TA’WIL AYAT MUTASYABIHAT MENURUT ULAMA SALAF & KONTEMPORER

Posted: April 20, 2015 in AQIDAH AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:

Takwil

SIAPAKAH YANG MENGAJARKAN TAKWIL PERTAMA KALI?

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إن الله عز وجل يقول يوم القيامة يا ابن آدم مرضت فلم تعدني قال يا رب كيف أعودك وأنت رب العالمين قال أما علمت أن عبدي فلانا مرض فلم تعده أما علمت أنك لو عدته لوجدتني عنده

Sesungguhnya Allah akan berfirman pada hari kiamat kelak, “Wahai anak Adam, Aku dulu pernah sakit tapi kamu tidak menjenguk-Ku.” Orang itu menjawab, “Wahai Tuhan, bagaimana aku menjenguk-Mu padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam.” Allah SWT membalas, “Tidakkah kamu tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tapi kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu tahu bahwa seandainya kamu menjengkunya, kamu pasti menjumpai-Ku di sisinya?” (HR. Muslim).

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim:

قال العلماء : إنما أضاف المرض إليه سبحانه وتعالى ، والمراد العبد تشريفا للعبد وتقريبا له

“Ulama mengatakan: sifat sakit dilekatkan kepada Allah SWT padahal maksudnya adalah hamba-Nya sebagai bentuk pemuliaan dan pendekatan untuknya.”

Beliau melanjutkan:

قالوا : ومعنى ( وجدتني عنده ) أي وجدت ثوابي وكرامتي

“Kalimat: pasti kamu menjumpai-Ku di sisinya, maksudnya adalah pasti kamu akan menjumpai pahala dan karamah-Ku (di sisinya).”

Mengenai kalimat “bagaimana aku menjenguk-Mu”, penulis kitab Mir’atul Mafatih menjelaskan maksudnya yaitu:

أي كيف تمرض حتى أعودك

“Bagaimana Engkau sakit sehingga aku menjenguk-Mu?”

Selanjutnya mengenai kalimat “padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam” beliau menjelaskan:

وأنت رب العالمين والرب المالك والسيد والمدبر والمربي والمنعم، وهذه الأوصاف تنافي المرض

“Tuhan adalah raja, tuan, pengatur, pendidik dan pemberi nikmat. Semua sifat itu menafikan sifat sakit.”

Sedangkan Ali Al-Qari menjelaskan kemusykilan kalimat “Allah sakit”:

فإن قيل إن الظاهر أن يقال كيف تمرض مكان كيف أعودك؟ قلنا عدل عنه معتذراً إلى ما عوتب عليه وهو مستلزم لنفي المرض

“Kalau ada yang mengatakan bahwa secara zhahir seharusnya dikatakan: “bagaimana Engkau sakit” sebagai ganti “bagaimana aku menjenguk-Mu”. Maka kami menjawab: dialihkan ke kalimat kedua sebagai bentuk permintaan maaf atas kesalahan yang membuatnya ditegur. Kalimat ini juga mengandung konsekuensi penafian sifat sakit.”

Beliau melanjutkan:

أما علمت أنك لو عدته لوجدتني عنده أي لوجدت رضائي وثوابي وكرامتي

“Tidakkah kamu tahu bahwa seandainya kamu menjenguknya, pasti kamu akan menjumpai-Ku di sisinya. Maksudnya adalah pasti kamu akan menjumpai kerelaan-Ku, pahala-Ku dan karomah-Ku.”

PELAJARAN:

1. Hamba tersebut mengatakan, “Bagaimana aku menjenguk-Mu?” Ini merupakan pertanyaan yang muncul dari fitrah yang lurus dan akal yang sehat. Sebab, sifat sakit mustahil menimpa Allah SWT sehingga wajar jika ia meminta penjelasan tentang maknanya. Seandainya sifat sakit layak bagi Allah, tentu dia tidak akan bertanya seperti itu dan cukup mengatakan di dalam hati, “Sakit Allah tidak seperti sakit makhluk. Sakit bagi Allah adalah sifat kesempurnaan, bukan sifat kekurangan. Sakit yang layak bagi keagungan-Nya.” Tentun ucapan ini adalah kontradiksi yang nyata.

2. Mengalihkan kata “menjumpai-Ku” menuju makna “menjumpai pahala-Ku, kerelaan-Ku, dst.” merupakan takwil tafshili yang banyak dilakukan oleh para ulama terhadap teks-teks mutasyabihat.

3. Allah SWT yang pertama kali mengajari hamba-Nya untuk menakwilkan sifat yang tidak layak bagi Allah kepada makna yang layak bagi-Nya.

Wallahu a’lam bish showab.

***
MEMALINGKAN KATA “LUPA” KEPADA MAKNA “MENINGGALKAN” TERMASUK TAKWIL.

Di antara makna takwil adalah memalingkan sebuah kata dari makna hakikinya menuju makna majazinya. Contohnya kata “lupa” memiliki dua makna: hakiki dan majazi. Makna hakiki dari kata “lupa” adalah lawan kata dari ingat atau hafal. Sedangkan makna majazinya adalah meninggalkan. Oleh karena itu, apabila disebutkan kata “lupa” yang dilekatkan kepada Allah, misalnya “Allah lupa” atau “Allah melupakan” maka maksudnya adalah “Allah meninggalkan”, sebab makna hakikinya mustahil bagi Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَهْوًا وَلَعِبًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا وَمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ

“Orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raaf: 51)

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 67)

فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Maka rasakanlah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini (Hari Kiamat); sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 14)

وَقِيلَ الْيَوْمَ نَنْسَاكُمْ كَمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

“Dan dikatakan (kepada mereka): “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong.” (QS. Al-Jaatsiyah: 34)

Abu Hurairah RA meriwayatkan:

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ فِي الظَّهِيرَةِ لَيْسَتْ فِي سَحَابَةٍ قَالُوا لَا قَالَ فَهَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ فِي سَحَابَةٍ قَالُوا لَا قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ رَبِّكُمْ إِلَّا كَمَا تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا قَالَ فَيَلْقَى الْعَبْدَ فَيَقُولُ أَيْ فُلْ أَلَمْ أُكْرِمْكَ وَأُسَوِّدْكَ وَأُزَوِّجْكَ وَأُسَخِّرْ لَكَ الْخَيْلَ وَالْإِبِلَ وَأَذَرْكَ تَرْأَسُ وَتَرْبَعُ فَيَقُولُ بَلَى قَالَ فَيَقُولُ أَفَظَنَنْتَ أَنَّكَ مُلَاقِيَّ فَيَقُولُ لَا فَيَقُولُ فَإِنِّي أَنْسَاكَ كَمَا نَسِيتَنِي

Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat?” Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kalian terhalang melihat matahari di siang hari yang tidak tertutup awan?” Mereka menjawab: “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda: “Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama yang tidak tertutup awan?” Para sahabat menjawab: “Tidak, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah yang menggenggam jiwaku. Kalian tidak akan terhalang melihat Tuhan kalian kecuali sebagaimana kalian melihat salah satu dari keduanya (matahari dan bulan). Pada hari itu Allah akan menemui setiap hamba lalu berkata: ‘Wahai hamba, bukankah Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu pemimpin, menikahkanmu, menundukkan untukmu kuda dan unta. Aku biarkan kalian memimpin dan mengambil seperempat (dari harta rampasan perang)?’ Hamba itu menjawab, ‘Benar wahai Allah.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu pernah menyangka bahwa engkau akan bertemu dengan-Ku?’ Hamba itu menjawab, ‘Tidak.’ Allah berfirman, ‘Sungguh pada hari ini Aku akan melupakanmu sebagaimana kamu dulu melupakan-Ku.’” (HR. Muslim)

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam Sunannya lalu beliau mengatakan:

وَمَعْنَى قَوْلِهِ « الْيَوْمَ أَنْسَاكَ ». يَقُولُ الْيَوْمَ أَتْرُكُكَ فِى الْعَذَابِ. هَكَذَا فَسَّرُوهُ

“Makna ‘pada hari ini Aku akan melupakanmu’ adalah ‘Aku akan meninggalkanmu dalam siksaan’. Demikianlah para ulama menafsirkannya.”

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsirnya surat Al-Baqarah ayat 106 mengatakan:

والأظهر أن حمل النسيان على الترك مجاز ، لأن المنسي يكون متروكاً ، فلما كان الترك من لوازم النسيان أطلقوا اسم الملزوم على اللازم.

“Yang lebih benar bahwa mengartikan ‘lupa’ dengan ‘meninggalkan’ merupakan majaz. Karena sesuatu yang dilupakan biasanya ditinggalkan, maka kata ‘meninggalkan’ termasuk konsekuensi (lazim) dari kata ‘lupa’ sehingga mereka biasa mengganti kata asal (malzum) dengan lazimnya.”

Jadi, memaknai kata “lupa” dengan “meninggalkan” adalah termasuk takwil karena kata “meninggalkan” merupakan makna majazi dari kata “lupa”, bukan makna hakikinya. Tulisan ini menjadi sanggahan terhadap kalangan yang mengingkari takwil terhadap teks-teks sifat.[1]

Wallahu a’lam bish showab.

___

[1] Kemudian saya mendapatkan faidah dari tulisan Ust. Ibnu Abdillah Al-Katibiy jazahullahu khairan yang dimuat dalam blog ASWJ-RG. Di situ disebutkan:

Imam asy-Syaukani mengatakan :

والنسيان الترك: أي تركوا ما أمرهم به، فتركهم من رحمته وفضله، لأن النسيان الحقيقي لا يصح إطلاقه على الله سبحانه، وإنما أطلق عليه هنا من باب المشاكلة المعروفة في علم البيان

” Dan Nisyan adalah at-tark yakni ” Tinggalkan lah (terjemah yang lebih tepat adalah: mereka meninggalkan, -Danang) apa yang Allah perintahkan pada mereka, maka Allah meninggakan mereka dari rahmat dan keutamaan-Nya. Karena Nisyan makna secara hakekatnya tidaklah sah dinisbatkan kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya lafaz nisyan dinisbatkan atas Allah di sini hanyalah dari segi bab musyakalah yang sudah ma’ruf dalam ilmu Bayan “. [1]

Imam Fath ar-Razi mengatakan :

نسوا الله فنسيهم واعلم أن هدا الكلام لا يمكن إجراؤه على ظاهره لأنا لو حملناه على النسيان على الحقيقة لما استحقوا عليه ذما، لأن النسيان ليس في وسع البشر، وأيضا فهو في حق الله تعالى محال فلا بد من التأويل

” Mereka lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka ” ketahuilah sesungguhnya ucapan ini tidak mungkin memberlakukannya secara (makna) dhahirnya, kerana jika kita artikan Nisyan secara hakekatnya, maka mereka tidak berhak mendapat celaan, sebab nisyan bagi manusia bukanlah perkara yang dimaukan manusia, dan juga nisyan bagi Allah adalah mustahil, maka wajib ditakwil “. [2]

Imam al-Qadhi Abu Bakar ibn ‘Arabi mengatakan :

” Hadits-hadits sahih dalam bab ini – yakni dalam bab shifat- terbagi menjadi tiga tingkatan :

Pertama : Sifat yang lafaz-lafaznya datang dengan menunjukkan kesempurnaan semata, tidak ada aib atau kekurangan. Maka ini wajib diyakini.

Kedua : Sifat yang lafaz-lafaznya ada kekurangan, maka ini tidak ada bagian sedikitpun bagi Allah, tidak boleh disandarkan kepada-Nya kecuali ia terhalang darinya dalam makna secara dharurat saja seperti firman-Nya, ” Wahai hambaku, aku sakit kenapa tidak menjengukku “, dan semisalnya.

Yang ketiga : sifat yang lafaz-lafaznya ada kesempurnaan akan tetapi mewahamkan taysbih “.[3]

Kemudian beliau melanjutkan :

” Adapun sifat yang datang dengan kesempurnaan semata seperti sifat wahdaniyyah, ilmu, qudrah, iradah, hayat, sama’, bahsar, ihathah, taqdir dan tadbir, tidak ada sekurtu, maka tidak ada pembicaraan di antara ulama dan tidak ada no coment. Adapun sifat yang lafaznya datang dengan kekurangan semata seperti firman Allah Ta’ala ” Siapakah yang mau menghutangkan Allah dengan hutang yang baik ” dan firman-Nya ” Aku lapar kenapa kamu tidak memberikan aku makan “, maka semua orang baik yang alim maupun yang jahil mengetahui bahwa hal itu adalah kinayah (sindiran), akan tetapi Allah menyandarkan hal itu kepada dzat-Nya yang Mulia lagi Suci sebagai kemuliaan kepada wali-Nya dan sebagai kehormatan dan pelembutan bagi hati…

Maka jika ada lafaz-lafaz yang muhtamal (mengandung makna yang banyak) yang terkadang dari satu sisi datang untuk kesempurnaan dan satu sisi lainnya kadang untuk kekurangan / aib, maka wajib bagi setiap muslim yang cerdas untuk menjadikannya makna kinayah / sindiran yang boleh atas-Nya, dan menafikan dari apa yang tidak boleh atas-Nya. Maka ucapan di dalam tangan, pergelangan tangan dan jari adalah kalimat-kalimat indah yang menunjukkan makna-makna mulia, karena kalimat saa’id (pergelangan tangan) menurut orang Arab kadang terarahkan pada makna kekuatan dan kesangatan, dan disandarkan kalimat saa’id kepada Allah kerana sesungguhnya segala urusan milik Allah. Demikian juga ucapannya : ” Sesungguhnya sedekah itu jatuh di telapak tangan Allah yang Maha Pengasih “, diibaratkan dengan kalimat telapak tangan, dimaksudkan penjagaan orang miskin sebagai kemuliaan dan apa yang dibalik dengan jari jari itu ebih mudah dan ringan dan lebih cepat “.[4]

[1] Fath al-Qadir : 2/379

[2] Tafsir ar-Razi : 16/126

[3] Al-‘Awashim min al-Qawashim : 228

[4] Al-‘Awashim min al-Qawashim : 228

***
SIS LAIN TAKWIL DAN TAHRIF MENURUT IBNU TAIMIYAH

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan dalam Majmu Fatawa (6/19) :

وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّا لَا نَذُمُّ كُلَّ مَا يُسَمَّى تَأْوِيلًا مِمَّا فِيهِ كِفَايَةٌ وَإِنَّمَا نَذُمُّ تَحْرِيفَ الْكَلِمِ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَمُخَالَفَةَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْقَوْلَ فِي الْقُرْآنِ بِالرَّأْيِ

“Telah berlalu (penjelasan) bahwa kami tidak mencela setiap yang disebut sebagai takwil yang di dalamnya terdapat penjelasan yang cukup. Yang kami cela hanyalah tahrif (penyimpangan) kalimat dari tempatnya dan menyelisihi Quran, Sunnah serta menafsirkan Quran dengan ro’yu (opini).”

Kemudian beliau mengatakan:

وَيَجُوزُ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ أَنْ تُفَسَّرَ إحْدَى الْآيَتَيْنِ بِظَاهِرِ الْأُخْرَى وَيُصْرَفَ الْكَلَامُ عَنْ ظَاهِرِهِ ؛ إذْ لَا مَحْذُورَ فِي ذَلِكَ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ ، وَإِنْ سُمِّيَ تَأْوِيلًا وَصَرْفًا عَنْ الظَّاهِرِ فَذَلِكَ لِدَلَالَةِ الْقُرْآنِ عَلَيْهِ وَلِمُوَافَقَةِ السُّنَّةِ وَالسَّلَفِ عَلَيْهِ ؛ لِأَنَّهُ تَفْسِيرُ الْقُرْآنِ بِالْقُرْآنِ ؛ لَيْسَ تَفْسِيرًا لَهُ بِالرَّأْيِ ، وَالْمَحْذُورُ إنَّمَا هُوَ صَرْفُ الْقُرْآنِ عَنْ فَحْوَاهُ بِغَيْرِ دَلَالَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالسَّابِقِينَ كَمَا تَقَدَّمَ . وَلِلْإِمَامِ أَحْمَد – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – رِسَالَةٌ فِي هَذَا النَّوْعِ وَهُوَ ذِكْرُ الْآيَاتِ الَّتِي يُقَالُ : بَيْنَهَا مُعَارَضَةٌ وَبَيَانُ الْجَمْعِ بَيْنَهَا وَإِنْ كَانَ فِيهِ مُخَالَفَةٌ لِمَا يَظْهَرُ مِنْ إحْدَى الْآيَتَيْنِ أَوْ حَمْلُ إحْدَاهُمَا عَلَى الْمَجَازِ

“Diperbolehkan menurut kesepakatan kaum muslimin untuk menafsirkan salah satu ayat dengan zhahir ayat yang lain serta memalingkan kalimat dari zhahirnya. Sebab tidak ada satu pun dari kalangan Ahlus Sunnah yang melarang hal itu, meskipun hal itu dinamakan takwil dan pemalingan dari zhahir. Semua itu disebabkan adanya petunjuk dalam Quran yang menuju kepadanya dan adanya kesesuaian dengan Sunnah dan Salaf. Karena hal itu dinamakan tafsir Quran dengan Quran bukan tafsir Quran dengan ro’yu. Sedangkan yang dilarang adalah memalingkan Quran dari maksudnya tanpa ada petunjuk dari Allah, Rasulullah dan para ulama pendahulu sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Imam Ahmad rahimahullah memiliki sebuah karya tulis tentang masalah ini, di dalamnya beliau menyebutkan ayat-ayat yang dianggap saling bertentangan beserta penyelesaiannya, meskipun di dalamnya terdapat penjelasan yang menyelisihi salah satu makna yang mengemuka (zhahir) dari dua ayat atau memaknai salah satu ayat dengan makna majaz.”

Nukilan di atas bukan dalam rangka mendukung pendapat Ibnu Taimiyah dalam masalah takwil karena pendapat beliau dalam masalah ini sudah masyhur dan tidak perlu saya jelaskan di sini. Nukilan di atas hanya untuk menunjukkan sisi lain perkataan beliau yang barangkali belum diketahui sebagian orang. Semoga bermanfaat.

***
IBNU TAIMIYAH DAN TAKWIL TAFSHILI

Berikut ini beberapa pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa mengenai takwil kata “wajah Allah”:

وقوله : { لا إله إلا هو } يقتضي أظهر الوجهين وهو أن كل شيء هالك إلا ما كان لوجهه من الأعيان والأعمال وغيرهما . روي عن أبي العالية قال : ” إلا ما أريد به وجهه وعن ” جعفر الصادق ” إلا دينه ” ومعناهما واحد . وقد روي عن عبادة بن الصامت قال ” يجاء بالدنيا يوم القيامة فيقال : ميزوا ما كان لله منها . قال : فيماز ما كان لله منها ثم يؤمر بسائرها فيلقى في النار ” . وقد روي عن علي ما يعم . ففي تفسير الثعلبي عن صالح بن محمد عن سليمان بن عمرو عن سالم الأفطس عن الحسن وسعيد بن جبير عن علي بن أبي طالب ” أن رجلا سأله فلم يعطه شيئا . فقال : أسألك بوجه الله فقال له علي . كذبت ليس بوجه الله سألتني إنما وجه الله الحق ألا ترى إلى قوله : { كل شيء هالك إلا وجهه } يعني الحق – ولكن سألتني بوجهك الخلق ” وعن مجاهد ” إلا هو ” وعن الضحاك ” كل شيء هالك إلا الله والجنة والنار والعرش ” وعن ابن كيسان “إلا ملكه”

1. “Wajah Allah” diartikan dengan “segala sesuatu yang (dilakukan) demi mendapatkan wajah-Nya.”

Ibnu Taimiyah berkata, “Jika yang dimaksud di sini adalah pembicaraan (kalam) mengenai tafsir ayat, maka kami mengatakan: menafsirkan ayat dengan apa-apa yang ma’tsur dan manqul dari perkataan salaf dan mufassirin, yaitu “Segala sesuatu akan binasa kecuali apa-apa yang (dilakukan) demi mendapatkan wajah-Nya,” adalah lebih baik daripada tafsir baru yang dibuat-buat itu (muhdats).” (Majmu’ Fatawa II/23)

2. “Wajah Allah” ditakwilkan dengan “agama Allah”

Ibnu Taimiyah berkata, “Tauhid ini dan tafsirnya yang telah disebutkan dalam hadits: Ketahuilah bahwa segala sesuatu selain Allah adalah bathil, adalah serupa dengan firman Allah, “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah Allah.” Setelah ayat “Sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir. Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajah Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qashash: 86-88)

Kemudian beliau melanjutkan, “Diriwayatkan dari Ja’far Ash-Shadiq (maksudnya yaitu): kecuali agama Allah.” (Majmu’ Fatawa II/258)

3. “Wajah Allah” diartikan dengan “Kebenaran” (Al-Haq)

Ibnu Taimiyah berkata, “Telah diriwayatkan dari Ali (bin Abi Thalib) sesuatu yang umum. Dalam tafsir Ats-Tsa’labi dari Shalih bin Muhammad, dari Sulaiman bin Amr, dari Salim Al-Afthas, dari Al-Hasan dan Said bin Jubair, dari Ali bin Abi Thalib, bahwa seorang laki-laki meminta kepadanya tapi beliau tidak memberinya, lalu laki-laki itu berkata, “Aku memintamu dengan wajah Allah.” Ali menjawab, “Bohong kau! Bukan dengan wajah Allah kau memintaku, karena wajah Allah adalah Al-Haq (kebenaran).” (Majmu’ Fatawa II/258)

4. “Wajah Allah” diartikan dengan “Allah” itu sendiri

Ibnu Taimiyah berkata, “Diriwayatkan dari Mujahid (bahwa maksud dari kata wajah Allah adalah): Allah.” (Majmu’ Fatawa II/258)

5. “Wajah Allah” diartikan dengan “Allah, Surga, Neraka dan Arsy”

Ibnu Taimiyah berkata, “Diriwayatkan dari Adh-Dhahak: segala sesuatu pasti binasa kecuali Allah, Surga, Neraka dan Arsy.” (Majmu’ Fatawa II/258)

6. “Wajah Allah” diartikan dengan “Kiblat Allah”

Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataan, ‘Kau menginginkan wajah ini’, maksudnya adalah arah ini atau sisi ini. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” Maksudnya adalah kiblat Allah atau pandangan Allah. Demikianlah pendapat Jumhur Salaf, meskipun mereka menganggapnya termasuk dalam ayat sifat.” (Majmu’ Fatawa II/259)

7. “Wajah Allah” diartikan dengan “agama Allah”, “kehendak Allah”, “ibadah kepada Allah”

Ibnu Taimiyah berkata, “Firman Allah: Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya, maksudnya adalah agama-Nya, kehendak-Nya dan ibadah (kepada)-Nya.” (Majmu’ Fatawa II/261)

8. “Wajah Alah” diartikan dengan “Dzat Allah”

Ibnu Taimiyah berkata, “Maka kepada dasar inilah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dikembalikan, “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya.” Sebagaimana ayat, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” Sesungguhnya kekalnya wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah kekalnya Dzat-Nya.” (Majmu’ Fatawa II/262).

***
KALANGAN ANTI-TAKWIL : ANTARA BINGUNG ATAU BERUBAH PIKIRAN

Kalangan anti-takwil masih saja memunculkan sikap yang kontradiktif dalam menyikapi teks-teks tentang sifat. Di antaranya ketika menyikapi sifat “bosan” yang dilekatkan kepada Allah SWT. Sebagian di antara mereka akhirnya bergabung dengan kalangan pro-takwil (Ahlussunnah), sebagian lagi bersikukuh dengan anti-takwilnya meskipun harus rela terjebak dalam kebingungan yang nyata.

Sumbernya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

عليكم بما تطيقون فوالله لا يمل الله حتى تملوا وكان أحب الدين إليه مادام عليه صاحبه

“Hendaknya kalian beramal sesuai sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak akan bosan hingga kalian bosan. Agama yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dirutinkan oleh pelakunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari menjelaskan:

قوله : ( لا يمل الله حتى تملوا ) هو بفتح الميم في الموضعين ، والملال استثقال الشيء ونفور النفس عنه بعد محبته ، وهو محال على الله تعالى باتفاق

“Arti bosan adalah merasakan berat dan berpalingnya diri dari sesuatu setelah menyukainya. Ini mustahil terjadi pada Allah SWT secara sepakat.”

Imam Al-Khattabi mengatakan:

الملال لا يجوز على الله تعالى بحال، ولا يدخل في صفاته بوجه، وإنما معناه أنه لا يترك الثواب والجزاء على العمل ما لم تتركوه

“Bosan itu tidak mungkin terjadi pada Allah dalam keadaan apapun. Dan tidak termasuk sifat-Nya. Yang dimaksud di sini adalah Dia tidak meninggalkan pahala dan balasan atas amalan selama mereka tidak meninggalkan amalan itu.” (Al-Asmaa wash Shifaat karangan Imam Al-Baihaqi)

Imam An-Nawawi mengatakan:

قال العلماء : الملل والسآمة بالمعنى المتعارف في حقنا محال في حق الله تعالى ، فيجب تأويل الحديث

“Ulama mengatakan bahwa kata ‘bosan’ yang kita kenal selama ini mustahil terjadi pada Allah SWT, sehingga wajib ditakwilkan.” (Syarah Shahih Muslim)

Imam Al-Qurthubi mengatakan:

ظاهره محال على الله تعالى، فإن الملال فتور عن تعب وألم عن مشقة، وكل ذلك على الله تعالى محال

“Makna yang mengemuka dari kata itu mustahil terjadi pada Allah SWT, karena sesungguhnya bosan itu artinya berhenti karena lelah dan merasa sakit karena keberatan. Semua itu mustahil bagi Allah SWT.” (Al-Mufhim: 413)

Begitu juga Imam Al-Maziri mengatakan:

الملالة التي بمعنى السآمة لا تجوز على الله تعالى

“Kata ‘malalah’ yang artinya bosan itu mustahil bagi Allah SWT.”

Kalau kita telusuri kitab-kitab Ahlussunnah lainnya, kita akan mendapati berlipat-lipat kali seperti penjelasan di atas. Sekarang bandingkan dengan perkataan kalangan anti-takwil dalam memahami hadits di atas:

إنَّ هذا دليل على إثبات الملل لله ، لكن ؛ ملل الله ليس كملل المخلوق ؛ إذ إنَّ ملل المخلوق نقص ؛ لأنه يدل على سأمه وضجره من هذا الشيء ، أما ملل الله ؛ فهو كمال وليس فيه نقص ، ويجري هذا كسائر الصفات التي نثبتها لله على وجه الكمال وإن كانت في حق المخلوق ليست كمالاً

“Sesungguhnya hadits ini merupakan dalil penetapan sifat al-malal (bosan) bagi Allah. Akan tetapi, sifat bosan Allah tidaklah seperti sifat bosan makhluk. Sifat bosan makhluk adalah kekurangan, karena hal itu menunjukkan kejemuan dan kebosanan akan sesuatu. Adapun sifat bosan Allah adalah sempurna tanpa ada padanya kekurangan. Sifat ini berjalan sebagaimana seluruh sifat-sifat yang kita tetapkan bagi Allah dalam kesempurnaan; meskipun jika itu ada pada makhluk tidak menunjukkan kesempurnaan.”

Di akhir perkataan ia berkesimpulan:

وعلى كل حال يجب علينا أن نعتقد أنَّ الله تعالى مُنَزَّه عن كل صفة نقص من الملل وغيره ، وإذا ثبت أنَّ هذا الحديث دليل على الملل ؛ فالمراد به ملل ليس كملل المخلوق.

“Bagaimanapun sebenarnya, wajib bagi kita untuk meyakini bahwasannya Allah ta’ala terhindar dari setiap sifat kurang berupa sifat bosan atau yang lainnya. Dan apabila telah shahih bahwa hadits ini menunjukkan sifat bosan, maka maksud dari sifat bosan itu, tidaklah seperti sifat bosannya makhluk.”

Bahkan ada pula yang bersikukuh berpendapat bahwa semua itu bukanlah takwil. Ia mengatakan:

وهذا ليس تأويلاً، بل تفسير الحديث على ظاهره

“Ini bukanlah takwil, melainkan menafsirkan hadits secara zhohir.”

Sekarang pertanyaannya, jikalau memang semua itu tidak disebut takwil tapi tafsir secara zhohir, sekarang apa makna zhohir dari kata ‘bosan’? Kalau dijawab: maknanya tidak diketahui, maka inilah hakikat mazhab tafwidhul ma’na yang mereka ingkari sendiri.

Maka, ambillah pelajaran dari semua ini, wahai orang-orang yang berakal.

Wallahul musta’aan.

Wallahu a’lam.

Source: Ust. Danang. K

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s