SALAFY TOLAK ADANYA BID’AH HASANAH DARI QOUL SAYYIDINA UMAR, IMAM SYAFI’I, IBNU TAIMIYAH & ULAMA SALAF LAIN

Posted: Oktober 8, 2015 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT, TAFSIR & QOUL ULAMA
Tag:,
Doa Khatam Qur'an di Ramadhan akhir (bid'ah hasanah)

Syekh Sudais memimpin doa Khatam Qur’an tarawih berjamaah di Ramadhan akhir  (bid’ah hasanah)

Semua Bidah itu Sesat, Tidak Ada Bidah Hasanah dan Bidah Sayyiah, Begitulah pendapat para Salafy, yang beredar di Internet & buku-buku terbitan Salafy. Padahal para ulama kibar & ‘alim dari Ahlu sunnah wal jama’ah, telah menjabarkan akan makna Bid’ah, bahwa bid’ah itu terbagi menjadi beberapa bagian (umumnya 2: baik & sesat). Ketahuilah bahwa Bid’ah bukanlah hukum, dimana hukum dalam Islam terbagi pada lima macam, yaitu: Wajib, Sunnah, Makruh, Jaiz & Haram. Adapun sesuatu yang bid’ah jika dilakukan akan menghasilkan salah satu dari 5 hukum tsb, yaitu bisa menjadi Wajib, Sunnah, Makruh, Jaiz atau Haram.

Sangat di sayangkan, golongan Salafy bersikukuh bahwa Bid’ah tetap pada zhahir hadits yaitu sesat dan berujung pada Neraka bagi para pelakunya. Mereka katakan tidak ada istilah bid’ah hasanah, mahmudah, apalagi makruhah, dll. Belakangan sikap mereka melunak dan membagi Bid’ah pula, akan tetapi bertolak belakang dari kebanyakan ulama-ulama salaf, mereka mengikuti konsep ulama Salafy akhir yaitu membagi bid’ah kepada bid’ah dunia atau bid’ah secara bahasa yang menurut mereka (Salafy) tak ada kaitannya dengan urusan agama/ ibadah. Pemisahan seperti ini (bid’ah dunia) hampir mirip dengan keyakinan & konsep Liberal yang diterapkan oleh orang-orang Orientalis Barat, dimana mereka katakan urusan agama & akhirat tak berkaitan dan harus di pisahkan.

Perhatikanlah Firman Allah swt:

Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).

Jadi pada dasarnya disetiap keadaan kita dari bangun tidur, sampai tidur kembali haruslah terkandung ibadah kepada Allah, karena hakikatnya untuk itulah kita di ciptakan oleh Allah SWT.

Salafy memahami zahir hadits bahwa tidak ada bid'ah hasanah

Salafy memahami zahir hadits bahwa tidak ada bid’ah hasanah

Boleh saja Anda (Salafy) mengatakan tidak ada bid’ah hasanah, mengambil dari pendapat Ulama-ulama akhir dari golongan Anda sendiri, atau Anda menganggap ada bid’ah hasanah hanya dari segi lughowi (bahasa) saja mengambil pendapat ulama Ibnu Rajab, atau anda membaginya hanya kepada Bid’ah keduniaan seperti Ulama Akhir dari golongan Anda yaitu Utsaimin katakan, jadi menurut Anda yang demikian itu tidaklah sesat.

Kami menghormatinya & menganggap ada khilaf tentang pengertian Bid’ah itu sendiri, akan tetapi kami mengajak Anda agar tidak menutup mata akan adanya tafsir yang berbeda dari hadist itu pula. Marilah kita masuk pokok pembahasan sbb:

1. PEMBAGIAN BID’AH OLEH IMAM SYAFI’I

Imam Syafi’i berkata:

ﺍَﻟْﺒِﺪْﻋَﺔُ ﺑِﺪْﻋَﺘَﺎﻥِ : ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻣَﺤْﻤُﻮْﺩَﺓٌ ﻭَﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻣَﺬْﻣُﻮْﻣَﺔٌ, ﻓَﻤَﺎ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﻓَﻬُﻮَ ﻣَﺤْﻤُﻮْﺩٌ ﻭَﻣَﺎ ﺧَﺎﻟَﻒَ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ ﻓَﻬُﻮَ ﻣَﺬْﻣُﻮْﻡٌ

“Bid’ah itu ada dua : Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Semua yang sesuai dengan sunnah, maka itu adalah terpuji, dan semua yang menyelisihi sunnah, maka itu adalah tercela.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah(9/113))

Semakna dengannya, apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i (1/469), bahwa beliau rahimahullah berkata :

ﺍَﻟْﻤُﺤْﺪَﺛَﺎﺕُ ﺿَﺮْﺑَﺎﻥِ : ﻣَﺎ ﺃُﺣْﺪِﺙَ ﻳُﺨَﺎﻟِﻒُ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ ﺃَﻭْ ﺳُﻨَّﺔً ﺃَﻭْ ﺃَﺛَﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﺇِﺟْﻤَﺎﻋًﺎ ﻓَﻬَﺬِﻩِ ﺑِﺪْﻋَﺔُ ﺍﻟﻀَّﻼَﻝِ, ﻭَﻣَﺎ ﺃُﺣْﺪِﺙَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻻَ ﻳُﺨَﺎﻟِﻒُ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻣِﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬَﺬِﻩِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٌ ﻏَﻴْﺮُ ﻣَﺬْﻣُﻮْﻣَﺔٍ

“Perkara yang baru ada dua bentuk : (Pertama) Apa yang diada-adakan dan menyelisihi kitab atau sunnah atau atsar atau ijma’, inilah bid’ah yang sesat. Dan (yang kedua) apa yang diada-adakan berupa kebaikan yang tidak menyelisihi sesuatupun dari hal tersebut, maka inilah perkara baru (Bid’ah) yang baik (tidak tercela)”

# PENDAPAT SALAFY & SANGGAHAN KAMI (ASWAJA)

Seperti banyak beredar di artikel, buku, web, blog & media sosial Salafy, Salafy menyanggah Qoul Imam Syafi’i tentang bid’ah tsb seperti pada link ini, pointnya sbb:

1. Menurut Salafy Riwayat tsb dhoif (sumber Ulama Akhir Salafy, yaitu: Ali Hasan Halabi).

Jawaban & Sanggahan:

Tidaklah demikian, Qoul tsb diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i –Jilid 1- Halaman 469, dan di tunjang oleh beberapa riwayat lainnya yang serupa.

2. Menurut Salafy jika Riwayatnya benar/ shohih, maka yang di maksud adalah bid’ah lughowi/ bahasa

Jawaban & Sanggahan:

Konsep al-Imam al-Syafi’i rahimahullah sangat jelas dalam memberikan definisi serta mengklasifikasikan Bid’ah menjadi dua ketegori yaitu Mahmudah (terpuji) dan Madzmumah. Apakah madzhmumah masuk kepada lughowi pula??.

3. Sanggahan kepada Salafy yang meragukan Qoul Imam Syafi’i tsb

Salafy Meragukan bahwa Qoul tsb datang dari Imam Syafi’i karena mereka membandingkan dengan pendapat Imam Syafi’i yang terlihat bertentangan, yaitu “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka berarti dia telah membuat syari’at””

Jawaban & Sanggahan:

Qoul awal (ada bid’ah mahmudah) tsb banyak di riwayatkan oleh Ulama-ulama Syafi’i, yang di dengar langsung dari Imam Syafi’i dan di rekam dalam tulisan-tulisan mereka yang di bukukan. Dan yang dimaksud Qoul lain (membuat Syari’at baru) tsb adalah Apabila dalam metode pengambilan instinbathnya dengan menggunakan Istihsan yang hanya berdasarkan ra’yu (akal/logika), yang tidak ditopang dengan dalil Syar’i, atau Istihsan yang menyelisihi Qiyas sebagaimana yang telah dijelaskan oleh syaikh al-Syahid Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan.

Penjelasan dari Imam Assyaukani yang menukil perkataan Ar-Ruyani ketika menjelaskan perkataan Asy-Syafi’iy di atas,
معناه أنه ينصب من جهة نفسه شرعًا غير الشرع
“Maknanya adalah orang yang menetapkan hukum syar’iy atas dirinya dan tidak berdasarkan dalil-dalil syar’iy” [Irsyaadul-Fuhuul, hal. 240].

Lihat terjemah di ujung “tidak berdasarkan dalil-dalil syar’iy”,
kalo berdasarkan “dalil-dalil syar’iy” maka hasil nya kebalikan dari hukum itu

4. Qoul Imam Syafi’i tak dapat di terima karena menyelisihi hadits Nabi (Seluruh Bid’ah sesat)

Menurut Salafy bahwa Qoul Imam Syafi’i tsb adalah TIDAK BOLEH/BISA DI TERIMA karena menyelisihi hadits (Pen: zahir) yang di sebutkan.

Imam Syafi'i Bid'ah hasanah

Jawaban & Sanggahan:

Kata “Kullu” dalam Qur’an & hadits dikatakan tidak berarti semua, banyak yang bermakna sebagian, dan tentunya hal itu sejalan dengan maksud dari hadits Nabi tentang bid’ah, akan tetapi jika Anda (Salafy) tetap mengartikan kata “Kullu” itu secara zahir yaitu semua/setiap, maka tampak akan berlawanan.

Silahkan saja bagi Salafy untuk tidak menerima Qoul Imam Syafi’i tentang konsep bid’ahnya. Akan tetapi untuk mengatakan bahwa Imam Syafi’i menyelisihi hadits Nabi adalah tuduhan yang tidak berdasar sama sekali. Justru Beliau lah yang lebih memahami hadits-hadits Nabi saw daripada ulama-ulama akhir dari golongan Salafy. Silahkan saja berbeda tapi jangan menutup adanya pendapat lain.

Imam Ahmad ditanya tentang (Imam) asy-Syafi’i, beliau pun menjawab:
“Pendapat(nya) shahih dan hadits(nya) shahih.” (Juz’ fiihi Hikaayaat an asy-Syaafi’iy wa Ghayrih” : Al-Ajurry.)

Ibnu Huzaimah yang merupakan hafidz hadits yang juga seorang faqih yang telah mengkaji pendapat-pendapat Imam As Syafi menyatakan,”Aku tidak mengetahui Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam masalah halal dan haram yang tidak dicantumkan As Syafi’i dalam kitab-kitabnya”. (lihat Al Majmu, 1/105)

Dari Sufyan bin ‘Uyainah: “Hadis ialah padang yang menyesatkan kecuali untuk para fuqaha.” Silakan rujuk syarah ucapan ini dalam kitab Fatawa Ibn Rusyd jilid 2, hal. 751.Ahmad bin Hanbal berkata : “Ahli Hadis pada masanya tidak mengetahui makna-makna hadis Nabi shalallahu’alaihi wa sallam hingga datang asy-Syafi’i [dgn kemahiranya terhadap lughot-lughot suku arab] dan menjelaskan kepada mereka.” (Ma’rifat as-sunnah wa al-Atsar. 2/95. as-sunan al-Kubra. 1/266), al-Husain bin Ali al-Karabisi berkata : “Semoga Allah merahmati asy-Syafi’i. Kami tidak memahami istinbat hukum daripada sunnah melainkan dengan pengajaran asy-Syafi’i Abu Abdillah kepada kami.”(Manaqib asy-Syafi’i. 1/300).

***

2. PERKATAAN SAYYIDINA UMAR RA YANG MENGATAKAN BID’AH HASANAH

Dari Abdurrahman bin Abdil Qaary katanya; aku keluar bersama Umar bin Khatthab di bulan Ramadhan menuju masjid (Nabawi). Sesampainya di sana, ternyata orang-orang sedang shalat secara terpencar; ada orang yang shalat sendirian dan ada pula yang menjadi imam bagi sejumlah orang. Maka Umar berkata: “Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih baik…” maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya di malam yang lain, dan ketika itu orang-orang sedang shalat bersama imam mereka, maka Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini, akan tetapi saat dimana mereka tidur lebih baik dari pada saat dimana mereka shalat”, maksudnya akhir malam lebih baik untuk shalat karena saat itu mereka shalatnya di awal malam [HR. Malik dalam Al Muwaththa’ bab: Ma jaa-a fi qiyami Ramadhan].

PERKATAAN ABDULLAH BIN UMAR RA TENTANG INDIKASI ADANYA BID’AH (HASANAH)

Anak ‘Umar bin Khottob, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Yang namanya adzan pertama pada shalat Jum’at baru dilakukan di masa ‘Utsman karena kebutuhan manusia akan hal itu. Dan amalan ini diteruskan pula oleh ‘Ali bin Abi Tholib. Namun Ibnu ‘Umar lantas berkata, “Huwa bid’ah (ini adalah bid’ah)”.

# PENDAPAT SALAFY & SANGGAHAN KAMI (ASWAJA)

Berikut ini pendapat Salafy yang tersebar di jagat internet, artikel, buku, dll yang bersumber dari link ini

A. Itu adalah Bid’ah Lughowi

Salafy mengambil pendapat Ibnu Rajab & Ibnu TaimiyahYang di maksud (Salafy) adalah Bid’ah lughowi/ Bahasa.

B. Qoul Sayyidina Umar Bertentangan dengan Sabda Nabi saw

Salafy berkata: Taruhlah kita (Salafy) setuju dengan perkataan ‘Umar bahwa ada bid’ah hasanah karena beliau telah berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Maka cukup disanggah seperti kata Ibnu Taimiyah (dalam Iqtidho’ Shirothil Mustaqim, 1: 95.): “Perkataan sahabat bukanlah argumen. Bagaimana perkataan sahabat bisa sebagai alasan di saat bertentangan dengan sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Jika dengan perkataan sahabat saja tidak bisa dipertentangkan dengan sabda Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, lantas bagaimana lagi dengan perkataan ulama yang berada di bawah sahabat?

Sayyidina Umar Bid'ah Hasanah

#JAWABAN & SANGGAHAN KAMI (ASWAJA)

* Perlu di perhatikan pula penafian yang di maksud bid’ah bahasa saja dengan membandingkan kalam, ulama-ulama Ahlus Sunnah waljamaah lain tentang ini, Insya Allah akan di bahas di posting berikutnya, atau bisa anda baca tentang maksud bid’ah lughowi disini

* Silahkan Saja anda (Salafy) tak mengakui adanya bid’ah hasanah & menentang adanya bid’ah hasanah, akan tetapi untuk mengatakan bahwa Qoul Umar tentang Bid’ah hasanah bertentangan/ menyelisihi sabda Nabi, adalah suatu hal yang keterlaluan dan tidak berdasar sama sekali. Tentu saja mereka (para Sahabat) lebih memahami ucapan Nabi, mereka adalah sahabat yang dijamin surga. Lebih ‘alim dan mengetahui syari’at ini ketimbang kita. Ketahuilah, “Di antara ciri ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar!” Demikian perkataan dari Imam Abu Hatim Ar Razi –rahimahullah- (Ashlu Sunnah hal 24.).

* Kutipan Ibnu Taimiyah kurang tepat untuk di letakkan dalam hal ini, dan ada upaya pemutar balikan fakta karena Ibnu Taimiyah justru meriwayatkan & mebagi Bid’ah kepada bid’ah hasanah pula dalam Qoul & praktek Sayyidina Umar tsb:

“Imam Syafii berkata: Bidah ada dua. (Pertama) Bidah yang bertentangan dengan kitab, sunah, ijma dan asar dari sebagian sahabat nabi, maka ini adalah bidah yang sesat. (Kedua) bidah yang sama sekali tidak bertentangan dengan empat hal tersebut maka bidah ini terkadang baik sebab ucapan Umar : ini adalah sebaik-baik bidah. Ucapan ini dan yang semisalnya diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad shohih dalam Al-Madkhol.” (Majmu Fatawa: Juz 20, hal163).

PENGUAT

Dari Mujahid :

عن مجاهد ، قال : دخلت أنا وعروة بن الزبير المسجد فإذا عبد الله بن عمر جالس إلى حجرة عائشة وإذا أُناس يصلّون في المسجد صلاة الضحى . قال : فسألناه عن صلاتهم ، فقال : بدعة

“ Dari Mujahid, ia berkata, “ Aku bersama Urwah bin Zubair masuk ke masjid, dan ternyata ada Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma sedang bermajlis ke kamar Aisyah, tiba-tiba orang-orang sedang melakukan sholat dhuha di dalam masjid. Ia berkata, “ Lalu kira Tanya kepada Ibnu Umar, maka beliau menjawab “ Itu adalah bid’ah “. (Sahih Bukhari bab Umrah No. 1775)

Dalam riwayat yang lain :

عن ابن عمر أنه قال : إنها محدثة ، وإنها لمن أحسن ما أحدثو

“ Dari Ibnu Umar bahwasanya ia bekata “ Sholat dhuha (semacam itu) adalah bid’ah. Dan sesungguhnya ia adalah perkara baru yang baik “(Fathul Bari : 4/84).

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB MENGAKUI BID’AH HASANAH 

● Didalam Bukunya yang berjudul:
“Ar-Rasail asy-Syahsyiyyah”.
= Risalah: 16.
= Halaman : 107

= Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (pendiri wahabi) mengatakan :

والمقصود بيان ما نحن عليه من الدين وأنه عبادة الله وحده لا شريك له فيها بخلع جميع الشرك، ومتابعة الرسول فيها نخلع جميع البدع إلا بدعة لها أصل في الشرع كجمع المصحف في كتاب واحد وجمع عمر رضي الله عنه الصحابة على التراويح جماعة وجمع ابن مسعود أصحابه عل القصص كل خميس ونحو ذلك فهذا حسن والله أعلم

“ Maksudnya adalah menejelaskan apa yang kami lakukan dari agama dan yang merupakan ibadah kepada Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya,
Di dalamnya melepas semua bentuk kesyirikan dan mengikuti Rasul di dalamnya,
KAMI MELEPAS SEMUA BENTUK BID’AH, KECUALI BID’AH YANG MEMILIKI ASAL DALAM SYAREAT.
Seperti:
~ Mengumpulkan Mushaf dalam Satu Kitab
~ Dan Pengumpulan Umar ra kepada para Sahabat atas Sholat tarawih dengan Berjama’ah,
~ Dan pengumpulan Ibnu Mas’ud kepada para sahabatnya atas Majlis kisah-kisah setiap Hari Kamis dan semisalnya, SEMUA ITU ADALAH BAIK.
Wa Allahu A’lam “

(Ar-Rasail asy-Syahsyiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab jilid 5 risalah yang keenam belas halaman : 103)

● SILAHKAN DITELA’AH SCANNYA DIBAWAH…!!

※ KESIMPULANNYA:

→ Disini Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan Bidah yang Baik (Hasanah).

→ Sahabat Nabi, Sayyidina Abu bakar, Umar, Ustman,
Bab Mengumpulkan Mushaf. (Bid’aah Hasanah)

→ Sayyidina Umar dan Sahabat Lainnya, bab Pengumpulan Dalam Shalat Terawih. (Bid’ah Hasanah)

→ Ibnu Mas’ud Dalam Perkumpulan Tiap Hari Kamis.
(Bid’ah Hasanah)

Untuk dapat memahami konsep Bid’ah secara lengkap bisa anda baca ebbok gratis, download disini

Wallahu a’lam

Ref : Mpu Gandring, Habib Hasan baroom & aswj

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s