BERBEDA PANDANGAN, SYEKH ALI JABER DI TUDUH AHLUS SUNNAH GADUNGAN OLEH SALAFY

Posted: Agustus 24, 2015 in STOP MENUDUH BID'AH !!
Tag:
Syekh Ali Jaber memegang Tasbih

Syekh Ali Jaber memegang Tasbih

Seorang pengikut Salafy Indonesia menuduh Syekh Ali Jaber, karena berbeda pandangan dengan Syekh & Ustadz Salafy, perihal Furu’ dan amalan yang di lakukan Masyarakat Muslim Indonesia. Dalam beberapa hal Syekh Ali Jaber tidak menuduh masyarakat yang menjalankan Maulid sebagai bid’ah, peringatan Haul, dan lain sebagainya.

Akan tetapi seorang Salafy yang hanya lulusan STM ini berani mencemooh, seorang Syekh Hafidz Qur’an yang banyak berkontribusi memajukan anak-anak Indonesia memperdalam Al-Qur’an, berikut komentar seorang yang bernama Nursiman Simar dalam akun Facebooknya :

Screenshoot Salafy takfiri

Jangan kamu pikir semua orang Arab itu semua ber manhaj islam salaf (Pen : Salafy), di negeri arab itu ada syiah ada kristen ada aswaja ,itu habib syeh ali jaber termasuk aswaja ,di Arab Saudi dia dak dipake aja dia lari ke indonesia yg sepaham dengan dia sama sama aswaja ,(ahlussunnah gadungan )

Pendapatnya yang tidak di setujui oleh para Salafy adalah :

# MAULID NABI SAW TIDAK BID’AH

Dalam sebuah cuplikan ceramah video di Youtube, Syekh Ali Jaber mengisahkan tentang dirinya sewaktu berjumpa dengan salah seorang ustadz anti maulid, membid’ah-bid’ahkan Maulid Nabi.  Syaikh Ali Jaber kemudian menghampiri dan bertanaya “Kenapa Maulid Bid’ah?” Jawaban dari ustadz tersebut adalah karena tidak ada dizaman Rasulullah

Syekh Ali Jaber bertanya lagi : “Jadi dasarnya itu saja ?”. Jadi tidak ada didalam al-Qur’an maupun Hadits yang secara jelas melarang hal itu, maka Syekh Ali Jaber berkata lagi : “Antum dari kepala sampai ujung kaki, bid’ah. Karena antum tidak ada dizaman Rasul”

Diakhir kisahnya, Syekh Ali Jaber memberikan nasehat bahwa “Walaupun dalam masalah Maulid itu ada beda pendapat, tapi tidak salah kita saling shilaturahim, saling menasehati dan saling mengisi”.

Baca pula: GURU SYEKH ALI JABER PENJAGA MAKAM NABI MUHAMMAD SAW IKUT MAULID

# PERINGATAN HAUL

Syekh Ali Jaber dalam wawancaranya kepada TV One ketika menghadiri Haul ke-2 Habib Munzir, menjelaskan :

Syaikh Ali Jaber ketika ditanya apakah haul seperti haul Habib Munzir ini harus dilestarikan, beliau menjawab, “ini sudah menjadi sebuah tartib (keharusan)!”

“Indonesia selalu mendapat keberkahan dari Allah karena umat Islam berterima kasih (wafa’) kepada para ulamanya. ” demikian jelas Syaikh Ali Jabir.

Ketika ditanya tentang ada orang yang berpendapat tidak adanya tradisi Haul, Syaikh Ali Jaber menjawab bahwa itu hanyalah ikhtilaf yang tidak penting untuk dibesar-besarkan. Yang penting menurut beliau adalah mempertahankan kecintaan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para ulama…ajiiib ya syekh.

Ali jaber di wawancarai TV One

# NISYFU SYA’BAN

Syekh Ali Jaber memperingati Nisfu Sya’ban berikut ini videonya

Dalam beberapa kesempatan Syekh Ali Jaber terlihat mengikuti doa & zikir bersama & beliau pun adalah pengguna Tasbih (yang sebagian besar Salafy katakan Tasyabbuh bil kuffar ketika menggunakan tasbih).

# ISRA’ MI’RAJ

Syekh Ali Jaber menghadiri acara Isra’ mi’raj dan memberikan tausyiah

ISRA" MI"RAJ Ustadz kondang dari Jakarta, Syech Ali Saleh Muhammad Ali Jaber pada peringatan Isra" Mi"raj yang digelar Pemko Tebingtinggi mengatakan bahwa hal paling utama dalam peringatan Isra" Mi"raj Nabi Muhammad SAW adalah menegakkan sholat lima waktu yang wajib dilaksanakan umat Islam

ISRA” MI”RAJ Ustadz kondang dari Jakarta, Syech Ali Saleh Muhammad Ali Jaber pada peringatan Isra” Mi”raj yang digelar Pemko Tebingtinggi mengatakan bahwa hal paling utama dalam peringatan Isra” Mi”raj Nabi Muhammad SAW adalah menegakkan sholat lima waktu yang wajib dilaksanakan umat Islam

# HALAL BIHALAL

Syekh ALi Jaber menghadiri acara Halal bi halal di Lombok, dimana sebagian besar Salafy menganggap sebagai bid’ah

Halal Bihalal Syekh Ali Jaber

Profil Syekh ALi Jaber

Syaikh Ali Jaber, demikian sapaan akrab Syaikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber, lahir di kota Madinah Al-Muna­warah pada tanggal 3 Shafar 1396 H, bertepatan dengan tanggal 3 Febuari 1976 M. Ia menjalani pendidikan, baik formal maupun informal, di Madinah.

Tahun 1410 H/1989 M, ia tamat ibti­daiyah, tahun 1413 H/1992 M tamat tsa­nawiyah, tahun 1416 H/1995 M tamat aliyah. Tahun 1417 H/1997 M hingga saat ini ia mulazamah (melazimi) pela­jaran-pelajaran Al-Qur’an di Masjid Nabawi, Madinah.

Sedari kecil Ali Jaber telah menekuni membaca Al-Qur’an. Ayahandanyalah yang awalnya memotivasi Ali Jaber untuk belajar Al-Qur’an, karena dalam Al-Qur’an terdapat semua ilmu Allah SWT. Dalam mendidik agama, khusus­nya Al-Qur’an dan shalat, ayahnya sa­ngat keras, bahkan tidak segan-segan me­mukul bila Ali Jaber kecil tidak men­jalankan shalat. Ini implementasi dari hadis Nabi Muhammad SAW yang membolehkan memukul anak bila di usia tujuh tahun tidak melaksanakan shalat fardhu. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang religius.

Di Madinah ia memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Se­bagai anak pertama dari dua belas ber­saudara, Ali Jaber dituntut untuk mene­ruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Meski pada awalnya apa yang ia jalani adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai ke­butuhannya sendiri. Tidak mengheran­kan, di usianya yang masih terbilang be­lia, sebelas tahun, ia telah hafal 30 juz Al-Qur’an.

Sejak itu pula Syaikh Ali memulai ber­dakwah mengajarkan ayat-ayat Allah SWT di masjid tersebut, kemudian belanjut ke masjid lainnya. Selama di Madinah, ia juga aktif sebagai guru tahfizh Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan menjadi imam shalat di salah satu masjid kota Madinah.

Tahun 2008, ia melebarkan sayap dakwahnya hingga ke Indonesia. Kebe­tulan ia menikahi seorang gadis shalihah asli Lombok, Indonesia, bernama Umi Nadia, yang lama tinggal di Madinah. Pada tahun yang sama, ia melaksana­kan shalat Maghrib di masjid Sunda Ke­lapa Jakarta Pusat. Selepas shalat ada salah seorang pengurus masjid memin­tanya untuk menjadi imam shalat Tara­wih di masjid Sunda Kelapa, karena saat itu hampir mendekati bulan Ramadhan.

Sejak itulah ia terus mendapat keper­cayaan masyarakat di sejumlah tempat di Indonesia. Demi menunjang komuni­kasinya dalam  berdakwah, ia pun mulai belajar bahasa Indonesia.

Source: Ust. Abdi Kurnia. J, & Muslimedianews.com

Komentar
  1. dyah ari mengatakan:

    bukankah dlm islam boleh memukul anak jika anak sudah berusia 10 tahun (bukan 7 tahun) tapi enggan solat?

    • imam.D mengatakan:

      Cara setiap orang tua berbeda.
      Ada yg lemah lembut, ada yg keras. Mungkin ayah beliau sengaja mendidik ali kecil dgn cara seperti itu agar ali kecil disiplin sedari dini. Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s