DALAM MASALAH SHOLAT PUN PARA ULAMA SALAFY JUGA BANYAK PERBEDAAN

Posted: September 22, 2014 in STOP MENUDUH BID'AH !!

pilih albani-utsaimin-bin-baz

Dakwah yang hanya berpegang kepada satu pendapat ulama, tanpa memberi ruang bagi pendapat ulama lain, akan melahirkan jamaah bersikap fanatik dengan klaim kebenaran mutlak atas pendapatnya, dan langsung menganggap bid’ah serta sesat pemikiran ulama yang tidak sehaluan dengan pikirannya. Terkadang, dengan dalih berpegang kepada hadits sahih, mereka berani memvonis pendapat yang lain itu tidak mengikut sunnah Nabi. Padahal, penilaian tentang sahih atau lemahnya (dha’if) sebuah hadits itu tidak terlepas dari perbedaan metodologi penilaian yang digunakan para ulama. Hadits yang lemah menurut satu ulama, bisa saja sahih menurut penilaian ulama yang lain.

Diantara contohnya, hadits riwayat Imam al-Thabrani (al-Mu’jam al-Kabir:9/17) tentang kebolehan berdoa secara tawassul dengan Rasulullah SAW yang telah wafat adalah hadits sahih, tidak dha’if (lemah). Begitu pengakuan ulama hadits terkemuka yang hafal 50 ribu hadits lengkap dengan sanadnya (mata rantai perawi hadits), yaitu Syaikh Said Abdullah al-Shiddiq al-Ghumari. Namun, Syaikh Nashiruddin al-Albani yang tidak menyetujui tawassul dalam berdoa itu menghukum hadits itu dha’if (lemah).

Di sini, penulis membentangkan sedikit pendapat ulama Salafi Wahabi berkaitan dengan ibadah shalat. Tujuannya, agar para jamaah Salafi Wahabi menyadari ada beda pendapat di antara ulama mereka, dan agar tidak menjadi jamaah fanatik yang mengkultuskan pemikiran satu ulama tertentu saja.

Pelaksanaan Ibadah Shalat

Niat merupakan rukun dalam ibadah shalat. Ulama Salafi, Imam Ibnu Taimiyah mengatakan wajib mendahulukan niat dari takbiratul ihram (Mausu’ah Fiqh Ibnu Taimiyah: 2/230). Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh ulama Salafi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz (Fatawa Nur ‘ala al-Darb: 2/738), dan Syaikh Shalih al-Utsaimin (Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Syaikh al-Utsaimin: 12/441). Tapi, ulama Salafi, Syaikh Nashiruddin al-Albani memilih pendapat Imam al-Nawawi (ulama mazhab al-Syafi’i) bahwa tempat niat itu adalah hati, dan diucapkan pada saat takbiratul ihram (Nashiruddin al-Albani: Ashl Shifah Shalah al-Nabi:1/174).

Syaikh Bin Baz (2/768) dan Syaikh al-Utsaimin (13/135) mengatakan, makmum dalam salat berjamaah itu wajib membaca al-Fatihah di setiap rakaat, baik salat jahar (subuh, maghrib, isya’) maupun salat sir (zuhur dan ashar). Ini sesuai dengan perintah Rasulullah SAW membaca al-Fatihah dalam ibadah salat (HR Imam al-Bukhari Muslim). Tapi, Syaikh al-Albani mengatakan, makmum tidak wajib baca al-Fatihah pada salat jahar, tapi hanya wajib pada saat salat itu sir (1/360).

Syaikh Bin Baz (2/791) dan Syaikh al-Utsaimin (13/140) mengatakan, meletakkan tangan di atas dada setelah berdiri dari ruku’ adalah sunnah. Hal ini sesuai dengan hadits yang memerintahkan meletakkan kedua tangan di atas dada (HR al-Bukhari). Syaikh Bin Baz juga menganggap keliru pendapat Syaikh al-Albani yang mengatakan tidak dianjurkan (sunnah) meletakkan kedua tangan di atas dada setelah berdiri dari ruku’. Namun begitu, Syaikh al-Albani (2/701) tetap bertahan pada pendapatnya, dan menganggap pendapat Syaikh Bin Baz dan Syaikh al-Utsaimin itu bid’ah dan sesat.

Syaikh Bin Baz (2/794) dan Syaikh al-Utsaimin (13/171) mengatakan, ketika mau sujud, maka letakkan lutut terlebih dahulu ke lantai, kemudian tangan. Ini sesuai dengan hadits Wa’il bin Hujr, dan sebenarnya hadits Abu Hurairah yang mengatakan meletakkan tangan terlebih dahulu itu ada terjadi pembalikan pada lafaz hadits. Karena Nabi melarang sujud mengikut gaya onta istirahat dengan terlebih dahulu merebahkan tangannya, bukan kakinya. Pendapat ini juga yang disuarakan oleh murid setia Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dan mengatakan bahwa hadits Wa’il bin Hujr lebih kuat dari hadits yang lain (Ibnu Qayyim al-Jauziyah: Jami’ al-Fiqh:2/107). Ini juga pendapat ulama salafi yang lain, yaitu Syaikh Ismail al-Shan’ani dalam bukunya Subul al-Salam (1/187).

Tapi, Syaikh al-Albani (2/714) mengatakan bahwa sujud dalam shalat itu dengan mendahulukan tangan, bukan lutut. Katanya, ini sesuai dengan hadits Ibnu Umar (HR Ibnu Khuzaimah dan al-Daruquthni). Syaikh Bin Baz (2/795) mengatakan bahwa duduk istirahat sebelum berdiri ke rakaat kedua adalah sunnah, sesuai dengan hadits riwayat Malik bin al-Huwairits yang terdapat dalam sahih al-Bukhari. Al-Albani (3/816) juga mengatakan begitu, berpegang kepada hadits yang sama yang juga diriwayatkan oleh Imam al-Syafi’i, al-Nasa’i, dan al-Baihaqi. Dan Syaikh al-Albani melanjutkan, berdiri ke rakaat selanjutnya itu bertopang dengan kedua tangan di atas lantai.

Tapi, Syaikh al-Utsaimin mengatakan (13/217), tidak disyariatkan duduk istirahat, tapi langsung saja berdiri ke rakaat selanjutnya dengan bertumpu kepada ujung telapak kaki. Dan duduk istirahat sebelum berdiri ke rakaat kedua atau keempat itu hanya dilakukan oleh orang yang tidak mampu langsung berdiri, karena uzur atau sakit.

Dan Syaikh Ibnu Qayyim (2/116) pula berpegang kepada hadits Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW berdiri ke rakaat berikutnya dengan bertopang kepada ujung kaki dan lututnya, dan kedua tangannya diletakkan di atas pahanya.

Syaikh al-Utsaimin (13/231) mengatakan, tasyahud pertama dalam shalat itu hanya sampai kepada ucapan dua kalimat syahadat. Tapi, Syaikh al-Albani (3/912) mengatakan bahwa bacaan tasyahut pertama itu sama dengan bacaan pada tasyahud akhir hingga ucapan shalawat, tanpa ada perbedaan.

Syaikh al-Utsaimin (13/236) mengatakan, ucapakan salam pada akhir shalat tidak disyariatkan dengan menambah kata wa barakatuh. Tapi Syaikh al-Albani (3/1024) mengatakan, tambahan kata wa barakatuh itu adalah sunnah, sesuai dengan hadits Ibnu Hibban.

Pemikiran Terbuka

Ternyata, dalam satu masalah ibadah saja banyak terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama Salafi. Bahkan, perbedaan antara Imam Ibnu Taimiyah dan Syaikh al-Albani dalam masalah akidah saja hampir mencapai 200 masalah. Makanya, kita dituntut berpikir terbuka, mengkaji permasalahan secara komprehensif, bukan hanya membaca satu buku ulama saja, lalu bersikap fanatik serta bergaya bagaikan ulama besar. Na’uzubillah..(*)

Source: Kemenag Riau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s