KEDEKATAN SHAHABAT NABI DENGAN AHLUL BAIT

Posted: Juni 16, 2014 in SILATURAHMI & PERSAUDARAAN ASWAJA, SYI'AH

makam_syaidina_usman

Mencintai Ahlul Bait adalah merupakan bagian keyakinan dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Ahlul Bait yang dimaksud adalah Ahlul Kisa. Mereka adalah Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra, Sayyidah Fatimah ra, Sayyidina Hasan ra, Sayyidina Hussein ra dan seluruh keturunannya, seperti dalam hadits Tirmidzi no 2139, serta para istri Nabi yang kemudian disebut dengan Ummahatul Mukminin (Qs AL-Ahzab, 6).

Berikut adalah salah satu riwayat kecintaan/kedekatan hubungan Abu Bakar ra dengan mereka  :

“Dari Aisyah Ra, sesungguhnya Abu Bakar berkata, ” Sungguh kerabat-kerabat Rosululloh SAW lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri. (Shahih Al-Bukhari 3730)

Dari Ugbah bin Harits ia berkata,” Suatu ketika Abu Bakar melaksanakan Sholat Ashar. Setelah itu berjalan pulang dan melihat Hasan bin Ali sedang bermain dengan anak-anak sebaya. Abu Bakar kemudian menggendongnya seraya berkata,”Sungguh anak ini mirip dengan Nabi, tidak mirip Ali,” Mendengar pernyataan ini Ali tertawa. (Shahih Al-Bukhari  3278).

Riwayat berikut adalah gambaran dari rasa hormat dan kecintaan Sayyidina Ali ra terhadap sahabat :

Dari Muhammad bin Hanafiyyah, ia berkata,” Saya bertanya kepada ayahku (Ali bin Abi Tholib),” Siapakah manusia paling mulia setelah Rosululloh?” Sayyidina Ali menjawab,” Sayyidina Abu Bakar.” Aku bertanya lagi,” Kemudian siapa lagi?” Sayyidina Ali menjawab,” Sayyidina…” Dengan sedikit ragu-ragu aku bertanya lagi, Umar bin Khattab.” Kemudian siapa lagi?” Sayyidina Ali menjawab,” Sayyidina Utsman bin Affan.” Lalu aku berkata,” Kemudian Engkau wahai ayahku.” Sayyidina Ali menjawab (seraya merendahkan diri),” Tidak, aku hanyalah laki-laki biasa seperti muslim lainya.” (Sunan Abi Dawud, 4013).

Sanjungan Sayyidina Umar ra yang merupakan manifestasi perhatian dan pemuliaan Beliau ra terhadap keluarga Rosullulloh SAW seperti tercermin dalam riwayat berikut :

Dari Ibnu Abbas, ia bercerita,” Sayyidina Umar pernah berkhutbah, ia berkata,” Sayyidina Ali kepada kami diatas mimbar Rosululloh adalah orang yang paling ahli dibidang hukum, dan Ubay adalah orang yang paling fasih bacaanya.” (Shahih Al Bukhari, 4121).

Setelah Penakhlukan Imperium Persia oleh Khalifah Umar bin Khattab melalui panglima dan bala tentaranya, kaum muslimin memboyong tawanan perang ke Madinah, diantaranya adalah puteri dari Kaisar Persia (Yazdajird) yang bernama Syahrbanu .

Sebagian orang menduga bahwa beliau (Syahrbanu) akan dinikahi oleh Sayyidina Umar ra sendiri atau setidaknya akan dinikahkan dengan putranya yang bernama Abdullah bin Umar ra. Akan tetapi diluar dugaan Sayyidina Umar ra justru menyerahkan Syahrbanu kepada Sayyidina Hussein ra dan berkata :

” Wahai Abu Abdillah (Hussein ra) ! Pernikahan engkau dengan Syahrbanu kelak akan melahirkan sebaik-baik manusia di atas bumi.”

Tindakan Sayyidina Umar ra seperti dalam riwayat tersebut pastilah didasari oleh kedekatan hubungan diantara keduanya kalau tidak boleh dikatakan sebagai hubungan yang berdasarkan cinta kasih.

Jami bin Umair al Taymi berkata,” Suatu saat aku bersama bibiku menemui Aisyah dan aku bertanya kepada beliau,” Siapakah orang yang paling dicintai oleh Rosululloh, Sayyidah Aisyah menjwab: ialah Fatimah. Ditanyakan lagi kepada beliau, kalau dari kalangan laki-laki? Jawab Sayyidah ‘Aisyah : ialah suaminya (Sayyidina Ali KW) karena aku tahu dia itu rajin berpuasa dan sebagai laki-laki yang penuh tanggung jawab.”  (HR. Tirmidzi no 3873)

Imam Ali bin Abi Tholib kw menerima lamaran dari Sayyidina Umar bin Katthab ra. Sehingga menjadikan hubungan keduanya disamping sebagai sahabat juga sebagai Mertua dan Menantu.

Pada suatu ketika, Sayyidina Umar ra datang kepada Imam Ali kw dengan tujuan akan melamar putrinya yang bernama Ummu Kulsum ra.
Setelah Sayyidina Umar ra menyampaikan maksudnya, Imam Ali kw menjawab bahwa anaknya itu masih kecil. Selanjutnya Imam Ali kw menyarankan agar Sayyidina Umar ra melamar putri saudaranya (Ja’far) yang sudah besar.
Mendengar jawaban dan saran tersebut Sayyidina Umar ra menjawab, bahwa dia melamar putrinya, karena dia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:

“ Semua sebab dan nasab terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.”  (HR. At tobroni)

Akhirnya lamaran Sayyidina Umar ra tersebut diterima oleh Imam Ali kw dan dari perkawinan mereka tersebut, lahirlah Zeid dan Ruqayyah.
Perkawinan tersebut membuktikan bahwa antara Imam Ali kw / Siti Fathimah ra dengan Sayyidina Umar ra telah terjalin hubungan yang sangat baik.

Kecintaan Sayyidina Umar Bin Khattab pada ahlul bait..

Ibnu Abbas (RA) menceritakan ‘Ketika Sayyidina Umar Bin Khattab (RA) menjadi Khalifah, ia memiliki/menunjukkan cinta yang tak terbatas pada Imam Hussain (RA) dan Imam Hasan (RA) yang merupakan cucu dari Rasulullah (sallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam). Kasih/kecintaan ini adalah karena hubungan mereka dengan Nabi tercinta (sallallahu alayhi wa alaa aalihi wasallam).

Sayyidina Umar (RA) mengeluarkan kebijakan untuk memberikan beasiswa pada setiap anak untuk melanjutkan pendidikan mereka dari dana negara.
Sayyidina Umar Bin Khattab (RA) memberikan pada Imam Hussain (RA) dan Imam Hasan (RA) masing masing 5.000 dirham sedangkan ia memberikan anaknya sendiri 2.000 dirham .
Abdullah Ibnu Umar (RA) yang adalah anak dari Sayyidina Umar (RA) bertanya kepada ayahnya mengapa anaknya sendiri/anak dari khalifah diberikan 2.000 dirham sedangkan Imam Hussain (RA) dan Imam Hasan (RA) diberikan 5.000 dirham.

Sayyidina Umar (RA) menjawab anaknya ‘Kalau kau memiliki kakek seperti kakek yang mereka miliki, kemudian memiliki seorang ayah seperti yang mereka miliki dan kemudian memiliki seorang ibu seperti yang mereka miliki, maka aku akan memberimu 5.000 dirham’.

Source: Ratna & Habib Adeng Fad’aq

 

Komentar
  1. Elfizon Anwar mengatakan:

    APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT, KETURUNAN NABI ATAU KETURUNAN RASUL?

    Dalam Al Quran yang menyebut kata ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa ‘anak-anak’ Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang pewaris keturunan tahta ahlul bait ‘harus’ diambil dari para anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sebagai penerima waris nasabnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, kalau mau konsisten seharusnya tetap diambil dari nasab perempuan dan seterusnya.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    Nabi Muhammad SAW ‘diputuskan’ oleh Allah SWT dinasti nasabnya sehingga tidak ada beban tanggungjawab yang harus dipikul oleh para keturunannya. Begitu pula dalam Al Quran ditegaskan bahwa tidak kita temukan istilah ‘keturunan Muhammad’, ya apa lagi untuk istilah umum seperti keturunan nabi, ahlul bait atau rasul ya berbeda halnya dengan seperti nasib para nabi tertentu seperti istilah keturunan Adam, keturunan Ibrahim, keturunan Israil (QS. 19:58)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s