KEISTIMEWAAN BULAN HARAM & HUKUMNYA

Posted: April 24, 2015 in AMAL GENERASI SALAF, STOP MENUDUH BID'AH !!, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:

Bulan

Pertanyaan

assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.
ustadz yang saya hormati, belakangan ini ramai dibicarakan tentang puasa rajab, beberapa melarang dan beberapa orang lain mengatakan boleh dengan dalilnya, yang salah satunya adalah bulan rajab bagian dari bulan-bulan haram. saya jadi ignin bertanya beberapa hal tentang ini:

1. Apa itu bulan haram? bulan apa saja, dan kenapa namanya haram? siapa yang menamakan itu?
2. Apa kesitimewaan bulan haram dibanding bulan-bulan lain sehingga disunnahkan berpuasa -bagi yang mensunnahkan-?
3. Apa hukum-hukum fiqih terkat pada bulan haram ini?

mohon penjelasannya, wassalam

Jawaban :

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bulan-bulan Haram adalah 4 bulan dari 12 bulan hijriyah yang Allah s.w.t. berikan kemuliaan yang keistimewaan, yang mana itu tidak ada pada 8 bulan lainnya. Karena memang kata haram sendiri, dalam bahasa Arab berarti sesuatu yang dimuliakan atau yang mnedapat kemulian, sebagaimana ulama menyebut Makkah sebagai al-Haram al-Makkiy, karena banyak kemuliaan yang diberikan Allah s.w.t. untuk daerah tersebut dibanding yang lain.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَْرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

36. Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. (al-Taubah, 36)

Bulan-Bulan Haram Ada 4

Ini adalah ayat yang mnejelaskan bahwa di antara 12 bulan itu ada bulan-bulan mulia yang jumlahnya ada 4 bulan. Kemudian, penjelasan bulan apa sajakah yang dijadikan mulia ada pada hadits Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Bakrah r.a.,

السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ : ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ، ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ . وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Dari Abu Bakrah r.a., Nabi s.a.w. bersabda: “setahun itu ada 12 bulan, dan di antaranya ada 4 bulan mulia, 3 berurutan; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang ia itu berada antara jumada dan sya’ban”. (Muttafaq ‘alaiyh)

Jadi bulan-bulan haram adalah; Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam disebutkan Rajab Mudhar, bukan berarti Rajab ada banyak jenisnya. Rajab hanya satu. Disebutkan demikian, karena dahulu ada 2 suku; Mudhar dan Rabi’ah, yang masing-masing sangat memuliakan beberapa bulan hujriyah. Kaum Rabi’ah sangat menyukai dan mengagungkan bulan Ramadhan, sedangkan kaum mudhar sangat menaruh cinta yang dalam kepada Rajab, sehingga Rajab menjadi bulan yang sangat dimuliakan oleh kaum ini. Karena itulah, orang-orang dahulu, menyebut Rajab dengan sebutan rajab Mudhar. (Syarhu Muslim li an-Nawawi 11/168)

Keistimewaan Bulan-Bulan Haram

Allah s.w.t. menciptakan manusia dan memberikan keistimewaan kepada salah seorang di antara mereka yakni para Rasul dan Nabi-Nya. allah s.w.t. juga memberikan satu hari di antara hari-hari yang ada, yakni hari jumat. Dan Allah s.w.t. memberikan keistimewaan satu malam di antara malam-malam yang ada, yakni malam lailtul-Qadr.

Sebagaimana dalam surat al-Baqarah ayat 197, Allah s.w.t juga mengistimewakan shalat al-Wustha di antara shalat fardhu yang lain, yang mana beberapa ulama menafsirkan bahwa shalat al-Wustha itu adalah shalat Ashar. Begitu juga pada perihal bulan-bulan yang ada, bahwa Allah s.w.t. memberikan keistimewaan pada bulan-bulan haram di antara bulan-bulan lainnya.

Imam al-Thabari dalam tafsirnya menukil perkataan sahabat Ibnu Abbas r.a., perihal kemuliaan yang Allah s.w.t. berikan untuk bulan-bulan haram ini:

خَصَّ اللَّهُ مِنْ شُهُورِ الْعَامِ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حُرُمًا ، وَعَظَّمَ حُرُمَاتِهِنَّ ، وَجَعَل الذَّنْبَ فِيهِنَّ وَالْعَمَل الصَّالِحَ وَالأَْجْرَ أَعْظَمَ

“Allah s.w.t. memberika keistimewaan untuk 4 bulan haram di antara bulan-bulan yang ada, dan diagungkan kemuliaannya bulan itu, dan menjadikan dosa yang terbuat serta amal ibadah yang dilaksanakan menjadi lebih besar ganjaran dosa dan pahalanya”. (Tafsir al-Thabari 14/238)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsir surat yang sama, beliau menukil perkataan Imam Qatadah, ahli tafsir dari kalangan Tabi’in:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى اصْطَفَى صَفَايَا مِنْ خَلْقِهِ ، اصْطَفَى مِنَ الْمَلاَئِكَةِ رُسُلاً ، وَمِنَ النَّاسِ رُسُلاً ، وَاصْطَفَى مِنَ الْكَلاَمِ ذِكْرَهُ ، وَاصْطَفَى مِنَ الأَْرْضِ الْمَسَاجِدَ ، وَاصْطَفَى مِنَ الشُّهُورِ رَمَضَانَ وَالأَْشْهُرَ الْحُرُمَ ، وَاصْطَفَى مِنَ الأَْيَّامِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَاصْطَفَى مِنَ اللَّيَالِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ. فَعَظِّمُوا مَا عَظَّمَ اللَّهُ ، فَإِنَّمَا تُعَظَّمُ الأْمُورُ بِمَا عَظَّمَهَا اللَّهُ عِنْدَ أَهْل الْفَهْمِ وَأَهْل الْعَقْل

“Allah s.w.t. mensucikan makhluk-Nya di antaranya makhluk-makhluk ciptaany-Nya, mencusikan para rasul dari kalangan malaikat, mensucikan para Rasul di antara manusia yang lain, mensucikan dzikir dari perkataan makhluk-Nya, mensucikan masjid dari tanah-tanah lain, mensucikan bulan Ramadhan dan bulan-bulan haram di antara bulan-bulan lain, mensucikan hari jumat di antara hari-hari lain, mensucikan malam lailatul-qadr di antara malam-malam lain. Maka muliakanlah apa yang Allah s.w.t. telah muliakan. Sesungguhnya memuliakan apa yang Allah s.w.t. muliakan adalah yang dilakukan para ahli ilmu dan orang-orang berakal.” (tafsir Ibnu Katsir 4/149)

Sunnah Puasa di Bulan-Bulan Haram

Ini adalah salah satu bentuk pemuliaan atau pernghormatan kepada bulan-bulan haram, yakni berpuasa di dalamnya. Selain untuk memuliakan apa yang Allah s.w.t. muliakan, berpuasa dan memperbanyak amal di bulan Haram adalah upaya memanfaatkan waktu yang Allah s.w.t. sediakan banyak pahala di dalamnya.

Selain karena memang bulan-bulan haram adalah bulan mulia, puasa di dalamnya juga disyariatkan karena memang ada riwayat yang secara eksplisit mensyaratkan itu. Imam Ahmad dalam musnad-nya, serta imam Abu Daud dan juga Imam Ibnu Majah dalam kitab sunan mereka meriwayatkan hadits dari salah seorang dari suku al-Bahilah:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَنَا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا لِي أَرَى جِسْمَكَ نَاحِلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا بِالنَّهَارِ مَا أَكَلْتُهُ إِلَّا بِاللَّيْلِ قَالَ مَنْ أَمَرَكَ أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمَيْنِ بَعْدَهُ قُلْتُ إِنِّي أَقْوَى قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ أَشْهُرَ الْحُرُمِ

“aku mendatangi Nabi s.a.w. lalu aku berkata kepada beliau: “wahai Nabi, aku adalah orang yang pernah datang kepadamu di tahun pertama”, Nabi kemudian bertanya: “kenapa badan kamu menjadi kurus?”, ia menjawab: “aku –selama ini- tidak makan dalam sehari kecuali malam saja”, Nabi bertanya: “siapa yang menyuruhmu menyiksa tubuhmu seperti ini?”, aku –al-Bahiliy- menjawab: “wahai Nabi, aku ini orang yang kuat bahkan lebih kuat”, Nabi mengatakan: “Puasalah bulan sabar –bulan Ramadhan- saja, dan sehari setelahnya!”, lalu aku menjawab: “aku lebih kuat dari itu ya Nabi!”, Nabi menjawab: “kalau begitu, puasa ramadhan dan 2 hari setelahnya!”, aku menjawab lagi: “aku lebih kuat dari itu wahai Nabi!”, Nabi berkata: “Kalau begitu, puasa Ramadhan, kemudian 3 hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan haram!”.

Puasa yang disebutkan adalah puasa secara mutlak, artinya puasa dengan waktu yang tidak tertentu, maka puasa di hari ke berapapun dalam bulan-bulan haram itu tidak masalah, karena memang itu disunnahkan. Jadi kalau ada yang melarang orang lain untuk puasa di bulan-bulan haram, bisa jadi ia tidak tahu kemuliaan bulan atau –ini yang buruk- bisa jadi ia mengingkari kemuliaan bulan yang Allah s.w.t. sudah muliakan. Naudzu Billah.

Haram Berperang di Bulan Haram

Awalnya, sebelum datang Islam, orang-orang Arab ketika itu sudah punya aturan tak tertulis yang dijalankan oleh seluruhnya bahwa dilarang melakukan peperang pada bulan-bulan haram. Dan ketika Islam masuk, aturan itu semakin diperkuat dengan turunnya ayat 217 surat al-baqarah:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّه

mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah” (al-Baqarah 217)

ayat inilah yang menginformasikan kepada seluruh umat Islam bahwa bulan-bulan haram itu adalah bulan mulia yang diharamkan di dalamnya untuk menumpahkan darah, siapapun itu, baik muslim atau non-muslim.

Hanya saja kemudian ulama berbeda pendapat, beberapa dari mereka mengatakan bahwa kandungan hukum pada ayat ini, bahwa haram berperang pada bulan haram telah dihapus (mansukh) oleh ayat 36 surat al-Taubah. Beberapa lainnya tetap berpendapat bahwa ayat ini tetap dan tidak dihapus oleh apapun.

Larangan Perang Telah Dihapus

Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama yang menyatakan bahwa ayat larangan berperang pada bulan haram telah dihapus, dan ini banyak disebutkan oleh para ahli tafsir, seperti Imam al-Thabari, Imam Ibnu Katsir, Imam al-Thabrani juga Imam al-Syaukani dan yang lainnya.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً [ سورة التوبة: 36 ].

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (al-taubah, 36)

Imam Ibnu Katsi menjelaskan perihal perintah memerangi kaum musyrik dalam ayat tersebut setelah melarang menganiaya:

وظاهر السياق مشعر بأنه أمر بذلك أمرًا عاما، فلو كان محرما ما في الشهر الحرام لأوشك أن يقيده بانسلاخها؛ ولأن رسول الله صلى الله عليه وسلم حاصر أهل الطائف في شهر حرام -وهو ذو القعدة –

“secara zahir, teks tersebut mempunyai arti bahwa perinta memerangi kaum musyrik itu adalah perintah umum (padahal sebelumnya melarang aniaya di bulan haram), kalau seandainya itu diharamkan, pastilah perintah memerangi musyrik itu diikat perintahnya dengan perintah menunggu berakhirnya bulan haram. Dan juga Nabi s.a.w. mengepung kaum Thaif pada bulan haram dan itu adalah dzulqa’dah.” (tafsir ibn Katsir 4/149)

Imam al-Thabari menguatkan pendapat tersebut, dalam kitabnya beliau mengatakan:

وإنما قلنا ذلك ناسخٌ لقوله:” يسألونك عن الشهر الحرام قتالٍ فيه قل قتالٌ فيه كبيرٌ” ، لتظاهر الأخبار عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه غزَا هوازن بحُنين وثقيفًا بالطائف، وأرسل أبا عامر إلى أوْطاس لحرب من بها من المشركين، في الأشهر الحرُم، وذلك في شوال وبعض ذي القعدة، وهو من الأشهر الحرم. فكان معلومًا بذلك أنه لو كان القتالُ فيهن حرامًا وفيه معصية، كان أبعد الناس من فعله صلى الله عليه وسلم.

“kami mengatakan bahw ayat itu (al-taubah, 36) sebagai penghapus ayat ‘ yasalunaka ‘an…..’ karena banyaknya zahir riwayat dari Nabi s.a.w., diriwayatkan bahwa beliau memerangi kaum Hawazan di Hunain dan kaum Tsaqif di Thaif, dan mengirim Abu ‘Amir ke Authas untuk memerangi kamu musyrik di situ, dan itu semua terjadi pada bulan haram, itu terjadi pada syawal dan masuk ke bulan dzulqa’dah. Dan sudah diketahui bahwasanya kalau perang di bulan haram dilarang berarti itu maksiat, dan Nabi s.a.w. adalah orang yang paling jauh dari maksiat.” (tafsir al-Thabari 4/314)

Beliau menambahkan:

وذلك أن هذه الآية – أعني قوله:” يسألونك عن الشهر الحرام قتال فيه” – في أمر عبد الله بن جحش وأصحابه، وما كان من أمرهم وأمر القتيل الذي قتلوه، فأنزل الله في أمره هذه الآية في آخر جمادى الآخرة من السنة الثانية من مَقْدَم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينةَ وهجرته إليها، وكانت وقعةُ حُنين والطائف في شوال من سنة ثمان من مقدمه المدينة وهجرته إليها

“dan ayat ini ‘yasalunaka ‘an…’ turun pada perkara Abdullah bin Jahsy dan kawan-kawannya serta perihal orang yang mereka bunuh (dari kaum musyrik), Allah s.w.t. menurunkan ayat ini pada akhir bulan Juamada al-Akhira di tahun ke-2 setelah hijrah Nabi s.a.w., sedangkan kejadian perang di Hunain dan Thaif itu terjadi di bulan syawwal pada tahun ke-8 setelah hijrah Nabi s.a.w. ke madinah”. (Tafsir al-Thabari 4/314)

Larangan Perang Bulan Haram Tidak Dihapus

Ini adalah pendapat sebagian ulama yang sebegaimana disebutkan oleh para ahli tafsir, salah satu tokoh kepalanya adalah Atha’ bin Aslam bin Abi Rabbah (114 H) pakar ilmu tafsir dari kalangan Tabi’in asal yaman yang wafat di Mekah. Imam al-Qurthubiy menukil pendapat tersebut dan menyatakan:

وَكَانَ عَطَاءٌ يَقُولُ: الْآيَةُ مُحْكَمَةٌ، وَلَا يَجُوزُ الْقِتَالُ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ، وَيَحْلِفُ عَلَى ذَلِكَ، لِأَنَّ الْآيَاتِ الَّتِي وردت بعدها عامة في الأزمنة، وهذا خَاصٌّ وَالْعَامُّ لَا يَنْسَخُ الْخَاصَّ بِاتِّفَاقٍ. وَرَوَى أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُقَاتِلُ فِي الشَّهْرِ الْحَرَامِ إِلَّا أَنْ يُغْزَى

“Atho’ berkata: ayat ini muhkam (tidak dihapus). Tetap dilarang berperang pada bulan-bulan haram, dan beliau bersumpah atas pendapatnya ini, karena ayat larangannya umum untuk semua zaman, dan perintah memerangi kaum musyrik itu khusus, dan yang umum tidak dihapus dengan yang khusus, ini sudah disepakati. Dan diriwayatkan dari Abu Zubair r.a., beliau berkata: Rasul s.a.w. tidak berperang pada bulan haram kecuali jika diserang lebih dulu”. (tafsir al-Qurthubiy 3/44)

Selain itu, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan pendapat Atha’ ini dengan beberapa ayat di antaranya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلا الشَّهْرَ الْحَرَامَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram” (al-maidah 2)

الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُم

“bulan Haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, Berlaku hukum qishaash. oleh sebab itu Barangsiapa yang menyerang kamu, Maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (al-Baqarah: 194)

فَإِذَا انْسَلَخَ الْأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Taubah: 5)

Dan –ditambahkan- adapun pengepunga tentara rasul s.a.w terhadap kaum Thaif itu yang terjadi pada bulan dzulqa’dah tidak bisa dikatakan sebagai nasikh, karena itu terjadi sejak syawal dan sampai memasuki bulan dzulQa’dah. Jadi keharaman perang bulan haram tetap terlarang, akan tetapi kalau perangnya sudah mulai sejak sebelumnya tidak ada masalah. (Tafsir Ibn Katsir 4/150, Fathul-Qadir Imam al-Syaukani 2/239)

Artinya memulai perang di bulan haram yang diharamkan, akan tetapi jika perangnya mulai bukan dibulan haram, tapi kemudian berlanjut sampai bulan haram itu tidak mengapa.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Source: Ust. Ahmad Zarkasih, Lc via kampussyariah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s