ULAMA SALAFY WAHABI : BID’AH MENETAPKAN HARI LAHIR NABI SEBAGAI HARI LIBUR

Posted: Mei 22, 2014 in KONTROVERSI BID'AH WAHABI - SALAFY, STOP MENUDUH BID'AH !!
Pembacaan syair & Kisah Hidup Nabi Muhammad saw

Pembacaan syair & Kisah Hidup Nabi Muhammad saw

Fatwa para Ulama Salafy- Wahabi yang melarang Maulid sebagai Hari Libur dan menyatakan bid’ah adalah fatwa baru yang sebelumnya tak pernah ada, yang mengherankan lagi mereka (para Ulama Salafy Wahabi) tak pernah melarang akan hari Kemerdekaan Negara Saudi sebagai hari libur dan merayakan rasa syukurnya atas kemerdekaan negara mereka, padahal kita umat Islam haruslah lebih bersyukur atas lahirnya Nabi Muhammad saw yang di utus ke atas dunia ini.

Perhatikanlah Firman Allah & Hadits Nabi Muhammad saw, berikut ini:

لقد من الله على المؤمنين إذ بعث فيهم رسولا من أنفسهم

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri.” (QS. Ali Imran 164)

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah !, dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’ (QS.Yunus : 58).

عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR Muslim).

KONTROVERSI ULAMA AKHIR DARI SALAFY – WAHABI

Merayakan Maulid Nabi dan menetapkannya sebagai hari libur pada kesempatan ini adalah Bid `ah, karena Nabi sholalloohu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya radhialloohu’anhum tidak melakukannya. Nabi sholalloohu ‘alaihi wassalam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِناَ هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang membuat-buat perkara baru dalam agama ini yang bukan bagian dari agama ini, maka hal itu tertolak“. [HR. Al-Bukhariy dalam Shohihnya (2697), Muslim(1718), Sunan Abu Dawud dalam Kitabus Sunnah (4606), Sunan Ibnu Majah dalam Mukadimah (14), Musnad Imam Ahmad (VI/240)]

Wabillaahi taufiq, wa sholalloohu wassalam ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa shohibi ajma’in.

Komisi Tetap Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia

Ketua : ` Abdul Aziz bin` Abdullah bin Baz
Wakil Ketua: ` Abdul Razzaq `Afify
Anggota : `Abdullah ibn Ghudayyan

(Fatwa ke-11, no. 4091)

***

BANTAHAN ULAMA – ULAMA AHLUS SUNNAH

Dari dahulu ulama-ulama Ahlus sunnah telah sepakat, tidak menghukumi bid’ah dan malah menganjurkan untuk memperingati kisah perjalanan & sunnah2 Nabi yang di bungkus dalam acara Malid Nabi Muhammad saw. Seperti kalam ulama-ulama ‘ahlil ‘ilmi dahulu hingga saat ini, sebagai berikut :

Imam Syafi’i tentang Bid’ah hasanah :

المُحْدَثَاتُ ضَرْباَنِ مَاأُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتاَباً أَوْسُنَّةً أَوْأَثَرًا أَوْإِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلِ وَمَاأُحْدِثَ مِنَ الخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئاً مِنْ ذَالِكَ فَهِيَ مُحْدَثَةٌ غَيْرَ مَذْمُوْمَةٍ

Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) ada dua macam : Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, prilakuk sahabat, atau kesepakatan ulama maka termasuk bid’ah yang sesat ; adapun sesuatu yang diada-adakan adalah sesuatu yang baik dan tidak menyalahi ketentuan (al Qur’an, Hadits, prilaku sahabat atau Ijma’) maka sesuatu itu tidak tercela (baik). (Fathul Bari, juz XVII: 10).

Imam As-Suyuthi mengatakan dalam menananggapi hukum perayaan maulid Nabi SAW :

وَالجَوَابُ عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ المَوْلِدِ الَّذِيْ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَأَةُ مَاتَيَسَّرَ مِنَ القُرْآنِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَأِ أَمْرِالنَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَاوَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الاَياَتِ ثُمَّ يَمُدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَهُ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَالِكَ مِنَ البِدَعِ الحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِالفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ

Menurut saya, asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid’ah hasanah (sesuatu yang baik). Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad saw yang mulia. (Al- Hawi Lil-Fatawa, juz I, h. 251-252)

Selengkapnya bisa anda baca disini dan disini.

KONTROVERSI YANG TAK DILARANG ULAMA SALAFY YAITU PERAYAAN YAUMUL WATHON DI SAUDI

Diperingati setiap tanggal 23 September Masehi, dilakukan dengan konvoi – konvoi di jalanan

Yaumul Wathon (Maulid Negara Saudi Arabia)

NB: Maulid Nabi diperingati dengan kalender Islam yang disesuaikan oleh Kalender Masehi, akan tetapi Yaumul Wathon diperingati setiap tanggal 23 September dibulan Masehi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s