jujur dan pendusta.

Pemikiran yang berbahaya mendasari gambaran tentang umat Islam bila  berusaha melestarikan Sunnah dengan cara menuliskan hadits, dengan berasumsi bahwa hadits identik dengan Sunnah. Ini keliru: HADITS TIDAK SAMA DENGAN SUNNAH. Anda tidak dapat mengambil koleksi hadits, membacanya, dan kemudian mengungkap Sunnah darinya. Jadi hadits tidak sama dengan Sunnah. Anda tidak akan dapat memiliki akses langsung ke Sunnah melalui hadits. Memang, di zaman Nabi, Rasulullah melarang mereka untuk menuliskan apapun darinya selain Al-Qur’an. Dia mengatakan kepada mereka untuk melenyapkan semua yang mereka tulis, namun kemudian ia diizinkan juga penulisan itu. Jadi ada indikasi keinginan Rasulullah untuk menghindari mengangkat hadits-hadits ke tingkat Al-Qur’an.

Amal dan Sunnah

Kembali ke pemahaman tentang amal. Secara harfiah berarti “perilaku” dan mengacu pada praktek yang telah disepakati penduduk Madinah. Jadi amal termasuk sunnah Nabi , salallahu alayhi wasalam, dan juga ijtihad, penilaian individu, dari pemimpin setelahnya, dalam hal ini Umar bin Al-Khattab. Sunnah adalah perbuatan Nabi dan semua sunnah adalah amal, tetapi tidak semua amal adalah sunnah.

Amal merupakan bagian tak terpisahkan dari sunnah. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, Sunnah tidak serupa dengan hadits karena hadits, ketika disepakati keotentikan dan periwayatannya, baik dalam teks maupun isnad, tidak selalu terjadi pada periode awal Madinah, oleh karena itu bukan bagian dari sunnah . Amal adalah perbuatan normatif Nabi, salallahu alayhi wasalam, diikuti oleh keempat khalifah pertama, para sahabat dan pengikut  mereka, Tabi’un, dan generasi setelah mereka, Tabi’u’ t-Tabi’in.

Zaid bin Tsabit, seorang sahabat terkenal, menyatakan, “Ketika Anda melihat orang-orang dari Madinah melakukan sesuatu, ketahuilah bahwa itu adalah sunnah” ini jelas mengacu pada amal, untuk “melakukan”, dan bukan dengan periwayatan lisan. Jadi sunnah dan amal adalah, pada kenyataannya, yang lebih memiliki persamaan makna daripada hadits dan sunnah, dan Anda sering menemukan mereka digunakan seperti contohnya: “Sunnah dari Khulafur Rashidin”.

Kedudukan hadits saat ini telah sedemikian berakar. Namun masalah sangat serius adalah mengambil hadits sebagai dasar untuk berperilaku. Untuk berpegang pada hadits, Anda harus memiliki fiqih atau pemahaman. Ibnu Wahab berkata, “Siapapun yang tahu hadits namun tidak belajar dari seorang imam fiqih adalah sesat (dall),” dan Ibn ‘Uyayna berkata, “Hadits adalah sumber kesesatan kecuali untuk seorang ahli fiqih (fuqaha)”. Anda harus memiliki kriteria untuk memutuskan apa makna hadits itu, mana yang dibatalkan, mana yang Anda harus lakukan dan mana yang Anda harus ditinggalkan.

Kriteria dari Madinah adalah amal. Jika sebuah hadits bertentangan dengan amal, hadits itu diabaikan. Bahkan, hadits tersebut mungkin telah digantikan mengacu pada situasi tertentu, dll. Bahkan, jika Anda berpikir tentang hal-hal yang Anda ceritakan kepada seseorang, Anda cenderung untuk menceritakan hal-hal yang tidak biasa dan bukan yang biasa-biasa saja atau keseharian. Dan, dalam hal apapun mengenai periwayatan hadits, seperti Ibnu Taimiyah katakan: “Masyarakat Madinah adalah yang paling benar dibandingkan penduduk kota lainnya baik dalam hal periwayatan dan pendapat. Hadits mereka yang paling terpercaya dari sekian macam hadits. Ahli hadits sepakat bahwa peringkat kebenaran hadits adalah hadits-hadits dari penduduk Madinah lalu kemudian hadits-hadits dari penduduk Basra.”

Selanjutnya  periwayatan hadits Malik yang asli dianggap yang paling dipercaya dari kumpulan sejenis. Al-Bukhari mengatakan bahwa isnad, “Malik dari Nafi ‘dari Ibnu Umar”, adalah “otoritas rantai emas”. Setiap kali Bukhari memiliki sebuah hadits yang diriwayatkan dari Malik dalam kitab Shahihnya, maka periwayatan Malik lah yang ditempatkan pertama kali.

Antara Amal dan Hadits

Mengenai kedudukan amal dihubungkan dengan hadits di Madinah, Umar bin al-Khattab menyatakan di atas mimbar,”Demi Allah, Subhana wa Ta’ala, aku akan menyulitkan setiap orang meriwayatkan sebuah hadits yang berbeda dari itu (amal).” Ibnu al-Qasim dan Ibnu Wahab berkata,”Aku melihat bahwa menurut pendapat Malik, perilaku (amal) adalah lebih kuat daripada hadits. ” Malik berkata,”Para ulama di antara para Tabi’in menyampaikan hadits yang telah disampaikan kepada mereka dari orang lain dan mereka mengatakan, ‘Kami tidak mengabaikan hadits ini, tapi perilaku yang selama ini kami lakukan berbeda dengan itu.’”

Malik berkata, “Aku melihat Muhammad bin Abi Bakar bin Amr bin Hazm seorang Qadi. Saudaranya Abdullah, seorang jujur yang menghafal banyak hadits. Ketika Muhammad memberi keputusan di mana sebuah hadits bertentangan dengan keputusannya, saya mendengar Abdullah mengkritik dia dengan berkata, “Bukankah ini dan ini datang dalam hadits ini” Dia berkata, “Ya.” Saudaranya berkata kepadanya, “Lalu apa yang salah dengan Anda? Mengapa Anda tidak memberikan penilaian berdasarkan hadits itu?” Dia berkata, ‘Di mana orang-orang mengenal hal itu?” Yaitu apa kesepakatan perilaku di Madinah? Maksudnya dalam hal ini perilaku lebih kuat daripada hadits.”

Ibnu Mahdi berkata, “Ditegakkannya sunnah sesuai sunnah penduduk Madinah adalah lebih baik daripada hadits.” Ini jelas menunjukkan perbedaan antara sunnah dengan hadits. (Ibnu Mahdi meninggal pada 186 H. Di saat hidupnya merupakan salah satu dari para ulama hadits terbesar Madinah) Dia menambahkan, “Mungkin saya memiliki hadits tentang perkara tertentu dan kemudian saya menemukan bahwa masyarakat pada umumnya mengerjakan sesuatu yang berbeda. Oleh karenanya hadits itu menjadi lemah dalam perkiraan saya.” Ada pula pernyataan terkenal dari Rabi’ah,”Aku lebih suka seribu dari seribu lebih dari satu dari satu karena satu dari satu dapat menepis Sunnah keluar dari tangan Anda.”  Inilah yang telah terjadi.

Mengapa hal ini menjadi persoalan?

Malik berkata, “Sekitar ribuan sahabat datang bersama Rasulullah , salallahu alayhi wasalam, dari perjalanan tertentu di suatu saat. Sekitar 10.000 dari mereka meninggal di Madinah, dan sisanya berpisah di kota-kota. Mana yang akan lebih Anda pilih untuk diikuti dan kata-kata siapa yang akan lebih Anda dengarkan? Mereka yang menyaksikan Nabi SWA dan meninggal bersama para Sahabat yang telah saya sebutkan, atau orang yang meninggal dengan hanya satu atau dua Sahabat Nabi , salallahu alayhi wasalam.”

Ada empat kemungkinan yang dapat muncul dalam perkara amal versus hadits,:

  1. Amal sesuai dengan hadits, sehingga amal mendukung kesahihan hadits.
  2. Amal sesuai dengan satu hadits, namun bertentangan dengan hadits lain. Dalam hal ini keberadaan amal menjadikan hadits pertama lebih dipilih.
  3. Amal bertentangan dengan semua hadits. Jika amal tersebut berasal dari zaman Nabi, maka ia lebih dipilih karena kategori amal ini sangatlah dapat dipercaya dan memiliki periwayatan ganda (mutawatir) sedangkan hadits-hadits lain yang diriwayatkan secara tunggal dari satu ke satu, hanya mungkin bisa dipercaya. Jika amal didasarkan pada ijtihad, maka ada beberapa perbedaan pendapat mengenai hal ini.
  4. Ada riwayat hadits namun tidak ada amalnya. Maka hadits yang diikuti, dan ada beberapa ketidaksepakatan mengenai hal ini.

Mengapa Amal lebih Dipilih?

Sekarang, kita harus bertanya, mengapa di sini amal lebih dipilih daripada hadits? Hadits dibagi menjadi dua jenis: hadits mutawatir yang berasal dari sejumlah besar sahabat, dan hadits tunggal yang diriwayatkan hanya oleh seorang sahabat. Amal sudah tentu adalah mutawatir, karena datangnya dari sejumlah besar sahabat, yang merupakan konsensus sebagian besar para sahabat, yang berada di Madinah, dan tata cara yang telah mereka sepakati bersama. Periwayatan ganda pasti mengungguli yang tunggal dari satu sahabat saja, ini menjadikan amal lebih utama daripada hadits. Sebuah gambaran yang jelas tentang mengapa amal lebih dipilih disampaikan oleh Ibnu Quthaybah (w. 276/889):

Menurut pendapat kami kebenaran lebih mungkin untuk ditetapkan oleh ijma’ daripada periwayatan hadits. Dalam periwayatan hadits dapat terjadi kelupaan, kesalahan, ketidakpastian, interpretasi yang mungkin berbeda dan pembatalan; seseorang yang dipercaya dapat meriwayatkan dari seseorang yang tidak dipercaya; mungkin ada dua perintah yang berbeda, keduanya mungkin saja terjadi, seperti melakukan satu atau dua salam [di akhir shalat] Demikian pula, seorang pria mungkin hadir ketika Nabi, semoga Allah memberkatinya dan memberinya keselamatan, memberikan perintah tertentu dan kemudian tidak hadir ketika Nabi menyarankan orang untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Orang itu kemudian  meriwayatkan perintah pertama dan bukan yang kedua karena ia tidak tahu. Lain halnya dengan Ijma’, sudah pasti terbebas dari perubahan-perubahan tersebut.

Jadi dapat kita lihat di Madinah semasa Imam Malik, terjadi periwayatan dari satu generasi ke generasi lain dan ini terjadi di kota Nabi, di mana orang-orang mengikuti tata cara perilaku yang telah dicontohkan Nabi, salallahu alayhi wasalam. Tidaklah mungkin bahwa seluruh generasi berhenti melakukan sesuatu dan kemudian melakukan sesuatu yang baru tanpa adanya kejadian yang luar biasa. Pada masa Nabi, itu akan menjadi sebuah perintah langsung. Singkat kata, tidak akan ada alasan untuk berubah. Jelas terlihat pada hal-hal seperti ukuran takaran sa’ dan mudd dan penarikan zakat fitrah dengan takaran tersebut, kumandang adzan dan iqama, tidak melafadzkan Basmalah dengan keras di dalam shalat yang disuarakan keras, perihal wakaf dll,  ini diikuti oleh semua kalangan di Madinah dan praktek mereka mencontoh pada Nabi dan para Sahabatnya. Imam Malik menyebutnya sebagai “sebuah warisan tak ternilai yang diturunkan dari generasi ke generasi sampai ke masa kita.”

Tampaknya masuk di akal apabila kita harus melihat latar belakang sejarah atas apa yang terjadi untuk mengubah kondisi ini karena perubahan kedudukan yang cukup radikal memiliki arti yang sangat luar biasa [dan Ibnu Taimiyah adalah sumber utama saya untuk ini].

Madzhab kota Madinah boleh dibilang yang terbaik dari madzhab-madzhab kota lainnya karena mereka yang terdekat dalam mengikuti Rasul dan mereka memiliki hubungan langsung atas apa yang telah Nabi, salallahu alayhi wasalam wariskan. Anda tidak menemukan mahzab pada masa ini. Mahzab baru dikenal dikemudian hari. Tidak ada Maliki, tidak ada Hanafi, dan tidak pula Syafi’i. Pada titik ini, jika Anda merasa memenuhi syarat, anda menyatakan diri sebagai bagian dari aliran – seorang Jahmi, seorang Mu’tazilah, seorang Murji’ah, atau apa pun.

Karena hubungan kuat yang dimiliki penduduk Madinah dengan warisan Nabi, salallahu alayhi wasalam, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Inilah sebabnya mengapa ulama Islam tidak percaya dengan kesepakatan penduduk kota manapun kecuali Madinah adalah suatu bukti yang harus diikuti – tidak di masa mereka atau pula setelah mereka. “Dia menunjukkan bahwa bid’ah tidak muncul dari Madinah., sementara ada bid’ah-bid’ah di setiap kota lain, dan bahwa munculnya bid’ah adalah sepadan dengan jaraknya dari Madinah. Ini adalah pernyataan yang sangat penting: TIDAK ADA bid’ah di Madinah, dan semakin jauh Anda pergi dari Madinah, semakin banyak jumlah dan ragam bid’ah yang terjadi.

Ketika Suriah dan Iraq ditaklukkan, Umar mengirim orang ke kota untuk mengajar mereka Kitab dan Sunnah. Abdullah bin Mas’ud, Hudhayfa bin Al-Yaman, Ammar bin Yasir, Imran bin Husain, Salman al-Farisi dan lain-lain pergi ke Iraq. Mu’adh bin Jabal, ‘Ubada bin as-Samit,, Abu’d-Darda’ Bilal bin Rabah pergi ke Suriah. Tinggalah di Madinah seperti Utsman, Ali, dan Abdurrahman, dan yang lainnya seperti Ubay bin Ka’ab, Muhammad bin Maslama, Zaid bin Tsabit, dan lain-lain.

Ibnu Taimiyah berkata, “Saat ini perilaku masyarakat Madinah adalah salah satu sunnah yang dicontohkan Rasulullah, salallahu alayhi wasalam, sendiri atau mereka mengacu pada penilaian dari Umar bin al-Khattab. Dikatakan bahwa Malik mengambil sebagian besar al-Muwaththa’ dari Rabi’ah, dan Rabi’ah dari Said bin Al-Musayyab, dan Sa’id ibn al-Musayyab dari Umar, dan Umar yang meriwayatkannya. Tentang bobot  Umar, at-Tirmidzi telah berkata bahwa Rasulullah, salallahu alayhi wasalam berkata, “Jika aku tidak diutus kepada kamu, maka Umar-lah yang diutus kepada kamu”. Dalam dua koleksi kitab Sahih (al-Bukhari dan Muslim), Nabi berkata, “Di setiap bangsa sebelum Anda ada orang-orang yang diberi ilham. Jika ada seperti itu di antara umatku, itu adalah Umar. Dalam Kitab Sunan at-Tirmidzi, Nabi berkata, “Ikuti mereka yang menyeru setelah aku tiada yaitu: Abu Bakar dan Umar.”

Umar sering berkonsultasi dengan para sahabat ternama, seperti Usman, Ali, Thalhah, az-Zubair, Sa’ad, dan Abdurrahman. Mereka adalah di antara majelis syura. Inilah sebabnya mengapa Ash-Sha’bi berkata, “Lihatlah penilaian Umar. Dia sering berkonsultasi. “Seperti diketahui bahwa penilaian yang diberikan Umar atau fatwa di mana dia berkonsultasi dengan mereka lebih kuat kedudukannya daripada pertimbangan atau fatwa dari Ibnu Mas’ud [ra] atau yang setara dengannya.

“Mengenai pertanyaan seputar Deen, baik yang berhubungan dengan prinsip-prinsip maupun cabang-cabangnya, Umar mengikuti penilaian Rasulullah, salallahu alayhi wasalam dan ia sering berkonsultasi kepada Ali dan orang lain di dalam majelis Syuro.”

“Pada saat ini dan masa setelahnya, semua kota-kota Muslim mengikuti orang Madinah. Ibnu Mas’ud lah yang paling luas ilmunya di antara para sahabat di Iraq pada waktu ketika terjadi pemberontakan. Dia sering kembali ke Madinah untuk bertanya tentang penilaian yang telah ia lakukan di Iraq dan jika ia menemukan bahwa praktek di Madinah berbeda, ia akan menarik kembali keputusan yang telah dilakukannya.

“Setelah terjadi Fitnah, semua kota kecuali Kufah mengikuti orang-orang Madinah. Orang-orang Kufah kemudian menyatakan bahwa kedudukan orang Kufah sama dengan orang Madinah. “Saat mereka telah sangat terjerumus dalam fitnah dan tersesat, jelas bahwa ini adalah posisi politik yang mereka ambil untuk membenarkan diri sendiri. Seperti yang dikatakan Ibnu Taimiyah, “Sebelum pemberontakan, mereka mengikuti orang-orang dari Madinah dan meniru mereka. Sebelum pembunuhan Utsman, tidak ada orang dari Kufah atau orang lain yang menyatakan bahwa masyarakat kota mereka tahu lebih banyak daripada orang-orang dari Madinah. Ketika Utsman dibunuh dan umat Islam terbagi dan terpecah menjadi beberapa bagian, maka muncul di antara orang-orang Kufah yang menyatakan bahwa para ulama Kufah sama dengan para ulama dari Madinah. ”

Praktek mengikuti amal terlihat masih kuat di bawah kepemimpinan Khalifah Umayyah, Umar bin Abdul Aziz. Dia mengumpulkan para fuqaha dan bertanya tentang sunnah dan penilaian yang mereka ambil atas dasarnya, dan mereka yakini kebenarannya. Penilaian yang tidak berdasarkan amal penduduk Madinah akan dijauhkan, bahkan apabila penilaian tersebut didasarkan dari sumber yang dapat dipercaya.

Di awal Bani Abbasiyah juga cenderung memilih orang-orang Madinah. “Abu Ja’far (al-Mansur) tahu bahwa pada waktu itu orang Hijaz lebih peduli dengan Deen Islam daripada orang-orang Iraq dan itu adalah tersirat dalam perkataannya kepada Imam Malik atau ulama Madinah lainnya, “Aku telah mengamati urusan ini dan saya menemukan orang-orang Iraq cenderung melakukan kebohongan dan penipuan,” atau akibat dari perkataan tersebut, “dan saya menemukan orang-orang Syria suka berperang dan jihad, dan saya maksudkan urusan ini pada diri Anda. “Dikatakan bahwa ia berkata kepada Malik efek kata-kata, “Anda adalah yang paling berilmu di antara orang-orang Hijaz.” Al-Mansur meminta ulama Hijaz untuk pindah ke Iraq dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan akhirnya ada beberapa yang pergi.

Perkara ini diringkas dalam surat Imam Malik bin Anas bin Sa’ad untuk al-Laits:

Telah sampai kepadaku kabar bahwa Anda memberi fatwa kepada orang-orang tentang hal-hal yang bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh umat kita dan di kota kami. Anda adalah Imam dan Anda memiliki keunggulan dan kedudukan di antara orang-orang di kota Anda, dan mereka membutuhkan Anda dan bergantung pada apa yang berasal dari Anda. Oleh karena itu takutlah atas apa yang telah Anda perbuat dan ikutilah kepada siapa yang telah mengharapkan keselamatan dilimpahkan untuk Anda. Allah SWT berfirman dalam Kitab-Nya Yang Perkasa, ‘The outstrippers, yang pertama dari Muhajirun dan Ansar.’ Allah SWT berkata, “Berikan kabar baik kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik dari itu.” Orang-orang mengikuti penduduk Madinah, dan hijrah dimaksudkan untuk itu dan Al Qur’an itu diturunkan di dalamnya, dan halal itu halal dan haram dibuat dibuat haram sejak Rasulullah tinggal di antara mereka dan mereka hadir di antara wahyu itu sendiri. Ia memerintahkan mereka dan mereka patuh kepadanya. Dia mempraktekan sunnah bagi mereka dan mereka mengikutinya sampai Allah mematikan Rasulullah dan menempatkan di sisi-Nya, semoga berkah dan rahmat-Nya tercurah kepada Rasulullah, salallahu alayhi wasalam.

Kemudian setelah itu, orang-orang mengikuti mereka yang diberikan kewenangan setelah Nabi, salallahu alayhi wasalam. Setiap kali terjadi suatu perkara dan mereka memiliki pengetahuan tentang itu, mereka berikan penilaian. Apabila mereka tidak memiliki pengetahuan, mereka bertanya tentangnya, dan kemudian mengambil yang terkuat dari apa yang mereka temukan mengacu dari ijtihad mereka dan perintah terakhir (Nabi, salallahu alayhi wasalam). Jikalau ada seseorang tidak setuju dengan mereka atau mengatakan sesuatu yang lain yang lebih kuat dari itu dan lebih baik, mereka meninggalkan pernyataan pertama dan bertindak sesuai pernyataan yang lebih kuat.

Lalu Tabi’in setelah mereka mengikuti jalan ini dan mengikuti sunnah tersebut. Karena perkara di Madinah jelas terlihat dan dilakukan, saya tidak berpikir bahwa ada orang yang menentang itu karena apa yang dimiliki di Madinah merupakan warisan yang tidak boleh untuk dicontek atau diklaim.

Jika orang-orang dari kota-kota lain sudah mulai berkata, ‘Ini adalah perilaku di kota kami dan ini adalah apa yang terjadi di dalamnya dari orang yang sebelum kami,” mereka tidak akan yakin tentang itu dan mereka tidak dibolehkan berkata seperti itu.”

Jadi, ini adalah posisi Ulama hingga ke masa Bani Abbasiyah, posisi  ini sekarang terpinggirkan di dunia Muslim dan diganti dengan metodologi baru, bersumber dari Iraq yang, seperti  dikatakan oleh Rabi’ah “mempreteli  Sunnah dari tangan Anda.“ Jika Anda renungkan  hal itu, ini merupakan pergeseran posisi yang luar biasa.

Untuk memahami beberapa konsekuensi ini, perlu untuk melihat perbedaan antara dua Madzhab utama, Madinah dan Iraq. Perbedaan utama dalam pendekatan antara penduduk Madinah dan Iraqadalah bahwa madzhab Iraq, yang jauh dari amal sebenarnya serta terlibat dalam konflik antar aliran, menjadi sangat legalistik dan formal, sangat prihatin dengan bunyi dan  rincian  Hukum serta  kemurnian dan pemurnian, dan berdasarkan metodologi mereka yang kaku, memungkinkan terbentuknya berbagai perangkat hukum yang memungkinkan terjadinya ketidakadilan, sedangkan madzhab penduduk Madinah menitikberatkan keadilan, hal-hal yang memerlukan keadilan dan menghindari ketidakadilan, dan mereka sangat bersikeras untuk menghindari riba dan kurang peduli dengan legalitas. Yang pertama terkait dengan metode dan yang lainnya dengan konsekuensi.

Dalam aspek menghindari legalitas, hal ini juga meluas untuk tidak berlebihan dalam Deen. Ungkapan bahwa sedikit itu baik, banyak itu jauh lebih baik, tidaklah selalu benar. Setiap hal menjadi penting sebagaimana dibuktikan dalam: “Malik ditanya tentang seorang pria yang dianggap ber-ihram sebelum miqat, lalu dia berkata,” Aku takut fitnah untuk dia” Dia berkata,” Allah SWT berkata, ‘Biarkan mereka yang menentang perintah-Nya. Berhati-hatilah pada fitnah yang menimpa mereka “(24:63) Si penanya berkata, “Apa fitnah itu? Hanya peningkatan ketaatan pada Allah SWT” Dia berkata,” Dan apa fitnah yang lebih besar daripada yang Anda kira dan Anda pilih sebagai suatu perilaku yang Rasulullah, salallahu alayhi wasalam tidak lakukan?”

Dengan kata lain, Anda membuat diri sendiri sebagai penentu dari apa yang benar dan apa yang salah, sehingga Anda menganggap seolah-olah diri Anda lebih besar dari Nabi dan para sahabat. Anda memaksakan penafsiran Anda dari Sunnah ke Sunnah, dan, sebagai akibatnya, membiarkan pendapat Anda menjadi hakim. Anda hampir masuk ke dalam khasanah penemuan Deen. Allah berfirman dalam Kitab-Nya, “Jangan ikuti pendapat palsu Anda (hawa nafsu)” (38:26). Imam Malik bin Anas juga acap berujar, “Yang terakhir dari umat ini tidak akan benar kecuali apabila membenarkan apa yang telah diturunkan pada umat pertama. Atau apabila ada seorang pria datang dengan argumen yang lebih kuat daripada orang lain, akan kah kami tinggalkan apa yang telah dibawa Jibril kepada Muhammad untuk argumen satu ini? ”

Jadi penting sekali berpegang pada praktek Nabi dan tidak melebihi itu. Ini adalah apa yang dipertahankan penduduk Madinah. Aspek lain bahwa penduduk Madinah bersikeras membuat hal-hal yang mudah bagi orang-orang dan tidak mempersulit. Karena mereka bertujuan untuk membuatnya sederhana dan mudah diraih, dan karena pengetahuan mereka tentang sunnah, seperti Ibnu Taimiyah katakan, “Demikianlah rakyat Madinah tidak membutuhkan administrasi apapun dari penguasa di atas mereka”. Deen tidak harus persetujuan dari penguasa. Ia hidup. Ia tidak memerlukan korps elit ulama dengan pengetahuan setara dengan 50 atau 200 ahli hadits untuk memberitahu Anda bagaimana untuk tetap hidup.

Kami melihat bukti lebih lanjut dari ini jika kita menelaah akad-akad, seperti Ibnu Taimiyah katakan: “Masyarakat Madinah membuat titik awal dalam akad-akad yang berasal dari adat istiadat dan kebiasaan masyarakat. Apa yang dianggap orang-orang penjualan adalah penjualan dan apa yang mereka anggap sewa-menyewa adalah sewa-menyewa dan apa yang mereka anggap sebagai hadiah adalah hadiah. Hal ini semakin dekat dengan Kitab dan Sunnah dan lebih adil. Beberapa istilah memiliki definisi linguistik, seperti matahari dan bulan, sementara yang lain memiliki definisi dalam syariat, seperti shalat dan haji. Masalah lain tidak memiliki definisi baik linguistik maupun syariat, tetapi lebih mengacu pada adat istiadat, seperti mengalihkan kepemilikan (qabd). Diketahui bahwa istilah, “Dijual,” “mempekerjakan” dan “hadiah” di bidang ini tidak ditentukan oleh pemberi hukum dan juga tidak memiliki definisi linguistik. Sebaliknya bervariasi sesuai dengan adat istiadat dan kebiasaan masyarakat. Jadi apa yang mereka anggap sebagai penjualan adalah penjualan dan apa yang mereka anggap sebagai hadiah adalah hadiah dan apa yang mereka anggap sewa-menyewa adalah sewa-menyewa.”

Jadi kebiasaan (‘urf) memiliki kedudukan selama mereka tidak bertentangan dengan Kitab dan Sunnah. Memang, penerimaan adat adalah salah satu prinsip hukum Madhhab  Maliki. Ini adalah bagian dari memberi kemudahan bagi orang-orang, sehingga dapat diakses.

Dalam menitikberatkan kedudukan masyarakat Madinah, Ibnu Taimiyah menunjukkan: “Telah diketahui bahwa jika Rasul membuat sesuatu yang melanggar hukum, hal itu mengandung korupsi (fasâd) dan bahwa dengan mengizinkan itu dilakukan dengan cara apapun tidak mendatangkan manfaat di dalamnya. Jadi untuk melakukan hal ini adalah suatu kesalahan dan kebodohan. Korupsi itu masih di sana, tetapi telah meningkat dengan tipuan mereka. Dan jika yang melibatkan ketidaknyamanan bagi diri mereka sendiri, mereka telah menempatkan diri mereka keluar dan memperoleh manfaat sama sekali. Dan apakah orang seperti itu memikirkan Rasul , salallahu alayhi wasalam? ”

Jenis kedudukan ini adalah madzhab penduduk Iraq yang menggunakan perangkat yang rumit untuk menghalalkan riba, dan ini adalah mentalitas yang sama hari ini yang mengarah ke fatwa memperbolehkan perbankan Islam, asuransi Islam, dll, semua mendirikan struktur legalistik rumit dan argumen yang toh masih memiliki unsur haram pada intinya, tetapi unsur haram dari transaksi ditutupi oleh perlindungan dari legalitas. Penggunaan perangkat hukum untuk memutarbalikkan satu larangan agama sering ditemui dalam hukum Yahudi. Nabi, salallahu alayhi wasalam berkata, “Jangan melakukan apa yang dilakukan orang-orang Yahudi. Mereka menghalalkan apa yang Allah telah haramkan oleh perangkat hukum yang paling dasar. ”

Sangat tidak mengherankan ketika madzhab Iraq diadopsi sebagai madzhab resmi oleh dinasti yang paling berkuasa – karena merupakan sarana mudah untuk melumpuhkan orang dan untuk menghalalkan yang haram. Keadilan telah sirna. Ibnu Taimiyah mengatakan tentang sumber nyata dari ketidakadilan ini, “Sumber sebenarnya dari kesalahan ini adalah bahwa maddhab penduduk Kufah yang kurang memahami pengetahuan tentang kebijakan Rasulullah dan kebijakan Khulafur Rashidin.” Ia melanjutkan, “Ketika kekhalifaan beralih ke Bani Abbasiyah dan mereka perlu untuk mengelola orang dan mereka menunjuk hakim bagi mereka dari fuqaha asal Iraq namun tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai kebijakan yang adil.” Hal ini berlanjut sampai mereka yang mengaku pemerintahan menurut syariat tidak tahu sunnah dan menghilangkan hak manusia, menumpahkan darah melawan hukum dan membuat haram menjadi halal. Di sisi lain, mereka yang memerintah dengan kebijakan, atau hari ini dikenal “otoritas demokrasi”, melakukan apa pun yang mereka suka tanpa merujuk pada syariat. Tapi, seperti yang ia katakan, “Ada penilaian oleh keadilan (di kota-kota yang didominasi orang-orang dari Madinah) yang tidak terjadi di kota-kota lain.”

Ibnu Taimiyah menyimpulkan, ” Deen al-Islam memiliki arti Pedang mengikuti Kitab. Ketika pengetahuan tentang Kitab dan Sunnah didirikan, dan pedang mengikuti, maka syariat Islam didirikan. Penduduk Madinah yang paling berhak atas kota-kota seperti itu. Adapun di masa Khulafur Rashidin, syariat Islam seperti itu. Setelah mereka, beberapa dari mereka memiliki lebih banyak daripada orang lain. Ketika ilmu Al Kitab tidak cukup dan pedang kadang-kadang sejalan  dengan Buku dan kadang-kadang bertentangan, maka di mana Deen dapat didirikan? Siapa pun yang diberi petunjuk pada hal-hal ini dan seperti mereka, jelas baginya bahwa pondasi yang dimiliki penduduk Madinah tidak dapat dibandingkan dengan pondasi yang dimiliki orang di manapun di bumi ia berada. ”

Kesimpulan

Amal terdiri dari perilaku dan kebiasaan di Madinah yang digunakan untuk menilai hadits dan melestarikan Sunnah. Seperti yang dikatakan Abdullah bin Umar, “Ketika terjadi hasud, jika orang hanya akan merujuk urusannya kepada penduduk Madinah, dan jika mereka setuju terhadap hal itu, maka lakukanlah, maka urusan itu akan dianggap benar. Namun, ketika anjing menyalak, orang-orang mengikutinya.”

Prof. Dr. Muhadits Sayyid Muhammad bin Alwi al maliki

Prof. Dr. Muhadits Sayyid Muhammad bin Alwi al maliki – Mekah Beliau bermadzhab Maliki (pic by ahlulbaitrasulullah)

Source: zaimsaidi.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s