ULAMA SALAFY – WAHABI : ADZHABI TERLALU MUDAH MEMBUAT SYUBHAT !

Posted: Mei 22, 2014 in STOP MENUDUH BID'AH !!, WAHABI - SALAFY AHLI TAKFIR & TABDI

syaikh-sulaiman

Entah apalagi cercaan dan cacian dari golongan yang mengaku pemurni Tauhid dan satu-satunya penegak sunnah di dunia ini, Tak sedikit mereka lontarkan tuduhan, cacian & fitnah kepada saudara Islamnya hingga patut pula dipertanyakan akan ahlak mereka sampai-sampai Ulama-ulama Ahlussunnah pun tak luput dari tuduhan-tuduhan keji mereka.

Sebagaimana Syekh Adzhabi didalam kitabnya Siyar A’lam An Nubala. telah menukil Riwayat tentang bertawasulnya orang-orang mu’min kepada makbaroh Imam Bukhori di Samarkand, sebagai berikut :

وقال أبو علي الغساني: أخبرنا أبو الفتح نصر بن الحسن السكتي السمرقندي، قدم علينا بلنسية عام أربع وستين وأربع مائة، قال: قحط المطر عندنا بسمرقند في بعض الأعوام فاستسقى الناس مرارا، فلم يسقوا، فأتى رجل صالح معروف بالصلاح إلى قاضي سمرقند، فقال له: إني رأيت رأيا أعرضه عليك.
قال: وما هو؟
قال: أرى أن تخرج ويخرج الناس معك إلى قبر الإمام محمد بن إسماعيل البخاري، وقبره بخرتنك، ونستسقي عنده، فعسى الله أن يسقينا.
قال: فقال القاضي: نعم، ما رأيت.
فخرج القاضي والناس معه، واستسقى القاضي بالناس، وبكى الناس عند القبر، وتشفعوا بصاحبه، فأرسل الله تعالى السماء بماء عظيم غزير أقام الناس من أجله بخرتنك سبعة أيام أو نحوها، لا يستطيع أحد الوصول إلى سمرقند من كثرة المطر وغزارته، وبين خرتنك وسمرقند نحو ثلاثة أميال. هـ.

Abu Ali Al Ghassani berkata, Abul Fath Nasr bin As Sikti As Samarqandi mengabarkan kepadaku: Kami datang dari Valencia pada tahun 464 H. Ketika itu selama beberapa tahun di Samarkand tidak pernah turun hujan. Maka orang-orang pun shalat istisqa berkali-kali, namun hujan belum juga turun. Maka seorang lelaki yang dikenal dengan keshalihannya mendatangi Qadhi kota Samarkand,

ia berkata kepada sang Qadhi: “Saya punya usul yang akan saya sampaikan kepada anda”

Qadhi berkata: “Apa itu?”

lelaki shalih berkata: “Menurutku sebaiknya anda keluar bersama orang-orang menuju kubur Imam Muhammad bin Ismail Al Bukhari, makam beliau berada di Kharatnak. Kita shalat istisqa di samping kubur beliau, mudah-mudahan Allah menurunkan hujan untuk kita”.

Qadhi berkata: “Baiklah, aku setuju”.

Maka keluarlah sang Qadhi Samarkand dengan orang-orang menuju kubur Imam Al-Bukhari, lalu shalat istisqa di sana. Orang-orang pun yang menangis di samping kubur, mereka juga meminta syafa’at kepada Imam al-Bukhari. Kemudian Allah menurunkan hujan yang sangat deras, hingga orang-orang saat itu menetap di Kharatnak sekitar tujuh hari. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat pulang ke Samarkand karena banyak dan derasnya hujan. Padahal jarak antara Samarqand dan Kharatnak sekitar tiga mil“.

***

Kisah ini banyak dijumpai di dalam kitab-kitab ahlussunnah seperti di Tabaqat As-Syafi’iyyah Al-Kubra, Fathul Bari Syarah Shohih al-Bukhori, Umdatul Qari Syarah Shohih al-Bukhori, dll tanpa ada pertentangan dari ulama-ulama Ahlussunnah saat itu dan kini, hanya belakangan muncul golongan seperti berikut ini.

TANGGAPAN ULAMA KONTEMPORER WAHABI YAITU ABDULLAH ALFAQIH & SULAIMAN AL ULWAN

Kutipan Abdullah Alfaqih (Ulama Salafy Saudi) yang saya ambil dari link berikut, Ia berkata:

Apa yang terkandung dalam kisah tersebut jelas-jelas bertentangan dengan agama kita dan merusak kemurnian tauhid kita kepada Rabbil Alamin. Justru kepada Allah lah kita memintakan ampunan bagi orang-orang yang sudah mati, dan kepada-Nya lah kita memohon kebaikan bagi orang-orang yang masih hidup. Dan kami telah menjelaskan tentang hukum berdoa di sisi kubur pada fatwa nomor 52015.

Adapun tentang nukilan Imam Adz Dzahabi yang janggal tersebut, itu memang benar terdapat pada kitab-kitabnya, dan ini memang mengherankan. Karena beliau, seorang ulama besar, sungguh telah mengingkari perbuatan semacam ini. Andai beliau tidak menukil riwayat semacam itu, itulah yang lebih baik.

Sebagai peringatan yang perlu digaris bawahi, hendaknya janganlah terpedaya dengan nukilan-nukilan janggal yang berasal dari Adz Dzahabi ataupun ulama Islam yang lain. Kami jelaskan kepada anda, yang bisa menjadi dalil adalah apa yang ditetapkan oleh nash-nash syariat, baik Al Qur’an atapun Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian pemahaman yang benar terhadap nash-nash tersebut, yaitu pemahaman para sahabat dan yang mengikuti mereka. Karena merekalah tiga generasi yang terbaik dalam Islam. Sedangkan perkataan ulama itu membutuhkan dalil dan bukan dijadikan dalil. Sebagaimana telah kami jelaskan dalam fatwa sebelumnya yang khusus membahas hal ini.

Khusus tentang Imam Adz Dzahabi rahimahullah, jika seseorang membaca kitab biografi dan sejarah yang ditulisnya, yaitu kitab Siyar A’lamin Nubala, akan mendapati banyak riwayat sebagaimana yang telah diingkari oleh penanya dan penanya telah benar dengan pengingkarannya. Dengan adanya riwayat-riwayat ini, sebagian orang-orang sufi mengumpulkan nukilan-nukilan janggal dari Adz Dzahabi ini kemudian memberi komentar tambahan. Diantaranya kitab Al Barakah Wat Tabarruk Min Dzahabiyyat.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Sulaiman Al ‘Ulwan dalam kitab beliau yang berjudul Ithaf Ahlil Fadhl Wal Inshaf Bi Naqdhi Kitab Ibnil Jauzi, kitab ini adalah sebuah bantahan terhadap syubhat dari komentar-komentar As Saqqaf terhadap kitab Ibnul Jauzi. Syaikh Sulaiman berkata:

والذهبي ـ عفا الله عنه ـ عنده تساهل في نقل مثل هذه الحكاية وأشباهها دون تعقب لها، وقد قرأت كتابه: السير ـ فرأيت فيه أشياء يتعجب منها، كيف يذكرها ولا يتعقبها؟ مع أن بعضها مما يناقض ما بعث الله به محمدا صلى الله عليه وسلم، فكان الأولى بالذهبي ـ رحمه الله ـ ردها وإبطالها، أو عدم ذكرها، لأنها تخالف مذهب السلف، وهو واحد من علماء السلف الذين خدموا هذا الدين بالمصنفات الكثيرة، وقد رأيت بالاستقراء أهل السير والتواريخ يتساهلون في النقل، والله المستعان

Adz Dzahabi, semoga Allah mengampuni beliau, ia telah bermudah-mudah dan membuat syubhat dalam menukil kisah seperti ini, tanpa memberikan tanggapan terhadapnya. Saya telah membaca kitabnya, yaitu As Siyar, dan saya dapati banyak hal yang mengherankan. Mengapa beliau menyebutkannya dan tidak menanggapinya? Padahal sebagiannya termasuk hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam yang diutus oleh Allah. Semestinya Adz Dzahabi rahimahullah membantah dan mengingkarinya, atau minimal tidak menyebutkan riwayat-riwayat tersebut. Karena hal tersebut bertentangan dengan mazhab salaf. Beliau sendiri adalah salah satu ulama salaf yang melayani agama ini dengan tulisan-tulisan beliau yang banyak. Namun saya memang telah meneliti bahwa ternyata penulis kitab-kitab sejarah sering bermudah-mudah dalam menukil riwayat. Wallahul musta’an”.

***

Demikianlah, bahwa Perkataan Ulama Wahabi Abdullah alfaqih & Sulaiman Al Ulwan mengatakan bahwa Syekh Adzhabi telah bermudah (Dengan mudahnya) membuat Kisah Syubhat, na’udzubillah.

Siapakah Syekh Sulaiman Al Ulwan?

Ulama kontemporer Syekh Ulwan dibebaskan dari penjara Arab Saudi, dan pemuda dikota Jauf yang menyambutnya dengan menyembelih seekor unta didepan rumah Syekh Ulwan, mereka menyelenggarakan acara tasyakuran atas bebasnya guru mereka ini, selanjutnya baca disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s