KISAH SEORANG YANG INGIN MEMBUNUH RASULULLAH SAW

Posted: Juli 9, 2015 in MUTIARA HIKMAH, MUTIARA KALAM ULAMA AHLUS SUNNAH, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:
Habib Ali Al Jufri

Habib Ali Al Jufri

Pada suatu saat ketika Rasulullah ﷺ sedang bertawaf di Kaabah, seorang lelaki bernama Fudholah bin Umair bermaksud hendak membunuh Baginda ﷺ. Dia menyelinap dalam rombongan orang-orang yang bertawaf dan mendekati Rasulullah ﷺ.

Saat itu dia sudah berada dekat di samping Rasulullah ﷺ dan mempunyai peluang untuk membunuh Baginda. Tiba-tiba dia terkejut saat Rasulullah ﷺ memandangnya.

Kemudian Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya saat ia sedang bertawaf, Baginda saw bertanya “Wahai Fudholah, apa yang engkau bicarakan didalam hatimu?”.

Fudholah menjawab, “Wahai Rasulullah saya bertawaf. Saya mengingati Allah”.

Lalu Rasulullah ﷺ diam dan meneruskan tawafnya. Fudholah mengikuti Baginda lagi untuk kedua kalinya dan berjalan dengan tawaf di belakang Rasulullah ﷺ.

Tidak selang beberapa lama, Rasulullah ﷺ menoleh lagi kepadanya dan berkata “Apa yang engkau bicarakan didalam hatimu?”

Bagaimanakah wajah Rasulullah ﷺ memandang kepada lelaki itu (Fudholah).

Termasuk dalam budi pekerti Baginda ﷺ bahawasanya Baginda ﷺ tidak pernah menyembunyikan senyumannya keada sesiapa pun.

Seseorang lelaki yang penuh dengan kebencian dan ingin membunuh Rasulullah, tetapi dibalas Rasulullah dengan menoleh kepadanya dan memandangnya dengan tersenyum.

Saat pertama kali, memandangnya dengan tersenyum. Saat kedua, memandangnya dengan tersenyum kepadanya.

Kali ketiga Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya dan berkata, “Wahai Fudholah, apa yang engkau bicarakan dengan hatimu?”.

Fudholah menjawab, “Wahai Rasulullah, aku mengingat Allah”. Kemudian Baginda ﷺ menoleh kepadanya. Disebutkan dalam budi pekerti Rasulullah ﷺ bahawa kalau Baginda menoleh ertinya Baginda ﷺ menoleh dengan seluruh badannya.

Rasulullah ﷺ menoleh kepadanya dan meletakkan tangan Baginda ﷺ yang amat mulia di dada Fudholah. Dada yang penuh kebencian dan kemarahan.

Fudholah menyembunyikan pisau di badannya. Begitu Rasulullah ﷺ menaruh tangannya (yang amat mulia) di dadanya.

Fudholah berkata “Demi Allah, saat Baginda ﷺ meletakkan tangannya (yang amat mulia) di dadaku, tidak seorang pun di muka bumi ini yang aku paling benci melebihi dirinya. Namun setelah Baginda ﷺ mengangkat tangannya (yang amat mulia) dari dadaku, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang paling aku cintai melebihi dirinya Nabi ﷺ.

Kita banyak menjumpai orang-orang yang mewarisi karakter Fudholah. Mereka ada di tengah-tengah masyarakat di mana kalian hidup di sana. Akan tetapi dada-dada mereka terlalu sangat memerlukan orang-orang yang mewarisi peribadi Rasulullah ﷺ untuk menghilangkan siat-sifat jelek dari dada-dada mereka yang penuh dengan kebencian. Mereka yang mewarisi karakter Fudholah menunggu kalian yang bisa mewarisi karakter Rasulullah ﷺ

(Disampaikan Syaikh al Habib Ali Al Jufri via Abu Nawas Majdzub

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s