BID’AH MODERN PASCA WAFATNYA SANG RAJA SAUDI

Posted: Juli 22, 2015 in BID'AH, KONTROVERSI BID'AH WAHABI - SALAFY
Tag:

Raja Saudi (meninggal)

Semua tahu bahwa bidah itu sesuatu amalan yang tidak pernah ada dijaman Nabi Muhammad SAW. Tetapi tidak semua bidah itu tersesat, karena Imam Nawawi berpendapat bahwa bidah itu adalah yang bagus (hasanah) dan terseat (dholalah). Indonesia itu banyak bidah hasanah, tetapi sebagian kecil beranggapan bahwa semua bidah itu dhalalah (tersesat).

Biasanya, orang yang paling sering, bahkan menjadikan “membidahkan” orang lain sebagai wiridanya adalah kaum wahabisme. Tetapi, jika mereka sendiri yang melakukan bidah, mereka-pun berdalih bahwa itu sesuai dengan ajaran Al-Quran, yaitu taat terhadap pemerintah (ulil amri). Sementara saat melihat orang lain yang tidak sesuai dengan dirinya dikatakan “tersesat” karena tidak ada ajaran di dalam Al-Quran dan hadis Rosulullah SAW.

Pada minggu ini (beberapa waktu yang lalu), semua media ramai memberitakan wafatnya Raja Arab Saudi yang bernama Abdullah Ibn Abdul Aziz. Tidaklah berlebihan jika media tertuju pada beliau, karena beliau adalah Khodimul Kharamain Al-Syarifain (Makkah dan Madinah). Sebagian besar memberitakan proses penguburan dan kuburan sang Raja yang sangat sederhana. Bahkan, bagi para pemujinya mengatakan:”proses pemakaman Raja Abdullah Ibn Abdul Aziz sesuai dengan syariah, begitu juga dengan kuburannya yang sederhana, tidak dikijing, hanya sekedar tanda (patok). Inilah pemakaman sesuai sunnah Rosulullah SAW.

Dalam pujian itu terselip unsur sindiran terhadap sebagian dengan raja-raja Jawa, serta ulama-ulama nusantara yang makam (kuburanya) dikuburan dan dibangun dengan nisan yang bagus. Bahkan, ada yang menambahkan dengan mengatakan:”sebenarnya, Raja Saudi bisa saja membuat kuburanya dibuat mewah, tetapi itu tidak sesuai dengan sunnah Nabi SAW”. Ini untuk mempetegas bahwa kuburan raja Saudi itu benar-benar sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Lebih menarik lagi, selama beberapa hari, sejak sang Raja wafat, beberapa chanel Telivisi dan radio Arab Saudi menyuarakan ayat-ayat suci Al-Quran, karena bertepatan dengan wafatnya sang Raja. Sebab, membaca Al-Quran jauh lebih baik dari pada lagu-lagu dan nyayian yang tidak ada manfaatnya, juga bertentangan dengan ajaran Al-Quran.

Pada hari-hari biasa, siaran tv dan radio itu tidak jauh berbeda dengan siaran-siaran di Indonesia, seperti; diskusi, lagu-lagu arab dan juga lagu barat. Berhubung masa berkabung, maka lagu dan nyayian itu diganti dengan “Mengaji Al-quran karim”. Inilah yang saya sebut dengan “Bidah Hasanah Nasional” sebab tidak ada tuntunan. Jika tidak mau disebut dengan bidah, bisa mnegatakan “ini mengikuti intruksi pemerintah, karena mengikuti intruksi pemerintah itu merupakan ajaran Al-Quran, dengan mengutip firman Allah SWT yang artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu sekalian kepada Allah dan RasulNya, serta pemimpin diantara kalian.”(QS An-Nisâ’ [5]: 59)

Bagi orang Indonesia, urusan ngaji, membaca kitab suci Al-Quran, membaca kalimah-kalimah Toyyibah sebelum Arab Saudi melakukanya, orang Nusantara sudah melakukanya, sebelum Arab Saudi berdiri. Sebab, membacakan Al-Quran terhadap orang-orang wafat itu jauh lebih baik dan sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW.

Bahkan, ketika diketahui seseorang wafat, putra-putrinya, tetangga, kerabat berdatangan dan membacakan ayat-ayat suci Al-Quran, serta kalimah-kalimah toyyibah. Tanpa harus diperintahkan, karena memang Al-Quran itu sangat pantas untuk dibaca kapan saja dan dimana saja, termasuk ketika ada orang yang sedang berduka.

Akan tetapi, ketika orang-orang Indonesia membaca Al-Quran dan kalimah-kalimah Toyyibah pada saat orangtuanya wafat. Orang-orang wahabisme mengatakan:” itu tidak ada tuntunan baik di dalam Al-Quran dan hadis Nabi SAW, itu namanya Bidah (mengada-ngada), dan kelak tempatnya di neraka”. Kemudian mengeluarkan hadis pamusngkas yang artinya:”barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan agama kami ini yang tidak ada dasar daripadanya maka itu tertolak (HR Muslim dan Bukhori).

Pasca wafatnya sang Raja, sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan dan pemerintahan diliburkan karena berkabung untuk menghormati Raja Abdullah Ibn Abdul Aziz. Ini sangat kontras dengan meninggalnya Gus Dur wafat, dimana sekolah dan lembaga-lembaga tidak diliburkan, karena Gus Dur wafat itu sudah takdir Allah SWT. Semua aktifitas harus tetap jalan, tidak terpengaruh kematian oleh kematian seseorang, walaupun itu seorang presiden republic Indonesia.

Pujian demi pujian untuk Raja Abdullah terus menerus bermunculan, khususnya terkait dengan “kuburanya sesuai dengan sunnah” sekaligus mengkritik kuburan di nusantara yang memakai kijing’. Bagi orang yang sudah wafat, dikubur dengan dikijing, atau dibuang dilautan, atau dikubur seperti raja Arab Saudi, semua sama. Mereka akan bertanggung jawab terhadap apa yang selama ini lakukan.

Ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan oleh Malaikat terhadap mayyit, yaitu siapa Tuhanmu,Siapa Nabimu, Apa Agamamu, Siapa Imammu, Dimana Kiblatmu, Siapa Saudaramu? Bagi orang yang wafat dalam kondisi khusnul khotimah, maka akan dengan mudah menjawabanya. Tetapi, jika wafatnya dalam kondisi berbuat dholim terhadap rakyatnya, walaupun kuburanny sesuai dengan syariah, tetap akan mendapatkan siksa kubur.

King Abdullah adalah Raja, beliau meninggal dalam kondisi muslim, semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT, sebagaimana para ulama dan awam yang beragama islam dan menjalankan syariat dengan baik dan ihlas karena Allah SWT. Ihlas itulah yang akan mengantarkan seseorang memperoleh kenikmatan alam kubur dan kelak masuk surga.

Source: Ust. Ahmed Azzimi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s