BERZIARAH, BERDOA & BERTABARUK DI MAKAM ORANG SHOLEH ADALAH SUNNAH NABI & GENERASI SALAF

Posted: Juni 25, 2015 in AMAL GENERASI SALAF, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:,

Pemakaman Raja Arab

Apakah anda mengaku sebagai pengikut Salaf?, jika ya, mengapa Anda melarang, memfitnah dan menuduh mereka yang berziarah & mengambil berkah dari orang Sholeh dengan tuduhan yang menyakitkan, seperti musyrik (orang yg menyekutukan Allah), bid’ah (Pen: bid’ah dholalah: Amalan sesat yang berujung di neraka). Khurafat, dan tuduhan yang menyakitkan lainnya.

Jika memang anda konsisten pengikut ulama Salaf, mengapa anda tidak mengikuti mereka?. Merekalah kaum yang lebih paham tentang agama ini daripada orang belakangan. Ataupun jika anda tak ingin mengikutinya, sebagai ahlus sunnah janganlah menuduh yang tidak-tidak seperti di atas.

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).”(HR. Bukhori- Muslim)

BERKAH KUBURAN NABI & ORANG SHOLEH

● Hadits Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu

عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِيْ صَالِحٍ قَالَ: أَقْبَلَ مَرْوَانُ يَوْمًا فَوَجَدَ رَجُلاً وَاضِعًا وَجْهَهُ عَلىَ الْقَبْرِ فَقَالَ أَتَدْرِيْ مَا تَصْنَعُ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ فَإِذًا هُوَ أَبُوْ أَيُّوْبَ فَقَالَ نَعَمْ جِئْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَلَمْ آَتِ الْحَجَرَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ لاَ تَبْكُوْا عَلىَ الدِّيْنِ إِذَا وَلِيَهُ أَهْلُهُ وَلَكِنْ اِبْكُوْا عَلَيْهِ إِذَا وَلِيَهُ غَيْرُ أَهْلِهِ. (َروَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ وَابْنُ أَبِيْ خَيْثَمَةَ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ وَالذَّهَبِيُّ والسُّيُوْطِيُّ).

“Dawud bin Abi Shalih berkata: “Pada suatu hari Marwan datang, lalu menemukan seorang laki-laki menaruh wajahnya di atas makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Marwan berkata: “Tahukan kamu, apa yang kamu perbuat?” Lalu laki-laki tersebut menghadapnya, ternyata ia sahabat Abu Ayyub. Lalu ia menjawab: “Ya, aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan mendatangi batu. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan tangisi agama apabila diurus oleh ahlinya. Akan tetapi tangisilah agama apabila diurus oleh bukan ahlinya.”

Dalam hadits di atas, sahabat Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bertabaruk dengan mencium makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

● Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma meletakkan tangan kanannya ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setiap datang dari perjalanan.

عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ صَلَّى سَجْدَتَيْنِ فِي الْمَسْجِدِ، ثُمَّ يَأْتِي النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَيَضَعُ يَدَهُ الْيَمِينَ عَلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيَسْتَدْبِرُ الْقِبْلَةَ ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ. (رَوَاهُ الْقَاضِيْ فِيْ فَضْلِ الصَّلاَةِ عَلىَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ).

“Dari Nafi’, bahwa apabila Ibnu Umar datang dari suatu perjalanan, ia menunaikan shalat dua raka’at di Masjid, lalu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu meletakkan tangan kanannya ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membelakangi kiblat, kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kepada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma”. (Al-Qadhi Ismail al-Baghdadi, Fadhl al-Shalat ‘ala al-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hal. 84.)

● Al-Husain bin Abdullah bin Abdullah bin al-Husain, tokoh ahlul-bait dari generasi Salaf. Al-Hafizh al-Sakhawi al-Syafi’i meriwayatkan:

قَالَ يَحْيَى بْنُ الْحَسَنِ بْنِ جَعْفَرٍ فِيْ كِتَابِهِ أَخْبَارِ الْمَدِيْنَةِ وَلَمْ أَرَ فِيْنَا رَجُلاً أَفْضَلَ مِنْهُ، كَانَ إِذَا اشْتَكَى شَيْئاً مِنْ جَسَدِهِ: كَشَفَ الْحَصَى عَنِ الْحَجَرِ الَّذِيْ كَانَ بِبَيْتِ فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءِ يُلاَصِقُ جِدَارَ الْقَبْرِ الشَّرِيْفِ، فَيَمْسَحُ بِهِ.

“Yahya bin al-Hasan bin Ja’far berkata dalam kitabnya Akhbar al-Madinah: “Aku belum pernah melihat orang yang lebih utama dari al-Husain bin Abdullah di antara kami ahlul-bait. Kebiasaannya, apabila ia merasakan sakit pada sebagian tubuhnya, ia membuka kerikil dari batu yang di rumah Fathimah al-Zahra yang menempel ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Lalu ia mengusapkannya.” (Al-Hafizh al-Sakhawi, al-Tuhfah al-Lathifah fi Tarikh al-Madinah al-Syarifah (1/292).

● Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali yang diakui oleh Salafi-Wahabi sebagai madzhab mereka dan madzhab Ibnu Taimiyah, telah berfatwa bolehnya bertabaruk dengan cara menyentuh dan mencium mimbar atau makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tujuan taqarub kepada Allah. Abdullah, putra al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan:

سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمَسُّ مِنْبَرَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ وَيَفْعَلُ بِالْقَبْرِ مِثْلَ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَ هَذَا يُرِيْدُ بِذَلِكَ التَّقَرُّبَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَزَّ فَقَالَ لَا بَأْسَ بِذَلِكَ

“Aku bertanya kepada ayahku tentang laki-laki yang menyentuh mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia bertabaruk dengan menyentuhnya dan menciumnya, dan ia melakukan hal yang sama ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau yang sesamanya, ia bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan hal tersebut. Beliau menjawab: “Tidak apa-apa”. (Abdullah bin al-Imam Ahmad, al-‘Ilal wa Ma’rifah al-Rijal (2/492).

● Al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi al-Hanbali, bertabaruk dengan menyentuh makam al-Imam Ahmad bin Hanbal, ketika tangannya terkena penyakit bisul yang lama tidak dapat sembuh.

Imam al-Nawawi, dalam Syarh Shahih Muslim berkata:

فيه التبرك بآثار الصالحين واستعمال فضل طهورهم وطعامهم وشرابهم ولباسهم

“Hadits tersebut mengandung anjuran bertabaruk dengan peningggalan orang shaleh, memakai sisa air suci mereka, makanan, minuman dan pakaian mereka.” (Al-Imam an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, juz 4 hal. 219).

● Al Imam Al Buhutiy Al Hambaliy menyatakan didalam kedua kitabnya dengan menukil pernyataannya Al Imam Ibrohim Al Harbiy :

يستحب تقبيل حجرة النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Disunnatkan mencium hujroh (kamar) nya Nabi Saw.”

– Hawasyil Iqna’ : 1/325 – Kassyaaful Qinaa’ : 2/151

● Al Imam Ibrohim Al Harbiy adalah salah seorang ulama salaf, beliau adalah salah seorang santri terpilihnya Imam Ahmad bin Hambal, bahkan beliau disebut sebut menyerupai Imam Ahmad (gurunya) dalam segi keilmuannya.

● Muhammad bin Al-Munkadir, ulama terkemuka generasi tabi’in meletakkan pipinya ke makam Nabi (Sholla Allohu ‘alaihi wasallam) ketika lidahnya kaku tidak bisa berkata-kata. Al-Hafizh Ibnu Asakir dan Al-Dzahabi meriwayatkan:

عَنْ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ يَعْقُوْبَ التَّيْمِيِّ قَالَ كَانَ مُحَمَّدُ بْنِ الْمُنْكَدِرِ يَجْلِسُ مَعَ أَصْحَابِهِ قَالَ فَكاَنَ يُصِيْبُهُ صُمَاتٌ فَكَان يَقُوْمُ كَمَا هُوَ حَتَّى يَضَعَ خَدَّهُ عَلىَ قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يَرْجِعُ فَعُوْتِبَ فِيْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّهُ يُصِيْبُنِيْ خَطْرَةٌ فَإِذَا وَجَدْتُ ذَلِكَ اِسْتَغَثْتُ بِقَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَكَانَ يَأْتِيْ مَوْضِعًا مِنَ الْمَسْجِدِ فِي السَّحَرِ يَتَمَرَّغُ فِيْهِ وَيَضْطَجِعُ فَقِيْلَ لَهُ فِيْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنِّيْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْ هَذَا الْمَوْضِعِ أُرَاهُ قَالَ فِي النَّوْمِ.

“Dari Ismail bin Ya’qub al-Taimi, beliau telah berkata : “Muhammad bin Al-Munkadir duduk bersama murid-muridnya. Lalu lidahnya kaku tidak bisa berbicara. Lalu ia berdiri, sehingga menaruh pipinya ke makam Nabi Saw, Lalu ia kembali. Lalu ia ditegur karena perbuatannya itu. Ia berkata: “Aku terkena penyakit yang berbahaya. Apabila aku rasakan hal itu, aku beristighatsah (memohon pertolongan) dengan kuburan Nabi Saw,”. Dan Ia (Ibnul Munkadir) sering mendatangi suatu tempat di Masjid Nabi Saw pada waktu sahur, berguling-guling dan tidur miring di situ. Lalu ketika ia ditanya tentang hal tersebut. Ia menjawab: “Aku melihat Rosululloh, di tempat inilah aku melihatnya beliau telah berkata dalam mimpi”. – Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (56/50-51) – Al-Dzahabi, Siyar A’laam Al-Nubala’ (5/358-359).

● Berkah Kuburan Orang Sholeh menurut Imam AdzDzahabi, seperti terkutip berikut ini :

سير أعلام النبلاء – (ج 17 / ص 77(
قلت: والدعاء مستجاب عند قبور الانبياء والاولياء، وفي سائر البقاع، لكن سبب الاجابة حضور الداعي، وخشوعه وابتهاله، وبلا ريب في البقعة المباركة، وفي المسجد، وفي السحر، ونحو ذلك، يتحصل ذلك للداعي كثيرا، وكل مضطر فدعاؤه مجاب.

Doa itu MUSTAJAB (BILA DIBACA) DI SISI MAKAM PARA NABI DAN WALI, juga di beberapa tempat yang lain. Namun penyebab terkabulnya doa adalah hadhirnya hati orang yang berdoa, kekhusyuka nya, dan TIDAK DIRAGUKAN LAGI DI TEMPAT-TEMPAT YANG DIBERKATI, di masjid, saat sahur dan sebagainya dimana doa akan lebih banyak didapat oleh pelakunya. Dan setiap orang yang sangat membutuhkan maka doanya akan diijabahi”
(al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ 17/77).

● Mengenai Makam Bakkar Bin Qutaibah, Imam AdzDzahabi mengutip :

سير أعلام النبلاء – (ج 12 / ص 603(
قال ابن خلكان: وكان بكار تاليا للقرآن، بكاء صالحا دينا، وقبره مشهور قد عرف باستجابة الدعاء عنده

“Ibnu Khalkan berkata: Bakkar bin Qutaibah adalah pembaca al-Quran, sering menangis, shaleh dan agamis. MAKAMNYA SUDAH MASYHUR. DAN DIKENAL DENGAN TERKABULNYA DOA DI DEKAT MAKAMNYA”
(Siyar A’lam an-Nubala’ 12/603)

● Mengenai Makam Ibnu Zairok Al Allamah, Syekh Hamdzan, Adz Dzahabi menulis :

سير أعلام النبلاء – (ج 18 / ص 433)
ابن زيرك * العلامة، شيخ همذان

سير أعلام النبلاء – (ج 18 / ص 434)
وقبره يزار، ويتبرك به

“Ibnu Zairak, orang yang sangat alim, Syaikh di Hamdzan. MAKAMNYA DIZIARAHI DAN DICARI BERKAHNYA”
(Siyar A’lam an-Nubala’ 18/433-434)

● Mengenai Makam Abu al-Faraj Abdul Wahid bin Muhammad Al-Hanbali, Adz Dzahabi berkomentar :

سير أعلام النبلاء – (ج 19 / ص 51)
أبو الفرج الحنبلي * الامام القدوة، شيخ الاسلام

سير أعلام النبلاء – (ج 19 / ص 53)
قلت: توفي في ذي الحجة سنة ست وثمانين وأربع مئة، ودفن بمقبرة باب الصغير، وقبره مشهور يزار، ويدعى عنده.

Aku berkata : Beliau meninggal pada tahun 486 H, dimakamkan di maqbaroh ‘Baabu Al Shoghir’. MAKAM BELIAU SANGAT MASYHUR DIZIARAHI DAN DIJADIKAN TEMPAT BERDOA DI DEKATNYA”
(Siyar A’lam an-Nubala’ 19/51-53)

● Mengenai Makam Ibnu La’al, Adz Dzahabi berpendapat :

العبر – (ج 1 / ص 175(
وابن لآل الإمام أبو بكر أحمد بن علي بن أحمد الهمذاني . قال شيرويه : كان ثقة أوحد زمانه مفتي همذان له مصنفات في علوم الحديث غير انه كان مشهورا بالفقه له كتاب ” السنن ” و ” معجم الصحابة ” . عاش تسعين سنة والدعاء عند قبره مستجاب

“Ibnu La’al, seorang imam. Abu Bakar Ahmad bin Ali bi Ahmad al-Hamdzani. Syairawaih berkata: Beliau Tsiqot (terpercaya), orang alim tunggal di masanya. Mufti Hamdzan, memiliki banyak karya di bidang hadis, juga masyhur dengan ilmu fikih. Mempunyai kitab As Sunan dan Mu’jamu Al Sahahbah. Hidup hingga berumur 90 tahun. BERDOA DI SISI KUBURNYA ADALAH MUSTAJAB” (al-Ibar /175)

● Mengenai Makam Saleh al-Hamdani, Adz Dzahabi menulis :

تذكرة الحفاظ للذهبي – (ج 3 / ص 128)
صالح بن أحمد بن محمد بن أحمد بن صالح بن عبد الله بن قيس بن هذيل بن يزيد بن العباس بن الأحنف بن قيس الحافظ الكثير الصدق, المعمر أبو الفضل التميمي الهمذاني السمسار:
تذكرة الحفاظ للذهبي – (ج 3 / ص 128-129)
ذكره شيرويه في تاريخه فقال: كان ركنًا من أركان الحديث ثقة حافظًا ديِّنًا لا يخاف في الله لومة لائم، وله مصنفات غزيرة، توفي في شعبان سنة أربع وثمانين وثلاثمائة, والدعاء عند قبره مستجاب

Syairawaih menuturkan dalam Tarikhnya bahwa beliau termasuk ahli hadis, terpercaya, hafidz, dan agamis, tidak takut celaan orang yang mencela dalam agama Allah, mempunyai banyak karya tulis. Beliau meninggal pada tahun 384 H. BERDOA DI KUBURNYA ADALAH MUSTAJAB”
(Tadzkirah al-Huffadz 3/985)

● Mengenai Makam Saleh bin Yunus, Adz Dzahabi menulis :

تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (ج 21 / ص 192)
(صالح بن يونس) أبو شعيب الواسطي الزاهد.

تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (ج 21 / ص 193)
كان من سادات الصوفية. ورد عنه أنه رأى الحق في النوم، وحج على قدميه سبعين حجة.) توفي سنة اثنتين وثمانين ومائتين بالرملة. كان يعرف بالمقنع، والدعاء عند قبره مستجاب

Beliau termasuk pemuka kaum shufi. Disebutkan dalam khabar bahwa beliau melihat kebenaran di dalam tidurnya. Berhajji dengan berjalan kaki sebanyak 70 kali. Meninggal pada tahun 282 di Ramlah. BERDOA DI DEKATNYA ADALAH MUSTAJAB” (Tarikh al-Islam 5/198)

● Mengenai Makam Ahmad an-Nahawandi, Adz Dzahabi mengutip :

تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (ج 27 / ص 133(
)أحمد بن محمد بن علي بن مزدئن أبو علي القومساني النهاوندي الزاهد. سكن أنبط، قرية(
تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (ج 27 / ص 133)
قال شيرويه في الطبقاتك كان صدوقاً ثقة، شيخ الصوفية، ومقدمهم في الجبل، والمشار إليه، وكان له آيات وكرامات ظاهرة، وقبره بأنبط يزار ويقصد من البلدان.

Syairawaih berkata dalam ath-Thabaqat: Beliau sangat jujur dan terpercaya, gurunya kaum shufi. Ia memiliki tanda-tanda dan karamah yang nyata. MAKAMNYA DI ANBATH DIZIARAHI DAN DIKUNJUNGI DARI BERBAGAI NEGERI”
(al-Hafidz adz-Dzahabi dalam Tarikh al-Islam 6/334)

● Mengenai Makam al-Jashash, Adz Dzahabi menulis :

تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (ج 28 / ص 446)
أبو محمد الهمداني الجصاص الزاهد
تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (ج 28 / ص 448)
وقبرهُ يزار ويُعظم.

Al Imam Adz Dzahabi mengenai MAKAM PARA NABI DAN WALI berpendapat :
“MAKAM BELIAU DIZIARAHI DAN DIAGUNGKAN”
(Tarikh al-Islam 7/10)

● Mengenai makam Ja’far AL Abhary, Adz Dzahabi menulis :

تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (ج 29 / ص 215)
(جعفر بن محمد بن الحسين)
أبو محمد الأبهري
تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (ج 29 / ص 217(
توفي في شوال عن ثمان وسبعين سنة، وقبره يزار ويبجل غاية التبجيل

“Ja’far al-Abhari wafat pada usia 78 tahun. MAKAMNYA DIZIARAHI DAN DIAGUNGKAN”
(Tarikh al-Islam 7/58)

● Mengenai makam Ali bin Humaid, Adz Dzahabi menulis :

تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (ج 30 / ص 330)
(علي بن حُميد بن علي بن محمد بن حُميد بن خالد.)
تاريخ الإسلام للإمام الذهبي – (ج 30 / ص 331)
وقبره يزار ويُتبرك به

Beliau Wafat pada 12 Jumada al-Ula. MAKAMNYA DIZIARAHI DAN DICARI BERKAHNYA”
(Tarikh al-Islam 7/182)

● Madzhab Hanbali Percaya Berkah Kuburan Orang Saleh

(فَصْلٌ) وَيُسْتَحَبُّ الدَّفْنُ فِي الْمَقْبَرَةِ الَّتِي يَكْثُرُ فِيْهَا الصَّالِحُوْنَ لَتَنَالَهُ بَرَكَتهُمْ، وَكَذَلِكَ فِي الْبِقَاعِ الشَّرِيْفَةِ فَقَدْ رُوِيَ فِي الْبُخَارِي وَمُسْلِمٍ أَنَّ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ لَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ سَأَلَ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُدْنِيَهُ إِلَى اْلاَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ (الشرح الكبير لابن قدامة – ج 2 / ص 389)

“(Fashal) Disunahkan mengubur di pemakaman yang banyak orang salehnya, agar dapat berkah mereka, begitu pula tempat-tempat mulia. Al-Bukhari dan Muslim sungguh meriwayatkan bahwa Musa As ketika ia akan wafat meminta kepada Allah agar didekatkan dengan tanah Baitul Maqdis sejarak lemparan batu”
(Syarh al-Kabir, Ibnu Qudamah, 2/389)

( وَ ) يُسْتَحَبُّ أَيْضًا الدَّفْنُ فِي ( مَا كَثُرَ فِيهِ الصَّالِحُونَ ) لِتَنَالَهُ بَرَكَتُهُمْ وَلِذَلِكَ الْتَمَسَ عُمَرُ الدَّفْنَ عِنْدَ صَاحِبَيْهِ وَسَأَلَ عَائِشَةَ ، حَتَّى أَذِنَتْ لَهُ . (كشاف القناع عن متن الإقناع – ج 4 / ص 420)

“Disunahkan mengubur di pemakaman yang banyak orang salehnya, agar dapat berkah mereka, oleh karenanya Umar berusaha agar dimakamkan di deekat kedua sahabatnya dan meminta pada Aisyah hingga ia memberi izin”
(Kasysyaf al-Qina’ 4/420)

يُسْتَحَبُّ الدَّفْنُ عِنْدَ الصَّالِحِ لِتَنَالَهُ بَرَكَتُه (الفروع لابن مفلح – ج 3 / ص 353)

“Disunahkan mengubur di dekat orang saleh agar mendapat berkahnya”
(al-Furu’ Ibnu Muflih, 3/353)

● Ahli hadis juga mempercayai tabarruk dan tawassul:

قَالَ عَبْدُ الْحَقِّ فِي الْعَاقِبَةِ : فَيُنْدَبُ لِوَلِيِّ الْمَيِّتِ أَنْ يَقْصِدَ بِهِ قُبُوْرَ الصَّالِحِيْنَ وَمَدَافِنَ أَهْلِ الْخَيْرِ فَيَدْفَنَهُ مَعَهُمْ وَيَنْزِلَهُ بِإِزَائِهِمْ وَيُسْكِنَهُ فِي جِوَارِهِمْ تَبَرُّكًا وَتَوَسُّلاً بِهِمْ وَأَنْ يَجْتَنِبَ بِهِ قُبُوْرَ مَنْ يُخَافُ التَّأَذِّي بِمُجَاوَرَتِهِ وَالتَّأَلُّمُ بِمُشَاهَدَةِ حَالِهِ (فيض القدير – ج 1 / ص 297)

“Abdulhaqq berkata dalam kitab al-Aqibah: Disunahkan bagi keluarga mayit untuk bertuju ke makam orang-orang saleh dan pemakaman orang-orang baik, kemudian dimakamkan bersama mereka dan diletakkan didekat mereka, ditempatkan di sebelah mereka, untuk mencari berkah dan bertawassul dengan mereka. Dan hendaknya menjauhi kuburan orang yang dikhawatirkan buruk berdampingan dengan kubur mereka dan tersakiti menyaksikan keadaannya”
(Faidl al-Qadir 1/297)

وَقَبْرُهُ بِسَنَا بَاذْ خَارِجَ النَّوْقَانِ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ بِجَنْبِ قَبْرِ الرَّشِيْدِ قَدْ زُرْتُهُ مِرَارًا كَثِيْرَةً وَمَا حَلَّتْ بِي شِدَّةٌ فِي وَقْتِ مَقَامِي بِطُوْسٍ فَزُرْتُ قَبْرَ عَلِّى بْنِ مُوْسَى الرِّضَا صَلَوَاتُ اللهِ عَلَى جَدِّهِ وَعَلَيْهِ وَدَعَوْتُ اللهَ إِزَالَتَهَا عَنِّى إِلاَّ اسْتُجِيْبَ لِي وَزَالَتْ عَنِّى تِلْكَ الشِّدَّةَ وَهَذَا شَئٌ جَرَّبْتُهُ مِرَارًا فَوَجَدْتُهُ كَذَلِكَ (ثقات ابن حبان – ج 8 / ص 457)

“Makam Ali bin Musa di Sanabadz di sebelah luar Nauqan sudah masyhur dan diziarahi, berada di samping makam ar-Rasyid. Saya sudah sering kali menziarahinya. Saya tidak mengalami kesulitan ketika saya berada di Thus kemudian saya berziarah ke makam Ali bin Musa Ar Ridho, semoga Salawat dari Allah dihaturkan kepada kakeknya (Nabi Muhammad) dan kepadanya. Saya berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kesulitan tersebut, kecuali dikabulkan untuk saya dan kesulitan itu pun lenyap dari saya. Ini saya alami berkali-kali, dan saya temukan seperti itu.”
(Ahli Hadis Ibnu Hibban dalam ats-Tsiqat 8/457)

ودفن بكار بن قتيبة بطريق القرافة، والدعاء عند قبره مستجاب. (رفع الإصر عن قضاة مصر لابن حجر – ج 1 / ص 43 الطبقات السنية في تراجم الحنفية للتقي الغزي – (ج 1 / ص 195)

“Bakkar bin Qutaibah dimakamkan di jalan Qarafah. Berdoa didekatnya adalah mustajab. Ia meninggal pada 270 H, usianya hampir 90 tahun” (Raf’ al-Ishri ‘an Qudlat Mishr karya Ibnu Hajar 1/43 dan Thabaqat as-Saniyyah At Taqiy Al Ghaziy 1/195).

Berdoa di makam Nabi & Wali adalah mustajab

Apakah Imam Adz Dzhabi dan seluruh ulama serta pengikutnya akan masuk neraka karena kebid’ahan serta kesyirikan yang dibuat ( menurut Salafy-Wahabi) akan menjadi penghuni neraka??

HUKUM MEMBAWA TANAH MAKAM UNTUK TABARUK

● Bertabaruk dengan tanah atau pasir makam seorang wali, dibolehkan dalam madzhab fiqih SUNNI. Al-Imam Ahmad bin Yahya al-Wansyarisi al-Maliki (wafat tahun 914 H) berkata:

حمل تراب المقابر للتبرك
وسئل أحمد بن بكوت عن تراب المقابر الذي كان الناس يحملونه للتبرك هل يجوز أو يمنع؟ فأجاب هو جائز ما زال الناس يتبركون بقبور العلماء والشهداء والصالحين وكان الناس يحملون تراب سيدنا حمزة بن عبد المطلب في القديم من الزمان فإذا ثبت أن تراب سيدنا حمزة يحمل من قديم الزمان فكيف يتمالأ أهل العلم باالمدينة على السكوت عن هذه البدعة المحرمة ؟ هذا من الأمر البعيد. قلت من هذا القبيل ما جرى عليه عمل العوام في نقل تراب الشيخ أبي يعزى وتراب ضريح الشيخ أبي غالب النيسابوري للاستشفاء من الأمراض والقروح المعضلة. (الإمام أبي العباس أحمد بن يحيى الونشريسي، المعيار المعرب والجامع المغرب عن فتاوى أهل أفريقية والأندلس والمغرب، 1/330).

Hukum membawa tanah makam untuk Tabaruk

Ahmad bin Bakut ditanya tentang tanah makam yang dibawa oleh orang-orang karena tujuan tabaruk apakah boleh atau dilarang? Lalu beliau menjawab: “Hal tersebut boleh. Orang-orang (umat Islam), selalu bertabaruk dengan makam para ulama, syuhada dan orang shaleh. Orang-orang selalu membawa tanah/debu makam Sayyidina Hamzah bin Abdul Mutthalib sejak masa lampau. Apabila telah tetap bahwa tanah makam Sayyidina Hamzah selalu dibawa sejak masa silam, maka bagaimana mungkin para ulama Madinah akan bersepakat mendiamkan bid’ah yang diharamkan ini? Ini jauh dari kemungkinan. Aku berkata: “Termasuk bagian hukum boleh ini, adalah pengamalan orang kebanyakan yang berlaku, berupa membawa tanah makam Syaikh Abu Yi’za dan tanah makam Syaikh Abu Ghalib an-Naisaburi untuk kesembuhan dari banyak penyakit dan bisul yang sulit disembuhkan.” (Al-Imam Abul-‘Abbas Ahmad bin Yahya al-Wansyarisi, al-Mi’yar al-Mu’rib wa al-Jami’ al-Mughrib ‘an Fatawa Ahli Afriqiyah wa al-Andalus wa al-Maghrib, juz 1 hal. 330).

● Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا اشْتَكَى الإِنْسَانُ الشَّىْءَ مِنْهُ أَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ أَوْ جَرْحٌ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- بِإِصْبَعِهِ هَكَذَا وَوَضَعَ سَبَّابَتَهُ بِالأَرْضِ ثُمَّ رَفَعَهَا « بِاسْمِ اللهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا ». متفق عليه.

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila seseorang mengeluhkan sakit kepada beliau, atau pada dirinya terdapat bisul dan luka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, dengan jari-jarinya begini, dan meletakkan telunjuknya ke tanah kemudian mengangkatnya: “Dengan nama Allah, tanah bumi kita, dengan ludah sebagian kita, agar supaya orang kita yang sakit disembuhkan oleh sebabnya, dengan restu Tuhan kita.” (HR Bukhari dan Muslim.)

Dalam mengomentari hadits tersebut, Ibnu Qayyimil Jauziyah berkata:

وَمَعْنَى الْحَدِيثِ: أَنَّهُ يَأْخُذُ مِنْ رِيقِ نَفْسِهِ عَلَى أُصْبُعِهِ السَّبَّابَةِ، ثُمَّ يَضَعُهَا عَلَى التُّرَابِ فَيَعْلَقُ بِهَا مِنْهُ شَيْءٌ، فَيَمْسَحُ بِهِ عَلَى الْجُرْحِ، وَيَقُولُ هَذَا الْكَلَامَ لِمَا فِيهِ مِنْ بَرَكَةِ ذِكْرِ اسْمِ اللهِ، وَتَفْوِيضِ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، وَالتَّوَكُّلِ عَلَيْهِ، … وَهَلِ الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ: ” تُرْبَةُ أَرْضِنَا ” جَمِيعُ الْأَرْضِ أَوْ أَرْضُ الْمَدِينَةِ خَاصَّةً؟ فِيهِ قَوْلَانِ، وَلَا رَيْبَ أَنَّ مِنَ التُّرْبَةِ مَا تَكُونُ فِيهِ خَاصِّيَّةٌ يَنْفَعُ بِخَاصِّيَّتِهِ مِنْ أَدْوَاءٍ كَثِيرَةٍ، … وَإِذَا كَانَ هَذَا فِي هَذِهِ التُّرْبَاتِ، فَمَا الظَّنُّ بِأَطْيَبِ تُرْبَةٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ وَأَبْرَكِهَا، وَقَدْ خَالَطَتْ رِيقَ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَقَارَنَتْ رُقْيَتَهُ بِاسْمِ رَبِّهِ، وَتَفْوِيضِ الْأَمْرِ إِلَيْهِ، (ابن قيم الجوزية، زاد المعاد، 4/187).

“Makna hadits tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil ludah beliau pada jari telunjuknya, lalu meletakkannya ke tanah, sehingga ada tanah yang menempel, lalu beliau usapkan pada luka dan mengucapkan kalimat tadi, karena isinya terdapat berkah Nama Allah, menyerahkan urusan kepada-Nya… Apakah yang dimaksud dengan tanah bumi kam, berlaku bagi semua bumi atau khusus tanah Madinah? Dalam hal ini ada dua pendapat. Tidak diragukan lagi, bahwa sebagian tanah memiliki khasiat yang bermanfaat bagi banyak penyakit… apabila hal ini berlaku dalam semua tanah ini, lalu bagaimana dengan tanah yang paling suci di muka bumi dan tanah yang paling berkah, dan telah bercampur dengan ludah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ruqyah beliau bersama Nama Tuhannya dan menyerahkan urusan kepada-Nya?” (Ibnu Qayyimil Jauziyah, Zadul Ma’ad, juz 4 hal. 187).

Pernyataan di atas menyimpulkan, bahwa tanah itu ada barokahnya. Kalau memang ada barokahnya, berarti bertabaruk hukumnya tidak ada-apa dan syar’i.

Menyentuh maqam Praktek ritual menyentuh gundukan ala Saudi

Wallahu a’lam

Source: Ust. Idrus Ramli & Ustzh Gendis VJ

Komentar
  1. fadli mengatakan:

    Assalamu’alaikum Ustadz, mohon ijin menyimpan artikel2 didalam blog jenengan. Semoga menjadi ilmu yang manfaat. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s