APA SAJA PENYEBAB MUNCULNYA PAHAM ANTI MADZHAB ?

Posted: Agustus 18, 2014 in STOP MENUDUH BID'AH !!, SUNNAH - ADAB & NASIHAT

Anti Taqlid Madzhab

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ustadz yang dirahmati Allah.

Ada satu pertanyaan yang membuat saya penasaran sampai sekarang, yaitu mengapa masih ada saja umat Islam yang berpaham anti dengan mazhab, bahkan terkesan memerangi mazhab fiqih para ulama? Kira-kira apa latar belakang mereka menjadi orang yang anti dengan mazhab? Apakah mereka ini termasuk para perusak agama?

Mohon penjelasan dari ustadz dan terima kasih sebelumnya.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tidak semua orang yang anti mazhab itu berniat jahat terhadap agama Islam. Boleh jadi penyebabnya karena kurangnya informasi yang akurat dan objektif terkait dengan ilmu terkait mazhahibul ulama. Maklumlah, pentas dan mimbar dakwah di negeri kita lebih banyak menyajikan sosok yang tidak punya latar belakang pendidikan ilmu syariah yang mumpuni.

Selain itu memang di tengah masyarakat kita yang awam ini banyak termakan oleh propaganda yang kurang lengkap, sehingga kurang proposional dalam memahami hakikat mazhab.

Di antara sebab yang sering mengecoh umat Islam sehingga terkesan anti mazhab fiqih dan cenderung kurang bersahabat adalah hal-hal berikut :

1. Tertipu Slogan Kembali Kepada Al-Quran dan Sunnah

Slogan untuk kembali kepada Al-Quran dan Sunnah adalah slogan yang sangat bagus. Sebab keduanya memang sumber rujukan kita dalam beragama.

Namun banyak juga kalangan yang kurang paham, kepada siapakah sebenarnya slogan ini kita arahkan, dan dalam konteks apa seharusnya disampaikan?

Slogan kembali kepada Al-Quran dan Sunnah lebih tepat untuk disampaikan kepada mereka yang telah menukar Al-Quran dan Sunnah dengan paham dan ideologi asing atau sekuler. Misalnya di Turki yang sekuler, ada gerakan untuk kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Atau di negeri Islam yang menjadi korban Westernisasi, sehingga ideologi Islam yang ada diganti dengan ideologi yang datang dari Barat.

Kepada mereka inilah sebenarnya slogan kembali kepada Al-Quran dan Sunnah kita arahkan. Maksudnya kembali kepada Al-Quran dan Sunnah dengan meninggalkan ideologi yang bukan datang dari Allah SWT dan Rasululullah SAW.

Tetapi ketika kita mengarahkan kepada sesama umat Islam yang sudah menggunakan Al-Quran dan Sunnah sebagai dasar sumber hukum, lalu dengna slogan kembali kepada Al-Quran dan Sunnah kita malah menafikan sumber-sumber hukum Islam selain keduanya, maka senjata telah digunakan dengan cara yang keliru dan salah sasaran.

Tidak bisa dibenarkan kalau dengan slogan kembali kepada Al-Quran dan Sunnah, kita lantas menginjak-injak Ijma’ dan Qiyas yang telah dijadikan sumber sekaligus metode dalam memahami hukum Islam. Dan bukan ciri orang yang paham Islam apabila menafikan pendapat para ulama dan mazhab fiqih dalam memahami Al-Quran dan Sunnah.

Sebenarnya tidak ada yang salah ketika kita berseru untuk kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Tetapi menjadi sangat sesat kalau pemahamannya dibelokkan menjadi memusuhi ijtihad, tafsir, fiqih dan mazhab para ulama.

2. Mazhab Dianggap Taqlid

Penyebab lain kenapa banyak umat Islam yang seolah bermusuhan dengan mazhab-mazhab fiqih adalah adanya mitos bahwa bermazhab itu sama dengan bertaqlid buta kepada manusia, dimana manusia itu bisa saja benar dan bisa saja salah.

Padahal sesungguhnya tidak semua taqlid itu salah dan keliru. Memang ada sebagian orang bertaqlid dengan cara yang tidak dibenarkan, dan itu termasuk taqlid yang haram hukumnya.

Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa ada taqlid yang hukumnya wajib dan hal itu tidak bisa dihindari. Sebab tidak semua orang punya kemampuan untuk menarik sendiri kesimpulan hukum yang ada di dalam Al-Quran dan sunnah.

a. Taqlid Yang Hukumnya Wajib

Taqlid yang hukumnya wajib adalah taqlid yang memang memenuhi ketentuan, antara lain :

Kriteria Pertama : Taqlid Dilakukan oleh Orang Awam

Orang awam adalah orang yang tidak punya kapasitas yang cukup untuk memahami ayat Al-Quran dan Sunnah. Yang dikatakan kapasitas itu adalah keahlian dalam berijtihad.

Di antara syarat seseorang boleh melakukan ijtihad antara lain dia harus menguasai berbagai macam disiplin ilmu, seperti :
Ilmu Al-Quran:Ilmu-ilmu yang terkait dengan ilmu Al-Quran antara lain tentang asbabun-nuzul, yang mempelajari bagaimana dan kapan tiap ayat diturunkan. Selain itu juga harus dikuasainya imu tafsir, khususnya pada ayat-ayat yang terkait dengan hukum.

Dan tidak cukup hanya dengan itu, juga harus dikuasi ilmu tentang nasakh dan mansukh dari masing-masing ayat Al-Quran, agar jangan sampai seseorang salah dalam menggunakan dalil yang sudah tidak berlaku.

Dan tidak ketinggalan bahwa seorang mujtahid harus menguasai kaidah-kaidah dalam pengambilan kesimpulan hukum ayat Al-Quran, sehingga dia harus mengerti betul mana al-‘aam dan mana al-khash, dan seterusnya.
Ilmu HAdits (Sunnah) :Seorang yang punya kapasitas dalam berijtihad harus menguasai ilmu tentang sunnah nabawi, yaitu ilmu hadits.

Dan di antara cabang ilmu hadits yang paling penting adalah ilmu tentang naqd hadits. Ilmu naqd (kritik) hadits adalah ilmu yang tidak boleh luput dari kemampuan seorang mujtahid. Sebab yang di-istimbath tidak lain adalah hukum-hukum yang bersumber dari Rasulullah SAW. Kalau jalur periwayatannya saja sudah bermasalah, maka istimbath hukumnya sudah pasti bermasalah juga.

Maka sebelum menjadi seorang mujtahid, seorang ulama harus menjadi ahli hadits (muhaddits) terlebih dahulu. Setidaknya dia harus punya kemampuan untuk memilah mana hadits yang bisa dijadikan sandaran, dan mana yang tidak bisa dijadikan sandaran.
Ilmu Bahasa Arab :Al-Quran tidak pernah diturunkan ke permukaan bumi ini kecuali dalam bahasa Arab. Sebab Rasulullah SAW sebagai penerima wahyu hanya bisa berbahasa Arab.

Demikian juga sunnah nabawiyah, yang merupakan perbuatan, perkataan dan iqrar Rasulullah SAW, tidak lah sampai kepada kita lewat rangkaian panjang periwayatan, kecuali redaksinya selalu berbahasa Arab.

Maka bila seorang mujtahid ingin menarik kesimpulan hukum dari Al-Quran dan As-Sunnah, mustahil bisa dilaksanakan bila dirinya tidak mengerti bahasa Arab.

Maka syarat mutlak ilmu yang harus minimal dikuasai oleh seorang mujtahid adalah ilmu tentang bahasa Arab dengan segala cabang dan rantingnya.
Ilmu Fiqih :Tetapi ilmu yang paling utama dari kebutuhan untuk mengistimbath suatu hukum tidak lain adalah ilmu fiqih dan ushul fiqih. Ilmu fiqih adalah produk akhir dari ilmu-ilmu yang telah disebutkan di atas. Hasil akhir ini berupa kesimpulan-kesimpulan hukum atas berbagai masalah kehidupan.

Orang-orang awam adalah konsumen dari ilmu fiqih ini. Bahkan sebenarnya ilmu ini memang ditujukan untuk dipelajari oleh orang-orang awam. Para mujtahid kemudian mengajarkan hasil-hasil ijtihad dan istimbath hukum mereka lewat pengajaran ilmu fiqih ini.
Ilmu Ushul Fiqih : Ruang lingkup pembahasan Ilmu Ushul Fiqih sebenarnya cukup luas, mulai dari sumber-sumber hukum fiqih hingga proses bagaimana kesimpulan hukum itu diambil, lewat beragam metode yang ada.

Dalil-dalil hukum syariah ada yang muktamad seperti Quran, Sunnah, Ijma dan Qiyas, dan ada juga dalil yang mukhtalaf, seperti al-masalih al-mursalah, al-istidlal, al-istish-hab, saddu adz-dzari’ah, istihsan, ‘urf, syar’u man qablana, amalu ahlil madinah, qaul shahabi dan lainnya. Selain itu dalam ushul fiqih juga dikenal dalil lafadz, yaitu al-amru wa an-nahyu, al-‘aam wal khash, al-muthlaq wa al-muqayyad, al-manthuq wal mafhum.

Ushul fiqih juga membahas berbagai jenis hukum, baik berupa hukum taklifi atau pun hukum wadh’i. Hukum Taklifi adalah hukum yang kita kenal sebagai wajib, mandub (sunnah), mubah, makruh atau haram. Sedangkan hukum Wadh’i seperti as-sabab, asy-syarth, al-mani’, ash-shihhah, a-fasad wal buthlan.

Maka siapa saja orang yang tidak punya keahlian atas ilmu-ilmu di atas, kita sebut sebagai orang awam. Mereka bukan saja tidak bisa berijtihad, tetapi haram hukumnya berijtihad.

Sama kasusnya dengan seorang dokter. Meski tiap orang wajib berupaya mendapatkan kesembuhan atas penyakitnya, dengan segala hal yang bisa dia lakukan, namun bukan berarti seseorang boleh mengangkat dirinya sebagai dokter, tanpa ilmu dan jenjang pendidikan kedokteran yang serius.

Kriteria Kedua : Bertaqlid Harus Kepada Ulama Yang Ahli

Maka kita semua harus mengaku bahwa diri kita ini adalah orang awam, meski pun penampilannya seperti ulama. Sebab keulamaan itu tidak identik dengan nama besar, atribut, jubah, sorban yang melilit kepala, atau julukan serta jabatan. Tetapi keulamaan itu terkait dengan kadar ilmu dan pengetahuan atas hukum-hukum syariah, yang hanya bisa didapat dari belajar secara serius bertahun-tahun.

Dan para pendiri mazhab tidak lain adalah sosok para ulama itu. Kepada mereka itulah kita belajar ilmu-ilmu syariah yang menjadi syarat seorang mujtahid.

Ibaratnya, bila kita ingin belajar ilmu ilmu fisika, maka orang yang paling mengerti fisika tidak lain adalah Newton, Einstein, Copernicus dan seterusnya. Kalau kita mau belajar ilmu Matematika, maka orang yang paling mengerti adalah Al-Khawarizmi atau Pythagoras.

Dan kalau mau mengerti komputer, paling tidak kita menimba ilmu kepada Charles Babbage atau kalau terkait software bisa kita sebut Bill Gates atau Steve Jobs.

Dan kalau kita mau tahu bagaimana cara menarik kesimpulan hukum dari Al-Quran dan Sunnah, orang yang paling pintar dan mengerti adalah para ulama, yaitu para shahabat, tabi’in dan di masa berikutnya adalah empat pendiri mazhab besar, yaitu Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’i dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka adalah soko guru untuk seluruh ulama berikutnya hingga 12 abad kemudian sampai hari ini.

Bermazhab pada hakikatnya kita belajar dan bertanya kepada orang yang memang ekspert di bidangnya. Dan belajar serta bertanya kepada mereka pada hakikatnya adalah bertaqlid. Maka bertaqlid kepada mazhab-mazhab fiqih itu hukumnya wajib buat kita yang awam.

b. Taqlid Yang Hukumnya Haram

Sedangkan taqlid yang haram adalah taqlidnya seseorang kepada tokoh yang tidak punya ilmu dan pemahaman dalam urusan istimbath hukum. Sudah tidak bisa bahasa Arab, tidak mengerti ilmu Al-Quran dan Sunnah, buta ilmu fiqih dan ushul fiqih, lalu tanpa malu mengaku-ngaku sebagai ulama besar yang tidak ada tandingannya.

Lebih parah lagi, dengan kepala yang kosong dari ilmu syariah itu, kemudian dia membangun lembaga fatwa untuk kelompoknya. Seolah-olah lembaga fatwanya itu menjadi ‘hakim’ yang berhak ‘mengadili’ fatwa dan mazhab ulama yang sudah ada sebelumnya.

Bahkan kadang tanpa sadar, fatwa-fatwa yang dibuatnya tanpa landasan ilmu itu malah terkesan menghina dan mencaci-maki semua orang yang belajar ilmu agama kepada ahlinya. Perbuatan itu dianggapnya sesat dan taqlid.

Padahal dirinya adalah seorang yang paling depan dalam urusan bertaqlid, yaitu bertaqlid buta kepada gurunya sendiri, yang ternyata juga bukan ahli di bidang hukum syariah.

3. Mengidentikkan Mazhab Dengan Tradisi Jahiliyah

Sebagian orang yang anti dengan mazhab seringkali tidak bisa membedakan mana yang merupakan ilmu syariah yang dihasilkan dari ijtihad ulama dan bersumber kepada Al-Quran dan Sunnah, dan mana yang sebenarnya adalah budaya jahiliyah produk dari nenek moyang yang sesat.

Misalnya membaca Al-Quran, dzikir dan tahlilan yang pahalanya disampaikan kepada ruh orang-orang yang sudah meninggal dunia. Praktek yang banyak dilakukan di tengah masyarakat ini seringkali diperangi dengan cara lembut dan kasar, seolah-olah merupakan praktek jahiliyah peninggalan budaya Hindu yang masih dipelihara. Dan sayangnya, mazhab-mazhab fiqih kemudian dituduh sebagai kambing hitamnya.

Padahal mazhab fiqih tidak mengajak kepada praktek seperti ini. Dalam hal ini, sebenarnya ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, tentang apakah bacaan Al-Quran serta dzikir itu bisa disampaikan pahalanya kepada orang yang sudah wafat.

Dan umumnya para ulama mazhab berpendapat memang hal itu menjadi wilayah ghaib, dimana hanya Allah saja yang tahu. Namun melihat banyak nash yang menerangkan hal itu, maka banyak pendapat yang mengatakan bahwa bacaan Al-Quran dan dzikir itu bisa disampaikan kepada orang yang sudah wafat dan bermanfaat buat mereka.

Dengan catatan bahwa para ulama memang berbeda pendapat tentang hal ini. Salah satu yang menentangnya justru Al-Imam Asy-Syafi’i sendiri.

Sedangkan Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim justru sepakat bahwa bacaan Al-Quran dan dzikir bisa disampaikan pahalanya kepada orang mati.

Dan orang-orang yang anti mazhab sering mengidentikan mazhab fiqh dengan praktek-praktek syirik yang masih berkembang di tengah masyarakat, seperti budaya datang ke dukun, percaya kepada tahayyul dan ramalan, atau mengkeramatkan benda-benda semacam keris, batu dan rajah. Semua itu seringkali diidentikkan dengan orang bermazhab dalam ilmu fiqih.

Padahal fiqih Islam menentang semua praktek itu, dan memeranginya, sesuai dengan ketentuan dari Allah SWT dan Rasulullah SAW lewat berbagai hadits shahihnya.

4. Dangkalnya Ilmu Agama

Dan faktor terbesar dari begitu banyaknya umat Islam yang terkesan anti dengan mazhab-mazhab fiqih adalah dangkalnya dasar-dasar ilmu agama yang mereka pelajari di waktu kecil.

Kebanyakan bangsa Indonesia ini tidak berkesempatan menempuh jenjang pendidikan madrasah atau pesantren. Kebanyakan mereka hanya bersekolah umum, yang tidak punya porsi cukup dalam bidang ilmu agama.

Ketika mereka dewasa, ada semacam semangat untuk belajar, tetapi sudah tidak punya waktu lagi. Akibatnya, mereka belajar secara instan dan kilat. Tetapi resikonya, ilmunya cuma sepotong-sepotong dan tidak utuh.

Cirinya adalah tidak lancar membaca Al-Quran, lebih sering terbata-bata. Dan pastinya tidak mengerti tafsir Al-Quran, sehingga lebih sering menafsirkan ayat Quran berdasarkan logika lemah dan hawa nafsu saja.

Juga tidak memiliki ilmu hadits yang utuh, sehingga rancu dalam memahami hadits shahih, hasan dan dhaif.

Yang lebih parah biasanya mereka ini tidak paham bahasa Arab, apalagi Nahwu, sharaf dan Balaghah. Sehingga sudah bisa dipastikan mereka itu asing dengan kitab-kitab warisan (turats) para ulama. Kalau pun membaca buku, maka bukunya hanya terjemahan yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya, dan jumlahnya amat terbatas.

Dan yang pasti mereka tidak pernah berkesempatan belajar ilmu fiqih lewat ulama yang ahli di bidangnya, dengan jenjang yang runtut. Dan ilmu ushul fiqih hanya pernah dengar saja, tetapi sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ilmu ushul itu.

Sebenarnya masih banyak faktor-faktor yang lainnya, namun kita cukupkan sampai disini. Harapannya adalah semoga umat Islam ini bisa berkesempatan untuk memperluas tsaqafah keilmuannya, tidak merasa cukup dengan ilmu yang hanya secuil dimilikinya. Dan yang paling penting, jangan sampai kita terkena penyakit ujub, riya dan takabbur. Tidak punya ilmu tetapi merasa paling paham urusan agama.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA via Rumahfiqih.com

Komentar
  1. Dewaruci Wenang mengatakan:

    Hemm,..Alhamdulillah ,.postingan yg sangat bagus smoga menambah pencerahan dan wawasan kami,…trma kasih Agan ,semoga Alloh selalu meridhoi kita semua,…amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s