DOA-DOA BERBUKA PUASA

Posted: Juni 30, 2014 in AMAL GENERASI SALAF, SUNNAH - ADAB & NASIHAT, TAFSIR & QOUL ULAMA

Doa-doa berbuka puasa
meskipun di bulan puasa yg paling mulia dan berkah ini… wahabi tidak henti-hentinya berulah menimbulkan masalah… sampai-sampai do’a berbuka puasa (Allahumma Laka Shumtu) yg sudah masyru’ kita ucapkan dipermasalahkan, dikatakan bid’ah dholalah dengan alasan hadits dho’if…

Maka dengan penuh kesabaran dan hanya mengharap Ridha Allah, tugas kita untuk meluruskannya..!!!

Bab Maa Yaquulu ‘Inda al-Ifthar (Do’a Ketika Berbuka Puasa)
روينا في سنن أبي داود والنسائي، عن ابن عمر رضي اللّه عنهما قال: كان النبيّ صلى اللّه عليه وسلم إذا أفطر قال: “ذَهَبَ الظَّمأُ، وابْتَلَّتِ العُرُوقُ، وَثَبَتَ الأجْرُ إِنْ شاءَ اللَّهُ تَعالى”.
“Kami meriwayatkan dalam kitab Sunan Imam Abi Daud dan Imam an-Nasaa’i, dari Ibnu Umar -radliyallahu ‘anhumaa-, dia berkata : Ketika Rasulullah berbuka puasa, beliau mengucapkan ; “Dahaga telah hilang, kerongkongan (urat-urat leher) telah basah, dan telah ditetapkan pahalanya, InsyaAllah ta’alaa”

وروينا في سنن أبي داود، عن معاذ بن زهرة أنه بلغه أن النبيّ صلى اللّه عليه وسلم كان إذا أفطر قال:”اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ”
“Kami meriwayatkan dalam kitab Sunan Abi Daud, dari Mu’adz bin Zahrah bahwa ketika Rasulullah akan berbuka puasa, beliau mengucapkan ; “ya Allah, karena engkau aku puasa dan atas rizki yang engkau berikan aku berbuka”.

وروينا في كتاب ابن السني، عن معاذ بن زهرة قال:كان رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم إذا أفطر قال: “الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذي أعانَنِي فَصَمْتُ، وَرَزَقَنِي فأفْطَرْتُ”
“Kami meriwayatkan dalam kitab Ibnus Sunni, dari Mu’adz bin Zahrah bahwa ketika Rasulullah akan berbuka puasa, beliau mengucapkan ; “Segala puji bagi Allah yang telah memberikanku pertolongan maka aku berpuasa ,dan memberiku rizqi maka aku berbuka puasa “.

وروينا في كتاب ابن السني، عن ابن عباس رضي اللّه عنهما قال:كان النبيّ صلى اللّه عليه وسلم إذا أفطر قال: “اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنا، وَعلى رِزْقِكَ أَفْطَرْنا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إنَّكَ أنْتَ السَّمِيعُ العليم”
“Kami meriwayatkan dalam kitab Ibnus Sunni, dari Ibnu ‘Abbas -radliyallahu ‘anahumaa- bahwa ketika Rasulullah akan berbuka puasa, beliau mengucapkan ; “yaa Allah karene Engkau kami perpuasa, atas rizqi yang Engkau berikan, kami berbuka puasa, maka terima do’a kami, sesesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.

وروينا في كتابي ابن ماجه وابن السني، عن عبد اللّه بن أبي مليكة عن عبد اللّه بن عمرو بن العاص رضي اللّه عنهما قال: سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول: “إنَّ للصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً ما تُرَدُّ” قال ابن أبي مُليكة: سمعتُ عبد اللّه بن عمرو إذا أفطرَ يقول:”اللَّهُمَّ إني أسألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْء أنْ تَغْفِرَ لي”
“Kami meriwayatkan dalam kitab Ibnu Majah dan Ibnus Sunni, dari Abdullah bin Abi Malikah, dari Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash -radliyallahu ‘anahumaa- dia berkata : aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengatakan, “sesungguhnya bagi orang yang puasa ketika berbuka, do’anya tidak ada yang tertolak”, Ibnu Malikah berkata : “Aku mendengar Abdullah bin ‘Amru ketika berbuka mengatakan ; “ya Allah sesungguhnya aku memohon pertolongan dengan rahmat-Mu yang sangat luas meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuni aku”.

Dari Mu’az bin Zahrah mengatakan bahwa Nabi SAW apabila berbuka puasa mengatakan :

اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت
(H.R. Abu Daud)

Imam al-Nawawi dalam kitab beliau al-Azkar[1] dan al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab[2] mengatakan hadits yang diriwayat oleh Abu Daud melalui Mu’az bin Zahrah ini mursal (hadits yang nisbah kepada Rasulullah, tetapi hanya disebut oleh Tabi’in, tidak bersambung kepada sahabat Nabi). Bukhari telah menyebut Mu’az bin Zahrah sebagai Tabi’in, bukan sahabat Nabi.[3] Dalam kitab Misykah karya Ibnu Hajar, beliau mengatakan :

“Darulquthni dan Thabrany telah meriwayat hadits serupa dengan sanad muttashil (bersambung) namun sanadnya dhaif dan hadits ini menjadi hujjah dalam masalah seperti ini.”[4]

Dalam Syarah al-Muhazzab, disebut hadits yang diriwayat dari Abu Hurairah dengan lafazh hadits di atas, namun Imam al-Nawawi mengatakan, hadits tersebut gharib dan tidak dikenal.[5]

Bardasarkan keterangan di atas, maka status hadits di atas adalah dhaif (bukan maudhu’) Namun demikian menurut keterangan Ibnu Hajar di atas, hadits ini, meskipun dhaif dapat diamalkan, karena ini hanya merupakan do’a. Tentunya kita boleh berdoa sesuai dengan keinginan kita kapan dan dimana saja asalkan tidak bertentangan dengan maksud sesuatu amalan itu dan selama tidak ada nash yang melarangnya, apalagi hadits tersebut juga datang dalam bebarapa riwayat lain. Karena itu, Imam al-Nawawi dalam al-Azkar setelah menyebut beberapa hadits mengenai doa ketika berbuka puasa yang berbeda doanya satu sama lain menyebut hadits Nabi SAW di bawah ini :
إن للصائم عند فطره دعوة ما ترد
Artinya : Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika berbukanya, boleh berdo’a menurut yang dikehendakinya. (H.R. Ibnu Majah dan Ibnu al-Sunni)[6]

Ibnu Allan mengatakan :
“Setelah mentakhrij hadits ini, al-Hafizh mengatakan, hadits ini hasan, telah dikeluarkan oleh Abu Ya’la dengan sempurna dalam Musnadnya al-Kabir dan telah dikeluarkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak dari jalur lain yaitu dari Hakam bin Musa.”[7]

Berdasarkan hadits ini, maka do’a ketika berbuka puasa boleh dibaca menurut keinginan masing-masing. Namun tentunya, doa yang datang dari Nabi lebih afdhal.
Doa lain yang dapat dibaca ketika berbuka puasa adalah sebagaimana disebut dalam hadits dimana Rasulullah SAW apabila berbuka puasa, beliau mengatakan :
ذهب الظمأ وابتلت الْعُرُوق ، وَثَبت الْأجر إِن شَاءَ الله تَعَالَى
(H.R. Abu Daud, al-Nisa’i, Thabrany, al-Hakim dan Darulquthni).[8]

Darulquthni mengatakan, isnadnya hasan. Al-Hakim mengatakan, shahih atas syarat Syaikhaini.[9]

foot notte:
[1] Imam al-Nawawi, Al-Azkar, al-Haramain, Hal. 172
[2] Imam al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, VI, Hal. 362
[3] Ibnu Allan, Futuhaturrabbaniyah, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. IV, Hal. 340
[4] Ibnu Allan, Futuhaturrabbaniyah, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. IV, Hal. 341
[5] Imam al-Nawawi, Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Maktabah Syamilah, VI, Hal. 362
[6] Imam al-Nawawi, Al-Azkar, al-Haramain, Hal. 172
[7] Ibnu Allan, Futuhaturrabbaniyah, Dar Ihya al-Turatsi al-Arabi, Beirut, Juz. IV, Hal. 342
[8] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. V, Hal. 710
[9] Ibnu Mulaqqan, Badrul Munir, Maktabah Syamilah, Juz. V, Hal. 710.

Source: Ust. Fasbir Sabran. J

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s