KAJIAN MAKNA KUL DALAM HADITS TENTANG BID’AH

Posted: November 16, 2015 in BID'AH, STOP MENUDUH BID'AH !!, TAFSIR & QOUL ULAMA
Tag:,

Kullu bid'ah

كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Artinya “Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka

Dengan Membandingkan Hadist Tersebut dengan Surat Al-kahfi Ayat 79.

yang Mana Antara Keduanya sama-sama Dihukumkan ke Kullu Majmu’ Maka Akan kita Dapati Pemahaman Sebagai Berikut

Bid’ah itu Kata Benda Tentu Mempunyai Sifat  Tidak Mungkin Ia tidak mempunyai Sifat Mungkin Saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas dalam Ilmu Balaghah dikatakan

حذف الصفة على الموصوف

“MEMBUANG SIFAT DALAM MAUSHUF”

Artinya “Membuang sifat dari benda yg bersifat”

Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan

A. Kemungkinan pertama :

كل بدعة اي حسنة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Semua bid’ah (yg baik) sesat, dan semua yg sesat masuk neraka”.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yg sama, hal itu tentu mustahil

B. Kemungkinan kedua :

كل بدعة اي سيئة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Semua bid’ah (yg jelek) itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”

Jelek dan sesat sejalan tidak Bertentangan

Hal ini terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah Membuang sifat kapal dalam Firman-Nya :

وكان وراءهم ملك يأخذ كل سفينة غصبا الأية ألكهف اية ٧٩
Artinya : Di belakang mereka ada raja yg akan merampas semua kapal dengan paksa “Al-Kahfi : 79


Keterangan Pelengkap Dalam Tafsir Ash-Showi Juz 3 Hal 28 cetakan Al-Hidayah

قوله سفينة اي صالحة وشرحه اي صحيحة

تفسير الصاوي ج ٣ ص ٢٨

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan kapal yg baik adalah KAPAL JELEK karena yg jelek tidak mungkin diambil oleh raja

Maka lafadz  كل سفينة    sama dengan  كل بدعة

Alias sama-sama tidak disebutkan Sifatnya Walaupun pasti punya sifat ialah kapal yg baik

قوله سفينة اي صالحة وشرحه اي صحيحة

تفسير الصاوي ج ٣ ص٢٨

كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Kullu muhdatsin bid’ah, wa kullu bid’atin dholalah, wa kullu dholalatin fin naar”

Dalam Hadits tersebut Rancu sekali kalau kita maknai SETIAP Bid’ah dengan makna KESELURUHAN, bukan SEBAGIAN. Untuk membuktikan adanya dua macam makna ‘kullu’ ini, dalam kitab mantiq ‘Sullamul Munauruq’ oleh Imam Al-Akhdhori yg telah diberi syarah oleh Syeikh Ahmad al-Malawi dan diberi Hasyiah oleh Syeikh Muhamad bin Ali as-Shobban  Dan Dalam kitab Nubdzatul Bayan Karangan nya RKH Abdul Majid pamelasan Madura santrimya RKH Kholil Bangkalan Gurunya KH Hasyim ASy’ari Pendiri NU Tertulis

الكل حكمنا على المجموع ٠ ككل ذاك ليس ذا وقوع

وحيثما لكل فرد حكما٠ فإنه كلية قد علما

شرح السلم الملوي ص ٧٨ حتى ٨٠

نبذة البيان ص ٤٩ حتى ٥٠

“Kullu itu kita hukumkan untuk majmu’ (sebagian atau sekelompok) seperti Sebagian itu tidak pernah terjadi, Dan jika kita hukumkan untuk tiap-tiap satuan Maka dia adalah kulliyyah (jami’ atau keseluruhan) yg sudah dimaklumi”

Mari Perhatikan dengan seksama & cermat kalimat hadits tersebut. Jika memang Maksud Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah SELURUH kenapa beliau BERPUTAR-PUTAR dalam haditsnya ?

Kenapa Rosululloh tidak langsung saja “KULLU MUHDITSATIN FINNAR” (setiap yg baru itu di neraka) ?

كل محدثة في النار

Kenapa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam menentukan yang akhir yakni “kullu dholalatin fin naar” bahwa yang SESAT itulah yang masuk NERAKA ?

Selanjutnya, Kalimat Bid’ah di sini adalah bentuk ISIM (kata benda) bukan FI’IL (kata kerja)

Dalam ilmu nahwu menurut kategorinya Isim terbagi 2 yakni Isim Ma’rifat (tertentu) dan Isim Nakirah (umum)

Nah….. kata BID’AH ini bukanlah

1. Isim dhomir
2. Isim alam
3. Isim isyaroh
4. Isim maushul
5. Ber alif lam

yang merupakan bagian dari isim ma’rifat. Jadi kalimat bid’ah di sini adalah isim Nakiroh Dan KULLU di sana berarti tidak beridhofah (bersandar) kepada salah satu dari yg 5 diatas

Seandainya KULLU beridhofah kepada salah 1 yg 5 diatas, maka ia akan menjadi ma’rifat Tapi pada ‘KULLU BID’AH‘, ia beridhofah kepada nakiroh. Sehingga dalalah -nya adalah bersifat ‘am (umum)

Sedangkan setiap hal yg bersifat umum pastilah menerima pengecualian. Ini sesuai dengan pendapat Imam Nawawi RA

قوله وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصول والمراد غالب البدع

“Sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “semua bid’ah adalah sesat” ini adalah kata-kata umum yg dibatasi jangkauannya. Maksud “semua bid’ah itu sesat”, adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya” (Syarh Shahih Muslim, juz 6 hal 154).

Lalu apakah SAH di atas itu dikatakan MUBTADA’ (awal kalimat)? Padahal dalam kitab Alfiyah (salah 1 kitab rujukan ilmu nahwu) tertulis :

ولا يجوز المبتداء بالنكراة
“Mubtada’ Tidak boleh terbuat dari isim nakiroh”

KECUALI ada beberapa syarat, di antaranya adalah dengan sifat.

Andai pun mau dipaksakan untuk men-sah-kan mubtada’ dengan ma’rifah agar tidak bersifat UMUM pada ‘kullu bid’atin di atas, maka tetap ada sifat yang di buang (dilihat DARI SISI BALAGHAH)

KITAB-KITAB YANG MEMBAHAS KHUSUS BID’AH

Abu Ishaq Ibrahim bin Musa bin Muhammad Al-Lakhmi Asy-Syathibi Al-Gharnathi

ابتدأ طريقة لم يسبقه إليها سابق فالبدعة إذن عبارة عن طريقه في الدين مختريعة تضاخي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه

Bid’ah secara (ETIMOLOGI) bahasa berarti mencipta dan mengawali sesuatu

Reff – Kitab Al-‘Itisham Juz 1 Hal 36

Sedangkan Menurut Istilah (TERMINOLOGI) bid’ah berarti cara baru dalam agama, yg belum ada contoh sebelumnya yg menyerupai syariah dan bertujuan untuk dijalankan & berlebihan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala

Reff – Kitab Al-‘Itisham Juz 1 Hal 37

Imam Syafi’i Membagi Perkara Baru Menjadi dua :

1. Perkara baru yg bertentangan dgn Al-Kitab & As-Sunnah atau atsar sahabat & ijma’ Ini adalah bidah dholalah.

2. Perkara baru yang baik tetapi tidak bertentangan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah atau atsar sahabat & ijma’. Ini adalah bidah yang tidak tercela. Inilah yang dimaksud dengan perkataan Imam Syafi’i yang membagi bid’ah menjadi dua yaitu bid’ah mahmudah terpuji & bid’ah mazmumah tercela/buruk. Bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji & baik, sedangkan yang bertentangan dengan sunnah ialah tercela & buruk

محمد بن إدريس الشافعي يقول البدعة بدعتان بدعة محمودة وبدعة مذمومة فما وفق السنة فهو محمودة وما خالف السنة فهو مذمومة واحتج يقول عمرو بن الخطاب في قيام رمضان نعمة البدعة هي حلية الأولياء وطبقات الأصفياء ج ٩ ص ١١٣ للحافظ ابي نعيم احمد بن عبد الله الأصفهاني وفي الحد ايضا معنى أخر مما ينظر فيه وهو ان البدعة من حيث قيل فيها انها طريقة في الدين مخترعة إلى آخره يدخل في عموم لفظها البدعة التركية كما يدخل فيه البدعة غير التركية فقد يقع الإبتداع بنفس الترك تحريما للمتروك او غير تحريم فان الفعل مثلا قد يكون حلالا بالشرع فيحرمه الإنسان على نفسه او يقصد تركه قصدا فبهذا الترك اما ان يكون لأمر يعتبر مثله شرعا اولا فإن كان لأمر يعتبر فلا حرج فيه إذ معناه انه ترك ما يجوز تركه او ما يطلب بتركه كالذي يحرم على نفسه الطعام الفلاني من جهة انه يضره في جسمه او عقله او دينه وما اشبه ذلك فلا مانع هنا من الترك بل ان قلنا بطلب التدوي للمريض فان الترك هنا مطلوب وإن قلنا بإباحة التداوي فالترك مباح

Reff –

Hilyah al-Auliya’Juz 9 Hal 113

Al-Ba’its ‘Ala Inkar Al-Bida’ hal 15

Batasan Arti Bid’ah

Dalam pembatasan arti bid’ah juga terdapat pengertian lain jika dilihat lebih saksama. yaitu: bid’ah sesuai dengan pengertian yang telah diberikan padanya, bahwa ia adalah tata cara di dalam agama yg baru diciptakan (dibuat-buat) & seterusnya. Termasuk dalam keumuman lafazhnya adalah bid’ah tarkiyyah (meninggalkan perintah agama), demikian halnya dengan bid’ah yang bukan tarkiyyah. Hal2 yg dianggap bid’ah terkadang ditinggalkan karena hukum asalnya adalah haram. Namun terkadang hukum asalnya adalah halal, tetapi karena dianggap bid’ah maka ia ditinggalkan Suatu perbuatan misalnya menjadi halal karena ketentuan syar’i, namun ada juga manusia yg mengharamkannya atas dirinya karena ada tujuan tertentu, atau sengaja ingin meninggalkannya

Meninggalkan suatu hukum; mungkin karena perkara tersebut dianggap telah disyariatkan seperti sebelumnya, karena jika perkaranya telah disyariatkan, maka tidak ada halangan dalam hal tersebut, sebab itu sama halnya dgn meninggalkan perkara yg dibolehkan untuk ditinggalkan atau sesuatu yg diperintahkan untuk ditinggalkan. Jadi di sini tidak ada penghalang untuk meninggalkannya. Namun jika beralasan untuk tujuan pengobatan bagi orang sakit, maka meninggalkan perbuatan hukumnya wajib. Namun jika kita hanya beralasan untuk pengobatan, maka meninggalkannya hukumnya mubah

Reff – Kitab Al-‘Itisham Juz 1 Hal 42

ITQON ASH-SHUN’AH FI TAHQIQ MA’NA AL-BID’AH

Sayyid Al-‘Allamah Abdullah bin Shodiq Al-Ghumari Al-Husaini

قال النووي قوله صلى الله عليه وسلم وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع قال اهل اللغة هي كل شيء عمل غير مثال سابق قال العلماء البدعة خمسة اقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة والمباح في حديث العرباض بن سارية قول النبي صلى الله عليه وسلم وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة رواه احمد وابو داود والترمذي وابن ماجه وصححه الترمذي وابن حبان والحاكم قال الحافظ بن رجب في شرحه والمرد بالبدعة ما احدث مما لا اصل له فيالشريعة يدل عليه واما ما كان له اصل من الشرع يد عليه فليس ببدعة شرعا وان كان بدعة لغة انتهى

Imam Nawawi berkata : Sabda Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam “Setiap bid’ah itu sesat” ini adalah umum yg dikhususkan & maksudnya pengertian secara umum. Ahli bahasa mengatakan: Bid’ah yaitu segala sesuatu amal perbuatan yg tdk ada contoh sebelumnya. Ulama mengatakan bahwa bid’ah terbagi menjadi lima macam yaitu wajib, sunah, haram, makruh dan mubah

Dalam hadits Uryadh bin Sariyah tentang sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Takutlah kamu akan perkara2 baru, maka setiap bid’ah adalah sesat. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata dlm penjelasannya : Yang dimaksud bid’ah adalah sesuatu yg baru yg tdk ada asalnya [contohnya] dlm syari’at yg menunjukkan atasnya. Adapun sesuatu yg ada asalnya dlm syari’at yg menunjukkan atasnya, maka bukan termasuk bid’ah menurut syara’ meski secara bahasa itu adalah bid’ah

وفي صحيح البخاري عن ابن مسعود قال إن أحسن الحديث كتاب الله واحسن الهدى هدى محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها قال الحافظ بن حجر والمحدثات بفتح الدال جمع محدثة والمراد بها ما احدث وما ليس له اصل في الشرع ويسمى في عرف الشرع ببدعة وما كان له اصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة فالبدعة في عرف الشرع مذمومة بخلاف اللغة فإن كل شيء احدث على غير مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا او مذموما

Dalam shohih Bukhori dari Ibnu Mas’ud berkata. Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabulloh Al-Qur’an & sebaik2 petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam & sejelek2nya perkara adalah yg baru dlm agama

Lafadz muhdatsat dgn di fathah huruf dal-nya” kata jama’ plural dari Muhdatsah, maksudnya sesuatu yg baru yg tdk ada asal dasarnya dlm syari’at dan diketahui dalam hukum agama sebagai bid’ah.

Dan sesuatu yg memiliki asal landasan yg menunjukkan atasnya maka tdk termasuk bid’ah. Bid’ah sesuai pemahaman syar’i itu tercela sebab berlawanan dgn pemahaman secara bahasa.

Maka jika ada perkara baru yg tdk ada contohnya dinamakan bid’ah, baik bid’ah yg mahmudah maupun yg madzmumah

وروى ابو نعيم عن ابراهيم بن الجنيد قال سمعت الشافعي يقول البدعة بدعتان بدعة محمودة وبدعة مذمومة فما وافق السنة فهو محمود وما خالف السنة فهو مذموم وروى البيهقي في مناقب الشافعي قال عنه قال المحدثات ضربان ما احدث مما يخالف كتابا او سنة او أثرا او إجماعا فهذه بدعة الضلالة وما احدث من الخير لا خلاف فيه في واحد من هذا فهذه محدثة غير مذمومة وقد قال عمر في قيام رمضان نعمة البدعة هذه يعنى انها محدثة لم تكن وإذا كانت ليس فيها رد لما مضى

Diriwayatkan Abu Na’im dari Ibrahim bin Al-Janid berkata : Aku mendengar Imam Syafi’i berkata: “Bid’ah itu ada dua macam yaitu bid’ah mahmudah & bid’ah madzmumah. Maka perkara baru yg sesuai sunnah, maka itu bid’ah terpuji. Dan perkara baru yang berlawanan dgn sunnah itu…bid’ah..tercela.”

Al-Baihaqi meriwayatkan dlm Manaqib Syafi’i biografi Syafi’i…. Imam Syafi’i berkata : Perkara baru itu ada dua macam, yaitu perkara baru yg bertentangan dengan Al-Kitab dan As-Sunnah atau atsar sahabat & ijma’. Ini adalah bidah dholalah

Perkara baru yang baik tetapi tidak bertentangan dgn Al-Kitab dan As-Sunnah atau atsar Sahabat & ijma’. Ini adalah bidah yg tidak tercela. Dan Umar bin Khathab ra. berkata tentang qiyamu Romadhon sholat tarawih.

Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Yakni sholat tarawih adalah perkara baru yg tdk ada sebelumnya, & ketika ada itu bukan berarti menolak apa yg sdh berlalu

والمراد بقوله كل بدعة ضلالة ما احدث ولا دليل له من الشرع بطريق خاص ولا عام انتهى وقال النووي في تهذيب الأسماء واللغات البدعة بكسر الباء في الشرع هي إحداث مالم يكن في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم وهي منقسمه إلى حسنة وقبيحة قال الإمام الشافعي كل ماله مستد من الشرع فليس ببدعة ولولم يعمل به السلف لإن تركهم للعمل به قد يكون لعذر قام لهم في الوقت او لما هو افضل منه او لعله لم يبلغ جميعهم علم به انتهى

Dan yg dimaksud dgn sabda Rosul Setiap bid’ah adalah sesat ” Adalah sesuatu yang baru dalam agama yang tidak ada dalil syar’i Al-Qur’an dan Al-Hadits secara khusus maupun secara umum

Dalam At-Tahdzib Al-Asma’ wa Al-Lughot bahwa kalimat  “Al-Bid’ah”  itu dibaca kasror hurup “ba’-nya” di dalam Pemahaman agama yaitu perkara baru yang tidak ada dimasa Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wa sallam & dia terbagi menjadi dua baik & buruk

Setiap sesuatu yang Mempunyai dasar dari dalil2 syara’ maka bukan termasuk bid’ah, meskipun belum pernah dilakukan oleh Ulama’ Salaf Karena sikap mereka meninggalkan hal tersebut terkadang karena ada uzur yg terjadi saat itu (belum dibutuhkan) atau karena ada amaliah lain yg lebih utama, & atau hal itu barangkali belum diketahui oleh mereka

Jika Yang Membaca Merasa Ummat Muslim Yang Ahlussunnah Wal-Jama’aah silahkam share sebanyak banyaknya

Wallahu A’lam

Penulis – M.A. Dzikrul Hady

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s