MENGGERAKKAN JARI KETIKA TASYAHUD, APAKAH ADA DALILNYA?

Posted: Maret 23, 2015 in AMAL GENERASI SALAF, MADZHAB & KHILAFIYAH, SUNNAH - ADAB & NASIHAT, TAFSIR & QOUL ULAMA

Tasyahud

Pertanyaan

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

Ustadz yang saya hormati, saya sampai sekarang masih bingung sekali soal hukum menggerakan jari ketika tasyahhud dalam shalat. yang saya tanyakan, apakah memang ada dalilnya seperti itu dari hadits yang shahih? lalu bagaimana pandangan ulama dari masing-masing madzhab, apakah semua membenarkan jari telunjuk itu digerak-gerakkan? atau bagaimana? mohon jawabannya. terimakasih. wassalam.

Jawaban :

Alaikumsalam warohmatullah wabarokatuh

Yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah hukum memberikan isyarat itu sendiri ketika tasyahhud. Jumhur ulama sepakat bahwa memberikan isyarat dengan jari telunjuk ketika tasyahhud itu merupakan sunnah shalat dan bukan rukun. Artinya ketika ada orang yang bertasyahhud namun tidak memberikan isyarat telunjuk, shalatnya sah 100%.

Dari itu, sejatinya meributkan hal-hal semacam ini kurang produktif, karena sama sekali tidak mempengaruhi sah atau tidak sahnya shalat. Karena meman pada dasarnya ia bukan rukun shalat yang kalau ditinggalkan, batal shalatnya. Kalau memang tidak ada pengaruhnya dalam hal sah atau tidak sah shalat, lalu kenapa meributkannya terlalu berlebihan?

Menggerak-Gerakan Telunjuk

Dalam hal menggerakkan jari, ada beberapa hadits Nabi s.a.w yang menjelaskan tentang itu, salah satu riwayatnya memang menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. mengegerak-gerakkan jari telunjuknya ketika bertasyahhud, akan tetapi hadits lainnya tidak mengatakan hal yang sama. Berikut hadits-hadits seputar memberi isyarat pada saat tasyahhud;

Hadits Pertama:

رَوَى ابْنُ عُمَرَ قَالَ «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ، وَرَفَعَ أُصْبُعَهُ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ، فَدَعَا بِهَا، وَيَدُهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ بَاسِطًا عَلَيْهَا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Ibn Umra r.a. “Nabi s.a.w. jika ia duduk dalam shalat, ia melettakan tangannya di lututnya, dan mengangkat jarinya yang di sebelah jempol, lalu berdoa, dan tangan kirinya di atas paha kiri terbuka jari-jarinya.” (HR. Muslim)

Hadits Kedua:

رَوَى وَائِلُ بْنُ حُجْرٍ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَضَعَ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ عَقَدَ مِنْ أَصَابِعِهِ الْخِنْصَرَ وَاَلَّتِي تَلِيهَا وَحَلَّقَ حَلْقَةً بِإِصْبَعِهِ الْوُسْطَى عَلَى الْإِبْهَامِ، وَرَفَعَ السَّبَّابَةَ يُشِيرُ بِهَا» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد.

Dari Wail bin Hujr r.a.: “Nabi s.a.w. meletakkan siku kanannya di atas paha kanan kemudian menggenggam kelingkin dan jari setelahnya lalu membuat lingkaran dengan jari tengah dan jempol, dan mengangkat telunjuk memberi isyarat” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Hadits Ketiga:

عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُشِيرُ بِإِصْبَعِهِ إذَا دَعَا وَلَا يُحَرِّكُهَا» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ.

Dari Abdullah bin Zubair r.a. “Nabi s.a.w. memberikan isyarat ketika berdoa (tsyahhud) dan ia tidak menggerak-gerakkannya.” (HR. Abu Daud dan an-Nasa’i)

Hadits Keempat:

رَوَى وَائِلُ بْنُ حُجْرٍ في وصف صلاة النبي: ثُمَّ قَعَدَ وَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ كَفَّهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ الْأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ اثْنَتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا” رَوَاهُ أَحمد وَالنَّسَائِيُّ، والدارمي، وابن حبان

Dari Wail bin Hujr r.a. ketika menceritakan shalatnya Nabi s.a.w: “Nabi s.a.w. duduk dan membaringkan kaki kirinya, lalu menaruh telapak tangan kirinya di atas paha dan lututnya dan menjadikan siku tangan kanannya di atas paha kanannya, lalu menggenggam 2 jarinya dan membuat lingkaran kemudian mengangkat jarinya dan aku melihat ia menggerak-gerakkannya sambil berdoa” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Dari keempat hadits yang disebutkan di atas, satu-satunya hadits yang menunjukkan bahwa Nabi s.a.w. menggerak-gerakan telunjuknya ketika tasyahhud adalah hadits sahabat Wail bin Hujr, akan tetapi hadits ini juga masih menyimpan pertanyaan, ke arah mana jari menggerakkan telunjuknya? Atas bawah, atau kiri kanan? Itu tidak dijelaskan.

Namun di samping itu semua, ulama salaf dari 4 madzhab punya teknis yang berbeda sati dari yang lainnya dalam urusak memberikan isyarat dengan telunjuk ini, dan juga tentu di dalamnya di bahas terkait apakah boleh menggerakkan atau tidak.

Madzhab al-Hanafiyah

أَنَّهُ لَيْسَ لَنَا سِوَى قَوْلَيْنِ: الْأَوَّلُ وَهُوَ الْمَشْهُورُ فِي الْمَذْهَبِ بَسْطُ الْأَصَابِعِ بِدُونِ إشَارَةٍ. الثَّانِي بَسْطُ الْأَصَابِعِ إلَى حِينِ الشَّهَادَةِ، فَيَعْقِدُ عِنْدَهَا وَيَرْفَعُ السَّبَّابَةَ عِنْدَ النَّفْيِ وَيَضَعُهَا عِنْدَ الْإِثْبَاتِ، (ابن عابدين – رد المحتار على الدر المختار 1/509)

“dalam madzhab kami hanya ada 2 pendapat: [1] meregangkan jari-jari tanpa memberi isyarat, [2] merenggangkan jari-jari sampai syahadat lalu menggenggamnya dan mengangkat telunjuk ketika nafiy (laa illallah) dan menurunkannya lagi ketika itsbat (illa Allah)”. (Ibn Abidin dalam Radd al-Muhtar 1/509)

Dari teks yang disebutkan oleh Imam Ibnu ‘Abdin dalam kitabnya, ketentuan madzhab Imam Abu Hanifah dalam hal ini adalah sama sekali tidak memberikan isyarat, atau memberikan isyarat namun hanya sebentar saja, yaitu ketika ia membaca kalimat “Laa Ilaaha” [لا إله], dan menurunkannya lagi ketika kalimat “Illallah” [إلا الله].

Madzhab al-Malikiyah

(وَ) نُدِبَ (تَحْرِيكُهَا) أَيْ السَّبَّابَةِ يَمِينًا وَشِمَالًا (دَائِمًا) فِي جَمِيعِ التَّشَهُّدِ وَأَمَّا الْيُسْرَى فَيَبْسُطُهَا مَقْرُونَةَ الْأَصَابِعِ عَلَى فَخِذِهِ (أحمد الدردير – حاشية الدسوقي على الشرح الكبير للدردير 1/250 – 251)

“Dan disunnahkan menggerak-gerakkan jari telunjuk ke kanan dan ke kiri seterusnya selama tasyahhud. Adapun tangan kiri, direnggangkan jari-jarinya di atas paha kiri” (al-Dardir dalam al-Syarh al-Kabir 1/250-251)

Dari teks yang disebutkan Imam Ahmad al-Dardir ini, ketentuan madzhab al-Malikiyah sebegai berikut:

1. Memberi isyarat telunjuk sejak awal tasyahhud.

2. Menggerak-gerakkannya ke kiri dan ke kanan, bukan atas bawah.

3. Membukan jari-jari tangan kiri dan tidak menggenggamnya.

Madzhab al-Syafi’iyyah

وَيَقْبِضُ مِنْ يُمْنَاهُ الْخِنْصَرَ وَالْبِنْصِرَ وَكَذَا الْوُسْطَى فِي الْأَظْهَرِ وَيُرْسِلُ الْمُسَبِّحَةَ وَيَرْفَعُهَا عِنْدَ قَوْلِهِ: إلَّا اللَّهُ وَلَا يُحَرِّكُهَا (النووي – منهاج الطالبين 28)

“dan menggenggam kelingking serta jari manis tangan kanannya begitu juga jari tengah menurut pendapat yang masyhur dalam madzhb ini dan menjulurkan telunjuk lalu mengangkatnya ketika perkataan ‘illallah’ dan tidak menggerakkannya”. (Ian-Nawawi dalam Minhaj al-Thalibin hal. 28)

Ketentuan dalam madzhab Syafi’i terkait hal ini adalah:

1. Jari kelingkin, jari manis dan jari tengah digengggam, telunjuk dibiarkan beserta jempol.

2. Memberi isyarat telunjuk ketika kalimat “illallah”, sampai akhir tasyahhud.

3. Memberi isyarat tanpa menggerak-gerakkannya.

Madzhab al-Hanabilah

(ويشير بسبابتها) من غير تحريك (في تشهده) ودعائه في الصلاة وغيرها عند ذكر الله تعالى تنبيها على التوحيد (البهوتي – الروض المربع 84)

“Dan memberi isyarat dengan telunjuk tanpa menggerak-gerakkan ketika tasyahhud dan doa dalam shalat atau selainnya ketika menyebut ‘Allah’ ta’ala sebagai bentuk kesadaran akan tauhid”. (al-Buhuti dalam al-Raudh al-Murbi’ hal. 84)

Berbeda dengan madzhab-madzhab pendahulunya, madzhab Imam Ahmad ini punya bahwa Memberi isyarat dengan telunjuk hanya pada momen di mana seorang muslim yang bertasyahhud mengucapkan kalimat “Allah”. Dan isyarat itu tidak terus menerus, akan tetapi langsung turun kembali dan diangkat lagi ketika membaca kalimat “Allah” lagi. Dan yang pasti ketika memberi isyarat dengan telunjuk, tidak disertai dengan gerak-gerak.

Wallahu a’lam

Source: Ust. Ahmad ZarKasih, Lc via rumahfiqh.com

Komentar
  1. widy berkata:

    1.dalam mahzah imam ahamd memberi isyarat hanya pada kalimat allah, bagaimana posisi jari telunjuk ketika tidak sedang menyebut nama allah, diam saja tapi lurus kearah kiblat atau diam tapi bengkok kebawah?
    2. demikian juga mahzag syafei, sebelum jari diangkat pada kalimat illallah, bagaimana posisi tangan kanan, dihamparkan seperti tangan kiri atau digenggam tapi jari telunjuknuya bengkok ke bawah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s