MELAFADZKAN USHOLI KETIKA AKAN SHOLAT

Posted: April 6, 2015 in MADZHAB & KHILAFIYAH, SUNNAH - ADAB & NASIHAT

takbiratul ihram

Seluruh ulama sepakat bahwa tempat niat ada di dalam hati. Namun mereka berselisih pendapat tentang hukum melafadzkan niat di lidah, apakah hukumnya sunnah, makruh atau sekedar boleh.

1. Sunnah

Mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah memandang bahwa melafadzkan niat itu hukumnya sunnah, agar lisan sesuai dengan hati.

  • Al-Khatib Asy-Syarbini (w. 977) dari ulama mazhab Asy-Syafi’iyah dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menyebutkan :

لأن التلفظ بالنية والتسمية سنة

Sebab melafadzkan niat dan basmalah hukumnya sunnah. [1]

  • Al-Buhuti (w. 1051) muallif kitab mazhab Al-Hanafiyah, Kasysyaf Al-Qinna’ menyebutkan :

)واستحبه) أي التلفظ بالنية (سرا مع القلب كثير من المتأخرين) ليوافق اللسان القلب

Banyak dari ulama mutaakhkhirin memandang istihbab melafadzkan niat dengan lirih dalam hati, agar lisan sejalan dengan hati. [2]

2. Makruh

Mazhab Al-Hanabilah dan Al-Hanafiyah menyebutkan bahwa hukum melafadzkan niat itu makruh.

  • Ibnu Najim (w. 970 H) yang merupakan ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah di dalam kitab Al-Asybah wa An-Nazhair menyebutkan :

لا يشترط مع نية القلب التلفظ في جميع العبادات

Tidak disyaratkan melafadzkan niat di dalam hati dalam semua bentuk ibadah.[3]

3. Boleh

Mazhab Al-Malikiyah memandang bahwa hukum melafadzkan niat itu boleh.

  • Ad-Dardir (w. 1230 H) di dalam kitab Asy-Syarhul Kabir menuliskan sebagai berikut :

)ولفظه) أي تلفظ المصلي بما يفيد النية كأن يقول نويت صلاة فرض الظهر مثلا (واسع) أي جائز بمعنى خلاف الأولى . والأولى أن لا يتلفظ لأن النية محلها القلب ولا مدخل للسان فيها

Dan melafadzan niat oleh orang yang shalat seperti nawaitu shalata fardhizh-zhurhi adalah masalah yang luas, yaitu hukumnya boleh walaupun termasuk tidak sejalan dengan utama. Yang utama adalah tidak melafadzkan niat karena tempat niat itu di dalam hati dan tidak ada kaitannya dengan lisan. [4]

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] Al-Khatib Asy-Syarbini, Mughni Al-Muhtaj, jilid 1 hal. 57

[2] Al-Buhuti, Kasysyaf Al-Qinna’, jilid 1 hal. 87

[3] Ibnu Najim, Al-Asybah wa An-Nazhair, hal. 48

[4] Ad-Dardir , Asy-syarhul Kabir, jilid 1 hal. 233-234

Source: rumahfiqh.com

Komentar
  1. Mahrizal mengatakan:

    Syukron ustadz penjelasannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s