ISBAL DALAM TINJAUAN USHUL FIQH

Posted: Agustus 4, 2014 in MADZHAB & KHILAFIYAH, SUNNAH - ADAB & NASIHAT, TAFSIR & QOUL ULAMA
Tag:

Mufti Saudi Isbal

Saat halaqah kajian ushul fiqh di Bina Insan Kamil (BIK), kami pernah membahas masalah isbal ketika berpapasan dengan bab “Muthlaq dan Muqayyad.” Namun sebelum menyinggung masalah isbal, ada baiknya saya paparkan dulu pengertian Muthlaq dan Muqayyad (bagi yang belum faham) dari rujukan awal kami yakni kitab “Al Ushul Min Ilmil Ushul” karya Syaikh Utsaimin -rahimahullah. Yang saya kutip berasal dari terjemahannya dalam bahasa Indonesia halaman 69-

MUTHLAQ

Secara bahasa adalah lawan dari muqayyad.

Dan secara istilah;

ﻣﺎ ﺩﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﳊﻘﻴﻘﺔ ﺑﻼ ﻗﻴﺪ

“Apa-apa yang menunjukkan atas hakikat tanpa ikatan”

Sebagaimana firman ALLAH Ta’ala,

فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا

“maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur.” (QS. Al Mujadilah: 3)

Yang menjadi nash muthlaq di sini adalah kata raqabatun yang artinya seorang budak, dalam bentuk ishim naakirah (objeknya belum diketahui). Sehingga yang dimaksud dalam nash di atas adalah setiap manusia yang berstatus sebagai budak, tidak di-qayyid (diikat) dengan persyaratan tertentu, yang penting budak namun jumlah cukup satu saja. Budak yang mana saja boleh dimerdekakan tapi bilangannya berbatas yakni satu saja.

MUQAYYAD

Secara bahasa adalah apa saja yang bisa dijadikan sebagai ikatan.

Dan secara istilah:

ﻣﺎ ﺩﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﳊﻘﻴﻘﺔ ﺑﻘﻴﺪ

“Apa-apa yang menunjukkan hakikat dengan ikatan”

Sebagaimana firman ALLAH Azza wa Jalla,
فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ

“(hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman” (QS. An Nisa’: 92)

Nash di atas mirip dengan ayat sebelumnya (surat Al Mujadilah -pen) yakni perintah untuk memerdekakan budak dikarenakan adanya suatu pelanggaran syari’at yang dilakukan. Bedanya, di ayat ini, ALLAH menggunakan na’at-man’ut (sifat-mensifati) dalam menuliskan raqabatun (seorang budak) yakni dengan menggandengnya dengan sifat mu’minatun (yang beriman) yang fungsinya menjadi taqyid (pengikat). Sehingga tidak sembarang budak yang boleh dimerdekakan. Budaknya haruslah yang mukmin atau yang beriman.

Muqayyad inilah yang menjadi pembatas dari kemutlakan sebuah dalil. Dan wajib beramal dengan nash yang mutlak berdasarkan kemutlakannya kecuali jika ada dalil yang men-taqyid-nya (mengikatnya), karena beramal dengan nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah adalah wajib berdasarkan atas apa-apa yang menjadi konsekuensi penunjukkan-penunjukannya sampai ada dalil yang menyelisihi hal itu. Dengan demikian, jika sebuah dalil memiliki qayyid, maka kemutlakannya harus dibawa kepada pengikatnya ini. Kaidahnya, hamlul muthlaq ilal muqayyad (dalil yang muthlaq mesti dibawa/dipahami kepada dalil yang mengikatnya/mengkhususkannya).

ISBAL (versi 1)

Dalam masalah isbal, adanya ikhtilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama terkait hukumnya disebabkan kaidah ushul dalam memandang muthlaq dan muqayyad ini. Teks-teks hadits yang menjadi perdebatan adalah sebagai berikut,

Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:

من جر ثوبه خيلاء ، لم ينظر الله إليه يوم القيامة . فقال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي ، إلا أن أتعاهد ذلك منه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لن تصنع ذلك خيلاء . قال موسى : فقلت لسالم : أذكر عبد الله : من جر إزاره ؟ قال : لم أسمعه ذكر إلا ثوبه

“Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh ALLAH pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata, ‘Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Engkau tidak melakukan itu karena sombong’. Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz, ‘barangsiapa menjulurkan kainnya’? Salim menjawab, yang saya dengar hanya, ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya’. ” (HR. Bukhari 3665, Muslim 2085)

بينما رجل يجر إزاره من الخيلاء خسف به فهو يتجلجل في الأرض إلى يوم القيامة

“Ada seorang lelaki yang kainnya terseret di tanah karena sombong. ALLAH menenggelamkannya ke dalam bumi. Dia meronta-ronta karena tersiksa di dalam bumi hingga hari Kiamat terjadi.” (HR. Bukhari, 3485)

لا ينظر الله يوم القيامة إلى من جر إزاره بطراً

“Pada hari Kiamat nanti ALLAH tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong.” (HR. Bukhari 5788)

Semua hadits shahih di atas, menunjukkan adanya qayyid (ikatan) dari kemutlakan larangan isbal, yakni karena adanya kesombongan. Jika ditinjau dari segi muthlaq dan muqayyad-nya, maka wajib baginya untuk dibawa kepada pemahaman muqayyad-nya, yakni terlarang isbal (pakaian di bawah mata kaki) apabila disertai kesombongan.

Sehingga, kesimpulan awal yang diambil berdasarkan kaidah ushul tersebut, bahwasannya isbal disepakati keharamannya apabila disertai dengan sifat khuyala’ (sombong). Bila tidak sombong, maka ia tidak mengapa melakukan isbal.

ISBAL (versi 2)

Saya tidak mengambil pendapat yang berseliweran di internet terkait pembelaan terhadap keharaman isbal secara muthlaq, yakni diyakini terlarang baik dengan sombong maupun tidak sombong. Saya mengambil dari salah satu kaidah ushul fiqh yang lain dalam membuat penyoalan terkait isbal di versi ke-2 ini.

Pendapat versi ke-2 ini, saya ambil berdasarkan kaidah sifaatun kaasyifah (sifat yang mengungkapkan tentang hakikat) dan sifaatun muqayyidah (sifat yang dibatasi). Berikut penjelasannya;

Tidak semua keterangan atau nash itu memiliki sifat muqayyidah walau zhahir-nya kelihatan seperti memiliki qayyid.

Misalnya ALLAH Ta’ala berfirman,

وَ مَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلٰهاً آخَرَ لا بُرْهانَ لَهُ بِهِ

“Dan barangsiapa yang menyeru pula bersama dengan menyeru ALLAH, akan Tuhan yang lain, padahal tidak ada keterangan­nya baginya sedikit pun.” (QS. Al Mu’minun: 117)

Ayat di atas tidak akan pernah membenarkan kebolehan menyembah Tuhan selain ALLAH, kendati -misalnya- ada dalil atau keterangan (burhaan) baginya. Karena memang tidak akan pernah ada keterangan semacam itu dalam nash Qur’an dan as Sunnah. Sehingga ia menjadi kalimat dengan sifaatun kasyifah, yang sifatnya menguatkan pendapat di kalimat sebelumnya, bukan menjadi pengikat (qayyid).

Contoh lain adalah firman ALLAH Subhanahu wa Ta’ala,

وَلا تُكْرِهُوا فَتَياتِكُمْ عَلَى الْبِغاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّناً لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَياةِ الدُّنْيا

“…Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran jika mereka menginginkan kesucian, demi mencari keuntungan duniawi…” (An Nur: 33).

Ayat ini juga tidak membenarkan untuk menjadikan wanita seorang pelacur, kendatipun mereka (wanita-wanita itu) sendiri yang tidak menghendaki kesucian mereka. Sehingga hal ini tidaklah menjadi qayyid tetapi sifaatun kasyifah, bahwasannya pada umumnya wanita menjadi pelacur karena mereka tidak menginginkan kesucian dan juga karena dipaksa.

Juga firman ALLAH Jalla wa ‘Aala,

لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً

“…janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda…” (QS. Ali Imran: 130)

Apakah lantaran jika tidak dengan berlipat ganda, lantas ALLAH memperbolehkan kita memakan harta riba? Dengan berlipat ganda di sini tidak dimaksudkan sebagai qayyid (pengikat) tetapi sebagai sifaatun kasyifah (sifat yang menegaskan hakikat). Karena biasanya, orang memakan riba itu dengan berlipat ganda.

Dan pada firman ALLAH Ta’ala,
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ

“Sesungguhnya taubat di sisi ALLAH hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran tidak mengetahui.” (QS. An Nisa: 17)

Ayat ini pun tidak menyatakan bahwa apabila orang ‘alim (yang mengetahui dan berilmu) yang mengerjakan kejahatan, maka ia bebas dari taubat atau tidak perlu bertaubat lagi. Ini hanya penegasan (sifaatun kasyifah) bahwasannya orang melakukan kejahatan umumnya adalah dikarenakan tidak mengetahui atau bodoh (jahil dalam ilmu agama).

Jika meninjau kembali pada hadits isbal yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa barangsiapa yang menjulurkan pakaiannya karena sombong, bisa jadi bukan merupakan sifaatun muqayyidah akan tetapi justru sifaatun kasyifah. Yang mana dalil ini menegaskan bahwasannya, kebanyakan orang yang melakukan isbal itu adalah atas dasar kesombongan. Sebagaimana Ibnu Hajar al Ashqalani -rahimahullah- mengisyaratkan, “Isbal itu melazimkan terjadinya menjulurnya pakaian, dan menjulurkan pakaian melazimkan terjadinya kesombongan, walau pun pemakainya tidak bermaksud sombong.”

‘Alaa kulli haal, yang demikian ini masih menjadi perdebatan panjang di antara para ulama. Note ini tidak dibuat untuk me-rajih-kan salah satu pendapat ulama, baik yang mengharamkan secara mutlak, maupun yang membolehkan dengan qayyid-nya. Hal ini saya paparkan demi mencari tambahan ilmu dalam meninjau suatu dalil berdasarkan kaidah ushul fiqh-nya, bagaimana membedakan antara dalil yang memang harus dikaitkan dengan muqayyad-nya atau yang sebenarnya berfaidah sifaatun kasyifah dalam nash-nya. Maka dari itu, dibutuhkan penjelasan lebih dari para asaatidz yang kebetulan membaca note ini demi mencari pemaparan yang lebih jelas dan rinci. ALLAHu’alam bish shawab wa shalli ‘alaa nabiyyina Muhammad.

Source: Ust. Faldy Nur Fattah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s