MENGHIDUPKAN MALAM NISFU SYA’BAN DI KALANGAN SALAF

Posted: Juni 11, 2014 in AMAL GENERASI SALAF, STOP MENUDUH BID'AH !!

makkah old

Terdapat perbedaan pendapat dalam menghidupkan malam Nisfu Sya’ban ini, hendaknya kita semua meneladani akan ke arifan ulama-ulama kita terdahulu dalam menyikapi perbedaan ini, dengan tidak saling menyalahkan dan menuduh sesama saudara kita dengan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan mereka, karena kita meyakini akan sama-sama di bangun berdasarkan dalil-dalil yang disepakati oleh para Ulama kita dari dahulu hingga saat ini.

Di masa lampau para penduduk Makkah antusias menyambut malam Nishfu Sya’ban. Al-Fakihani berkata:

ذِكْرُ عَمَلِ أَهْلِ مَكَّةَ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَاجْتِهَادِهِمْ فِيْهَا لِفَضْلِهَا . وَأَهْلُ مَكَّةَ فِيْمَا مَضَى إِلَى الْيَوْمِ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، خَرَجَ عَامَّةُ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَلُّوْا وَطَافُوْا وَأَحْيَوْا لَيْلَتَهُمْ حَتَّى الصَّبَاحِ بِالْقِرَاءَةِ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يَخْتُمُوْا الْقُرْآنَ كُلَّهُ وَيَصِلُوْا ، وَمَنْ صَلَّى مِنْهُمْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ مِائَةَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِـ الْحَمْدِ ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ وَأَخَذُوْا مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَشَرِبُوْهُ وَاغْتَسَلُوْا بِهِ وَخَبَؤُوْهُ عِنْدَهُمْ لِلْمَرْضَى ، يَبْتَغُوْنَ بِذَلِكَ الْبَرَكَةَ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ ، وَيُرْوَى فِيْهِ أَحَادِيْثُ كَثِيْرَةٌ (أخبار مكة للفاكهي – ج 5 / ص 23)

“(Bab tentang amaliah penduduk Makkah di malam Nishfu Sya’ban dan kesungguhan mereka di malam tersebut karena keutamaannya). Penduduk Makkah, dari dulu hingga sekarang, jika bertemu dengan malam Nishfu Sya’ban maka kebanyakan orang laki-laki dan perempuan mendatangi Masjidil Haram, mereka salat, tawaf, beribadah di malam harinya hingga pagi dengan membaca al-Quran di Masjidil Haram, hingga mengkhatamkan al-Quran keseluruhannya dan melanjutkan. Orang-orang diantara mereka yang melakukan salat di malam tersebut 100 rakaat, diawali dengan Hamdalah setiap rakaatnya, al-Ikhlas 100 kali, mereka juga mengambil air zamzam lalu meminumnya, menyiramkannya, dan diberikan kepada orang sakit dari mereka, adalah karena mengharap berkah di malam tersebut. Telah diriwayatkan beberapa hadis yang banyak tentang malam Nishfu Sya’ban” (Syaikh al-Fakihani, Akhbar Makkah 5/23).

Al-Hafiz Ibnu Rajab  dari kitabnya Lathaiful Ma’arif:

فكذلك قيام ليلة النصف لم يثبت فيها شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم وﻻ عن اصحابه وثبت فيها عن طائفة من التابعين من اعيان فقهاء الشام
وينبغى للمؤمن ان يتفرغ فى تلك الليلة لذكرالله تعالى ودعائه بغفران الذنوب وستر العيوب وتفريج الكروب وان يقدم على ذلك التوبة فان الله يتوب فيها على من يتوب
Dengan demikian, menghidupkan malam nishfu Sya’ban tidaklah berasal dari Nabi saw dan juga para sahabatnya. Kegiatan itu justru berasal dari sekelompok ulama besar tabi’in dari SyamUntuk pertama kali kegiatan itu dilakukan oleh Ulama Tabi’in dari penduduk Syam yaitu Khalid ibnu Mi’dan dan Luqman ibnu Amir. Kegiatan itu oleh Imam Ishaq ibnu Ruhawaih ( ulama hadits, sahabat Imam Ahmad dan guru dari Imam al-Bukhary) dikatakan BUKANLAH PERBUATAN BID’AH. Bahkan Imam Assyafi’i mengatakan bahwa doa di malam nishfu Sya’ban dikabulkan.

Hendaknya setiap mu’min meluangkan waktunya di malam nishfu sya’ban untuk berdzikir, berdoa agar diampuni dosa-dosanya dan ditutupi semua aibnta serta diberi jalan keluar dari kesulitan hidup. Sebaiknya ia mendahulukan bertaubat (sebelum berdoa) karena Allah menerima taubat dari orang yg bertaubat di malam itu (nishfu sya’ban).” Lathaiful ma’arif hal. 152-153.

Dalam Majmu Fatawanya, Ibnu Taimiyyah mengatakan :

.إذا صلى الإنسان ليلة النصف وحده أو في جماعة خاصّة كما كان يفعل طوائف من السلف فهو حسن

“ Jika seseorang sholat di malam Nisfu Sya’ban secara sendiri atau berjama’ah khusus sebegaimana dilakukan sekelompok dari ulama salaf, maka itu adalah BAIK “ (Majmu Fatawa : 23/131)

Di halaman selanjutnya Ibnu Taimiyyah juga berfatwa :

وأمَّا ليلة النصف فقد روي في فضلها أحاديث وآثار ونقل عن طائفة من السلف أنّهم كانوا يصلون فيها ، فصلاة الرجل فيها وحده قد تقدمه فيه سلف وله فيه حجّة ، فلا ينكر مثل هذا

“ Adapun malam nisfu Sya’ban, maka sungguh telah diriwayatkan tentang keutamaanya hadits-hadits dan atsar juga dinukil dari skelompok ulama salaf bahwasanya mereka melakukan sholat di malam tersebut. Maka sholatnya sesorang di malam itu secara sendiri, telah dilakukan terlebih dahulu oleh ulama salaf, dan itu adalah hujjah baginya maka tidak boleh diingkari hal semacam ini “. (Majmu’ Fatawa : 23/132)

” يَطَّلِعُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ ” . أخرجه ابن حبان برقم 5665 ، والطبراني في الكبير برقم 215، وأبو نعيم في الحلية، 5/191، والبيهقي في شعب الإيمان برقم 6628
“Allah melihat makhluknya dengan penuh rahmat di malam Nishfu Sya’ban. Maka Allah akan mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik ada orang yang bermusuhan” (HR Ibnu Hibban No 5665, ath-Thabrani dalam al-Kabir No 215, Abu Nuaim dalam al-Hilyah 5/191 dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 6628).

Kesahihan Hadis Nishfu Sya’ban Mendekati Mutawatir

Ulama Wahabi Syaikh Albani menyebut 7 sahabat yang meriwayatkan hadis Nishfu Sya’ban. Tentu hal ini sudah mendekati kualitas Mutawatir, yang menurut sebagian ulama hadis minimal 10 perawi.

Syaikh Albani berkata:
قَالَ الْأَلْبَانِي فِي ” السِّلْسِلَةِ الصَّحِيْحَةِ ” 3 / 135 : حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ ، رُوِيَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ مِنْ طُرُقٍ مُخْتَلِفَةٍ يَشُدُّ بَعْضُهَا بَعْضًا وَهُمْ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَبُوْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِي وَعَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو وَأَبُوْ مُوْسَى الْأَشْعَرِي وَأَبُوْ هُرَيْرَةَ وَأَبُوْ بَكْرِ الصِّدِّيْقُ وَعَوْفُ بْنُ مَالِكٍ وَعَائِشَةُ .
“Ini (Hadis Nishfu Sya’ban) adalah HADIS SAHIH. Diriwayatkan dari banyak sahabat dengan jalur riwayat yang berbeda-beda, yang saling menguatkan. Mereka adalah Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah al-Khusyani, Abdullah bin Amr, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar ash-Shiddiq, Auf bin Malik dan Aisyah” (as-Silsilah ash-Shahihah 3/135)

PERBEDAAN PENDAPAT TENTANG SHOLAT PADA MALAM NISFU SYA’BAN

Rasulullah Saw Salat Sunah Mutlak di Malam Nishfu Sya’ban

Saydi Muhammad Alawi menulis di dalam kitabnya:

ذكريات ومناسبات لسيد محمد بن علوى الملكى ص 155-156
عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ الْحَارِثِ اَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ اللهِ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ: يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ قَدْ خَاسَ بِكِ؟ قُلْتُ: لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنْ قُبِضْتَ طُوْلَ سُجُوْدِكَ، قَالَ: أَتَدْرِي أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِيْنَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ، رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ. وَقَالَ هَذَا مُرْسَلٌ جَيِّدٌ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُوْنَ الْعَلاَءُ أَخَذَهُ مِنْ مَكْحُوْلٍ
“Dari ‘Ala’ bin Charits bahwa Aisyah berkata: “Rasulullah bangun di tengan malam kemudian beliau salat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangun dan saya gerakkan kaki Nabi dan ternyata masih bergerak. Kemudian Rasul bangkit dari sujudnya setelah selesai melakukan shalatnya, Nabi berkata “Wahai Aisyah, apakah kamu mengira Aku berkhianat padamu?”, saya berkata “Demi Allah, tidak, wahai Rasul, saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama.” Rasul bersabda “Tahukauh kamu malam apa sekang ini?” Saya menjawab “Allah dan Rasulnya yang tahu”. Rasulullah bersabda “ini adalah malam Nishfu Sya’ban, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Allah akan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah tidak akan memprioritaskan orang-orang yang pendendam”. (HR Al Baihaqi fi Syuab Al Iman no 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)

Catatan:
1. Letak ke-mursal-an hadits tersebut karena Al ‘Ala’ bin Al Charits adalah seorang Tabiin yang tidak pernah berjumpa dengan Aisyah, prediksi Al Baihaqi menyebutkan Al ‘Ala’ memperoleh hadits tersebut dari gurunya, Makchul. Imam Achmad menilai Al ‘Ala’ sebagai orang yang sahih haditsnya. Abu Chatim berkata: Tidak ada murid Makchul yang lebih terpercaya dari pada Al ‘Ala’. Ibnu Hajar menyebut Al ‘Ala’ sebagai orang yang jujur dan berilmu fikih, tetapi ia dituduh pengikut Qadariyah. (Mausu’ah Ruwat Al Hadits)

2. Para Imam Madzhab, seperti Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal mengkategorikan hadis Mursal sebagai hadis yang dapat diterima (Hadis Maqbul) bila memenuhi beberapa persyaratan, diantaranya Sahabat atau Tabiin yang digugurkan dari sanad merupakan seorang yang dikenal kredibilitasnya, tidak bertentangan dengan hadis lain yang lebih shahih, dan lain sebagainya, sebagaimana yang tercantum dalam kitab-kitab Ulumul Hadits.

مجموع فتاوى ابن تيمية ج 2 ص 469
وَسُئِلَ عَنْ صَلاَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ؟ (الْجَوَابُ) فَأَجَابَ: إذَا صَلَّى اْلإِنْسَانُ لَيْلَةَ النِّصْفِ وَحْدَهُ أَوْ فِيْ جَمَاعَةٍ خَاصَّةٍ كَمَا كَانَ يَفْعَلُ طَوَائِفُ مِنْ السَّلَفِ فَهُوَ أَحْسَنُ. وَأَمَّا اْلاِجْتِمَاعُ فِي الْمَسَاجِدِ عَلَى صَلاَةٍ مُقَدَّرَةٍ. كَاْلاِجْتِمَاعِ عَلَى مِائَةِ رَكْعَةٍ بِقِرَاءَةِ أَلْفٍ: {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} دَائِمًا. فَهَذَا بِدْعَةٌ لَمْ يَسْتَحِبَّهَا أَحَدٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ. وَاللهُ أَعْلَمُ.
“Ibnu Taimiyah ditanyai soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú’ Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469)

Amaliyah Malam Nishfu Sya’ban Menurut Imam Ahmad

ثُمَّ قَالَ: “وَلَا يُعْرَفُ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ كَلَامٌ فِي لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ، وَيُخَرَّجُ فِي اسْتِحْبَابِ قِيَامِهَا عَنْهُ رِوَايَتَانِ، مِنَ الرِّوَايَتَيْنِ عَنْهُ فِي قِيَامِ لَيْلَتَيِ الْعِيْدِ؛ فَإِنَّهُ فِي رِوَايَةٍ لَمْ يَسْتَحِبَّ قِيَامَهَا جَمَاعَةً؛ لِأَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ، وَاسْتَحَبَّهَا فِي رِوَايَةٍ؛ لِفِعْلِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ اْلأَسْوَدِ لِذَلِكَ، وَهُوَ مِنَ التَّابِعِيْنَ، فَكَذَلِكَ قِيَامُ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، لَمْ يَثْبُتْ فِيْهَا شَيْءٌ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا عَنْ أَصْحَابِهِ، وَثَبَتَ فِيْهَا عَنْ طَائِفَةٍ مِنَ التَّابِعِيْنَ مِنْ أَعْيَانِ فُقَهَاءِ أَهْلِ الشَّامِ” (لطائف المعارف، لابن رجب، ص263)
“Ibnu Rajab al-Hanbali berkata: “Tidak diketahui pendapat dari Imam Ahmad tentang Malam Nishfu Sya’ban. Dan dikembangkan (dianalogikan) dalam anjuran ibadah di malam Nishfu Sya’ban dari Imam Ahmad terdapat 2 riwayat. Dari dua riwayat tersebut adalah tentang ibadah di malam hari raya. Dalam 1 riwayat Imam Ahmad tidak menganjurkan melakukannya secara berjamaah, sebab tidak ada riwayat dari Nabi Saw dan para sahabatnya. Dan di riwayat lain Imam Ahmad menganjurkannya, karena dilakukan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aswad. Ia dari kalangan Tabiin. Demikian halnya dengan ibadah di malam Nishfu Sya’ban, tidak ada riwayat sahih dari Nabi dan para sahabat. Dan secara sahih telah dilakukan oleh sekelompok ulama dari Tabiin dari ulama-ulama ahli fikih kota Syam” (al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali daam Lathaif al-Ma’arif 263).

Ulama Syafiiyah menegaskan bahwa salat 100 rakaat di malam Nishfu Sya’ban adalah bid’ah yang buruk, hadisnya adalah hadis palsu (Ianat ath-Thalibin)

Mufti al-Azhar: Doa Nishfu Sya’ban Bersumber Dari Sahabat Nabi

فتاوى الأزهر – (ج 10 / ص 131)
وهو دعاء لم يرد عن النبى صلى الله عليه وسلم قال بعض العلماء إنه منقول بأسانيد صحيحة عن صحابيين جليلين ، هما عمر بن الخطاب وعبد الله بن مسعود رضى الله عنهما ، وعمر-من الخلفاء الراشدين الذى أمرنا الحديث بالأخذ بسنتهم ، ونص على الاقتداء به وبأبى بكر الصديق فى حديث آخر، وأصحاب الرسول كالنجوم فى الاقتداء بهم كما روى فى حديث يقبل فى فضائل الأعمال .

مصنف ابن أبي شيبة – (ج 6 / ص 68)
29530 – حدثنا أبو معاوية عن عبد الرحمن بن إسحاق عن القاسم بن عبد الرحمن عن عبد الله بن مسعود قال ما دعا قط عبد بهذه الدعوات إلا وسع الله عليه في معيشته يا ذا المن فلا يمن عليك يا ذا الجلال والإكرام يا ذا الطول والإنعام لا إله إلا أنت ظهر اللاجئين وجار المستجيرين ومأمن الخائفين إن كتبتني عندك في أم الكتاب شقيا فامح عني أسم الشقاء وأثبتني عندك سعيدا موفقا للخير فإنك تقول في كتابك يمحوا الله ما يشاء ويثبت

Jika Nabi dan sahabat tidak melakukan, lihatlah amalan para ulama tabi’in. Sebab mereka memahami sunnah Nabi dan sahabat dibandingkan kita.

Di kutip dari Tafsir Al-Qurtubiy, surat ad-dukhan ayat 3-4 :
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻋِﻜْﺮِﻳْﻤَﺔُ ﻫِﻰَ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟﻨِّﺼْﻒِ ﻣِﻦْ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻳُﺒْﺮَﻡُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺃَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔِ ﻭَﻳُﻨْﺴَﺦُ ﺍْﻷَﺣْﻴَﺎﺀُ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﻣْﻮَﺍﺕِ ﻭَﻳُﻜْﺘَﺐُ ﺍﻟْﺤَﺎﺝُّ ﻓَﻼَ ﻳُﺰَﺍﺩُ ﻓِﻴْﻬِﻢْ
ﺃَﺣَﺪٌ ﻭَﻻَﻳُﻨْﻘَﺺُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺃَﺣَﺪٌ ﻭَﺭَﻭَﻯ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﻤُﻐِﻴْﺮَﺓِ ﻗَﺎﻝَ , ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰَ ﺗُﻘْﻄَﻊُ ﺍْﻷَﺟَﺎﻝُ ﻣِﻦْ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﺇﻟَﻰ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﻴَﻨْﻜِﺢُ
ﻭَﻳُﻮْﻟَﺪُ ﻟَﻪُ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﺮِﺝَ ﺍﺳْﻤُﻪُ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗَﻰ. ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍْﻟﻘَﺎﺿِﻰ ﺃﺑُﻮْ ﺑَﻜْﺮِ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻌَﺮَﺑﻲ ﻭَﺟُﻤْﻬُﻮْﺭُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺃﻧَّﻬَﺎ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍْﻟﻘَﺪْﺭِ .

“Ikrimah berpendapat bahwa yang dimaksud Lailah Al-Mubarakah itu adalah malam nishfu sya’ban. Di malam itu Allah menentukan semua
urusan dalam peristiwa setahun, menghapus nama2 orang dari daftar calon org meninggal dan mencatat nama2 org yang akan
melaksanakan haji tanpa ditambah atau dikurangi. Utsman bin Mughirah meriwayatkan hadits, Rasulullah Saw bersabda, “Ajal ditentukan dari satu Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, hingga seseorang menikah, dikaruniai anak dan namanya dikeluarkan dari org2 yang akan meninggal”. Qadli Abu Bakar bin Al Araby berkata : Para Ulama’ mengatakan bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadar”. (Tafsir al-Qurtubiy)

Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm mengatakan:

وبلغنا أنه كان يقال : إن الدعاء يستجاب في خمس ليال في ليلة الجمعة , وليلة الأضحى , وليلة الفطر , وأول ليلة من رجب , وليلة النصف من شعبان

“Telah sampai kepadaku kabar bahwa doa akan dikabulkan pada lima malam: malam Jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab dan malam pertengahan (Nishfu) bulan Sya’ban.”

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi disebutkan:

اعلم أنه قد ورد في فضيلة ليلة النصف من شعبان عدة أحاديث مجموعها يدل على أن لها أصلا فمنها … فهذه الأحاديث بمجموعها حجة على من زعم أنه لم يثبت في فضيلة ليلة النصف من شعبان شيء والله تعالى أعلم

“Ketahuilah bahwa telah datang mengenai keutamaan malam pertengahan (nishfu) bulan Sya’ban sejumlah hadits yang keseluruhannya menunjukkan bahwa semua itu ada dasarnya… Keseluruhan hadits ini menjadi hujjah bagi siapapun yang menganggap bahwa keutamaan nishfu Sya’ban tidak didukung oleh dalil apapun. Wallahu a’lam.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

ومن هذا الباب ليلة النصف من شعبان فقد روى في فضلها من الأحاديث المرفوعة والآثار ما يقتضي أنها ليلة مفضلة وأن من السلف من كان يخصها بالصلاة فيها وصوم شهر شعبان قد جاءت فيه أحاديث صحيحة …
لكن الذي عليه كثير من أهل العلم أو أكثرهم من أصحابنا وغيرهم على تفضيلها وعليه يدل نص أحمد لتعدد الأحاديث الواردة فيها وما يصدق ذلك من الآثار السلفية وقد روى بعض فضائلها في المسانيد والسنن وإن كان قد وضع فيها أشياء أخر

“Termasuk dalam bab ini ialah malam nishfu Sya’ban. Sungguh telah diriwayatkan tentang keutamaannya sejumlah hadits dari Nabi SAW dan jejak salaf yang menunjukkan bahwa malam itu diutamakan. Sebagian generasi salaf juga ada yang mengkhususkan malam itu untuk shalat…”

 

Source: Ust. Ma’ruf Khozin, Ust. Abdi Kurnia J, Ust. Peparing E ilahi, Ust Danang K & Ustzh. Shofiyyah An-Nuuriyyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s