SHOLAT SUNNAH SEPANJANG MALAM BUKANLAH BID’AH

Posted: Oktober 16, 2015 in AMAL GENERASI SALAF, STOP MENUDUH BID'AH !!, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:, , ,

sholat-malam

Hadits-hadits adalah menyesatkan (bila dipahami tanpa ilmu) kecuali bagi Ahli fiqh, Ulama banyak mengibaratkan Ahli hadits adalah Apoteker sedangkan Ahli Fiqh adalah dokternya, sebagaimana Dokter yang mengetahui obat apa saja yang cocok untuk penyakit pasien, jika sakitnya berbeda bisa saja akan jadi berbeda obatnya. Sebaliknya seorang Apoteker bertugas dan ahli dalam meracik resep dari dokter, ia mengetahui bahan terbaik, kadar yang pas & cocok untuk meracik obat tsb, akan tetapi ia tak mempunyai hak/ kuasa untuk memberikan obat itu langsung kepada pasien kecuali lewat dokter atau dia pun juga memanglah seorang dokter.

Karenanya, seorang yang mungkin mengetahui ilmu hadits, atau dia seorang yang pakar ilmu hadits, belum tentu bisa dijadikan pegangan dan di ikuti fatwa-fatwanya. Karena untuk berfatwa dan di tunjuk sebagai mufti pun harus melalui syarat-syarat yang berat & tidak semua orang bisa. [Baca syarat fatwa]

Pendapat Ulama Peneliti hadits dari Salafy tentang sholat malam yang dilakukan sering/ setiap hari

Menurut pendapat Ulama Salafy-Wahabi & pengikutnya hal itu adalah bid’ah, sebagaimana yang di kemukakan oleh Albani dalam Shifah Assholah hal-120, Albani berkata :

Sholat malam sepanjang malam

Sholat sepanjang malam yang dilakukan terus-menerus atau terlalu sering tidaklah disukai agama, karena menyelisihi Sunnah Nabi saw (pen: Bid’ah). Sekiranya perbuatan itu baik, tentu Nabi saw tidak akan meninggalkannya, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi“.

# JAWABAN & BANTAHAN

Belum pernah ada larangan yang datang dari Allah, Nabi, sahabat, ulama Salaf maupun kholaf, tentang bid’ahnya sholat malam yang sering dilakukan sepanjang malam, kecuali baru-baru belakangan ini, datang dari ulama Akhir Salafy.

Dalam tulisan tsb tidak di jelaskan pelarangannya bagaimana, hal ini sangat berbahaya jika di baca oleh orang awam yang akan mengambil kesimpulan langsung, mudah-mudahan saya berasumsi bahwa :

Yang dimaksud pelarangan Nabi disini adalah jika sholat malam tanpa tidur-tidur dan mengabaikan hak-hak orang lain yang berkaitan dengannya, hal ini sesuai dengan penggalan isi hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amr bin Al Ash Ra, berikut:

Janganlah engkau melakukan begitu (berpuasa tanpa berbuka), tetapi berpuasa dan berbukalah, shalat malam tetapi juga sisakan waktu malam untuk tidur, sesungguhnya bagi jasadmu ada hak yang harus engkau penuhi, bagi matamu ada hak yang engkau harus penuhi, istrimu juga mempunyai hak yang wajib engkau penuhi, dan bagi tamu engkau juga punya hak yang harus engkau penuhi

Artinya jika hak-hak kita kepada diri kita, keluarga & orang lain sudah terpenuhi maka sholat sepanjang malam tidaklah bid’ah

Perintah Sholat Malam

Perintah Allah untuk sholat sunnah dimalam hari didasari dari Firman Allah swt, dalam surat Al-Isra:79:

Dan pada sebahagian malam hari, (shalat) tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah nafilah (tambahan) bagimu

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. 18. dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar”. (QS. Az-Zariya: 17-18.)

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkah-kan sebagian dari rizki yang Kami berikan ke-pada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [As-Sajdah/32: 16-17]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan apa yang mereka lakukan adalah shalat malam dan meninggalkan tidur serta berbaring di atas tempat tidur yang empuk.”  Tafsiir Ibni Katsir (VI/363).

Nabi tak pernah meninggalkan sholat malam, bahkan menganjurkan

Adalah keliru pelarangan di link tsb diatas, yaitu memaknai sholat malam yang sering dilakukan adalah menyelisihi Nabi, karena Beliau tidak melakukannya (sering sholat malam). Coba perhatikan hadits berikut ini:

Dari al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu anhu

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat hingga kedua telapak kaki beliau membengkak, lalu ada yang berkata kepada beliau, “Apakah engkau memaksakan diri untuk ini, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-mu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab:‘Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur’?.(HR. Al-Bukhari no. 1130 & Muslim no. 2819).

Abdullah bin Qais mengatakan, bahwa ‘Aisyah Radhiyallahun anhuma berkata:

Janganlah kalian meninggalkan shalat malam karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya. Jika beliau sakit atau malas, beliau shalat dalam keadaan duduk.”

HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab Qiyaamil Lail, (hadits no. 1307), Ahmad dalam Musnadnya, (hadits no. 25583), al-Hakim dalam al-Mustadraknya, (I/452). Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Muslim.” Penilaian al-Hakim disetujui oleh adz-Dzahabi.

Hendaklah kalian sholat malam, karena sholat malam adalah kebiasaan yang dikerjakan orang-orang sholeh sebelum kalian, ia adalah ibadah yang mendekatkan diri kepada Rabb kalian, penghapus berbagai kesalahan dan pencegah perbuatan dosa.” (HR. Tirmidzi)

Alasan (Amalan Nabi) Tak selalu di lakukan Nabi

Hal yang tidak dilakukan Nabi belum tentu menjadi bid’ah, ada hal khusus mengapa Rasulullah saw tidak setiap malam melakukannya, yaitu khawatir akan menjadi (dianggap) wajib oleh Ummatnya, dan tentunya hal itu bisa memberatkan ummatnya, tapi Nabi tak pernah melarangnya, hal ini sesuai dengan Sabda Nabi saw:

“Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata: Jika Rasulullah Saw meninggalkan suatu bentuk ibadah, padahal beliau ingin melaksanakannya, itu adalah karena beliau khawatir ibadah tersebut dilaksanakan oleh kaum muslimin yang berakibat diwajibkannya ibadah tersebut kepada mereka…”(HR: Bukhori Kitab Tahajjud Bab-4).

Nabi memerintahkan ummatnya mendawamkan/ merutinkan amalan baik

Amalan yang dilakukan rutin (terus-menerus) justru lebih di sukai Nabi saw, hal ini sesuai dengan sabdanya :

“Diriwayatkan dari Masruq: Saya bertanya kepada Aisyah ra, mengenai amal soleh yang paling disukai oleh Rasulullah Saw, kemudian Aisyah ra menjawab: Amal baik yang paling dicintai oleh Rasulullah Saw adalah amal amal baik yang dikerjakan secara rutin.” (HR. Bukhori:1132: Kitab Tahajjud).

Adalah suatu kekeliruan & sedikitnya pengetahuan mengatakan hal ini menyelisihi Nabi

Dan Sholat malam yang sering dilakukan tidaklah menyelisihi sunnah Nabi saw, malah Nabi pun memerintahkan ummatnya melakukannya, hal ini sesuai dengan Sabda Nabi :

Abdullah bin Umar adalah orang yang baik (sholeh), sebaiknya dia selalu bertahajjud di malam hari“. Semenjak itu Abdullah bin Umar hanya tidur sebentar di malam hari. (HR: Bukhori).

Asy-Syaikh Said al-Yamani yang mengatakan: “Jikalau seseorang bertambah ilmunya dan luas cakrawalanya maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain” [Baca]

Amalan ini diteruskan oleh generasi sesudahnya, hingga saat ini tanpa ada pengingkaran

Sayyidina ‘Utsman ibn ‘Affan, disebutkan oleh Ibn ‘Umar adalah seseorang yang Allah swt puji dalam QS. az-Zumar [39] : 9. Sebagaimana ditulis oleh Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya:

عن يَحْيَى البكَّاء أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ قَرَأَ: {أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ} قَالَ ابْنُ عُمَرَ: ذَاكَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّان

Dari Yahya al-Bakka, ia mendengar Ibn ‘Umar membaca ayat: {Ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?}. Ibn ‘Umar berkata: Itu adalah ‘Utsman ibn ‘Afffan ra.

Al-Hafizh Ibn Katsir dalam hal ini menjelaskan:

وَإِنَّمَا قَالَ ابْنُ عُمَرَ ذَلِكَ؛ لِكَثْرَةِ صَلَاةِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُثْمَانَ بِاللَّيْلِ وَقِرَاءَتِهِ، حَتَّى إِنَّهُ رُبَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي رَكْعَةٍ، كَمَا رَوَى ذَلِكَ أَبُو عُبَيْدَةَ عَنْهُ t

Ibn ‘Umar menyatakan demikian karena Amirul-Mu`minin ‘Utsman sering shalat malam, sampai ia membaca hampir satu al-Qur`an dalam satu raka’at, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaidah ra.

Shahabat Ibn ‘Umar sendiri yang memuji ‘Utsman ra seperti di atas, tentu bukan berarti beliau sendiri tidak melakukannya. Sebagaimana diceritakan oleh Muhammad ibn Zaid:

عن مُحَمَّدِ بنِ زَيْدٍ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ لَهُ مِهْرَاسٌ فِيْهِ مَاءٌ، فَيُصَلِّي فِيْهِ مَا قُدِّرَ لَهُ، ثُمَّ يَصِيْرُ إِلَى الفِرَاشِ، فَيُغْفِي إِغْفَاءةَ الطَّائِرِ، ثُمَّ يَقُومُ، فَيَتَوضَّأُ وَيُصَلِّي، يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي اللَّيْلِ dأَرْبَعَ مَرَّاتٍ أَوْ خَمْسَةً

Dari Muhammad ibn Zaid: “Ibn ‘Umar mempunyai wadah air yang besar. Beliau shalat malam sekemampuan beliau. Kemudian beliau naik tempat tidurnya dan tertidur sejenak seperti tertidurnya burung. Kemudian beliau bangun, wudlu dan shalat lagi. Beliau berbuat seperti itu empat sampai lima kali dalam satu malam.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 3 : 215).

Shahabat lain yang ditemukan riwayat tentang shalatnya adalah ‘Adiy ibn Hatim dan Tamim ad-Dari. ‘Adiy selalu merindukan datangnya waktu shalat dan Tamim selalu kuat shalat malam dengan waktu yang cukup lama.

قَالَ ابْنُ عُيَيْنَةَ: حُدِّثْتُ عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ عَدِيٍّ، قَالَ: مَا دَخَلَ وَقْتُ صَلاَةٍ حَتَّى أَشْتَاقَ إِلَيْهَا

Ibn ‘Uyainah berkata: Aku mendapatkan berita dari as-Sya’bi dari ‘Adi, bahwa ia berkkata: “Tidak datang waktu shalat sampai aku merindukannya.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 3 : 164).

عَنْ مَسْرُوْقٍ، قَالَ لِي رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ: هَذَا مُقَامُ أَخِيْكَ تَمِيْمٍ الدَّارِيِّ، صَلَّى لَيْلَةً حَتَّى أَصْبَحَ، أَوْ كَادَ، يَقْرَأُ آيَةً يُرَدِّدُهَا، وَيَبْكِي : {أَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُم كَالذِيْن آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ}

Dari Masruq: Seorang lelaki dari Makkah berkata kepadaku: “Inilah tempat saudaramu Tamim ad-Dari shalat malam sampai shubuh atau menjelang shubuh. Ia membaca satu ayat diulang-ulang sambil menangis: {Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh,…} (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 2 : 445. QS. al-Jatsiyah [45] : 21).

Dari kalangan tabi’in, bisa disebut nama Sa’id ibn al-Musayyab dan ‘Amr ibn Dinar. Sa’id terkenal dengan konsistensinya mengikuti shalat berjama’ah selalu di awal waktu dan selalu di shaf pertama, sementara ‘Amr ibn Dinar dikenal dalam kemampuannya memanage waktu malamnya untuk ibadah, memperdalam ilmu dan istirahat.

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ: مَا فَاتَتْنِي التَّكْبِيرَةُ الْأُولَى مُنْذُ خَمْسِينَ سَنَةً وَمَا نَظَرْتُ فِي قَفَا رَجُلٍ فِي الصَّلَاةِ مُنْذُ خَمْسِينَ سَنَةً

Sa’id ibn al-Musayyab berkata: “Aku tidak pernah lagi tertinggal dari takbir pertama sejak 50 tahun yang lalu, dan aku tidak pernah melihat punuk seseorang pun ketika shalat sejak 50 tahun yang lalu.” (Hilyatul-Auliya 2 : 163).

عَنْ سُفْيَانَ، قَالَ:كَانَ عَمْرُو بنُ دِيْنَارٍ جَزَّأَ اللَّيْلَ ثَلاَثَةَ أَجزَاءٍ: ثُلُثاً يَنَامُ، وَثُلُثاً يُدَرِّسُ حَدِيْثَه، وَثُلُثاً يُصَلِّي

Dari Sufyan ibn ‘Uyainah, ia berkata: ‘Amr ibn Dinar membagi malam menjadi tiga bagian: Sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk mengkaji hadits, dan sepertiga untuk shalat (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 5 : 302).

Teladan ‘Amr ibn Dinar ini diikuti oleh Imam as-Syafi’i. Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang muridnya, ar-Rabi’ ibn Sulaiman:

قَالَ الرَّبِيْعُ بنُ سُلَيْمَانَ: كَانَ الشَّافِعِيُّ قَدْ جَزَّأَ اللَّيْلَ: فَثُلُثُهُ الأَوَّلُ يَكْتُبُ، وَالثَّانِي يُصَلِّي، وَالثَّالِثُ يَنَامُ

Ar-Rabi’ ibn Sulaiman berkkata: as-Syafi’i membagi malam menjadi tiga bagian: Sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat, dan sepertiga ketiga untuk tidur (Adz-Dzahabi, Siyar A’lamin-Nubala` 10 : 35).

IMAM AS SYAFI’I amat menghargai waktu, jika malam hari beliau memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. “Aku sering tidur dan bermalam di rumah As Syafi’i. Beliau tidak tidur di malam hari kecuali sebentar”, kata Ar Rabi’ bin Sulaiman, murid Imam As Syafi’i.

Teladan menghidupkan malam dengan shalat dan bahkan dengan target mengkhatamkan al-Qur`an dalam shalat malam tersebut, diteladankan juga oleh Imam al-Bukhari:

قَالَ مُقْسِمُ بْنُ سَعْدٍ: كَانَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ الْبُخَارِيُّ يَقْرَأُ فِي السَّحْرِ مَا بَيْنَ النِّصْفِ إِلَى الثُّلُثِ مِنَ الْقُرْآنِ فَيَخْتِمُ عِنْدَ السَّحَرِ فِي كُلِّ ثَلاَثِ لَيَالٍ

Muqsim ibn Sa’ad berkata: Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari membaca al-Qur`an di waktu sahur antara setengah sampai sepertiga al-Qur`an. Beliau khatam di waktu sahur di setiap tiga malam (Hadyus-Sari Muqaddimah Fathul-Bari, hlm. 645).

Apa yang di perintahkan Nabi kepada para sahabat, sehingga menjadi kebiasaan tersebut di teruskan pula oleh para ulama Salaf & Kholaf hingga saat ini, seperti berikut ini :

1. Imam Abu Hanifah : Sholat 300 rokaat tiap malam.

Al-‘Aththar dalam kitab at-Tadzkirah mengatakan :
كان ابو حنبفة يصلي في كل ليلة ثلاثمائة ركعة فمر يوما على جمع من الصبيان فقال بعضهم لبعض : هذا يصلي في كل ليلة الف ركعة ولا ينام بالليل. فقال ابو حنيفة : نويت ان اصلي في كل ليلة الف ركعة وان لا انام بالليل
“ Abu Hanifah konon melakukan sholat 300 roka’at tiap malam. Suatu hari ia berjalan melewati sekelompok anak kecil, maka seorang dari mereka berkata kepada temannya : “ Inilah orang yang melakukan sholat tiap malam 1000 roka’at dan tidak pernah tidur tiap malam “. (Iqamah al-Hujjah, al-Kanawi : 80)

2. Imam Malik : Sholat 800 roka’at tiap hari.

قَالَ أَبُوْ مُصْعَبٍ وَأَحْمَدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ مَكَثَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ سِتِّيْنَ سَنَةً يَصُوْمُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا وَكَانَ يُصَلِّي فِي كُلِّ يَوْمٍ ثَمَانَمِائَةٍ رَكْعَةً
“Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800 rakaat ” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/61///0)

3. Mus’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair : Sholat 1000 roka’at tiap hari.

مُصْعَبُ بْنُ ثَابِتِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ وَكَانَ مُصْعَب يُصَلِّي فِي الْيَوْمِ وَالَّلْيَلَةِ أَلْفَ رَكْعَةٍ وَيَصُوْمُ الدَّهْرَ
“Mush’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair, ia salat dalam sehari semalam 1000 rakaat ” (Shifat ash-Shafwah, Ibnu Jauzi, 2/197 dan al-Ishabah, al-Hafidz Ibnu Hajar, 2/326)

4. Ali Zainal Abdin : Sholat 1000 roka’at tiap hari.

ذُوْ الثَّفَنَاتِ عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ زَيْنُ الْعَابِدِيْنَ سُمِّيَ بِذَلِكَ لأَنَّهُ كَانَ يُصَلِّى كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ رَكْعَةٍ فَصَارَ فِي رُكْبَتَيْهِ مِثْلُ ثَفَنَاتِ الْبَعِيْرِ
“Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, hiasan ahli ibadah, disebut demikian karena ia salat dalam sehari semalam sebanyak 1000 rakaat, sehingga di lututnya terdapat benjolan seperti unta” (Tahdzib al-Asma’, al-Hafidz al-Mizzi, 35/41)

5. Abu Qilabah : Sholat 400 roka’at tiap hari.
وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ كَامِلٍ الْقَاضِي: حُكِيَ أَنَّ أَبَا قِلاَبَةَ كَانَ يُصَلِّي فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ أَرْبَعَمِائَةٍ رَكْعَةً
“Qadli Ahmad bin Kamil berkata: Diceritakan bahwa Abu Qilabah salat dalam sehari semalam sebanyak 400 rakaat ” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dzahabi, 2/120)

6. Ma’ruf al-Khurkhi : Melazimkan (Mewajibkan) dirinya sholat 100 roka’at setiap hari sabtu, disetiap satu roka’at ia membaca surat al-Ikhlas 10 kali. (Thabaqat al-Hanabilah : 2/488)

7. Bisyr bin Mufadhdhal. Beliau melakukan sholat setiap harinya sebanyak 400 roka’at. Lihat kitab Tadzkirah al-Huffadz, adz-Dzahabi : 1/309

8. Marrah bin Syarahil: sholat malam 600 Rakaat

قلت: هو قول ابن حبان في الثقات زاد وكان يصلي كل يوم ستمائة ركعة وقال العجلي تابعي ثقة وكان يصلي في اليوم والليلة خمسمائة ركعة

9. “Ibnu Hibban menambahkan bahwa Marrah bin Syarahil salat dalam sehari 600 rakaat. al-Ajali berkata, ia tabii yang tsiqah, ia salat dalam sehari 500 rakaat” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu Hajar, 10/80)

10. Abu Usman Annahdi: Sholat malam 100 Rokaat

أن أبا عثمان النهدي كان يصلي ما بين المغرب والعشاء مائة ركعة. قال أبو الحاتم : كان ثقة ، وكان عريف قومه

Sesungguhnya Aba Usman Annahdi beliau shalat antara waktu Magrib dan ‘Isa sebanyak 100 rokaat, berkata Abu Hatim; ia seorang tsiqqoh (Siyar Alam Nubala karya Dzahabi 4/175).

11. Imam Junaid sholat sampai 400 rokaat

Imam Junaid sholat 400 rokaat

Imam Junaid -rohimahullohu Ta’aala- Beliau makan hanya seminggu sekali, akan tetapi beliau mampu sholat dalam sehari 400 rokaat

Wirid & Nasehat Imam Ahmad

Kala itu Sulaiman bin Abi Mathar menginap di rumah gurunya Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad pun menyediakan gerabah berisi air untuk berwudhu muridnya itu di malam hari.Di waktu fajar, Imam Ahmad mendapati air tidak berkurang, hingga ia tahu bahwa sang murid tidak menggunakannya. Maka Imam Ahmad pun menyampaikan kepada sang murid,”Subhanallah, seorang penuntut ilmu tidak memiliki wirid di malam hari?”

Sulaiman bin Abi Mahtar pun menjawab,”Saya musafir”.

Imam Ahmad pun menyampaikan,”Jika engkau musafir, Masruq itu melakukan perjalanan haji, ia tidak tidur kecuali dalam keadaan sujud”. (Manaqib Al Imam Ahmad, hal. 191).

ULAMA SALAF LEBIH SUKA MENYEMBUNYIKAN AMALNYA

Masih banyak amal-amal ulama Salaf & kholaf yang menghidupkan & merutinkan sholat malam setiap harinya, yang terekam dalam tulisan maupun tidak, karena Ulama-ulama Salaf lebih gemar menyembunyikan amalan-amalannya.

Dari Salam ia berkata,

عَنْ سَلاَمٍ قَالَ: كَانَ أَيُّوْبُ السِّخْتِيَانِيُّ يَقُوْمُ اللَّيلَ كُلَّه فَيُخفِي ذَلِكَ فَإِذَا كَانَ عِنْدَ الصُّبْحِ رَفعَ صَوْتَه كَأَنَّهُ قَامَ تِلْكَ السَّاعَةَ

“Dahulu Ayyub As-Sikhtiyani melakukan qiyamul lail semalam suntuk, akan tetapi ia menyembunyikan perbuatanya itu (agar manusia tidak mengetahuinya,pen). Apabila waktu shubuh telah dekat maka beliau mengeraskan bacaannya seakan-akan beliau baru bangun ketika itu.”

Biografi:
Ayyub As-Sikhtiyani adalah Ayyub bin Kaisan, Abu Bakar Al-Bashri. Beliau adalah seorang Imam, Sayyidul ulama, dan fuqoha ahli ibadah senior di jamannya. Beliau meninggal tahun 131 H pada usia 65 tahun.
Sumber: Siyar A’lam An-Nubala dan Taqribut Tahdzib

Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar : ”Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga)”. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 6500).

Ibrohim an-Nakha’i rahimahullah menceritakan, ”Sesungguhnya mereka dahulu –ulama salaf- apabila sedang berkumpul maka mereka tidak suka apabila seorang –di antara mereka- harus mengeluarkan cerita terbaik yang dia alami atau –mengeluarkan- perkara terindah yang ada pada diri mereka”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak dalam az-Zuhd, dinukil dari Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbabi Tafadhul al-A’mal, hal. 53 cet. Dar al-Imam Ahmad, 1428 H).

Siapakah yang bid’ah??

Menghidupkan malam dengan sholat setiap malamnya di lakukan oleh generasi salaf hingga saat ini tanpa adanya pengingkaran, ataupun melarang mereka apalagi menuduh bid’ah. Lalu akankah Wahabi-Salafy akan mengatakan bahwa mereka melakukan bid’ah??, lalu memasukkan mereka sebagai ahli bid’ah? (na’udzubillah).

Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: “Sungguh sebesar besar kejahatan muslimin pada muslimin lainnya, adalah yang bertanya tentang hal yang tidak diharamkan atas muslimin, menjadi diharamkan atas mereka karena pertanyaannya” (shahih Muslim hadits no.2358)

Imam Abu Hatim Ar razi rah, berktata:

Di antara ciri ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar!” (Ashlu Sunnah hal 24.).

“SEBAGAI SEORANG MUSLIM KITA TIDAK BOLEH MEWAJIBKAN SESUATU YANG TIDAK DIWAJIBKAN OLEH ALLAH SUBHANALLAHU WA TA’ALA DAN RASUL-NYA. DAN KITA TIDAK BOLEH MENGHARAMKAN SESUATU YANG TIDAK DIHARAMKAN OLEH ALLAH & RASUL-NYA “.

Ref: Ust. Ibnu Abdillah Al-Katibi, attaubah-institute.com & hidayatullah.com, dll

Komentar
  1. Sabur Makmur berkata:

    Kebanyakan Salafi orang kuliahan jadi sibuk kuliah

  2. Sabur Makmur berkata:

    Bila menjelang Ujian semesteran banyak belajar semalam suntuk

  3. Judas berkata:

    Assalamualaikum
    Tulisan yg bagus.. Sy barusan ditanya 1 org mslah ini dan sy jawab singkat namun persis dgn tulisan anda.
    Sy ini fakir ilmu bru bljr agama 1 tahun bisa dibilang goblok. Pertanyaan sy: apakah mgkin Syaikh Albani seceroboh itu? sy yg awam saja menjawab prtanyaan ttg hal ini persis sprti tulisan anda.. Sy melihat adanya pendapat yg tdk objektif di sini dan maaf beliau tdk mgkn menyingkat ﷺ menjadi SAW. Sy yg org bodoh saja tdk tega menyingkat sholawat pada Nabi Muhammad ﷺ..

    • generasisalaf berkata:

      ‘Alaikumussalaam wr. wb, mudah2an Anda & saya diberikan guru yang terbaik yang tersambung keilmuannya kepada Nabi Muhammad saw, u/ masalah objektif/ tidak itu tergantung darimana anda menilainya. Albani bukanlah Nabi, yang bisa sj khilaf, Disitu pula saya gunakan kalimat :” mudah-mudahan saya berasumsi bahwa : Yang dimaksud pelarangan Nabi disini adalah jika…dst
      Tentang SAW: Firanda pernah menafsirkan jawaban Albani tentang bolehnya menggunakan SAW, karena orang pun paham SAW sesudah penyebutan nama Nabi adalah apa??, lagipula tulisan Arab tidak sebanding dengan latin meskipun anda tak menyingkatnya, sedangkan saya tidak mengurangi screenshoot yang saya ambil disini https://shirotholmustaqim.files.wordpress.com/2009/11/ensiklopedia-fatwa.pdf (silahkan baca halaman 113 di ebook tsb), trimksh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s