CINCIN BESI HARAM KARENA PERHIASAN AHLI NERAKA, BENARKAH?

Posted: April 8, 2015 in MADZHAB & KHILAFIYAH, TAFSIR & QOUL ULAMA
Tag:

Cincin Besi

Pertanyaan

Assalamualaikum warohamtullah wabarokatuh
ustadz semoga sehat selalu, saya mau tanya tentang memakai cincin, dari bahan besi khususnya, Apakah itu benar-benar haram? karena saya pernah melihat sebuah acara di tivi yang menyiarkan itu haram. dalilnya dari hadits Nabi yang bunyinya seperti ini: “Seorang sahabat datang kepada Nabi s.a.w. dan ia memakai cincin yang terbuat dari material sejenis kuningan. Kemudian Nabi s.a.w. mengatakan: ‘aku mencium bau berhala’. Kemudian ia membuangnya. Lalu ia datang lagi dan ia memakai cincin yang terbuat dari besi, Nabi s.a.w. mengatakan: ‘mengapa aku melihat perhiasan ahli neraka di tanganmu’, akhirnya ia pun membuangnya”.

Bagaimana sebenarnya ustadz hukum memakai cincin ini, khususnya memang cincin besi? dan bagaimana sebenarnya memahami hadits ini, benarkah haram? mohon disertai pendapat dari masing-masing madzhab!.
dan juga mohon tambahan, terkait cincin batu akik yang marak sekarang ini, bagaimana ulama madzhab melihat itu? syukran.

Jawaban :

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Secara umum, memakai cincin atau yang dalam bahasa Arab disebut dengan al-Takhattum [التختم] bagi mukmin baik laki-laki atau juga wanita adalah sesuatu yang mubah hukumnya, karena bagian dari berhias yang wajar dan dibolehkan. Bahkan dalam beberapa literasi madzhab fiqih, memakai cincin bisa jadi mustahabb (recommended) jika yang memakai adalah yang punya pangkat dan terhormat di kalangan masyarakat.

Akan tetapi, hukum memakai cincin (al-Takhattum) yang dibahas oleh ulama-ulama syariah bisa berubah dan tidak sama, tergantung dari jenis material yang dijadikan sebagai cincin itu sendiri.

1. Cincin Emas

Untuk cincin jenis ini, semua ulama sejagad raya sepakat bahwa cincin yang terbuat dari emas itu haram untuk laki-laki muslim akan tetapi dibolehkan bagi kaum wanitanya. Berdasarkan hadits Nabi s.a.w.:

أُحِل الذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لإِنَاثِ أُمَّتِي ، وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهَا

“Emas dan sutra dibolehkan untuk kaum wanita ummatku, sedang itu haram bagi kaum lakinya” (HR al-Nasa’i dan Tirmidzi)

Anak Kecil Boleh Memakai Emas

Hanya saja memang ulama berselisih jika yang memakai itu anak kecil yang belum baligh. Bagi madzhab al-Malikiyah dan al-Syafi’iyyah, anak kecil hukumnya sama seperti wanita dalam hal memakai perhiasan emas, yakni boleh. Akan tetapi kemakruhan didapatkan bagi orang tuanya atau siapapun itu yang memakaikan emas kepada anak-anak tersebut. (al-Durr al-Mukhtar 5/231, Mughi al-Muhtaj 1/306)

Berbeda dengan madzhab al-Hanabilah yang tetap mengharamkan itu, tentu bukan anak kecil itu yang terkena keharaman, karena orang yang belum baligh tentu tidak terkena hukum taklif. Keharamannya diperoleh orang tuanya atau siapapun yang memakaikan emas tersebut. Pendapat ini didasarkan kepada qoul sahabat Jabir bin Abdullah r.a.:

كُنَّا نَنْزِعُهُ عَنِ الْغِلْمَانِ وَنَتْرُكُهُ عَلَى الْجَوَارِي

“Kami melepaskan itu (emas) dari anak-anak kami, dan membiarkannya untuk budak-budak kami.” (Sunan ABi Daud)

2. Cincin Perak

Berbeda dengan emas, kalau cincin itu terbuat dari perak, semua ulama sepakat bahwa baik laki-laki atau wanita, kesemuanya boleh memakai cincin perak. Karena dalam hadits yang shahih riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, dari sahabat Abdullah bin Umar r.a. disebutkan memang Nabi juga memakai cincin yang terbuat dari perak yang terukir di situ kalimat ‘Muhammad Rasulullah’

Bahkan cincin Nabi s.a.w. yang terbuat dari perak itu dipakai secara turun temurun, dari beliau s.a.w. kemudian dipakai oleh Abu Bakr r.a. kemudian Umar r.a. kemudian Utsman bin Affan r.a. yang akhirnya cincin itu jatuh ke sebuah sumur, sampai-sampai khalifah Utsman membayar mahal orang untuk mencari cincin tersebut namun akhirnya tidak ditemukan juga.

Dan karena ini, dalam madzhab al-Hanafiyah, memakai cincin perak bagi mereka yang mempunyai pangkat dan jabatan hukumnya menjadi jauh lebih afdhal bagi mereka yang tidak berpangkat. Akan tetapi jika memakainya untuk bergagah-gagah ria jelas itu tidak disukai (makruh), begitu Imam Ibn ‘Abdin menyebutkan dalam Radd al-Muhtarr (6/359)

3. Cincin Selain Emas Perak

Ini kemudian yang menjadi bahan diskusi dan persilisihan di antara ulama fiqih lintas madzhab bahkan sesame ulama di madzhab yang sama. Karena ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari yang menyatakan celaan bagi pemakai cincin besi.

أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ خَاتَمٌ شِبْهُ – نُحَاسٍ أَصْفَرَ – فَقَال لَهُ : إِنِّي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الأْصْنَامِ فَطَرَحَهُ . ثُمَّ جَاءَ وَعَلَيْهِ خَاتَمُ حَدِيدٍ فَقَال : مَا لِي أَرَى عَلَيْكَ حِلْيَةَ أَهْل النَّارِ فَطَرَحَهُ . فَقَال : يَا رَسُول اللَّهِ : مِنْ أَيِّ شَيْءٍ أَتَّخِذُهُ ؟ قَال : اتَّخِذْهُ مِنْ وَرِقٍ

“Seorang sahabat datang kepada Nabi s.a.w. dan ia memakai cincin yang terbuat dari material sejenis kuningan. Kemudian Nabi s.a.w. mengatakan: ‘aku mencium bau berhala’. Kemudian ia membuangnya. Lalu ia datang lagi dan ia memakai cincin yang terbuat dari besi, Nabi s.a.w. mengatakan: ‘mengapa aku melihat perhiasan ahli neraka di tanganmu’, akhirnya ia pun membuangnya lagi lalu bertanya kepada Nabi s.a.w., ‘lalu dari apa yang boleh aku pakai?’, Nabi s.a.w.menjawab: ‘dari perak’ …” (HR Abu Daud)

Dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Imam al-Bukhari di kitabnya al-Adab al-Mufrad, bahwa cincin yang pertama bukan dari kuningan akan tetapi dari emas, itu yang kemudian membuat Nabi s.a.w. marah.

Secara zahir, memang teks hadits ini mengindikasikan keharaman memakai cincin besi, akan tetapi ulama lintas madzhab tidak satu suara tas keharamannya dan tidak mengambil hadits ini secara tektual begitu saja. Di samping karena memang hadits ini diperselisihkan keshahihannya, ada juga hadits lain yang membuat larangan hadits ini turun level menjadi sebuah kemakruhan bahkan menjadi mubah.

Status Hadits Diperselisihkan

Imam al-Munawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir (1/113) menjelaskan status hadits ini yang diperselisihkan. Beliau mengutip pernyataan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam fath al-Baari (10/323) yang menyalin pernyataan Abu Hatim al-Razi bahwa hadits ini lemah dan tidak bisa dijadikan dalil karena dalam sanadnya Abu Thayyibah Abdurrahman bin Muslim yang membuat hadits ini lemah.

Beliau (al-Munawi) juga mengutip pernyataan Imam Ibnu Hibban yang menyatakan bahwa hadits ini memang dhaif tapi banyak diamalkan, setidaknya derajatnya jadi Hasan, tidak sampai shahih. Dan juga pernyataan Imam Tirmidzi yang mengatakan hadits ini adalah hadits gharib, yakni diriwayatkan hanya oleh satu orang. Karena itu juga kemudian terjadi perbedaan pendapat dalam hal cincin besi ini.

3.1. Haram

Madzhab al-Hanafiyah secara tegas mengatakan cincin besi dengan hadits ini menjadi haram hukumnya, bukan hanya besi, tapi juga kuningan. Karena dalam hadits disebutkan Nabi s.a.w. mengatakan “aku mencium bau berhala”. Imam Ibn ‘Abdin menjelaskan keharamannya tersebut dikarenakan itu merupakan pekerjaan tasyabbuh (menyerupai) penyembah berhala.

Karena memang salah satu material yang dipakai oleh orang-orang musyrik untunk menciptakan berhala-berhala mereka adalah dari kuningan itu (nuhaas Ashfar), dank arena itu juga segala jenis material baik itu bebatuan atau besi yang biasa dijadikan bahan pembuatan berhala menjadi haram dipakai jika dijadikan cincin. (Radd al-Muhtar 6/359)

3.2. Boleh

Secara gamblang Imam al-Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ (4/465) bahwa madzhabnya; al-Syafi’iyyah secara resmi menyatakan bahwa hukumnya cincin besi (atau selain emas dan perak) hukumnya boleh. Pertama karena memang hadits celaan itu tidak tsabit atau tidak shahih, karenanya tidak bisa jadi dalil.

Kemudian ditambah dengan hadits Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh sahabat Sahl bin Sa’d al-Sa’idy, dan ini Muttafaq ‘alayh (diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim), tentang cerita wanita yang datang minta dinikahkan oleh Nabi s.a.w. namun Nabi tidak mau, yang akhirnya ada lelaki dari kalangan sahabat yang menginginkan wanita tersebut lalu meminta izin kepada Nabi s.a.w. untuk dinikahkan. Tapi lelaki tersebut tidak punya apa-apa untuk dijadikan mahar, lalu Nabi memerintakan untuk mencari apapun untuk dijadikan sebagai mahar, walaupun hanya sebuah cincin besi.

انْظُرْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ

“cari, walaupun itu hanya sebuah cincin besi!” (Muttafaq ‘Alayh)

Kalau seandainya cincin besi itu diharamkan, pastilah Nabi s.a.w. tidak akan meminta lelaki tersebut untuk menjadikannya sebagai mahar. Kemudian –an-nawawi menambahkan-, kebolehan cincin besi juga dikuatkan dengan adanya riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi s.a.w. punya dan memakai cincin yang terbuat dari besi, walaupun memang cincin besi itu dipolesi atasnya dengan perak.

Hadits yang dikenal dengan hadts al-Mu’aiqiib ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di kitab sunan-nya, yang beliau masukkan dalam kitab al-Khatam, Bab Maa Jaa’ fi Khaatam al-hadid (Bab yang menjelaskan tentang cincin dari besi). Selain Imam Abu Daud, Imam al-Baihaqi dan juga Imam an-Nasa’i meriwayatkan hadits serupa.

Beliau –Imam an-Nawawi- menegaskan bahwa sanad hadits ini jayyid (baik), dan ini (boleh cincin besi) adalah pendapat yang mukhtar (pilihan) dalam madzhab al-Syafi’iyyah.

3.3. Makruh

Sebagian ulama al-Syafi’iyyah dan madzhab lain sebagaimana diriwayatkan oleh Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ juga Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam fath al-Baari (10/323) mengatakan bahwa besi itu memang tidak haram, tapi statusnya makruh. Alasannya karena hadits di celaan besi itu tetap dijalankan, dan seharusnya itu menjadi haram, karena ada celaan. Namun keharaman tersebut levelnya turun menjadi makruh, karena hadits al-Mu’aiqiib yang menyatakan Nabi punya juga cincin dari besi.

Kelompok ini tidak menjadikan hadits mahar cincin besi itu sebagai dalil karena boleh dijadikan mahar bukan berarti boleh untuk dipakai, bisa saja itu untuk dimanfaatkan harganya oleh si wanita. Karenanya statusnya makruh bukan boleh.

Pendapat Ulama Lintas Madzhab

Menambah penjelasan terkait ulasan ini, baiknya kita simak kutipan dari masing-masing madzhab fiqih;

a. Madzhab al-Hanafiyah

فَالْحَاصِلُ: أَنَّ التَّخَتُّمَ بِالْفِضَّةِ حَلَالٌ لِلرِّجَالِ بِالْحَدِيثِ وَبِالذَّهَبِ وَالْحَدِيدِ وَالصُّفْرِ حَرَامٌ عَلَيْهِمْ بِالْحَدِيثِ وَبِالْحَجَرِ حَلَالٌ عَلَى اخْتِيَارٍ شَمْسِ الْأَئِمَّةِ وَقَاضِي خَانْ أَخْذًا مِنْ قَوْلِ الرَّسُولِ وَفِعْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِأَنَّ حِلَّ الْعَقِيقِ لَمَّا ثَبَتَ بِهِمَا ثَبَتَ حِلُّ سَائِرِ الْأَحْجَارِ، لِعَدَمِ الْفَرْقِ بَيْنَ حَجَرٍ وَحَجَرٍ وَحَرَامٌ عَلَى اخْتِيَارِ صَاحِبِ الْهِدَايَة

“kesimpulannya: memakai cincin perak itu halal, bagi lelaki sebagaimana haditsnya, dan cincin emas serta cincin besi juga kuningan haram karena haditsnya (hadits Abu Daud), sedangkan cincin dari batu itu halal menurut pendapat syamsul-Aimmah (Imam al-Sarakhsi, pengarang Kitab al-mabsuth) dan juga Qadhi Khan merujuk kepada hadits Nabi s.a.w. dan perbuatan beliau, karena halalnya batu akik itu shahih maka itu juga sebagai kebolehan semua bebatuan, karena tidak ada beda antara batu dan batu, akan tetapi batu juga haram hukumnya menurut pendapat pengarang kitab al-Hidayah (Imam al-Marghinani)”. (Ibn ‘Abdin dalam Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar 6/360)

b. Madzhab al-Malikiyah

[وَنُهِيَ عَنْ التَّخَتُّمِ بِالْحَدِيدِ] لِلنِّسَاءِ وَالرِّجَالِ، وَمِثْلُ الْحَدِيدِ النُّحَاسُ وَالرَّصَاصُ، وَأَمَّا الْجِلْدُ وَالْعَقِيقُ وَالْخَشَبُ فَجَائِزٌ.

“[dan terlarang memakai cincin besi] bagi wanita dan laki-laki. Yang sejenis besi adalah kuningan, juga timah. Sedangkan kulit, batu akik,dan kayu itu boleh”. (Hasyiyah al-‘Adwi ‘ala Kifayah al-Thalib al-Rabbani 2/450)

c. Madzhab al-Syafi’iyyah

وقال صاحب الإبانة يكره الخاتم مِنْ حَدِيدٍ أَوْ شَبَهٍ بِفَتْحِ الشِّين وَالْبَاءِ وَهُوَ نَوْعٌ مِنْ النُّحَاسِ وَتَابَعَهُ صَاحِبُ الْبَيَانِ فَقَالَ يُكْرَهُ الْخَاتَمُ مِنْ حَدِيدٍ أَوْ رَصَاصٍ أَوْ نُحَاسٍ لِحَدِيثِ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ … رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَفِي إسْنَادِهِ رَجُلٌ ضَعِيفٌ وَقَالَ صَاحِبُ التَّتِمَّةِ لَا يُكْرَهُ الْخَاتَمُ مِنْ حَدِيدٍ أَوْ رَصَاصٍ لِلْحَدِيثِ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلَّذِي خَطَبَ الْوَاهِبَةَ نَفْسَهَا … وَلَوْ كَانَ فِيهِ كَرَاهَةٌ لَمْ يَأْذَنْ فِيهِ بِهِ وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُد بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ عَنْ مُعَيْقِيبٍ الصَّحَابِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْه … فَالْمُخْتَارُ أَنَّهُ لَا يُكْرَهُ لِهَذَيْنِ الْحَدِيثَيْنِ وَضَعَّفَ الْأَوَّلَ

“Pengarang al-Ibanah (Abu al-Qasim al-Furani) mengatakan makruh hukumnya memakai cincin besi atau syabah dengan sya dan ba’ difathahkan, itu adalah sejenis kuningan, pendapat ini diikuti oleh pengarang kitab al-Bayan (al-‘Umrani) beliau mengatakan makruh hukumnya cincin besi atau timah atau kuningan karena hadits Buraidah r.a. .. –hadits celaan cincin besi-.. diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi, dalam sanadnya ada perawi yang lemah. Sedangkan pengarang kitab al-tatimmah (kitab al-Ibanah, yakni Abu al-Qasim al-Furani) mengatakan tidak ada kemakruhan cincin besi atau timah karena ada hadits dari 2 shahih (bukhari dan muslim) Rasul s.a.w. mengatakan kepada yang ingin melamar wanita ..- “carilah walau cincin besi”- .. kalau seandainya ada kemakruhan, pastilah tidak diizinkan utnuk memberikan mahar sebuah cincin besi. Dan juga karena hadits dalam sunan Abi Daud dengan sanad yang bagus dari sahabat al-Mu’aqiib .. –cincin Nabi dari besi- … dan pendapat pilihan adalah tidak ada kemakruhan karena 2 hadits tersebut, dan melemahkan pendapat yang pertama (makruh)”. (an-Nawawi dalam al-Majmu’ 4/466)

d. Madzhab al-Hanbali

ويباح التختم بالعقيق ويكره لرجل وامرأة خاتم حديد وصفر ونحاس ورصاص وكذا دملج ويباح له من الفضة

“dibolehkan memakai cincin dari batu akik, dan dimakruhkan untuk laki-laki dan wanita memakai cincin besi, kuningan, dan sejenisnya, juga timah, begitu juga gelang (hukumnya sama seperti cincin), dan dibolehkan cincin dari perak”. (al-Hijawi dalam al-Iqna’ fi Fiqh al-Imam Ahmad bin Hanbal 1/274)

Mata Cincin Nabi s.a.w. dari Batu Akik

Dalam kitabnya yang menjelaskan hadits-hadits dalam shahih Muslim; Imam Nawawi menyebutkan beberapa riwayat tentang rupa cincin yang Nabi s.a.w. pakai, beliau menyebutkan bahwa Nabi s.a.w. pernah punya cincin perak, dan matanya adalah batu hitam dari Negeri Habasyah, Yaman. Namun beliau juga punya cincin perak yang matanya itu dari batu akik. (syarhu al-Nawawi li Muslim 14/71)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Source: Ahmad Zarkasih, Lc via kampussyari’ah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s