JIKA SAYA SYIAH; ADILI SAYA SEPERTI ABU ZAYD

Posted: Oktober 6, 2015 in STOP MENUDUH BID'AH !!, WAHABI - SALAFY AHLI TAKFIR & TABDI
Tag:

jonru menuduh syiah seorang ulama sunni pakar tafsir Indonesia

Suara Quraish Shihab meninggi saat menanggapi tudingan, termasuk dari seorang ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), bahwa dirinya penganut syiah. Ia merujuk kasus Nasr Hamid Abu Zaid, intelektual Mesir yang divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir pada 1996. Dosen falultas sastra Universitas Kairo itu diadili karena pemikirannya dianggap menyimpang.

Abu Zayd, antara lain berpendapat bahwa perkara-perkara gaib yang disebut dalam Qur’an seperti ar’sy, malaikat, setan, jin, syurga, dan neraka hanyalah mitos belaka. Abu Zayd juga menyatakan bahwa Qur’an adalah produk budaya (muhtaj tsaqafi), dan karenanya mengingkari status azalinya sebagai kalamullah yang telah ada dalam laul mahfuz

Di pegadilan tingkat pertama, tuntutan yang di dukung lebih dari dua ribu ulama alumnus Universitas Al-Azhar atas Abu Zayd di tolak. Namun di pengadilan banding (mahkamah isti’naf) yang kemudian diperkuat Mahkamah Agung Mesir, Abu Zayd divonis murtad dan status pernikahannya dibatalkan

“Adili saya seperti Abu Zayd!, tantang Quraish”

Quraish mempersilahkan pegadilan itu mengadili semua buku dan karyanya, baik cetak maupun audio visual. Dalam pengadilan itu, Quraish akan meminta Syeikh Azhar atau ulama yang ditunjuk Mesir menjadi jurinya. “Kalau terbukti saya syi’ah, seluruh biaya peradilan saya tanggung. Tapi kalau yang menuding saya tidak bisa menemukan bukti maka biayanya dia yang tanggung”- tegas Qurais Shihab

Bukan kali ini saja Quraish mengumbar tantangan. Ketika tudingan dirinya syiah kencang berembus tahun lalu Quraish menantang pihak yang menuduhnya untuk menunjukkan bukti melalui karya-karyanya. “kalau ada yang bisa menunjukkan saya syiah, silahkan ambil royaltinya”

Tapi mengapa tantangannya sering melibatkan Syeikh Azhar atau ulama Mesir?, sebagai alumnus Universitas Al-Azhar Quraish paham betul bahwa para ulama Mesir yang mayoritas sunni, akan bersikap objektif dalam menilai pemikirannya. Mereka memiliki parameter yang ketat sebelum memvonis seseorang menganut syiah atau tidak

Bahkan orang yang berkata Sayyidina Ali lebih utama dari Sayyidina Umar ibu belum tentu tanda ia seorang Syiah. Karena penganut syiah mempercayai imamah, bahwa Tuhan sudah menunjuk Ali sebagai khalifah. Itulah beda antara sunni dan syiah, yakni pada kepercayaan imamah, kepemimpinan pengganti Rasulullah- kata Quraish

Qurasih sesungguhnya tak peduli dirinya dicap syiah atau bahkan mu’tazilah sekalipun. Tapi benarkah ia pemganut syiah?, menurutnya, meskipun prinsip dasarnya tekait kepercayaan akan imamah, secara simbolis mudah saja untuk melihat pertanda seorang menhanut syiah atau tidak. “lihat saja waktu saya menunaikan ibadah haji, apakah saya kalau naik bus menggunakan atap terbuka seperti yang dilakukan jamaah haji syiah. Kalau saya shalat apakah menggunakan batu karbala di tempat sujud?, kalau saya berbuka puasa, apakah meundanya 10 hingga 15 menit seperti orang syiah?”

Quraish menduga, boleh jadi orang menilainya syiah karena dalam sejumlah ceramah atau karya tulisnya tersurat kecintaannya yang teramat kepada ahlul bait keluarga nabi Muhammad saw dan keturunannya dari Fatimah dan Ali bin Abi Thalib. “saya memang cinta Ahlul bait karena saya punya hubungan darah dengan mereka. Jadi cinta saya berganda. Yang pertama karena saya tahu akhlak luhur mereka, kedua karena mereka nenek-kakek saya”

Cintai Ahlul Bait!, itulah yang ditanamkan dan kerap diingatkan sejak masa kanak-kanak Quraish oleh Aba Abdurrahman Shihab dan Habib Abdul Qadir Bilfaqih, pimpinan Darul Hadis Al Faqihiyah

Setahu Quraish, memang tidak ada cela pada ahlul bait. “kalaupun ada cela, itu bukan dari mereka. Imam Ja’far Shadiq itu gurunya sekian banyak ulama mazhab. Sayyidina Hesein dan Imam Ali Zainal Abidin sangat dijunjung tinggi di Mesir bahkan oleh orang-orang sunni. Demikian juga orang NU mereka sangat mencintai ahlul bait”

Quraish tak tahu kapan persisnya tudingan syiah muncul pertama kali. Seingatnya cap syiah mulai berembus ketika ia meluncurkan edisi percobaan Ensiklopedia Qur’an pada 1997. Quraish-lah yang menggagas sekaligus memimpin penyusunannya sejak 1992, melibatkan puluhan dosen dan mahasiswa pascasarjana IAIN Jakarta (kini UIN)

Terhalang kesibukannya sebagai Menteri Agama, lalu Duta besar RI untuk Mesir dan Djiboti, Quraish baru bisa menlanjutkan proyeknya beberapa tahun kemudian. Kali ini melibatkan lebih banyak lagi pakar ilmu tafsir, termasuk sejumlah Doktor lulusan Universitas Al-Azhar. Pada 2007, Ensiklopedia Al-Qur’an; kajian kosa kata dan tafsirnya setebal 2100 halaman dan terbagi dalam tiga jilid itu akhirnya diterbitkan atas kerjasama pusat studi Al-Qur’an, lentera hati, dan yayasan paguyuban Ikhlas

Quraish dicap syiah, karena beberapa bagian dari buku ini mengutip tafsir Mizan karya Muhammad Husain Thabatthabai, karya cendekiawan kelahiran Tabriz Iran tahun 1903 itu, termasuk tafsir Mizan memang sangat dikenal dan menjadi rujukan para ulama kontemporer syiah. Meski tak selalu sepakat dengan sejumlah pemikiran Thabatthabai, namun Qurasih merasa perlu mengutip pendapat cendikiawan syiah ini. “amanah ilmiah mendorong kami mengutip pendapat yang kami yakini kebenarannya, dan bermanfaat bagi pembaca” kata Quraish

Karena panggilan amanah ilmiah pula Quraish mengutip sejumlah pemikiran Thabattabai dalam tafsir Al-Misbah, disamping ulama tafsir lain seperti Sayyid Muhammad Thantawi, Syeikh Mutawali Sya’rawi, Sayyid Qutb, Ibnu Asyur dan Ibrahim bin Umar Al Biqai. Tafsir Al-Misbah yang terdiri dari 10.000 halaman lebih, terbagi dalam 15 jilid dan ditulis Quraish Shihab selama empat tahun, tuntas lebih dulu dibanding Ensiklopedia Al-Quran. Dan cap syiah usai menerbitkan Al Misbah juga bertebaran lantaran kutipan yang ia pakai banyak merujuk pada Thabattabai

Namun tudingan dan “cap syiah” usai menerbitkan karya ilmiah, tak segencar dibanding ketika Quraish disebut-sebut bakal ditunjuk sebagai Menteri Agama oleh Presiden Soeharto pada kabinet pembangunan VII, maret 1998. Saat itu, aktifis dari lembaga penelitian dan pengkajian Islam (LPPI) bahkan melansir surat pernyataan Osman Ali Babseil warga Saudi lulusan Universitas Kairo yang mengaku pernah berkawan dengan Quraish pada priode 1958-1963 di Mesir

Pada pernyataannya Osman mengaku sangat mengenal perilaku Quraish dalam membela aqidah Syiah. Dalam sejumlah dialog, menurut Osman Quraish juga menunjukkan sikap dan ucapan yang membela syiah. Saya bersumpah soal kesahihan pengakuannya. Osman yakin sikap Quraish tak berubah seiring perjalanan waktu meski puluhan tahun berlalu

Quraish santau menanggapi pengakuan itu. “bisa jadi ucapan pak Osman itu lahir dari kealpaan dan lupanya. Ketika studi di Mesir, pak Osman sudah bertugas sebagai guru di sekolah Indonesia. Saya tidak bergaul dengannya, apalagi tempat tinggalnya cukup jauh dari asrama mahasiswa Al-Azhar. Dia pun jarang bergaul dengan mahasiswa. Atau mungkin juga pak Osman menduga bahwa yang mencintai ahlil bait adalah syiah, apalagi pak Osman tidak berlatar belakang pendidikan agama. lebih-lebih soal aliran dalam Islam”

Benar juga pribahasa Arab yang mengatakan; “tidak semua yang putih itu lemak, tidak juga yang hitam itu kurma”. Dalam kontek ini, menurut Quraish “pak Osman mempersamakan sesuatu yang tidak sama”

Pada kali lain Quraish juga menanggapi; “menyetujui pendapat satu kelompok, tidak otomatis menjadikan yang bersangkutan bagian dari kelompok itu. Membela pemikiran syiah tidak otomatis membuat saya menjadi syiah, saya bukan syiah. Tapi saya tidak setuju untuk menyatakan syiah itu sesat”

Tapi rupanya tudingan itu sampai juga ke telinga presiden Soeharto dan menjadi perhatiannya sebelum menunjuk Quraish sebagai Menteri Agama. pak Harto memang tidak bertanya langsung, melainkan lewat putranya Bambang Triharmojo. “pak Quraish dituduh syiah, gimana ini?”

“Jangan tanya saya, tanya saja pak Rally” jawab Quraish, meunjuk Rally Siregar Direktur utama RCTI stasiun televisi yang saat itu masih milik Bambang Tri. Quraish sering mengisi acara-acara keagamaan di RCTI termasuk sahur bersama M.Quraish Shiahab yang tayang selama bulan ramadhan 1417 atau 1997

Suatu hari RCTI diprotes karena menayangkan ceramah keagamaan seorang dai yang disebut-sebut menganut syiah. Sebelum menghentikan sang da’i Rally Siregar dirut RCTI 1991-1999 ini meminta pendapat Qurais. “saya setuju pak Rally,  orang syiah itu tidak perlu dikasih tempat di RCTI, karena bisa memunculkan suasana tidak enak dan menimbulkan perpecahan” jawab Quraish. Sikap Quraish itu menjadi jawaban Rallay saat ditanya Bambang Tri terkait tudingan syiah

Penyelidikan pak Harto tak terhenti lewat Bambang. Dia pun mengutus putri sulungnya Sri Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut. Dalam beberapa kesempatan, Mbak Tutut dan Quraish Shihab terlibat perbincangan seputar isu syiah. “bukan hanya tudingan syiah, Mbak Tutut bahkan bertanya; “pak Quraish ini NU apa Muhammadiyah?” saya menduga Mbak Tutut juga bertanya pada banyak sumber soal tuduhan saya syiah” kata Quraish

Dari pengalaman itu, Qurais yakin muatan politis di balik tudingan syiah lebih kental dibanding tudingan ideologis. Itulah kenapa tudingan dirinya syiah lebih kencang berhembus saat ia akan ditunjuk sebagai menteri agama dibanding ketika meluncurkan karya ilmiah yang dianggap bermuatan pemikiran ulama syiah seperti tafsir Al-Misbah dan Ensiklopedia Al-Qur’an

Menjelang pemilu presiden 2014, isu syiah kembali santer. Maklumlah Quraish di akhir masa kampanye secara terbuka mengisyaratkan dukungan pada salah satu kandidat, pasangan JOKOWI dan JK. Karuan saja tak lama setelah kemunculannya di arena panggung terbuka, salam dua jari di stadion gelora Bung Karno, media sosial membincangkan ke syiahannya lagi.

Demikian ketika seorang ketua MUI secara terbuka menyebutnya syiah, Quraish menganggap tudingan koleganya itu cenderung bermuatan politis ketimbang sebagai upaya menjaga kemurnian Ahlussunnah. “Saya merasa ada udang dibalik batu, meskipun tidak berpartai beliau kan politisi” kata Quraish. Sayangnya ucapan tokoh kerap menjadi rujukan ummat. Dan ketika menjadi isu publik, orang-orang yang tak memahami persoalan, dan tak mengerti syiah pun ikut-ikutan mengumbar tudingan

Ada kerisauan di mata Quraish mendapati realitas terkini betapa sejumlah orang merasa hanya kelompoknya yang paling benar dan enggan menerima perbedaan. dan lebih merisaukan lagi menyaksikan betapa mudahnya orang menuduh pihak lain sesat atau kafir. Menurut Quraish, “penyakit lama” sikap intoleran itu menunjukkan tanda-tanda kambuh lagi dan berpotensi mengancam kerukunan antar ummat beragama di Indonesia

“ghirah keagamaan mereka sangat kuat, tapi picik. Apalagi sekarang adanya ISIS” katanya menyebut kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah, yang “merasa benar sendiri”, dan karena kepicikannya bahkan tega menghabisi nyawa orang-orang yang tak sepaham dengan mereka, termasuk penganut syiah.

Jiwa Quraish kembali terpanggil untuk mempertemukan dua hal yang berbeda, atau bahkan bertolak belakang. Quraish mengakui prinsip mempertemukan telah mewarnai perjalanan hidupnya. Dan prinsip ini pula yang mendorongnya menulis buku sunnah-syiah bergandengan tangan, mungkinkah? (lentera hati 2007). Pada kata pengantar Qurasih menulis; “tiada lain tujuan penulis kecuali terjalinnya hubungan harmonis antar semua kelompok ummat Islam bahkan seluruh ummat manusia”

Mengutip pendapat para ulama dan pakar sunnah syiah, dalam buku tersebut Quraish ingin menegaskan, memang terdapat sejumlah perbedaan antara sunnah dan syiah, tapi persamaannya jauh labih banyak dari perbedaannya. “perbedaan antara keduanya adalah perbedaan cara pandang  dan penafsiran, bukan perbedaan dalam ushul atau prinsip-prinsip dasar keimanan juga dalam rukun-rukun Islam”

Quraish juga mengajak pembacanya untuk melihat syiah dalam konteks kekinian. Syiah sebagai mazhab yang masih dianut di sejumlah negara, bukan dalam konteks historis. “bicaralah tentang syiah masa kini. Kalau masa lalu, memang ada syiah ghulat yang sesat, yang percaya bahwa Ali itu nabi. Sebagaimana di kalangan sunni juga ada perkembangan pemikiran” kata Qurash

Perbedaan perspektif, antara masa lalu da kini inilah yang diingatkan Qurasih saat menanggapi buku mungkinkah sunnah-syiah dalam ukhwah? Terbitan pustakan Sidogiri Kraton Pasuruan (2007). Buku yang disusun tim penulis dari pondok Pesantren Sidogiri, Jawa Timur itu merupakan tanggapan atas buku Qurash; sunnah syiah bergandengan tangan, mungkinkah?

Karena perbedaan perspektif tadi, awalnya Qurasih enggan menanggapi buku dari Sidogiri, namun atas desakan sejumlah pihak, Quraish kemudian menulis tanggapan dalam kata pengantar Sunnah syiah bergandengan tangan, mungkinkah? Edisi terbaru, mei 2014. Disini Qurash menegaskan pentingnya mencari titik temu dan meningkatkan sikap toleransi, bukan malah mempertajam perbedaan

“amat disayangkan ada diantara ummat Islam yang termakan oleh isu yang ditumbuh suburkan oleh musuh-musuh (Islam) sehingga lahirlah sekian orang atau kelompok yang enggan melakukan pendekatan, bahkan mengajak untuk menoleh, lalu kembali ke masa lalu yang kelam dan diliputi perpecahan. Kita mestinya mengarah ke depan karena kita adalah putera puteri masa kini, bukan masa lalu”

Pada bagian lain Quraish menjelaskan bahwa; “upaya mendekatkan” adalah keniscayaan yang dituntun agama, demi kepentingan jangka pendek dan jangka panjang ummat

“pendekatan itu bukanlah bermaksud menjadikan mereka menyatu, tapi mengundang mereka memahami sikap masing-masing secara objektif dan adil, lalu bergandengan  dengan tanpa melebur identitas, yakni biarlah yang sunni tetap sunni dan yang syiah pun tetap syiah. Namun keduanya berjalan seiring mengarah ke depan menuju kejayaan umat dan bangsa”

Quraish juga menyayangkan tiadanya sanggahan baru dari para santri muda pesantren Sidogiri itu terhadap bukunya; “yang ada hanya pengulangan pendapat-pendapat lama yang telah usang, yang hidangannya bila disodorkan pada masa kini sudah basi atau sangat membosankan, seakan-akan kita hidup pada masa lalu atau seakan-akan kita terlambat lahir”

Qurasih mengingatkan, sudah saatnya para pemimpin ummat meninggalkan wacana soal khilafiyah mazhab yang berpotensi memecah belah ummat. “bukankah banyak hal yang lebih penting, seperti menegakkan keadilan yang menjadi inti ajaran Islam serta mendorong upaya pemberantasan korupsi”

Disadur dari buku Cahaya, Cinta dan Canda M.Quraish Shihab- Mauludin Anwar,dkk (Letera Hati:2015).

Quraish Shihab menghadiri temu alumni Azhar di Kairo pada tahun 2006 bersama Alwi dan KH. Abdullah Syukri ZArkasyi pimpinan gontor.

Quraish Shihab menghadiri temu alumni Azhar di Kairo pada tahun 2006 bersama Alwi dan KH. Abdullah Syukri ZArkasyi pimpinan gontor.

Quraish bersama Syeikh Azhar

Quraish bersama Syeikh Azhar

Source: rumahkelana.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s