SEPUTAR PERMASALAHAN IBADAH DI BULAN RAMADHAN

Posted: Juli 12, 2014 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT

Marhaban Ramadhan

SEJARAH DIWAJIBKANNYA BERPUASA

Puasa DIWAJIBKAN pd tahun 2 H di bulan Sya’ban. Rasulullah Saw berpuasa Ramadhan 9 kali, semuanya NAQISH (29 hari) kecuali satu kali saja yg KAMIL ( 30 hari).
Ramadhan adalah bulan yg paling AFDHOL dan berada pd urutan ke-9 pd penanggalan Arab.
Dinamakan Ramadhan karena ketika Orang Arab memberi nama2 bulan, momennya BERTEPATAN dg CUACA YG SANGAT PANAS (Ar Romdho’ = Sangat panas) sedangkan menurut pendapat yg lain karena bulan ini :

يرمض الذنوب أي يحرقها

Yaitu BISA MEMBAKAR DOSA-DOSA.

(At Taqriirotus Sadiidah, Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim Al Kaff Hal. 433)

PUASA SAH TAPI HARAM HUKUMNYA ?

Terjadi pada kasus : Puasa (sunnahnya) seorang istri tanpa izin suaminya dan puasanya seorang budak tanpa izin dari tuannya.
(At Taqriirot As Sadiidah, Hasan bin Ahmad Al Kaff Hal. 436)

PUASA MAKRUH ?

Diantaranya adalah melakukan puasa pada hari Jum’at, Sabtu atau Ahad secara menyendiri dan puasa DAHR (terus menerus tiap hari) bagi yg bisa menimbulkan dhoror (bahaya) untuknya atau terabaikannya hak-hak yg disunnahkan.

(At Taqriirot As Sadiidah, Hasan bin Ahmad Al Kaff Hal. 436)
Keterangan : Kalo puasa hari Kamis di sambung hari Jum’at atau Puasa hari Jum’at di sambung hari Sabtu maka TIDAK MAKRUH.

PUASA WAJIB

6 keadaan yang diwajibkan :

  1. Puasa Ramadhan
  2.  Puasa Qodho’
  3.  Puasa Kaffaroh, seperti Kaffaroh dhihar, membunuh atau menjima’ istri di bulan Ramadhan
  4.  Puasa pada waktu Haji dan Umroh sebagai ganti dari menyembelih dalam masalah fidyah
  5.  Puasa dalam rangka Istisqo’ (memohon turunnya hujan) apabila diperintahkan oleh Hakim
  6.  Puasa Nadzar

PUASA YG HARAM DAN TIDAK SAH :

  1. Puasa pada Hari Raya Idul Fithri
  2. Puasa pada Hari Raya Idul Adha
  3. Puasa pada Hari-Hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah
  4. Puasa Separuh terakhir bulan Sya’ban, yaitu tanggal 16 dst.
  5. Puasa Hari Syakk (Ragu-ragu), yaitu pada tanggal 30 Sya’ban, ketika orang-orang sudah berkata melihat bulan (hanya saja masih diragukan penglihatannya) atau orang-orang yg persaksiannya tidak terima, seperti seorang wanita atau anak kecil, mengaku telah melihat bulan.

Lalu dalam kasus apa pd Hari Syakk dan Separuh Terakhir bulan Sya’ban DIPERBOLEHKAN puasa ???

  1. Ketika dia melakukan puasa wajib, seperti puasa Qodho’ (bahkan puasa sunnat yg disyariatkan untuk di Qodho’ juga diperbolehkan), Kaffaroh atau Nadzar
  2. Ketika dia sudah terbiasa melakukan puasa sunnah, seperti puasa hari Senin dan Kamis (kebiasaan bisa ditetapkan dg satu kali perbuatan saja- Al ‘adah tatsbutu bi marrotin)
  3. Ketika dia menyambung separuh Sya’ban yg kedua (yaitu tgl 16 dst) dg hari-hari sebelumnya. Prakteknya : Dia berpuasa pd tgl 15, maka dia boleh berpuasa pd tgl 16, ketika dia berpuasa tgl 16 maka dia boleh berpuasa pd tgl 17, demikian seterusnya sampai dg akhir bulan. Ketika dia dia berbuka satu hari saja, maka HARAM baginya untuk berpuasa pd sisa-sisa hari pd bulan tersebut.

(At Taqriirot As Sadiidah, Hasan bin Ahmad Al Kaff Hal. 436-437)

PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN PUASA (Mubthilaatush Shoum)

Di bagi menjadi 2 :

1. Perkara yg MEMBATALKAN PAHALA PUASA, bukan puasa itu sendiri, maka tidak wajib Qodho’ baginya. Perkara ini disebut dg MUHBITHOOTH

2. Perkara yg MEMBATALKAN PUASA sekaligus PAHALANYA, apabila dilakukan dg tanpa udzur maka wajib Qodho’ baginya. Perkara ini dinamakan MUFTHIROOT.

AL MUHBITHOOT adalah perkara-perkara yang membatalkan puasa. Rasulullah Saw bersabda :

كم من صائم ليس له من صيامه إلا الجوع والعطش

Berapa banyak orang yg berpuasa namun puasanya tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya lapar dan dahaga.

Al muhbithoot contohnya :

1. Ghibah (menggunjing sesuatu yg tidak disukai, walaupun seusai dg fakta)
2. Namimah (memindah ucapan dg tujuan memfitnah)
3. Kadzib (berbohong)
4. Melihat perkara yg Haram atau perkaraya yg Halal namun disertai SYAHWAT.
5. Sumpah Palsu
6. Perkataan bohong dan jelek serta mengamalkannya. Tersebut dalam hadis :

من لم يدع قول الزور والعمل به فلبس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan mengamalkannya, maka maka tiada hajat bagi Allah atas makanan dan minuman yg ditinggalkannya (dipuasainya).

Al Mufthiroot contohnya :

1. Murtad, meskipun sebentar.
2. Haid, Nifas dan Wiladah (melahirkan), meskipun sebentar di siang hari.
3. Gila, meskipun sebentar.
4. Ayan dan Mabuk sepanjang siang.
5. Jima’, apabila dilakukan dg sengaja dan mengetahui keharamannya, serta MUKHTARON (tidak dipaksa/atas kemauan sendiri)
6. Masuknya benda melalui saluran lubang tubuh yg menuju ke lambung.
7. Istimna’ (mengeluarkan mani)
8. Istiqoah (memuntahkan sesuatu)

(At Taqriirot As Sadiidah, Hasan bin Ahmad Al Kaff Hal. 448-455)

KONSEKUENSI YANG TIDAK BERPUASA

Macam –macam konsekuensi yang wajib di jalani bagi orang yang TIDAK BERPUASA , ada 4 perincian :

1. WAJIB MENG-QODHO’ PUASA DAN MEMBAYAR FIDYAH.

Ada 2 kasus :

1. Seseorang yang membatalkan puasa karena mengkhawatirkan keadaan orang lain, seperti ibu hamil yang membatalkan puasanya karena mengkhawatirkan keadaan janinnya, dan ibu menyusui yang mengkhawatirkan keadaan bayinya.
Sedang bagi Ibu yang mengkhawatirkan dirinya dan bayinya maka HANYA BERKEWAJIBAN MENG-QODHO SAJA.

2. Seseorang yang mempunyai hutang puasa, namun dia meng-akhirkan Qodho’nya dengan tanpa udzur (padahal dia dalam keadaan mampu/ tidak ada halangan) sehingga datang Ramadhan yang berikutnya.
FIDYAH besarnya adalah 1 mud (sekitar 7 ons ) makanan pokok daerah setempat yang harus dibayarkan setiap harinya. Jumlah pembayaran fidyah ini bisa berlipat sesuai dengan keterlambatan hitungan tahun yang ditinggalkan (semisal dia punya hutang 1 hari tidak puasa dan terlambat meng-Qodho’ 2 tahun, maka 1 dikalikan 2 mud, jika terlambat 3 tahun maka 1 dikalikan 3 mud, dst)

2. WAJIB MENG-QODHO’ SAJA

Kasusnya seprti orang yang mengalami ayan (penyakit kejang2 yang menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri), orang yang lupa niat (pada malam harinya), dan orang yang menyengaja membatalkan puasa namun bukan pada kasus Jima’ (mengumpuli istrinya)

3. WAJIB MEMBAYAR FIDYAH SAJA

Kasusnya bagi orang yang sudah tua renta (tidak kuat lagi berpuasa) dan orang sakit yang tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya.

4. TIDAK ADA KEWAJIBAN MENG-QODHO’ DAN MEMBAYAR FIDYAH

Bagi orang gila yang membatalkan puasa, sedangkan penyebab kegilaannya itu bukan karena kesengajaan.

KEADAAN – KEADAAN YANG MEWAJIBKAN MENGQODHO’ PUASA DAN IMSAK (MENAHAN DIRI DARI PERKARA-PERKARA YANG MMEMBATALKAN PUASA) SAMPAI TERBENAMNYA MATAHARI.

1. Bagi orang yang menyengaja membatalkan puasanya.

2. Bagi orangyang meninggalkan niat pada malam harinya, meskipun hal ini terjadi karena lupa

3. Bagi orang yang makan sahur dengan mengira bahwa malam masih berlangsung ,tetapi ternyata dugaannya tersebut salah (ternyata fajar sudah terbit)

4. Bagi orang yg membatalkan puasanya dengan beranggapan bahwa matahari telah terbenam, tetapi ternyata dugaannya tersebut salah (ternyata matahari belum tenggelam)

5. Bagi orang yang mendapat kejelasan kabar bahwa ketika pada hari yang dikiranya 30 Sya’ban ternyata sudah memasuki bulan Ramadhan.

6. Bagi orang yang kemasukan air, karena hal-hal yang TIDAK DISYARIATKAN (TIDAK DIPERINTAHKAN UNTUK DILAKUKAN) ketika berpuasa, seperti kemasukan air ketika berkumur, menghirup air ke hidung, dan mandi.

Keterangan bisa dibaca di kitab At Taqriirotus Sadiidah karya Al Habib Hasan bin Ahmad Al Kaff (beliau adalah murid Al Habib Zein Bin Smith Madinah) hal 455-457
(Maaf Tidak Saya tulis nash ibaratnya……………. !!!)

Dihalaman lain diterangkan :

Ketika seorang wanita suci dari haidh/nifas, seseorang yag tersadar dari gila, atau orang kafir yang masuk Islam di siang hari bulan Ramadhan, maka mereka semua DISUNNAHKAN IMSAK, hanya saja kasus bagi orang gila dan orang kafir diatas TIDAK ADA QODHO’ BAGI MEREKA.

HUKUM MASUKNYA AIR KE DALAM RONGGA (LUBANG) TUBUH DENGAN TIDAK SENGAJA KETIKA MANDI BAGI ORANG YANG BERPUASA.

Hukumnya diperinci :

1. Jika MANDINYA DISYARIATKAN, baik berupa mandi wajib ataupun sunnah, seperti Mandi Jinabat atau Mandi Jum’at, maka puasanya TIDAK BATAL jika mandinya dilakukan dengan cara ASH SHOBBU (MENUANGKAN AIR), namun puasanya BATAL jika dilakukakan dengan cara IN-GHIMAS (MENCEMPLUNGKAN/ MENYELAMKAN TUBUHNYA KE DALAM AIR).

2. Jika mandinya TIDAK DISYARIATKAN, seperti mandi hanya untuk mencari kesegaran atau mandi untuk membersihkan diri, maka PUASANYA BATAL secara muthlak.

Keterangan bisa dibaca di kitab At Taqriirotus Sadiidah karya Al Habib Hasan bin Ahmad Al Kaff (beliau adalah murid Al Habib Zein Bin Smith Madinah) hal 453-454 :

حكم دخول الماء أثنناء الغسل إلى جوفه بدون تعمد للصائم :
فيه تفصيل :

1. إذا كان الغسل مأمورا (مشروعا) فرضا كغسل جنابة أو سنة كغسل جمعة , فلا تبطل الصوم إذا اغتسل بالصب ويبطل إذا اغتسل بالانغماس

2. إذا كان الغسل غير مأمور به (غير مشروع) كغسل تبرد أو تنظيف فيبطل الصوم أذا سبقه الماء وإن لم يتعمد , سواء اغتسل بالصب أم بالانغماس

PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN ILMIYYAH

Ketika kita mandi, yang sering terjadi adalah masuknya air ke dalam lubang telinga. Sedang menurut madzhab Imam Syafi’i, semua lubang dalam tubuh (kecuali mata) adalah termasuk MANFADZ MAFTUHAH ILAL JAUF (LUBANG YANG SALURANNYA MENUJU KE DALAM LAMBUNG ATAU OTAK). Maka jelas masuknya ‘Ain (barang/benda), semisal air, ke dalam telinga akan membatalkan puasa seseorang. Namun yang menjadi permasalahan, hasil Ijtihad (yang tentunya di dasari pada Dhonn) para ulama tersebut bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Karena menurut penemuan dan penelitian kedokteran modern, TELINGA ITU BUKAN MANFADZ MAFTUHAH ILAL JAUF (LUBANG YANG SALURANNYA MENUJU KE DALAM LAMBUNG ATAU OTAK) dan Justru MATA itu termasuk MANFADZ MAFTUHAH ILAL JAUF (LUBANG YANG SALURANNYA MENUJU KE DALAM LAMBUNG ATAU OTAK). Keterangan bisa dibaca di kitab At Taqriirotus Sadiidah karya Al Habib Hasan bin Ahmad Al Kaff (beliau adalah murid Al Habib Zein Bin Smith Madinah) hal 452 :

التقريرات السديدة في المسائل المفيدة (ص 452)
وقد أثبت الطب الحديث أن للعين منفذا مفتوحا للجوف وأن ليس للأذن منفذا مفتوحا

Sedangkan Kaidah Fiqh pun menyebutkan :

فتح المعين – (ج 1 / ص 115)
لأن الاعتبار في العبادات بما في ظن المكلف وبما في نفس الأمر

Yang dijadikan acuan dalam masalah peribadatan adalah Dhonn seorang Mukallaf dan kenyataan yang terjadi.

Lalu bagaimana kita menyikapi antara DHONN PARA ULAMA MUJTAHID diatas dengan KENYATAAN YANG TERJADI ??????

Keterangan tambahan :

Memang benar TIDAK SEMUA ULAMA SYAF’IYYAH sepakat mengenai STATUS TELINGA dimasukkan ke dalam kategori MANFADZ MAFTUHAH ILAL JAUF (LUBANG YANG SALURANNYA MENUJU KE DALAM LAMBUNG ATAU OTAK), karena IMAM GHOZALI justru menyatakan sebailknya. Keterangan bisa dibaca di kitab At Taqriirotus Sadiidah karya Al Habib Hasan bin Ahmad Al Kaff (beliau adalah murid Al Habib Zein Bin Smith Madinah) hal 452 :

التقريرات السديدة في المسائل المفيدة (ص 452)
قوله : (منفذ مفتوح) خرج به : إذا وصلت العين إلى الجوف من منفذ غير مفتوح كالدهن ونحوه بتشرب المسام . وكل المنافذ مفتوحة في مذهب الإمام الشافعي إلا العين , وكذالك الأذن عند الأمام الغزالي

DISUNNAHKAN MANDI PADA SETIAP MALAM-MALAM RAMADHANTermasuk kesunahan-kesunahan PUASA dan RAMADHAN yang ke delapan :الإغتسال كل لبلة من ليالي رمضان بعد المغرب لكي ينشط للقيام”Mandi pada setiap malam dari malam-malam bulan Ramadhan (yg dilakukan) setelah Maghrib agar TRENGGINAS UNTUK MELAKUKAN QIYAM (SHOLAT TERAWEH).”(At Taqriirot As Sadiidah, Hasan bin Ahmad Al Kaff Hal 445)

HUKUM MASUKNYA BENDA KE DALAM TUBUH MELALUI JARUM SUNTIK / INFUS BAGI ORANG YANG BERPUASA

Ada 3 Qoul ulama :1. Menurut satu pendapat : BISA MEMBATALKAN PUASA DENGAN MUTHLAQ, karena jarum suntik tersebut melewati Jauf (lubang)2. Menurut satu pendapat : TIDAK MEMBATALKAN PUASA SECARA MUTHLAQ, karena jarum suntik tersebut melewati Jauf namun bukan dari MANFADZ MAFTUHAH (lubang yang salurannya menuju ke dalam lambung atau otak)3. Menurut pendapat yang ASHOH (Paling Shohih) diperinci :

Apabila jarum suntik tersebut membawa Mughoddzdziyah (bahan/sari-sari makanan), maka MEMBATALKAN PUASA.

Apabila bukan Mughodzddziyah, maka dilihat dulu :

– Apabila berada di ‘Uruq Mujawwafah (urat yang berlubang/berongga) seperti pembuluh darah, maka MEMBATALKAN PUASA.

– Apabila berada di ‘Uruq Ghoiru Mujawwafah (urat yang buntu) seperti otot, maka TIDAK MEMBATALKAN PUASA.

Keterangan bisa dibaca di kitab At Taqriirotus Sadiidah karya Al Habib Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim Al Kaff hal 452 :

مسائل في وصول العين إلى الجوف :
حكم الأبرة : تجوز للضرورة , ولكن اختلفوا في إبطالها للصوم على ثلاثة أقوال :
1. وفي قول : إنها تبطل مطلقا لأنها وصلت إلى الجوف
2. وفي قول إنها لا تبطل مطلقا لأنها وصلت إلى الجوف من غير منفذ مفتوح
3. وقول فيه تفصيل – وهو الأصح – إذا كانت مغذية فتبطل الصوم , وإذا كانت غير مغذية فننظر :
إذا كان في العروق المجوفة – وهي الأوورده – فتبطل
وإذا كان في العضل – وهي العروق غير المجوفة – فلا تبطل

REDAKSI NIAT PUASA YG AKMAL (PALING SEMPURNA)
Niat puasa yang sempurna (tidak diperselisihkkan mengenai ke-sah-annya) adalah sbb :”NAWAITU SHOUMA GHODIN ‘AN ADAA-I FARDHI ROMADHOONI HAADZIHIS SANATI LILLAHI TA’AALA.”Keterangan bisa dibaca disini :فتح المعين – (ج 2 / ص 225)
( وأكملها ) أي النية ( نويت صوم غد عن أداء فرض رمضان ) بالجر لإضافته لما بعده ( هذه السنة لله تعالى ) لصحة النية حينئذ اتفاقاYang lebih baik lafadz “ROMADHOON” dibaca Jer (Memakai alamat kasroh, jadi bacanya “ROMADHOONI”)Keterangan dan alasan bisa dibaca disini :

( قوله بالجر لإضافته لما بعده ) أي يقرأ رمضان بالجر بالكسرة لكونه مضافا إلى ما بعده وهو اسم الإشارة
قال في التحفة واحتيج لإضافة رمضان إلى ما بعده لأن قطعه عنها يصير هذه السنة محتملا لكونه ظرفا لنويت فلا يبقى له معنى فتأمله فإنه مما يخفى
اه
ووجهه أن النية زمنها يسير فلا معنى لجعل هذه السنة ظرفا لها

Redaksi Niat diatas sunnah ditambahkan lafadz :

“IIMAANAN WAHTISAABAN LI WAJHIL KARIIMI AZZA WA JALLA.”

Jadi lengkapnya begini :

“NAWAITU SHOUMA GHODIN ‘AN ADAA-I FARDHI ROMADHOONI HAADZIHIS SANATI LILLAHI TA’AALA IIMAANAN WAHTISAABAN LI WAJHIL KARIIMI AZZA WA JALLA.”

Keterangan bisa dibaca disini :

إعانة الطالبين – (ج 2 / ص 225)
وفي البرماوي ويسن أن يزيد إيمانا واحتسابا لوجه الله الكريم عز وجل
اه

PERTANYAAN SEPUTAR RAMADHAN

KAPAN MASUKNYA KESUNAHAN WAKTU SAHUR ???

JAWAB :

إعانة الطالبين – (ج 2 / ص 245)
( والحاصل ) أن السحور يدخل وقته بنصف الليل فالأكل قبله ليس بسحور فلا يحصل به السنة

Walhasil waktu masuknya Sahur adalah SEPARUH MALAM, maka makan sebelum waktu tersebut TIDAK DINAMAKAN SAHUR DAN TIDAK DIHASILKAN KESUNAHAN.

Ket : Jadi semisal Malam dimulai Jam 18.00 (6 malam) dan diakhiri jam 4.00, maka separuh malam di mulai pada jam 23.00 alias jam 11 malam.

KAPAN WAKTU AFDHOL UNTUK SAHUR ???

JAWAB :

إعانة الطالبين – (ج 2 / ص 245)
والأفضل تأخيره إلى قرب الفجر بقدر ما يسع قراءة خمسين آية

Waktu yang paling AFDHOL adalah MENGAKHIRKAN SAHUR HINGGA MENDEKATI FAJAR dengan ukuran yang memuat pembacaan 50 ayat (Al Quran).

Ket : Pembacaan 50 ayat (biasanya yg dijadikan acuan adalah ayat dalam surat al Baqarah, jadi yang dimaksud adalah ayat yang panjang) itu bila dibaca oleh orang yang yang lancar membaca Al Quran, dibutuhkan waktu sekitar 15 menit. jadi seandainya Adzan Subuh itu jam 04.00, maka waktunya adalah jam 03.45. Bisa juga dibaca keterangannya di kitab at Taqriirot as Sadiidah :

تأخير السحور بحيث لا يفحش التأخير ويمسك ندبا عن الأكل قبل الفجر بنحو خمسين آية (ربع ساعة) إهـ التقريرات السديدة فى المسائل المفيدة ص : 444

Mengakhirkan sahur sekiranya tidak melewati batas akhir. dan sunnah IMSAK (menahan diri) dari makan sebelum Fajar sekitar 50 ayat yaitu seperempat jam.

APAKAH TA’JIILUL FITHRI (MENYEGERAKAN BERBUKA) DENGAN CARA JIMA’ (BERSETUBUH) BISA MENDAPATKAN KESUNAHAN ????

JAWABAN :

Menurut pendapat yg Mu’tamad TIDAK BISA MENDAPATKAN KESUNAHAN. Keterangan bisa di baca di kitab Nihayatuz Zain :

نهاية الزين – (ج 1 / ص 194)
والمعتمد عدم حصول سنة التعجيل بالجماع لما فيه من إضعاف القوة

Menurut pendapat Mu’tamad (yang dapat dijadikan pegangan) kesunahan menyegerakan berbuka puasa itu tidak bisa dihasilkan dengan cara bersenggama, karena itu dapat melemahkan kekuatan (orang yang berpuasa).

Ket : Jadi menurut keterangan diatas, pendapat yang kuat KESUNAHAN TIDAK DI DAPAT.

Namun ada keterangan dalam kitab I’anatuth Tholibin, Tuhfatul Muhtaj, Tuhfatul Habib, Hasyiyah Syarwaniy dll :

إعانة الطالبين – (ج 2 / ص 247)
فإن لم يجد إلا الجماع أفطر عليه وقول بعضهم لا يسن الفطر عليه محمول على ما إذا وجد غيره

Maka apabila dia tidak menemukan sesuatu kecuali bersenggama, maka ia boleh membatalkan puasanya dengan senggama. Sedang ucapan sebagian ulama yang berpendapat “tidak disunnahkan berbuka puasa dengan cara senggama” itu di arahkan pada pemahaman jika ia tidak menemukan perkara lainnya (yang digunakan untuk berbuka).

Ket : Menurut pendapat ini, KESUNAHAN MASIH BISA DI DAPAT KALAU MEMANG TIDAK MENEMUKAN SESUATU LAIN YG DIGUNAKAN UNTUK MEMBATALKAN PUASA.

FIQH SHIYAM LINNISA’

Kemarin ada yang bertanya :

Ada wanita mengalami Haidh selama 7 hari, lalu suci, pada hari ke 8 dan 9 dia berpuasa Romadhon, ternyata pada hari ke 10 darahnya keluar lagi.

Pertanyaan : Apakah puasa yang sudah dijalani pd hari ke 8 dan 9 itu juga wajib di Qodho’ juga ?????

JAWAB : YA, PUASANYA WAJIB DI QODHO MENURUT QOUL YANG MUKTAMAD, karena mengikuti QOUL SAHBI (yang menghukumi masa suci yang menyelingi masa Haidh adalah HAIDH pula).

~ Sebener sich,,, Ana kacian ma si doi (Wanita yg bertanya),, harus Qodho’ juga…. Karena sebenere kalo mengikuti QOUL LAQTHI (yang menghukumi masa suci yang menyelingi masa Haidh adalah SUCI pula) dia gak perlu capek2 menggodho’ puasanya… !!!!!!

Ibarat :

فتح العلام ج 1 ص 398

اختلف العلماء في النقاء المتخلل بين دماء أكثر الحيض أو غالبه , فقيل حكمه حكم الحيض وقيل حكم الطهر . والأول يسمى قول السحب لأنه سحبنا الحكم بالحيض على النقاء وجعلنا لكل حيضا وهو المعتمد . والثاني يسمى قول اللقط لأنه لطقنا أوقات النقاء وجعلناها طهرا.

Namun karena ini persoalan Ifta’ (yg saya nukil dari ulama) maka terpaksa saya WAJIB MENAMPILKAN QOUL YG ROJIH DIATAS.

Ket :

بغية المسترشدين – (ج 1 / ص 582)
(مسألة : ب) : ليس للقاضي أو المفتي العدول عن نص إمامه ، فينقض حكم كل من خالف إمامه ، وألحق به في التحفة حكم غير متبحر ، بخلاف المعتمد عند أهل مذهبه ، ونقل ابن الصلاح الإجماع على أنه لا يجوز الحكم بخلاف الراجح في المذهب ، واعتمده المتأخرون كابن حجر و (م ر) وابن زياد والخطيب والمزجد وأبي مخرمة وأبي قشير والأشخر وغيرهم ، وصرّح به السبكي بل جعله من الحكم بغير ما أنزل الله تعالى ، لأنه أوجب على المجتهدين أن يأخذوا بالراجح

SHOLAT TARAWIH

Kalo Qt terpaksa melaksanakan sholat Teraweh 8 Rokaat (heheheheheh………..)
Jangan sampai melaksanakan Sholat Teraweh dengan cara 4 rokaat satu salam…… !!!!

Karena menurut keterangan para ulama dalam literatur kitab2 fiqh,, Sholat teraweh dengan cara 4 rokaat satu salam itu hukumnya TIDAK SAH….. !!!

Mengapa demikian ??? Karena menurut para ulama, keterangan tata cara Sholat Teraweh yang “WARID” di dalam hadis- hadis adalah demikian.

Keterangan bisa dilihat disini :

فتح المعين – (ج 1 / ص 265)
ويجب التسليم من كل ركعتين فلو صلى أربعا منها بتسليمة لم تصح

Disini juga :

نهاية الزين – (ج 1 / ص 114)
ولا يصح أن يصلي أربعا منها بسلام بل لا بد أن يكون كل ركعتين منها بسلام لأنها وردت كذلك

Hanya saja kalo dia tidak tau atau tidak sengaja, maka hukum sholat yg sudah dijalaninya berubah menjadi Sholat Sunnah Muthlaq.

Keterangan bisa dibaca disini :

إعانة الطالبين – (ج 1 / ص 265)
( وقوله لم تصح ) أي أصلا إن كان عامدا عالما وإلا صحت له نفلا مطلقا

NIAT SHOLAT WITIR

Bagi yang biasa melaksanakan Sholat witir 3 Rokaat dengan cara 2 Rokaat Salam dan 1 rokaat salam, kami sarankan untuk tidak berniat seperti ini :
Usholli Sunnatal Witri Roktaini…… Atau Usholli Rok’ataini Witron……

Karena, menurut keterangan Syekh Nawawi Al Bantani dalam Kitab Nihayatuz Zein, niat seperti ini adalah TIDAK SAH…..
Silahkan dibaca :

نهاية الزين – (ج 1 / ص 101)
ولا يصح أن ينوي بالركعتين وترا لأنهما شفع لا وتر

Jadi yang benar niatnya begini :  “Usholli Sunnatal Rok’ataini minal Witri…………”
Sedang yang satu rokaat boleh niat begini :  “Usholli Sholatal Witri Rok’atan…….” Atau “Usholli Rok’atan minal Witri………… ”

MEMBAYAR ZAKAT

Bagi kaum muslimin yang bersiap –siap akan membayar FIDYAH atau ZAKAT FITRAH bisa merujuk ke beberapa VERSI KONVERSI ukuran di bawah ini :

1 MUD beras putih menurut kitab Fathul Qodir = 679,79 Gr
1 MUD menurut Asy Syafi’i , Fuqoha Hijaz dan Ash Shohibain = 573,75 Gr
1 MUD menurut Abu Hanifah dan Fuqoha’ Iraq = 950 Gr

Ukuran FIDYAH yang harus dibayarkan ketika seseorang meninggalkan puasa adalah sebesar 1 MUD per harinya, sedang ukuran ZAKAT FITRAH yang harus dibayarkan adalah 4 MUD per kepala.

Jadi besarnya ZAKAT FITRAH per kepala yang harus dibayarkan menurut beberapa versi ukuran diatas :

Menurut kitab Fathul Qodir : 679,79 Gr x 4 MUD = 2,71916 Kg
Menurut Asy Syafi’i , Fuqoha Hijaz dan Ash Shohibain : 573,75 Gr x 4 MUD = 2,295 Kg
Menurut Abu Hanifah dan Fuqoha’ Iraq : 950 Gr x 4 MUD = 3,8 Kg

Perlu diketahu, Zakat Fitrah HARUS BERUPA BAHAN MAKANAN POKOK DAERAH SETEMPAT. Dan menurut Jumhur Ulama TIDAK BOLEH DIBAYAR DENGAN QIMAHNYA (NILAI NOMINALNYA), semisal dengan uang, namun menurut Imam Abu Hanifah DIPERBOLEHKAN.

Keterangan bisa dibaca disini :

فتح المعين – (ج 2 / ص 198)
ولا دفع القيمة في غير مال التجارة ولا دفع عينه فيه
ونقل عن عمر وابن عباس وحذيفة رضي الله عنهم جواز صرف الزكاة إلى صنف واحد وبه قال أبو حنيفة ويجوز عنده نقل الزكاة مع الكراهة ودفع قيمتها
وعين مال التجارة

الفقه الإسلامي وأدلته – (ج 3 / ص 283-284)
2 – دفع القيمة في الزكاة:
أ ـ قال الحنفية (1) تفريعاً على مبدئهم أن الواجب في الزكاة جزء من النصاب إما صورة ومعنى، أو معنى فقط: يجوز دفع القيمة في الزكاة، وكذا في العشر والخراج وزكاة الفطرة والنذر والكفارة غير الإعتاق …….. إلى أن قال :
ب ـ وقال الجمهور (2) : لا يجزئ إخراج القيمة في شيء من الزكاة؛ لأن الحق لله تعالى، وقد علقه على ما نص عليه،

Namun yang perlu diketahui dan diperhatikan, apabila kita mengikuti Madzhab Imam Abu Hanifah dalam membayar Zakat dengan memakai uang, MAKA BESAR UKURAN STANDART KONVERSI MUD YANG DIPAKAI JUGA HARUS MENGGUNAKAN STANDART YANG SESUAI DENGAN KRITERIA VERSI BELIAU (yaitu 950 Gr x 4 MUD = 3,8 Kg).

PERHATIAN : Yang sering terjadi di daerah kita, MEREKA MEMBAYAR ZAKAR PAKE UANG TAPI MASIH DENGAN MENGGUNAKAN NOMINAL YANG CUMA SETARA DENGAN BERAS 2,5 Kg. Maka menurut Kami, hal ini adalah termasuk perkara TALFIQ dalam masalah Intiqol (pindah) Madzhab. Karena mereka hanya mengambil perkara yang meringankan dalam satu Qodhiyah hukum saja…. !!!

Nb : Konversi ukuran-ukuran diatas kami nukil dari “Kitab Mengenal Istilah dan Rumus Fuqoha’, hasil karya Santri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan adalah bulan bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah: 185)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Wallohu A’lam

Source: Ust. Dody El-Hasyimi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s