KH. AHMAD WARSON MUNAWWIR, SUMBANGSIH KYAI NU PENYUSUN KITAB KAMUS BAHASA ARAB – INDONESIA

Posted: Maret 18, 2015 in KHAZANAH ISLAM, KITAB KARYA ULAMA NUSANTARA, KONTRIBUSI ULAMA ASWAJA
Tag:,

hKH. Ahmad Warson Munawwir

Almarhum dikenal sebagai penyusun kamus Arab-Indonesia terlengkap setebal 1634 halaman. Disusun dari saat masih menjadi santri KH Ali Maksum yang menjadi Guru Besar di Ponpes Krapyak hingga almarhum menjadi guru di Ponpes Krapyak.

Butuh perjuangan panjang dan tak mudah saat menyusun satu-satunya kamus terlengkap itu. Berguru langsung kepada KH Ali Maksum yang terkenal tegas saat mengajar muridnya, Almarhum KH Ahmad Warson Munawwir berhasil menjadi murid yang sejak usia belasan sudah mampu menguasai pelajaran dari Mbah Ali (panggilan kalangan Santri kepada KH Ali Maksum).

Hal itu diungkapkan oleh Suhadi Khozin, Santri sekaligus orang kepercayaan Alm KH Warson Munawwir saat ditemui Tribun Jogja di kediaman, Kamis (18/4) siang. Bahkan ketika masih usia belasan itu, Almarhum sudah menjadi guru mengaji untuk kitab Alfiyah yang diajarkan oleh Mbah Ali.

Karya besar itu kali pertama diterbitkan pada 1984 kemudian dicetak berulang kali. Tiap tahun lebih kurang 10 ribu hingga 15 ribu kamus didistribusikan hingga masuk cetakan ke 14. Selain didikan Mbah Ali Maksum yang notabene menjadi pendiri Pondok Pesantren Ali Maksum, Krapyak, kamus itu selesai setelah ‘dorongan’ sejumlah Kyai.

Dikisahkan Suhadi Khozin yang pernah membantu membuat cetakan kamus atas perintah langsung dari almarhum, dorongan Kyai Bisri Mustofa (Rembang) dan KH Hamid (Pasuruan) menjadi pemicu agar lekas menyelesaikan Kamus Al Munawwir. Beberapa kisah pun mengalir seperti kisah saat Alm KH Warson muda datang ke Mbah Hamid, Pasuruan.

Saat itu, KH Warson datang ke Mbah Hamid dengan hati bimbang sebab khawatir soal kemampuannya menyelesaikan kamus. Baru saja datang menginjakkan kaki di kediaman Mbah Hamid dan belum sempat berbicara, Kyai Besar Pasuruan itu langsung menyinggung soal kegundahan hatinya.

Ahlan wa sahlan bi dhoifil mutayyam,” (Hai hati yang gundah gulana),”kata Suhadi menirukan ucapan Mbah Hamid saat menyambut kedatangan Ahmad Warson Munawwir yang masih membujang kala itu.

ak heran jika kegundahan melanda hati KH Ahamad Warson saat itu, sebab almarhum dikenal dengan kerendahan hatinya namun harus menyelesaikan amanah besar yang diberikan oleh gurunya  KH Ali Maksum yang dijuluki Munjid berjalan (kamus berjalan).

Namun seiring waktu, Kamus Al-Munawwir Arab Indonesia yang kini diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Progressif, Surabaya rampung setelah beliau menikah dan digunakan ribuan santri yang ingin memperdalam bahasa Arab agar mampu membaca dan mengerti bahasa berbagai kitab termasuk kitab kuning yang sering digunakan santri-santri salaf.

“Kemampuan di atas rata-rata itulah yang akhirnya membuat bapak (KH Ahmad Warson) menulis dan menyusun kamus besar Arab-Indonesia itu,”terang Suhadi.

Kisah Penyusunan Kamus Munawwir

Naskah kamus sudah selesai ditulis, tapi Kyai Warsun tak kunjung menyerahkannya kepada penerbit untuk dicetak. Ia membawa naskah itu ke Rembang untuk ditunjukkan kepada Kyai Bisri Mustofa,

“Mohon diperiksa, Kyai, kalau-kalau masih ada kekurangannya”.

Kyai Bisri malah tak mau menyentuh naskah itu.

“Buat apa?” katanya, “sudah jadi begini ya langsung dicetak saja!”

Kyai Warsun meringis bimbang,

“Lha wong Al Munjid saja (kamus bahasa Arab ensiklopedik karya dua pendeta Kristenasal Lebanon, Louis Ma’louf dan Bernard Tottle –Terong Gosong) masih banyak kesalahannya, apalagi cuma bikinan saya ini…”

“Lha iya!” Kyai Bisri menyergah, “Walaupun masih banyak kesalahan diterbitkan ya nyatanya ‘ndak apa-apa to? Tetap banyak manfaatnya juga to?”

Kyai Warsun garuk-garuk kepala.

“Guuus, Gus…”, Kyai Bisri melanjutkan, “sampeyan itu sudah mencurahkan kemampuan habis-habisan untuk mengumpulkan, meneliti, menyusun, menulis, sampai jadi naskah sebegitu tebalnya… kurang apa lagi? Sudah sangat besar jasa sampeyan. Nah, nanti kalau sudah diterbitkan, ya gantian tugasnya pembaca untuk meneliti kalau ada kekurangannya. Biar pembaca yang mengoreksi. Kalu perlu, biar orang lain menyusun kamus baru untuk menyempurnakan kamus sampeyan ini… Lha sampeyan nyusun kamus ini kan maksudnya juga mengoreksi dan menyempurnakan Munjid to?”

Kyai Warsun akhirnya medapatkan kemantapan untuk menerbitkan naskah itu. Atas saran Kyai Ali Ma’shum, kakak iparnya, kamus itu diberi judul “Al Munawwir”, tafa-ulan kepada Kyai MuhammadMunawwir, ayahandanya sendiri.

“Judul kitab yang enak ya seperti kamusnya Warsun itu, sederhana dan gampang diingat”, kata Kyai Ali kepadaku suatu kali, “jangan seperti embahmu… bikin judul sukanya yang aneh-aneh… ‘Al Ibriz…. (artinya: emas murni– Terong Gosong) Mbok tadinya kasih judul ‘Al Bisri’ gitu saja kan enak to…?”

***

Kamus Arab - Indonesia karya KH. Ahmad Warson Munawwir terkenal & dipakai hingga ke manca negara

Kamus Arab – Indonesia karya KH. Ahmad Warson Munawwir terkenal & dipakai hingga ke manca negara

Almarhum terlahir pada Jum’at Pon, 30 Nopember 1934 atau 20 Sya’ban 1353 Hijriyah  meninggalkan dua anak, yaitu H Fairus Warson, Hj Qory Aina, yang semuanya merupakan Hafidz (Penghafal Al Quran).

Almarhum juga diketahui suka beroganisasi, hal itu bisa terlihat perannya saat ikut mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan pengagas Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Satu keinginan almarhum kepada Nahdatul Ulama (NU) dan para Nahdliyin yang sempat didengar langsung Suhadi adalah,  NU agar ikut berpartisipasi dan menyuarakan sikap untuk kemajuan bangsa Indonesia, namun almarhum juga sempat berpesan menyikapi soal kondisi politik dan berhati-hati berpolitik.

Wong maen politik ki ora maksiat ae wis bejo, (orang bermain politik itu tak bertindak maksiat saja sudah beruntung), pesannya seperti itu, atau mungkin maknanya, ojo maneh golek ganjaran, ora maksiat ae wis bejo (Boro-boro cari pahala, tak melakukan maksiat saja sudah beruntung saat berpolitik),” kata Suhadi mengingat pesan Alm KH Ahamad Warson.

Sosok mualim itu wafat di usia 79 tahun, meninggalkan ilmu dan keteladanan bagi orang-orang di sekitarnya. Ribuan petakziah membanjiri Al-Munawwir Komplek Q Krapyak, hari itu,  Kamis (18/4)  hari ketika Kiai Warson dipanggil menghadap Allah. Isak tangis yang menyelingi alunan tahlil menjadi pertanda adanya rasa kehilangan yang mendalam.

“Tiga orang yang telah mampu melejitkan Krapyak adalah, Kiai Munawwir sebagai pendiri pondok Qur’an pertama di Indonesia, Kiai Ali Maksum selaku bagian tim penerjemah Qur’an Departemen Agama serta anggota konstituante dan Kiai Warson sebagai shohibul kamus Arab-Indonesia terlengkap di tanah air,” ucap Kiai Hilmy Muhammad, pada suatu kesempatan.

Kamus berjudul Al-Munawwir yang terdiri dari 1591 halaman tersebut, memang telah digunakan secara luas tidak saja di Indonesia tapi juga merambah mancanegara. Di balik ketenaran kamus yang konon paling lengkap itu, ada sosok Kiai Warson sebagai pengarangnya. Kamus yang disusun dalam masa yang tidak singkat itu menjadi wujud kongkret kristalisasi ilmu dari seorang yang alim.

Alkisah, adalah Kiai Ali Maksum yang meminta Kiai Warson mengarang sebuah kamus. Sepeninggal Kiai Munawwir, Kiai Ali Maksum lah yang kemudian mendidik putra-putri beliau, diantaranya Kiai Warson dan Kiai Zainal. Kiai Warson relatif tidak pernah berguru kepada selain Kiai Ali Maksum. Hal itu membuat Kiai Ali Maksum diistilahkan sebagai murabbi ar- ruh atau pembentuk karakter Kiai Warson.

Source:

jogja.tribunnews.com, muslimedianews.com & nu.or.id

2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s