NASEHAT UST. SALAFY INDONESIA AGAR MENJAGA PERSATUAN SESAMA ISLAM & BERTENGGANG RASA TERHADAP KHILAFIYAH

Posted: Juni 22, 2015 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:

Hafidin Achmad Luthfie

Saya salafi dalam artian iltizam dengan kitabullah, sunnah Rasulullah saw, dan ijma’ salaf dan imam-imam. Meski begitu saya menyikapi khilaf fiqhi secara elegan. Tak pernah saya membid’ahkan orang yang berbeda karena mengikuti qaul lain yang khilafnya muktabar.

Dalam basmalah saya biasa baca basmalah dengan jahr ketika misalkan mengimami di masjid. Dan rakaat kedua saya selalu memulai dengan basmalah bukan langsung baca hamdalah.

Dalam masalah qunut shubuh saya sejak dahulu menjelaskan dari sisi afdhal dan mafdhulnya. Karena tanazu’nya salaf adalah dari sisi ini bukan sisi sunnah dan bid’ahnya. Saya sering nukilkan fatwa Ibnu Taimiyyah yang bijak dalam masalah ini. Terkadang saya juga katakan sebagaimana fatwa Sufyan Ats-Tsauri sebagaimana dinukil At-Tirmidzi dalam Sunan-nya.

Dalam berdiri i’tidal saya selalu “qabdh” (sedekap) tidak pernah “irsal” (gantungkan tangan). Saya mengingkari pembid’ahan Al-Albani. Karena itulah madzhab masyhur dikalangan hanabilah dan syafi’iyyah. Pendapat itulah yang dipilih imam-imam: As-Suyuthi, As-Sindi, As-Shan’ani, dan Ibnu Baz. Meski memilih “qabdh” saya tak pernah membid’ahkan orang yang “irsal”.

Dalam menyikapi tarawih atau qiyamul lain saya selalu menukil fatwa Ibnu Taimiyyah. Bahwa jumlah rakaat tarawih atau qiyamul lail tidak dibatasi dengan sebelas rakaat. Saya salut dengan tahqiq ilmi haditsi yang dilakukan Al-Albani tetapi saya tak sepakat dengan kesimpulan fiqhnya yang membid’ahkan tarawih dengan bilangan lebih dari sebelas rakaat. Tak jarang saya berikan bandingan pandangan lain dari Ismail Al-Anshari atas pendapatnya Al-Albani.

Saya shalat di belakang orang yang “musbil”. Saya memandang sah shalat orang yang “musbil”. Saya tak setuju dengan qaulnya Ibnu Utsaimun yang memandang shalat mereka tak sah. Apalagi hadits tentang tidak diterimanya shalat orang yang “musbil” dari sisi sanad ada maqal. Selain itu, qaulnya Ibnu Utsaimin terbilang baru dalam masalah itu. Mungkin termasuk mufradatnya hanabilah mutaakhirin.

Dalam Maulid nabawi saya bersikap pertengahan. Saya tak membolehkan secara muthlak. Tetapi saya juga tidak melarangnya secara muthlak. Kalau saya semasa jadi mahasiswa LIPIA pernah menjadi panitia peringatan seratus tahun Kerajaan Saudi dan rektor Dr. Ali Ad-Dakhilullah juga hadir masa kemudian saya membid’ahkan qaulnya sejumlah kibar fuqaha di masa Shalahuddin yang memfatwakan bolehnya melakukan maulid nabawi dengan tujuan yang muktabar dan jauh dari bid’ah-bid’ah thariqah dan shufiyyah?!

Masih banyak masalah lain yang saya elegan dalam bersikap. Dan saya tak pernah jadikan khilaf fiqhi sebagai pengikat wala dan bara.

Semoga kaum Aswaja juga bisa bersikap yang sama dalam sikapi perbedaan. Nasehat Hasan al-Banna patut ditulis dengan tinta emas: “Kita bersatu dalam masalah-masalah yang kita sepakati tetapi kita saling memberikan udzur dalam masalah-masalah yang kita perselisihkan.”

Hendaknya kita pahami bahwa komitmen kita berpegang kepada sunnah tak berarti membenarkan kita merusak ukhuwah dan persatuan.

Source: FB Ibnu Luthfie At-Tamaniy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s