BERDOA DENGAN WASILAH (TAWASUL)

Posted: November 21, 2015 in MADZHAB & KHILAFIYAH, SUNNAH - ADAB & NASIHAT
Tag:

Raja Saudi Ziarah Kubur Nabi saw

Nabi Muhammad Saw. menegaskan bahwa doa merupakan sarana inti dalam ibadah, ad-du’a mukhhul ‘ibadah. Allah pun tidak pernah ingkar janji akan mengabulkan setiap doa yang dipanjatkan, ud’uni astajib lakum. Berdoalah pada-Ku, pasti Aku kabulkan.

Namun, terkadang doa yang kita panjatkan sering kali lambat direspon Allah. Tentu, Allah punya maksud lain di balik keterlambatan tersebut. Dalam keadaan terdesak, kita biasanya menggunakan pendekatan tawasul dalam memohon pada Allah. Jadi, tawasul itu perantara agar doa cepat diijabah.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring menyebutkan bahwa tawasul itu memohon atau berdoa kepada Allah Swt. dengan perantara nama seseorang yang dianggap suci dan dekat kepada Tuhan.

Perlu dipahami bahwa tawasul itu meminta pada Allah, bukan pada manusia, apalagi benda mati. Betulkah tawasul bidah dan terlarang? Mungkin Anda perlu menyimak 5 uraian di bawah ini agar tidak ragu menanyakan kembali hukum tawasul. Berikut uraiannya:

1. Doa Nabi untuk Bibinya yang Wafat

Anda kenal Fatimah binti Asad? Ia ibunda sahabat Ali, mantu sekaligus sepupu Rasulullah Saw. Saat Fatimah wafat, Rasulullah takziah ke rumahnya dan kemudian mengantarkannya ke liang kubur. Setelah kuburan rampung dikeduk dan jasad Fatimah telah diletakkan di dalamnya, Rasulullah masuk ke dalam liang lahad dan berdoa untuk istri Abu Thalib tersebut.

“Allah Zat yang menghidupkan dan mematikan. Ia Mahahidup tak akan mati. Ampunilah ibuku (bibi) Fatimah binti Asad, tuntunlah dia menjawab pertanyaan kubur, lapangkanlah peristirahatannya, dengan bantuan perantaraanku dan Nabi-nabi sebelumku. Karena Engkau Maha Pengasih,” (H.R. Thabrani).

Dalam doa tersebut, Nabi menyebutkan dengan bantuanku dan nabi-nabi sebelumku. Sekelas Nabi saja masih bertawasul, bukan?! Apalagi kita orang awam yang sering lalai dalam beribadah.

2. Nabi Ajarkan Tawasul Saat Butuh Bantuan

Nabi mengajarkan langsung bagaimana cara tawasul dalam keadaan terdesak. Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud yang mendengar Rasulullah bersabda, “Kalau hewan peliharaan kalian lepas  sampai di tempat terbuka (hingga tak terkendali dan sulit menangkapnya), berdoalah seperti ini, ya ‘ibadallah ihbisu ‘alayya, karena Allah itu punya malaikat yang akan menjaga hewanmu yang lepas tadi itu,” (H.R. Thabrani).

Doa ya ‘ibadallah ihbisu ‘alayya (para hamba Allah, jagalah hewanku yang lepas itu) merupakan sarana tawasul yang Nabi ajarkan untuk umatnya.

3. Minta Didoakan agar Tidak Buta

Hidup terlahir dalam keadaan normal tentu harapan semua orang. Namun, harapan tersebut terkadang tak dapat dirasakan semua orang, karena takdir tidak memihak. Tapi, hal tersebut bukanlah sebuah masalah besar. Tuhan tidak melihat seseorang karena fisiknya, akan tetapi hati dan ketakwaannya.

Namun demikian, setingkat sahabat Nabi saja merasa tidak nyaman hidup dalam kekurangan fisik. Diriwayatkan dari Usman bin Hanif bahwa ada sahabat Nabi tunanetra yang datang ke Nabi meminta didoakan agar matanya normal kembali. “Nanti saya ajarkan doanya,” jawab Nabi. “Tapi sebenarnya, kalau kamu bersabar (dalam kekuranganmu), itu jauh lebih baik,” pungkas Nabi. “Tidak Nabi, saya mau sembuh saja,” pinta sahabat ini. “Ya sudah, kalo gitu kamu wudu dan memohon dengan doa ini,” perintah Nabi pada sahabatnya itu.

Allahumma inni as‘aluka wa atawajjahu ilaika bi nabiyyika Muhammad, Nabiyir rahmah. Ya Muhammad, inni tawajjahtu bika ila rabbi fi hajati li taqdhiya li. Allahumma syaffi’hu fiyya (ya Allah, aku memohon kepada-Mu wa menghadap kepada-Mu dengan (wasilah) Nabi Muhammad, nabi kasih sayang. Ya Muhammad, aku menghadap-Mu untuk (menghadap) Tuhanmu terkait kebetuhanku agar memenuhi hajatku. Ya Allah, sembuhkan aku.” Akhirnya, sahabat ini pun langsung sembuh,” (H.R. Tirmizi dan Al-Baihaqi).

4. Saat Paceklik, Sahabat Nabi Minta Hujan

Roda kehidupan selalu berputar. Senang dan susah dalam kehidupan merupakan hal yang biasa. Saat senang, tentu kita akan merasa aman dan tidak risau. Sebaliknya, saat paceklik kita bingung dan risau bagaimana cara mengatasinya.

Seorang sahabat datang ke masjid pada hari Jumat. Saat itu, Nabi sedang khutbah Jumat. Di tengah-tengah khotbah, sahabat itu mengutarakan isi hatinya. “Nabi, semua harta kami ludes, transportasi pun terhambat karena unta kami tidak makan berhari-hari. Tolonglah mohon pada Allah agar hujan turun untuk kami,” pinta sahabat yang tergesa-gesa itu. Nabi pun menjulurkan tangannya ke atas langit dan berdoa, allahumma aghitsna, allahumma aghitsna. Akhirnya hujan pun turun ,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

5. Sahabat Datang ke Makam Nabi Minta Hujan

Poin ini tidak berbeda dengan poin sebelumnya. Ada sahabat yang bertawasul pada Nabi agar hujan turun. Namun bedanya, poin nomor lima ini terjadi saat Nabi telah wafat.

Pada masa sahabat Umar, terjadi paceklik luar biasa. Salah satu sahabat datang ke makam Nabi. “Nabi, kami butuh bantuanmu. Mintakanlah pada Allah agar hujan turun untuk umatmu,” pinta sahabat tersebut. Setelah permohonan itu, dia mimpi bertemu Nabi. “Datanglah ke Umar. Sampaikan salamku untuknya. Dalam waktu dekat, hujan akan turun,” sapa Nabi dalam mimpi sahabat ini. Umar pun menangis ketika disampaikan salam dari Nabi (H.R. Baihaqi dan Ibnu Syaibah).

Source: Ust. Ibnu Harish via datdut.com

Komentar
  1. Kholil Madura mengatakan:

    Terima Kasih pencerahannya mas, ternyata banyak juga hadist yang mencontohkan untuk berdoa dengan wasilah. semoga kita semua selalu dikaruniai ilmu yang terus bertambah juga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s