TAUHID IBNU TAIMIYAH DI BANTAH ALBANI

Posted: September 2, 2015 in BID'AH, KONTROVERSI BID'AH WAHABI - SALAFY
Tag:,

IbnuTaimiyah-Albani

Oleh : Abu Emha As-Syaidani

Sekte Wahabi merupakan sekte dalam Islam yg paling PD ketika mevonis kafir, bid’ah dan sesat pada golongan Islam lain. Bahkan sebagian dari mereka, Muhammad bin Ahmad Basyamil mengatakan, “Aneh dan ganjil, ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak tauhidnya kepada Allah dan lebih murni imannya kepada-Nya dari pada kaum Muslimin yang bertawassul dengan para wali dan orang-orang saleh dan memohon pertolongan dengan wasilah mereka kepada Allah. Ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak tauhidnya dan lebih tulus imannya dari kaum Muslimin yang mengucapkan -Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah-.” (lihat Kaifa Nafhamu al-Tauhid, hal. 16).

Entah “bisikan” dari mana, sehingga Abu Lahab yang jelas-jelas di Nash oleh Al Qur’an sebagai penghuni neraka, dia katakan mempunyai tauhid lebih banyak dan lebih ihlas imannya dari muslimin yang mengucapkan “Laa Ilaha Illa Allah”. Kapankah Abu Lahab beriman kepada Allah dan Rasulullah SAW? Apakah pandangan “nyeleneh” semacam ini disebutkan dalam Nash al qur’an dan Hadist?? Ataukah pendapat ini diriwayatkan dari As-Salafus Shalih?? Apakah “ocehan” yang “nggladrah” ini bukan dari bisikan syetan atau nafsu?

Terlepas dari jawaban pertanyaan ini, firqoh wahabiyah yang kecanduan mengoreksi Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Al Asya’iroh) yang sudah mapan sejak jaman Al imam Al Asy’ary RA sampai munculnnya Fitnah Wahhabiyah, pernahkah mereka mengoreksi system dan “konstruksi” akidah mereka yang sebenarnya sangat rapuh dan“bergoyang-goyang” bagai telur di ujung tanduk yang tinggal jatuh lalu pecah? Atau seperti pinggul penyanyi panggung yang bergoyang “muter-muter” tidak jelas juntrungnya? Yang mana hal ini dibuktikan dengan banyaknya perbedaan pendapat di antara mereka dalam prinsip-prinsip akidah??

Ulasan ini mencoba mengekspos Khilafiyah (perbedaan pendapat) antara dua orang tokoh penting dari firqoh wahabiyah yaitu : “Syaihul Islam” Ibnu Taimiyah dan “Imamul Muhadditsin” Nashiruddin Al Albani. Khilafiyah pertama menyangkut Masalah Ushul (aqidah) yang konsekwensi logisnya bisa mengakibatkan salah satunya jatuh dalam kekufuran atau minimal bid’ah. Adapun khilafiyah kedua menyangkut Furu’iyah (fiqhiyah) yang konsekwensinya menurut kaca mata wahabi, salah satunya bisa jatuh dalam vonis bid’ah.

ANTARA IBNU TAIMIYAH DAN NASHIRUDDIN AL ALBANI, ANDA PILIH SIAPA?

DALAM MASALAH AKIDAH (1)

1. QIDAMUL ALAM atau AL HAWADIST LA AWWALA LAHA; Qidam adalah ungkapan dari tidak adanya permulaan bagi sesuatu.Yang bersifat qidam dinamakan Al Qodim atau Dzat yang tidak mempunyai permulaan. Lawan qidam adalah Hudust (baru, ada dari ketiadaan) dan yang mempunyai sifat hudust di sebut Al Hadist (sesuatu yang ada dari ketiadaan). Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah Al Asya’iroh berpendapat bahwa qidam secara mutlak hanya disifatkan kepada Allah SWT dan Hudust disifatkan kepada Alam atau mahluk.

Salah seorang tokoh Asyairoh, As-Syahrastani dalam kitab Nihayatul Iqdam (1/1 : Maktabah Syamilah) mengatakan : مذهب أهل الحق من أهل الملل كلها أن العالم محدث ومخلوق أحدثه الباري تعالى وأبدعه وكان الله تعالى ولم يكن معه شيء “Madzhab Ahlul Haq dari ahli pelbagai agama SEMUANYA adalah sesungguhnya alam di ”ada”kan (Muhdast/Hadist) dan diciptakan. Allah mengadakannya dan menciptakannya dari ketiadaan.. Allah telah ada tanpa ada sesuatupun (selain-Nya) yang menyertai-Nya”. Perhatikan kata SEMUANYA diatas yang ditulis dengan huruf balok!!! Dari sini bisa disimpulkan bahwa Hadist/barunya mahluk merupakan Ijma’ bukan hanya Ijma’ Ulama Islam tapi juga Ijma’ dari pakar-pakar agama selain Islam.

Nah, sekarang bagaimanakah pendapat Ibnu Taimiyah dan Al Albani dalam persoalan ini? Ibnu Taimiyah sebagaimana diungkapkan oleh para ulama berdasarkan literatur teks pada kitab-kitabnya berpendapat adanya “al Hawadist La Awwala Laha” atau Mahluk-mahluk yang tidak mempunnyai permulaan. Dalam kitabnya Muwafaqotu shohihi manqulihi li shorihi ma’qulihi (2/75) dia berkata, واما اكثر اهل الحديث ومن وافقهم فانهم لا يجعلون النوع حادثا بل قديما “Adapun kebanyakan Ahli Hadist dan orang yang sependapat dengan mereka, maka sesungguhnya mereka tidak mengkategorikan NAU’ (jenis, alam) sebagai sesuatu yang baru tapi Qodim”.

Dari statemen ibnu taimiyah ini, Nampak seperti biasanya dia mengKLAIM bahwa mayoritas Ahlul Hadis berpendapat seperti pendapatnya bahwa alam adalah qodim. Pertanyaannya, “siapakah yang dimaksud oleh ibnu taimiyah dengan “Aktsaru Ahlil Hadist” tersebut? Siapa dan di kitab apa, mereka mengatakan adanya alam yang qodim? Apakah ini bukan kebohongan publik dan fitnah terhadap Ahlul Hadist?

Padahal faktanya, Kenyataan bahwa Ibnu Taimiyah berpendapat “Al Hadawist Laa Awwala Laha” ini justru mendapat kritikan tajam dari kalangan Ahlul Hadist seperti : Al hafidz As-Subki (683-756 H) yang mengarang kitab “ad Durrotul Mudliyyah fi al Rad ‘ala Ibni Taimiyah”, dihususkan untuk membantah “kenyelenehan-kenyelenehan Ibnu Taimiyah, al Hafidz Ibnu Hajar, al Hafidz Ibnu Daqiqi al ‘Ied dll.

Dalam prolog kitab “Ad Durrotul Mudliyyah”, As-Subki berkata : فإنه لما أحدثَ ابنُ تيمية ما أحدثَ في أصول العقائد، ونقضَ من دعائم الإسلام الأركان والمعاقد، بعد أن كان مستتراً بتبعية الكتاب والسنة، مظهراً أنه داعٍ إلى الحق هادٍ إلى الجنة، فخرج عن الاتِّباع إلى الابتداع، وشذَّ عن جماعة المسلمين بمخالفة الإجماع، وقال بما يقتضي الجسمية والتركيب في الذات المقدسة، وأن الافتقار إلى الجزء ليس بمحال، وقال بحلول الحوادث بذات الله تعالى، وأنَّ القرآن محدَثٌ تكلَّم اللهُ به بعد أن لم يكن، وأنه يتكلم ويسكت ويحدث في ذاته الإرادات بحسب المخلوقات، وتعدى في ذلك إلى استلزام قدم العالم (والتزامه) بالقول بأنه لا أول للمخلوقات……… وكلُّ ذلك وإن كان كفراً شنيعاً مما تَقِلُّ جملته بالنسبة إلى ما أحدث في الفروع

“Sesungguhnya, setelah Ibnu Taimiyah membuat hal baru dalam usul-usul aqidah dan merusak dari pokok-pokok agama Islam yaitu rukun-rukun dan aqidah, setelah dia bersembunyi dengan (seakan-akan) mengikuti Al Kitab dan As-Sunnah, menampakkan diri bahwa dia mengajak pada yang Haq dan menujukkan ke sorga. Lalu dia keluar dari Ittiba’ (ikut al Qur’ah-as Sunnah) menuju bid’ah, nyleneh dari kaum muslimin dengan menyelisihi ijma’ ulama, dan dia mengatakan sesuatu yang konsekwensinya pen-jisim-an dan keter-susun-an dalam Dzat Allah Yang Suci, dan sesungguhnya butuhnya (Allah) pada Juz tidaklah mustahil, mengatakan bertempatnya mahluk pada dzat Allah, Al Qur’an adalah diciptakan yang Allah berbicara dengannya setelah al Qur’an tidak ada, Allah berbicara dan diam, pada Dzatnya terjadi kehendak-kehendak sesuai dengan mahluk-mahluk-Nya, dan berlanjut pada penetapan QIDAM (DAHULU) NYA ALAM dan pendapat TIDAK ADANNYA PERMULAAN BAGI MAHLUK…… dan semua (pendapat ibnu taimiyah) tersebut, meski merupakan KEKUFURAN yang jelek, namun lebih sedikit jumlahnya dinisbatkan pada yang telah di buatnya (Bid’ah?) dalam hal furu’”.

Beda lagi dengan Al Albani yang kayaknya dalam persoalan ini sependapat dengan Asyairoh, sebagaimana dikutip oleh Sayyid Hasan As-Saqof dalam kitab Al Bisyaroh wa al Ithaf hal 17-18, Albani mengatakan: ”pendapat Ibnu Taimiyah tersebut tidak boleh diterima dan harus dibuang”. Dalam kitabnya Silsilatus shohihah (1/208) ketika mengomentari hadist, “Sesungguhnya sesuatu yang pertama diciptakan allah adalah Al Qolam”, Albani berkata,” فالحديث يبطل هذا القول ويعين ان القلم هو اول مخلوق فليس قبله قطعا اي مخلوق ولقد اطال ابن تيمية الكلام فى رده على الفلاسفة محاولا اثبات حوادث لا اول لها وجاء فى اثناء ذلك بما تحار فيه العقول ولا تقبله اكثر القلوب

“Maka hadist tersebut telah membatalkan pendapat ini (yang mengatakan qodimnya alam) dan menyatakan sesungguhnya Al Qolam adalah awal mahluk. Maka, tidak ada sebelum al Qolam -secara pasti- mahluk apapun. Ibnu Taimiyah telah memanjangkan perkataannya dalam penolakannya terhadap para filosof, dengan (Ibnu Taimiyah) mengupayakan penetapan “mahluk-mahluk tak bermula”. Dan dia datang ditengah-tengah perkataannya dengan sesuatu yang membingungkan nalar dan tidak diterima oleh kebanyakan hati”. Al bani melanjutkan,

فذلك القول منه غير

مقبول بل هو مر فوض بهذا الحدبث

“Perkataan dari Ibnu Taimiyah tersebut TIDAK BOLEH DITERIMA, bahkan dia (harus) di TINGGAL/BUANG BERDASAR dasar hadist ini”. Demikian kata Albani…. Pertanyaannya sekarang… “di antara dua pendapat yang saling bertentangan ini, manakah yang diikuti oleh sekte wahabi?”. Apakah mereka mengikuti pendapat Ibnu taimiyah “ Al hawadis laa awwala laha” yang mana ijma’ ulama telah mengatakan pendapat ini jatuh didalam kekufuran? Ataukah mereka mengikuti Al Albani?

Lalu, apakah kesalahan fatal Ibnu Taimiyah ini bisa dimaafkan dari sisi aqidah dan dia mendapat satu pahala karena Khotho’ dalam berijtihad? MEREKA SENDIRILAH YANG TAHU JAWABANNYA…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s