METODE MEMAHAMI HADITS MENURUT IMAM ABU HAMID AL GHAZALI Rah.

Posted: Agustus 4, 2014 in AMAL GENERASI SALAF, MADZHAB & KHILAFIYAH, MANAQIB & BIOGRAFI, MUTIARA HIKMAH, SUNNAH - ADAB & NASIHAT

ihya' ulumuddin

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, juz pertama, bagian awal, Imam Abu Hamid al Ghazaly rh menjelaskan 3 level dalam mempelajari hadits; yaitu level, 1) al Iqtishar, kemudian level 2) al Iqtishad, dan level 3) al Istiqsha.

Level pertama: al-Ikhtishar.
Pada level ini, seorang pengkaji hadits memfokuskan pengajiannya pada Kitab Shahih Bukhari dan Muslim, dengan membaca secara tuntas dan benar di hadapan seorang ahli dalam matan hadits. Di level ini, seorang murid tidak perlu menghafal nama-nama perawi hadits, namun ia cukup mengetahuinya dengan membaca tentang mereka dari kajian para ulama ahli tentang rijaal hadits, yang ditulis dalam kitab-kitab mereka. Demikian juga dia tidak harus menghafal matan-matan hadits Sahih Bukhari dan Shahih Muslim, namun ia cukup membacanya dan mempunyai kemampuan untuk mengakses matan tersebut saat dia perlukan.

Level Kedua: al Iqtishad. Atau level Pertengahan.
Pada level ini, seorang pengkaji hadits, menambahkan bacaannya atas Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim di hadapan ulama ahli matan hadits, dengan membaca kitab-kitab Sunan dan Musnad.

Level Ketiga: Level al Istiqshaa. Atau Level Tinggi (Advanced)
Pada level ini, seorang pengkaji Hadits, setelah melalui dua level di atas, dia juga kemudian mempelajari semua hadits, baik yang dinilai dha’if maupun kuat, yang Sahih juga yang ber’illat,
sambil menelusuri jalan-jalan periwayatan yang banyak, dan mengetahui kondisi para rijaal sanad, nama-nama mereka, serta kedudukan mereka (menurut para ulama jarh wat ta’dil).

Tahapan-tahapan tersebut, beliau tulis bukan hanya sebagai suatu teori semata. Namun secara pribadi telah beliau jalankan. Sebagaimana dicatat oleh Imam as Subki dalam Thabaqat Syafi’iyyah al Kubra, bahwa Imam Abu Hamid al Ghazaly rh membaca Kitab Shahih Bukhari dan Muslim dengan seorang Hafizh teragung dari Thus, yaitu Syekh Abul Fityan Umar bin Abdul Karim bin Sa’dawih bin Mahmat ad Dahastani ar Rawasi (w 503 H) .
أبو الفتيان عمر بن عبد الكريم بن سعدويه بن مهمت الدهستاني الرواسي الحافظ

Imam adz Dzahabi dalam Tadzkiratul Huffazh (4/25) mengatakan bahwa al Hafizh Abul Fityan adalah sosok imam yang unggul dalam ilmu hadits, dan banyak menulis karya dalam bidang ini. Darinya Imam Abu Hamid al Ghazaly rh mengambil ilmu hadits, dan membaca langsung Shahih Bukhari dan Muslim di hadapannya.

Al Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali al Hamdani menulis: Aku tidak temukan seorang yang lebih hafizh darinya ( Syekh Abul Fityan) di negeri-negeri itu, bahkan di dunia seluruhnya. Ia adalah laksana kitab yang berjalan, yang mengelilingi dunia untuk mencari ilmu hadits. Aku menjumpainya di Mekkah, dan aku mendapati para ulama memujinya dan berkata baik tentang dirinya.

Ada pertanyaan di dlm kitab ihya’ itu sendiri (katanya) ditemukan lumayan banyak hadits yg terIndikasi tidak shohih menurut kajian ilmiyah hadits?

Jawab:

Masalah hadits tidak shahih atau dhai’if (bahkan maudhu’), hampir ada di semua kitab kalangan ulama. Bahkan kitab yang ditulis oleh para huffazh hadits, seperti Abu Nu’aim, yaitu kitab Al Hilyah, juga mengandung riwayat dhaif dan maudhu’.

Dan apabila kita berpegang bahwa jika ada kitab yang mengandung hadits dhaif dan maudhu’ maka seluruh kitabnya harus ditinggalkan, berarti akan banyak sekali kitab yang harus kita buang, termasuk kitab sunan Ibn Majah. Karena di dalamnya banyak hadits yang dipermasalahkan, termasuk di nilai dhaif bahkan maudhu’. Dan jumlahnya bisa mencapai puluhan. Bahkan Imam adz Dzahabi rh mengatakan, di dalamnya terdapat hadits yang tidak mempunyai hujjah mencapai seribuan. Berikut pemaparan Imam adz Dzahabi rh dalam kitab Siyar A’lam an Nubalaa ( 13/279)

Menurut Syeikhul Islam Ibn Taimiyah rh, bahkan kesalahan dalam periwayatan juga terjadi pada kitab yang dianggap paling Shahih, yaitu Shahih Bukhari dan Muslim, jika diperiksa dengan ilmu ‘ilal hadits.
Oleh karena itu, beliau mengatakan, tidak ada kitab yang bersih dari kekeliruan dalam khazanah keilmuan Islam, kecuali Al Qur`an al Karim.
Dari sini, guna mengambil faidah dari kitab Ihya Ulumuddin, sambil menghindar dari riwayat dhaif dan maudhu’, bisa menggunakan takhrij al ‘Iraqi. Ataupun Murtadha az Zubaidy.

Source: Ust. Abdul Hayyie abdul syadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s