APA SAJA MADZHAB AHLI HADITS

Posted: April 22, 2015 in MADZHAB & KHILAFIYAH, STOP MENUDUH BID'AH !!, TAFSIR & QOUL ULAMA
Tag:,

Shahih-Muslim

Sebagaimana pada tulisan sebelumnya, tak ada satupun ahli fiqih yang tak ingin mengikuti nabinya. Representasi dari nabi itu sendiri adalah hadits-hadits nabi. Tak disebut ahli fiqih jika tak tahu hadits-hadits nabi. Maka sejak dahulu, ulama fiqih sangat memperhatikan hadits-hadits nabi dalam pengambilan sebuah produk hukum. Baik ulama fiqih dari Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali bahkan Madzhab Ahli Dzahir.

Apakah Imam Abu Hanifah (w. 150 H) Bukan Ahli Hadits?

Tentu pernyataan yang sangat berani, jika kita katakan bahwa Imam Abu Hanifah (w. 150 H) bukan ahli hadits. Sebuah pemahaman yang keliru jika karena Imam Abu Hanifah itu sebagai Imam Ahli ra’yu lantas beliau meninggalkan hadits. Begitu juga sebaliknya, ahli hadits juga tak meninggalkan ra’yu.

Sebelum kita mengklasifikasi ahli hadits atau bukan, harusnya kita sepakat dahulu apa itu kategori ahli hadits. Apakah mereka yang hanya sudah menulis kitab hadits? Ataukah ulama yang menjadi perawi hadits? Atau setiap ulama yang intens berbicara tentang hadits?

Imam Abu Hanifah (w. 150 H) hidup di zaman yang ‘benar-benar’ salaf. Tercatat dalam sejarah bahwa jumlah guru Imam Abu Hanifah mencapai 4.000 Ulama’ (Ibnu Hajar al-Haitsami w. 974 H, Al-Khairat al-Hisan, h. 36) . Guru paling berpengaruh Imam Abu Hanifah adalah Hammad bin Abu Sulaiman (w. 120 H) dan Atha’ bin Abi Rabah, ahli fiqih di Makkah (w. 114 H).

Suatu ketika Abu Hanifah berkunjung kepada Khalifah Abu Ja’far (w. 158 H), khalifah bertanya kepada Abu Hanifah, dari siapakah engkau mengambil ilmu? Abu Hanifah menjawab: dari Hammad bin Abu Sulaiman dari Ibrahim an-Nakhai dari ashab/ murid-murid Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Abbas radliyaAllahu anhum ajma’in. (Al-Khatib al-Baghdadi w. 463 H, Tarikh Baghdad, juz 13, h. 334).

Jika Imam Malik bin Anas (w. 179 H) mempunyai silsilah emas; Imam Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, maka Abu Hanifah (w. 150 H) juga hampir sama, yaitu Abu Hanifah dari Atha’ bin Abi Rabah (w. 117 H) dari Ibnu Abbas. (Muhammad bin Abdurrasyid al-Pakistani w. 1420 H, Makanat al-Imam Abi Hanifah fi al-Hadits, h. 18)

Bahkan Ahli hadits sekelas Imam Abu Daud Sulaiman bin Asy’ats as-Sajistani (w. 275 H); penulis kitab Sunan Abi Daud menganggap Imam Abu Hanifah itu sebagai Imam. Hal ini dinulik oleh Imam Ibnu Abdil Barr al-Qurthubi (w. 463 H):

حدثني عبد الله بن محمد بن يوسف قال: ثنا ابن رحمون قال: سمعت محمد بن بكر بن داسة يقول: سمعت أبا داود سليمان بن الأشعث السجستاني يقول: «رحم الله مالكا كان إماما، رحم الله الشافعي كان إماما، رحم الله أبا حنيفة كان إماما»

Abu Daud bin Asyats as-Sajistani (w. 275 H) berkata, “Semoga Allah merahmati Imam Malik, beliau adalah imam. Dan merahmati Imam Syafi’i, karena beliau imam. Juga merahmati Imam Abu Hanifah, karena beliau imam. (Ibnu Abdi al-Barr al-Qurthubi w. 463, Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhlihi, h. 2/ 1113).

Bagaimana Dengan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)?

Tak diragukan lagi beliau menulis kitab hadits yang cukup tebal, Musnad Imam Ahmad. Hanya saja, kita tak bisa dengan mudah membaca fatwa fiqih dari kitab Musnad, karena memang bukan kitab fiqih dalam pengertian sebenarnya.

Sebenarnya selain Musnad Imam Ahmad, masih banyak lagi kitab musnad yang lain. Sebut saja Musnad Ishaq bin Rahawaih (w. 238 H), Musnad Abdullah bin Mubarak (w. 181 H), Musnad Abu Daud at-Thayalisi (w. 204 H), Musnad al-Humaidi (w. 219 H), Musnad Khalifah bin Khayyath (w. 240 H), Musnad Ibn al-Ja’d (w. 230 H), Musnad Ibn Abi Syaibah (w. 235 H), dll.

Darimana kita bisa mengatahui fiqih Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H)? Biasanya ulama menggali fiqih Imam Ahmad dari buku masa’il beliau. Seperti kitab Masa’il Imam Ahmad riwayat Abu Daud as-Sajitani, Masa’il Imam Ahmad riwayat anak beliau; Abu al-Fadhl Shalih, Masa’il Imam Ahmad riwayat anak beliau; Abdullah, dan Masa’il Imam Ahmad wa Ishaq bin Rahawaih karya Abu Ya’qub al-Kausaj (w. 251 H).

Secara fiqih, Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) cukup dekat dengan madzhab Syafi’i, terlebih ketika Imam Syafi’i berada di Baghdad. Karena Imam Ahmad bin Hanbal termasuk murid kesayangan dari Imam Syafi’i, dan juga Imam Syafi’i adalah guru idola dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) pernah dikritik seseorang gara-gara hadits yang beliau jadikan hujjah dianggap tidak shahih. Apa jawab Imam Ahmad bin Hanbal?

حدثنا أبو تراب حميد بن أحمد البصري قال كنت عند أحمد بن حنبل نتذاكر في مسألة فقال رجل لأحمد يا أبا عبد الله لا يصح فيه حديث فقال إن لم يصح فيه حديث ففيه قول الشافعي وحجته أثبت شئ فيه

Abu Turab Humaid pernah bersama Imam Ahmad bin Hanbal saat sedang berdiskusi terhadap suaru hal. Ada salah seorang menyela, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), haditsnya tidak shahih!” Imam Ahmad menjawab, “Meski haditsnya tidak shahih, tetapi ada perkataan dari Imam Syafi’i (w. 204 H) dalam hal ini. Dan perkataan Imam Syafi’i disini menjadi hujjahnya. (Ibnu Asakir ad-Dimasyqi w. 571 H, Tarikh Dimasyq, h. 51/ 351)

Maka tak heran jika Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) pernah menyuruh Yahya bin Main (w. 233 H); salah seorang pakar ahli hadits dalam al-Jarh dan at-ta’dil untuk ikut ngaji kepada Imam Syafi’i. Ibnu Asakir ad-Dimasyqi (w. 571 H) menceritakan:

عن أبي القاسم بن منيع قال لي صالح ابن أحمد بن حنبل ركب الشافعي حماره فجعل أبي يسايره يمشي والشافعي راكب وهو يذاكره فبلغ ذلك يحيى بن معين فبعث إلى أبي فبعث إليه إنك لو كنت في الجانب الآخر من الحمار كان خيرا لك هذا أو معناه

Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal memegangi keledai Imam Syafi’i saat beliau menaikinya. Imam Ahmad berada disamping kiri keledai. Hal ini sampai kepada Yahya bin Main (w. 233 H), dan beliau mengkritiknya. Maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Kalau saja Yahya bin Main mau berada disisi yang lain dari keledai ini, maka itu malah lebih baik untuknya.” (Ibnu Asakir ad-Dimasyqi w. 571 H, Tarikh Dimasyq, h. 51/ 354)

Disini kita dapati sedikit gambaran bahwa ternyata memang para imam madzhab itu juga ahli hadits, tentu dengan porsinya masing-masing.

Terlebih dalam memandang madzhab fiqih Islam, tentu kita tak bisa hanya memandang dari imam madzhabnya saja. Madzhab fiqih yang sampai kepada kita sekarang adalah hasil kerja bareng dan berkesinambungan dari para pakar Islam dari semua bidang ilmu, termasuk ilmu hadits.

Para ulama itu bukan orang yang bodoh yang hanya taklid buta saja kepada para imam madzhab. Mereka menghabiskan umurnya untuk mengkaji ulang, menggali lagi, mengkritisi dan mengoreksi setiap pendapat ulama madzhab.

Kitab Fiqih Madzhab Ahli Hadits

Okelah, jika memang ingin merumuskan kembali madzhab fiqih ahli hadits. Tentu hal itu tidak dilarang, hukumnya sah-sah saja.

Hanya saja dalam pembahasan ‘fiqih perbandingan madzhab’, biasa kita temukan kitab-kitab representatif dari masing-masing madzhab fiqih; baik Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanbaliyyah maupun Dzahiriyyah.

Nah, Kira-kira kitab ushul fiqih mana dan karangan siapa yang memang representatif untuk mewakili ‘ushul fiqih madzhab ahli hadits’ rumusan baru ini?

Kira-kira kitab fiqih mana dan karangan siapa yang memang representatif untuk mewakili ‘fiqih madzhab ahli hadits’ rumusan baru ini? Apakah kitab hadits Shahih Bukhari? Kitab hadits Shahih Muslim? Shahih Ibnu Huzaimah? Sunan at-Tirmidzi? Atau malah kitab-kitab karangan ulama kontemporer saja?

Perlu diketahui, ternyata hampir semua pensyarah kitab hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah ulama yang mengikuti salah satu madzhab fiqih empat. Diantaranya sebagai berikut:

Syarah Shahih Bukhari:

Syarhu Shahih al-Bukhari karya Ibnu Batthal al-Maliki (w. 449 H), Fathu al-Bari karya Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H), Umdatul Qari karya Badruddin al-Aini al-Hanafi (w. 855 H), Fathu al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani as-Syafi’i (w. 852 H), Irsyadu as-Sari karya Syihabuddin al-Qasthalani as-Syafi’i (w. 923 H).

Syarah Shahih Muslim:

Al-Mu’lim bi Fawaid Muslim karya Muhammad bin Ali al-Mazari al-Maliki (w. 536 H), Ikmal al-Mu’lim bi Fawaid Muslim karya Qadhi Iyadh bin Musa al-Maliki (w. 544 H), Shiyanat Shahih Muslim karya al-Hafidz Ibnu as-Shalah as-Syafi’i (w. 643 H), Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj atau yang terkenal dengan sebutan Syarh Shahih Muslim karya Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi as-Syafi’i (w. 676 H), Ad-Dibaj ala Shahih Muslim bin al-Hajjaj karya al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi as-Syafi’i (w. 911 H).

Sebuah wacana baru dalam kajian yurisprudensi Islam tentu tidaklah dilarang. Apalagi memang jika tujuannya baik. Hanya sebuah wacana itu seharusnya layak dan mau untuk diuji publik dan waktu. Tentu pengujian itu tidak serta merta dalam rangka menjelek-jelekkan atau menentang. wallahua’lam bisshawab

Source: Ust. Hanif Luthfi. Lc via rumahfiqh.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s