TAKFIRISME & RADIKALISME DALAM PANDANGAN MUI

Posted: Agustus 11, 2015 in STOP MENUDUH BID'AH !!, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:,

Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar

Sekedar menyegarkan kembali ingatan kita, bahwa Majelis Ulama Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Dr. HM. Din Syamsudin yang juga saat itu menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah telah melaksanakan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia V yang diselenggarakan di Pondok Pesantren at-Tauhidiyah, Cikura, Tegal, Jawa Tengah pada tanggal 19-22 Sya’ban 1436 H/ 7-10 Juni 2015 M. Diantara hasil keputusan ijtima itu adalah merumuskan definisi dan sikap yang tepat untuk menanggulangi gejala radikalisme agama dan fenomena Takfiri di Indonesia.

MUI dalam putusannya merespon gejala radikalisme agama menegaskan bahwa: “1. Umat Islam di Indonesia berfaham ahlussunnah wal-jama’ah yang berciri moderat (tawassuth), toleran (tasamuh), berpegang pada metodologi pengambilan hukum (manhajiy), dinamis (tathawwuriy), dan mengedepankan wajah Islam yang welas asih (rahmah lil-alamin). 2. Ahlussunnah wal-jama’ah bukan saja menjadi panduan dalam berfikir (manhaj al-fikr) tapi juga merupakan panduan berperilaku (manhaj al-‘amal) umat Islam Indonesia, dalam kehidupan keagamaan, kehidupan kemasyarakatan, dan kehidupan berbangsa dan bernegara. 3. Penyimpangan terhadap prinsip-prinsip berpikir keagamaan dan berperilaku sebagaimana manhaj Ahlussunnah wal jama’ah sebagaimana disebut di atas, bisa melahirkan cara berfikir dan bertindak yang menyimpang serta dapat menimbulkan pemikiran dan tindakan radikal.”

MUI dalam putusannya juga menyinggung akar pemicu terjadinya radikalisasi atas nama agama, yaitu: “6. Akar pemicu munculnya radikalisme agama selain karena penyimpangan pemahaman keagamaan, seperti meragukan otentisitas dan orisinalitas Al-Qur’an, menghina sahabat dan istri-istri Rasul, yang merupakan sanad utama ajaran Islam, atau memahami nash-nash secara tekstual saja, juga adanya ketidakadilan global dalam sektor sosial, politik, dan ekonomi.”

Jadi sangat jelas, dalam pandangan MUI bahwa diantara yang menyebabkan munculnya radikalisme agama adalah marak dan suburnya aliran-aliran yang menyimpang dari mainstream umat Islam Indonesia. Terutama aliran yang mengajarkan pengikutnya dan calon pengikutnya untuk meragukan otentisitas dan orisinalitas Al-Qur’an, dan menghina sahabat dan istri-isteri Nabi yang merupakan sanad utama ajaran Islam. Umat Islam pun telah mafhum kelompok aliran apa itu kiranya yang mengajarkan doktrin radikal yang menyimpang seperti dijelaskan dalam putusan Ijtima Ulama MUI di Tegal.

Selain merespon gejala dan akar pemicu radikalisme agama, Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia juga telah merumuskan sikap dan langkah-langkah prosedural untuk mengantisipasi gejala Takfiri di Indonesia. Dalam pandangan MUI dinyatakan bahwa, “Memvonis kafir (takfir) adalah mengeluarkan seorang muslim dari keislamannya sehingga ia dinilai kafir (keluar dari agama Islam). Takfir merupakan hukum syariat yang tidak boleh dilakukan oleh orang-perorang atau lembaga yang tidak mempunyai kredibilitas dan kompetensi untuk itu. Vonis kafir harus diputuskan oleh lembaga keulamaan yang diotorisasi oleh umat dan negara.”

MUI mengingatkan umat Islam terhadap bahaya sikap dua kelompok, baik yang menganggap enteng kekafiran ataupun yang memudahkan vonis kafir (Takfiri) di tubuh umat Islam, “Muncul di tengah masyarakat dua sikap ekstrim, pertama, menganggap enteng bahkan meniadakan vonis kafir (tafrith fi at-takfir). Kedua, mudah memvonis kafir (ifrath fi attakfir). Umat Islam agar menghindarkan diri tidak terjebak ke dalam salah satu dari dua ekstrim tersebut, yaitu mengambil pendapat yang moderat (wasath).” Bagi kalangan liberal mungkin tidak boleh ada vonis takfir sama sekali, karena kebenaran itu relatif, tidak ada kebenaran absolut, dan yang absolut itu adalah relativisme. Ada pula segelintir umat yang kerap mengkafirkan negara atau sistemnya yang disitu umat Islam terlibat aktif mengelolanya. Atau tidak sedikit aliran sesat yang bersarang di dalam tubuhnya doktrin pengkafiran yang tanpa ampun bagi siapapun umat diluar golongan mereka.

MUI menyadari ada beberapa pihak yang kerap mengecam ataupun menolak fatwa sesat terhadap aliran yang menyimpang, dan menuding fatwa tersebut memicu sikap Takfiri di tengah umat. Oleh sebab itu dalam bagian lain putusannya, MUI menegaskan bahwa, “Setiap kesesatan yang ditetapkan setelah melalui prosedur penelitian dan fatwa yang ketat, sudah pasti adalah sesat. Namun tidak setiap kesesatan yang telah difatwakan otomatis adalah kekafiran dengan segala konsekuensi syar’inya.”

Source

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s