Tabarruknya Imam As Subki

Al-Imam al Subki rahimahullah ta’ala pernah ingin mendatangi Imam al Nawawi rahimahullah dengan tujuan ingin mengziarahinya, namun sesampainya di sana ia mendapati Imam Nawawi telah wafat.

Kemudian ia pergi menuju Daar alHadits al-Asyarafiyah. (Sebuah Madrasah di Damaskus, tempat mengajarnya Imam Nawawi dlu.) Dan ia menanyakan letak tempat duduknya Imam Nawawi semasa mengajar, lalu ditunjukkan padanya tempat itu kemudian Imam Subki menempelkan wajahnya dan jenggotnya pada pada tempat duduknya iman nawawi tersebut. Tidak lain, dengan maksud bertabarruk dengan peniggalan orang-orang saleh. Seraya menandungkan syair yang berbunyi
(bahar Waafir مفاعلتن مفاعلتن فعولن, nada syiir bisa mengikuti nada Ilaahi lastu lilfirdaus) :

وفي دار الحديث لطيف معنى # أصلي في جوانبها وآوي
لعلي أن امس بحر وجهي # مكانا مسه قدم النواوي

” pada Daarul Hadits ini terdapat makna (rahasia) tersimpan, Sehingga Aku melakukan sholat dan mencari perlindungan di sampingnya. Tidak lain tidak bukan supaya dengan seluruh wajahku ini dapat menyentuh tempat yang pernah disentuh oleh telapak kakinya Imam Nawawi. ”

طبقات الشافعية الكبرى : 8 : 396

Sayangnya yang membuat sedih, sekarang makam imam Nawawi telah dibom dirusak oleh kelompok ISIS. Dianggapnya tempat kesyirikan. Sungguh disayangkan.

Source: Muhammad Iqbal Manshuri

Biografi Singkat Imam As Subki

Nama lengkap beliau adalah Abdul Wahab bin Taqiyuddin ‘Ali bin Abdul Kafy as-Subky. Beliau adalah putra Imam Taqiyuddin as-Subki (wafat tahun 756 H / 1355 M), yang menjabat sebagai qadli atau hakim Damaskus. Beliau dilahirkan di Kairo, Mesir pada tahun 727 H / 1327 M. Tajuddin as-Subki wafat pada hari Selasa, tanggal 7 Dzulhijjah tahun 771 H / 2 Juli 1370 M di Damaskus.

As-Subky banyak belajar pada para ulama’ yang ada di Mesir. Kemudian pindah ke Damaskus untuk menggali ilmu pada ulama’ di sana. Beliau berguru pada banyak Masyayikh. Diantaranya: Imam Taqiyuddin as-Subky (ayah beliau), Imam al-Dzahaby, dan Syamsuddin bin Naqib. Imam Tajuddin mendapat ijazah (izin) dari gurunya yang bernama Syamsuddin untuk mengajar dan memberi fatwa. Oleh karena itu, kemudian as-Subky (sebutan bagi Tajuddin as-Subky) memberi fatwa pada saat ia masih berumur 18 tahun.

Ketika Taqiyuddin, ayah as-Subky, sakit maka Imam Tajuddin ditunjuk untuk menggantikan ayahnya menjadi qadli di Damaskus. Ia merupakan hakim paling terkemuka di masanya, juga termasuk pakar sejarah dan ilmuwan peneliti. Syihabuddin bin Hajjy mengatakan bahwa as-Subky adalah seorang ulama’ yang menguasai berbagai ilmu, mulai dari ilmu fiqh, Ushul Fiqh, Hadist, Balaghah, dan ahli membuat syair.

Beliau mengarang berbagai macam karangan dalam waktu yang singkat dan disebarkan pada saat beliau masih hidup serta saat beliau telah wafat.
( Kitab “Thabaqatusy Syafi’iyah al-Kubra” karya Imam Tajuddin as-Subki )
Imam Tajuddinas-Subki banyak mengarang kitab-kitab, di antaranya:
1. Thabaqatus Syafi’iyah al-Kubra (nama ulama-ulama madzhab Syafi’i).
2. Thabaqatus Syafi’iyah al-Wustha.
3. Thabaqatus Syafi’iyah al-Sughra.
4. Jam’ul Jawami’
5. Man’ul Mawani’ ‘Ala Jam’ul Jawami’.
6. Al-Asybah wan Nadha’ir.
7. Raf’ul Hajib dari Mukhtashar Ibnu Hajib.
8. Syarh Minhaj Baidlawi dalam bidang Ushul Fiqh yang kemudian diberi nama al-Ibhaj fi Syarh al-Minhaj.
9. Qawa’idud Diin wa ‘Umdatul Muwahiddin.
10. Al-Fatawa.
11. Ad-Dalalah ‘Ala ‘Umumir Risalah.
Kitab “Jam’ul Jawami’ ” karangan beliau adalah salah satu kitab ushul fiqih yang terkenal di Indonesia, karena banyak dikaji pada pondok-pondok pesantren. Disamping itu, kitab Jam’ul Jawami’ tersebut disyarahi oleh banyak ulama, di antaranya oleh:
1. Imam Jalaluddin al-Mahalli (wafat 884 H), dengan nama kitabnya Syarah Jam’ul Jawami’.
2. Imam Zarkasyi (wafat 794 H), dengan nama kitabnya “Tasyniful Masami’ Syarah Jam’ul Jawami’ “.
3. Imam ‘Izzuddin Ibnu Jama’ah al-Kinani (wafat 819 H).
4. Imam al-Ghazzi (wafat 822 H).
5. Ibnu Ruslan (wafat 884 H).

Selain kitab syarah dan hasyiyah, ada pula ulama-ulama yang menazhamkan, yaitu menjadikannya kitab sya’ir sehingga mudah dan dipelajarinya bagi santri-santri yang mengkajinya.
Di antara ulama-ulama yang menazhamkannya adalah:1. Ibnu Rajab at-Thukhi (wafat 853 H).
2. Imam Radhiyuddin bin Muhammad al-Ghazi (wafat 935 H).
3. Imam Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H).

Ulama-ulama yang menazhamkan dan mensyarahi kitab Jam’ul Jawami’ tersebut adalah ulama-ulama yang bermadzhab Syafi’i. Itu menunjukkan suatu bukti bahwa ilmu ushul fiqih, yaitu ilmu yang bisa membawa orang-orang ke tingkatan derajat Mujtahid, yang sangat digemari dalam kalangan umat Islam yang menganut Madzhab Syafi’i.

Source

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s