AHLAK NABI TERHADAP GENERASI SHAHABAT KETIKA MELAKUKAN KESALAHAN/ DOSA

Posted: Agustus 4, 2014 in AMAL GENERASI SALAF, SUNNAH - ADAB & NASIHAT

Persaudaraan

Satu yang harus diketahui bahwa Allah swt menjadikan para sahabat ridhwanullah ‘alaihim tidak dalam keadaan yang makshum (terjaga dari kesalahan). Justru Allah swt menjadikan mereka semua manusia yang bisa bersalah sebagai teladan bagi umat setelahnya, serta memperlihatkan kepada kita contoh terbaik dari lingkungan generasi terbaik.

Kesalahan yang ada dan dilakukan oleh para sahabat ridhwanullah ‘alaihim adalah bentuk kesempurnaan kebaikan yang Allah swt anugerahkan kepada mereka, dan bukan sebuah aib bagi mereka.

Bagaimana?

Seandainya Allah swt menjadikan para sahabat terjaga dari kesalahan, tidak ada dari mereka yang berbuat pelanggaran syariah, lalu dari mana kita belajar bagaimana caranya ber-muamalah dan berinteraksi dengan pelanggar syariah? Dengan pelaku maksiat?

Kita adalah umat yang bisa salah bahkan sering melakukan kesalahan dan pelanggaran syariah. Lalu Bagaimana kita menyikapi ketika terjadi pelanggaran syariah lingkungan kita kalau lingkungan generasi yang menjadi panutan; lingkungan sahabat tidak ada dari mereka yang berbuat salah?

Itu hikmah kenapa Allah swt tidak menjadikan para sahabat itu makshum, agar kita mengerti dan tahu bagaimana tuntunan yang baik menghadapi seorang pelaku maksiat dan dosa.

Kita sangat tahu dan sangat hapal beberapa riwayat tentang sahabat yang berzina, ada juga sahabat yang berhubungan suami istri di tengah hari Ramadhan, ada sahabat yang meminum khamr, ada juga dari mereka yang melakukan pelanggaran syariah lainnya.

Untuk apa? untuk kita tahu dan belajar bagaimana contoh terbaik dari generasi terbaik dan manusia terbaik untuk mensikapi saudara kita yang melakukan kesalahan.

Jangan Jadi Penolong Setan

Salah satu kisah yang dicontohkan oleh Nabi saw dalam mensikapi orang yang berbuat salah ialah kisah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a dalam shahih al-Bukhari (Bab hudud, No. 6283) tentang salah seorang sahabat yang meminum khamr.

Setelah dicambuk oleh Nabi saw, sang peminum khamr pulang dan ketika melewati para sahabat yang menyaksikan pecambukan, beberapa sahabat mencacinya, menghardiknya dan menghinanya sebagai pendosa, dan melaknatnya, serta mendoakannya jauh dari rahmat Allah swt.

Mendengar hinaan yang diucapkan para sahabat itu, Rasul langsung menegurnya dan mengatakan:

لاَ تَكُونُوا عَوْنَ الشَّيْطَانِ عَلَى أَخِيكُمْ

“janganlah kalian jadi penolong setan atas saudaramu itu!”

Dalam riwayat yang lain (shahih al-bukhari, No. 6282) dalam pristiwa yang sama. Ketika mendengar cacian, hinaa dan laknat yang dilayangkan para sahabat lain kepada peminum khamr tersebut, Rasul saw mengatakan:

لَا تَلْعَنُوهُ فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“jangan kalian laknat dia!!! Demi Allah! Sungguh aku tidak mengetahuinya kecuali dia memang benar cinta Allah swt dan Rasul-Nya”

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Baari (12/67) menjelaskan maksud “jangan jadi penolong setan!”, beliau katakan:

“Setan ingin menggoda dan menghiasi manusia dengan kemaksiatan. Ketika sudah bermaksiat, maka akan timbul orang lain yang marah, karena marah ia akan mencacinya, menghinanya serta melaknatnya. Dan itulah tujuan setan, mendoakan keburukan. Jadi orang yang menghina pendosa itu seakan-akan telah mengimplemetasikan tujuan setan, karena itu disebut penolongnya. Dan ini jelas bahwa dilarang mendoakan keburukan bagi mereka para pelaku kesalahan.”

Pelajaran

Dari peristiwa sahabat yang meminum khamr, kita bisa ambil pelajaran:

1] Kita belajar tentang bagaimana hukuman minum khamr dan penegakan hukuman bagi mereka yang melanggar hadd (hukum) dengan dicambuknya ia oleh Nabi saw.

2] Kita tahu bagaimana bersikap kepada pelaku dosa, yaitu tetap beramah dan santun. Tidak menghardiknya, melaknatknya dan juga tidak mendoakannya keburukan, tiak juga menjauhkannya dari rahmat Allah swt. sebagaimana larangan Nabi kepada para sahabat yang menghina. Justru kita harus mengajaknya kepada kebenaran dengan santun, karena ia berada di jalan yang salah mestinya diajarkan mana yang benar makin dijatuhkan dengan cacian dan hinaan yang justru malah membuat ia maki enggan bergaul dengan mereka yang ‘katanya’ rajin ibadah tapi malah mencacinya.

3] Allah swt pun menakdirkan ada sahabat lain yang menghina supaya kita tahu bagaimana caranya bersikap kepada mereka yang menghina pendosa untuk kita tidak menghina balik.

4] –ini yang terpenting- kita tidak diajarkan untuk buta akan kebaikan yang telah lakukan hanya karena ia berbuat kesalahan. Lihat bagaimana Nabi sawt justru memuja peminum khamr tersebut dengan mengatakan: “Ia adalah orang yang cinta Allah san Rasul-Nya!”. dengan pujian itu ai jadi malu untuk berdosa lagi dan akhirnya terus makin membaik dan jadi orang shalih. Bukan dihina yang akhirnya malah terus jauh dari ketaatan kepada Allah swt.

Ia jelas-jelas peminum khamr, tapi Rasul saw tidak menutupi kebaikannya bahwa ia adalah orang yang cinta kepada Allah swt dan Nabi-Nya. sehingga ia merasa diterima dan termotivasi untuk terus beribadah dan menutupinya keburukannya dengan ketaatan yang banyak. Dan akhirnya ia benar-benar meninggalkan kebiasaan minum khamr-nya tersebut.

Kita Juga [Pasti] Pendosa

Ini yang kita pelajari dari Rasul saw dan dari lingkungan generasi muslim terbaik; generasi sahabat bagaimana bersikap kepada mereka yang melakukan kesalahan dan dosa.

Jadi kesalahan yang ia lakukan itu bukan berarti legalitas untuk kita bisa menghina dan mencacinya serta menutup mata bahwa ia punya banyak kebaikan di balik kesalahan yang ia lakukan itu. Akhirnya kita tetap bisa berhusnu-dzon kepada sesama muslim dan terjaga dari su’u-dzon.

Dengan melihat kebaikan satu sama lain, itu yang membuat kita semakin cinta dengan yang lain. Karena adanya cinta ini, kita makin bisa dan mampu mengajak orang lain –walaupun pendosa- kepada jalan kebenaran. Karena tidak mungkin kita mengajak orang lain kepada Allah swt yang maha Cinta namun dengan jiwa yang murka. Bagaimana bisa murka mengajak kepada cinta?

Kita juga harus sadar bahwa kita adalah makhluk biasa yang pasti bersalah dan melakukan dosa. Bayangkan jika kita dala posisi pendosa itu, dihina, dicaci, dilaknat, apakah kita menginginkan itu semua? Ataukah kita ingin kesalahan kita dimaafkan? Begitu juga ia yang melakukan kesalahan. Tidak ada seorang pun yang cuka dicaci dan dihina, semua ingin dimengerti dan dipahami.

Jadi bersikap santun jauh akan lebih baik dan lebih melunakan hati yang keras dibanding dengan sikap kasar dan serampangan. Dan memang begitulah harusnya berdakwa, tetap menjaga kesantunan. Orang yang bersalah itu harus diajarkan bukan terus-terusan disalahkan.

Tetap Santun

Kisah menarik yang terkait masalah di atas ialah sebagaimana yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah (10/217) tentang pemuda yang mendatangi khalifah Harun al-Rasyid yang ketika itu sedang berthawaf di masjidil-haram dan memarahinya dengan suara yang keras.

Mungkin ada salah satu kebijakan khalifah Harun al-Rasyid yang merugikan dia beserta kaumnya atau ada kesalahan lain yang dilakukan oleh Harun al-Rasyid yang ketika itu memang menjabat sebagai Amirul-Mukminin.

Tapi dengan tenang Harun al-Rasyid menjawab luapan amarah pamuda tersebut setelah membuatnya tenang dan tidak marah lagi:

قَدْ بَعَثَ اللَّهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ إِلَى مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنِّي فَأَمَرَهُ أَنْ يَقُولَ لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا

“Allah swt telah mengutus orang yang jauh lebih baik dari anda untuk memberi peringatan kepada orang yang jauh lebih buruk dari saya. Dan Allah memerintahkan ornag tersebut untuk berkata ramah dan santun.”

Maksud kata-kata khalifah tersebtu ialah bahwa Allah swt telah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun dan mereka tentu jauh lebih baik dari anak muda itu, untuk memberi peringatan kepada Fir’aun yang mana jauh lebih buruk daripada Harun al-Rasyid. Dan Allah swt tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berkata yang santun.

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Thaaha: 44)

-wallahu a’lam-

Ahmad Zarkasih, Lc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s