BEKAL BAGI PARA PENDAKWAH

Posted: Desember 1, 2015 in SUNNAH - ADAB & NASIHAT

bersaudara

Semangat mengamalkan dan menyampaikan satu ayat tampaknya menjadi “tren” di kalangan sebagian orang, akan tetapi sangat disayangkan semangat ini tidak dibarengi dengan ilmu yang memadai, dan tata cara penyampaian yang baik. Akibatnya banyak yang salah sasaran, tak sedikit pula mereka tak memahami apa yang mereka sampaikan. Hasilnya tentu dapat diprediksi sendiri.

Seorang pendakwah hendaknya memahami beberapa hal sebelum mereka “turun” kepada masyarakat atau orang-orang yang didakwahi, beberapa halnya dapat kita ambil pelajaran dari hadits berikut ini:

“كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ مُتَوَاخِيَيْنِ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ فَيَقُولُ أَقْصِرْ فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ أَقْصِرْ فَقَالَ خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا فَقَالَ وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَقَالَ لِهَذَا الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِي عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلْآخَرِ اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ “
الراوي : أبو هريرة المحدث : الألباني، المصدر : صحيح أبي داود الصفحة أو الرقم: 4901 خلاصة حكم المحدث : صحيح
Artinya :

Dari Abu Hurairah ra, berkata : Rasulullah SAW bercerita : “ Pada suatu hari ada dua orang dari suku Bani Israil, yang akrab persaudaraannya, yang satu ahli maksiat (selalu berbuat dosa), dan yang satu lagi ahli ibadah (ibadahnya intensif), namun yang ahli ibadah ini senantiasa menegur kawannya yang ahli maksiat : jangan berbuat demikian! / jangan kau lakukan !, Pada suatu hari kawannya melakukan maksiat, lalu dia berkata : jangan berbuat demikian! / jangan kau lakukan !,Ahli maksiat ini menjawab : Biarkan aku dengan Tuhanku, apakah anda diutus untuk memonitori aku? Lalu ahli ibadah itu berkata : Demi Allah ! Allah tidak akan mengampuni dosa-dosamu, atau demi Allah, Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga ! kemudian Allah mencabut nyawa/ruh mereka berdua, lalu kedua-duanya menghadap Allah Tuhan Alam Semesta, Allah berkata kepada ahli ibadah: Apakah kamu yakin, bahwa Aku tidak dapat mengampuni dosa kawanmu ini ? atau apakah kamu yang memegang kunci neraka ? sehingga kamu bebas, bisa membuka dan menutupnya? (Apakah neraka ada ditangan kamu?). Maka Allah berkata kepada orang ahli maksiat itu : “ Masuklah kamu ke dalam surga-Ku dengan rahmat-Ku”, dan Allah berkata kepada ahli ibadah : “ Wahai para malaikat ! bawalah orang ini ke dalam neraka !”

Pelajaran yang kita bisa petik dari cerita dalam hadits ini :

1. Jangan sekali-kali kita menghukum orang ahli maksiat sebagai penghuni neraka, karena kita tidak tahu mungkin di akhir hayatnya dia akan bertaubat.
2. Jangan sekali-kali kita menyalahkan amalan ibadah orang lain, dan beranggapan bahwa amalan kita paling benar di sisi Allah SWT.
3. Jangan sekali-kali kita menggelar saudara kita seagama, sebangsa sebagai ahli neraka.
4. Jangan sekali-kali kita menyalahkan amalan orang lain, belum tentu amalan kita itu benar di sisi Allah SWT.
5. Jangan sekali-kali kita menegur orang lain, sedangkan keluarga kita belum kita tegur.
6. Jangan sekali-kali kita menilai bahwa amal ibadah yang kita lakukan itu benar dan dijamin masuk surga, karena itu semua akan dievaluasi oleh Yang Maha Menilai yaitu Allah SWT.
7. Kita hendaklah senantiasa menitrospeksi diri kita, apakah ibadah kita sudah maksimal ?.
8. Kita harus tahu bahwa surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah SWT, dan bukan hak prerogative kita.
9. Berlemah lembutlah dalam menyampaikan nasehat kepada orang lain.

Mari kita sama-sama insaf akan semua kesalahan yang kita telah lakukan dan mari kita bersama-sama bertaubat di hadapan Allah SWT, dan kita introspeksi diri kita masing-masing. Kita berusaha melakukan yang terbaik karena Allah SWT, dan mengharap agar amalan kita diterima oleh Allah SWT, agar kita semua mendapat “Happy Ending” atau mati dalam keadaan “Husnul Khatimah” atau mati dalam keadan Islam, Iman dan Ihsan amin ya robbal alamin.

Source: Masjid Al-Irsyad Satya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s