PEMBACAAN MANAQIB & MENYEBUTKAN KEBAIKAN-KEBAIKANNYA

Posted: Desember 2, 2015 in MANAQIB & BIOGRAFI, SUNNAH - ADAB & NASIHAT

manaqib

JIKA seseorang mati, kemudian Allah Ta’ala membiarkan lisan orang-orang Mukmin menyebutnya baik, memujinya dengan sebutan-sebutan yang benar, serta ucapan-ucapan baik lainnya, kuat diduga bahwa dia memang orang baik. Tidak bisa dipungkiri, jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan menjadikan lisan-lisan kaum Mukmin memujinya dengan baik, dan dalam hati mereka ada cinta kepadanya.

Allah Ta`ala berfirman,

Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanankan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Maryam: 96).

Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh, jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil Jibril dan berfirman, ‘Sungguh Allah mencintai si anu, maka cintailah ia olehmu.’ Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian diserukan di seantero langit, `Sungguh Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia.’ Dan seluruh penghuni langit pun mencintainya, kemudian ia pun diterima bumi.” Dan hal yang serupa juga disebutkan berkenaan dengan kebencian. (HR. Bukhari dan Muslim).

Kita mendengar tentang para ulama, ahli hadist, pedagang, bahkan orang-orang biasa di zaman dulu yang mendapat pujian serta simpati dari banyak orang. Terlihat iring-iringan dalam jumlah besar mengikuti prosesi pamakaman jenazah mereka, bahkan ribuan orang hadir melayatnya. Barangkali Allah memperbanyak jumlah pelayatnya itu dengan menghadirkan malaikat dan jin. Bahkan mungkin saat ribuan orang hadir mengantarkan jenazahnya, dari arah langit akan terdengar kegaduhan.

Syaikh al-`Allamah Syamsuddin Abu al-Faraj Abdurrahman bin Muhammad al-Khathib al-Maqdisi pernah bercerita: “Aku sering mendengar kegaduhan datang dari arah langit mengiringi kematian sejumlah orang, seperti kegaduhan manusia.” Ia juga bercerita, “Sejumlah sahabatku telah menceritakan kepadaku bahwa mereka mendengar suara gaduh yang datang dari arah langit mengiringi jenazah orang-orang yang diyakini kesalehannya.” Wallah Ta’ala a`lam.

Muhammad bin Yazid ar-Rifai berkata, “Umar bin Qais al-Mala’i wafat di salah satu daerah Persia, maka saat itu pun orang-orang berkumpul menghadiri jenazahnya, tak terhitung jumlahnya. Tapi saat selesai dikebumikan, tak seorang pun tampak di sana” (Diceritakan oleh Qasim bin Ashbagh dari Ahmad bin Juhair).

Anas bin Malik r.a. bercerita, “Suatu hari, satu rombongan pembawa jenazah melintas, kemudian orang-orang memuji kebaikan jenazah itu. Mendengar itu Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, ‘Pasti.’ Lalu satu rombongan lain yang mengusung jenazah juga melintas, dan orang-orang menyebut-nyebutnya keburukannya. Maka Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, `Pasti.’ Karena penasaran, Umar r.a. lalu bertanya, `Demi Bapak Ibuku wahai Rasulullah, saat melintas satu rombongan yang membawa jenazah lalu orang-orang memujinya dengan kebaikan, engkau berkata, pasti. Kemudian melintas pula rombongan lain yang juga mengusung jenazah, dan orang-orang menyebut-nyebut dengan keburukan, dan engkau pun berkata, pasti.’ Rasulullah pun berkata, `Orang yang kalian puji dengan kebaikan, pasti baginya surga. Dan orang yang kalian sebut-sebut dengan keburukan, pasti baginya neraka. Kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi ini, kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi ini…’ Beliau mengatakan itu sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam redaksi lain yang diriwayatkan Bukhari disebutkan, “…kemudian dikatakan kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, bagi yang ini engkau berkata pasti, dan bagi yang itu engkau juga berkata pasti?’ Maka Rasulullah berkata, `Orang-orang Mukmin itu adalah para saksi-saksi Allah di bumi.”*

PADA waktu Ahmad bin Hanbal wafat, Al-Haitsam bin Khalaf bercerita, “Kami mengubur jenazahnya pada hari Jum`at ba`da `Ashar, tahun 214 H. Tidak pernah kulihat kerumunan orang lebih banyak dari itu.”

Sementara Ibn Abu Shalih al-Qanthari berkata, “Selama empat puluh tahun aku tidak pernah menyaksikan kerumunan orang lebih banyak dari itu.” … Dan Abdul Wahhab al-Warraq berkata, “Kami tidak pernah mendengar ada jumlah jamaah yang hadir –baik dari masa Jahiliah maupun sesudah masa Islam– sebanyak jamaah yang menghadiri jenazah Ahmad. Ribuan orang datang, bahkan kaum wanita saja mencapai enam puluh ribu. Mereka semua menyaksi kebaikan dan kewaliannya, dengan menshalatkannya dan memujinya dengan berbagai kebaikan. Semoga rahmat Allah dilimpahkan kepadanya.”

Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika engkau melihat seseorang mengerjakan amal kebajikan dan dipuji oleh banyak orang, maka itu adalah berita gembira yang disegerakan bagi orang Mukmin.” Para ulama berkomentar, berita gembira yang disegerakan untuknya itu merupakan petunjuk bahwa Ia juga akan menerimanya kelak di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman, “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, yaitu surga.” (al-Hadiid: 12). Kabar gembira yang disegerakan ini juga merupakan bukti atas ridha Allah Ta’ala kepadanya, cinta-Nya kepadanya dan kepada semua makhluk-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Sa`id r.a. bahwa Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika kalian melihat seseorang terbiasa pergi ke masjid, maka persaksikanlah bahwa ia beriman.” Dalam riwayat lain, “…maka persaksikanlah bahwa ia baik.” Allah Ta`ala berfirman, “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah orang yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 18).”

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadist ini hasan, dan kesaksian baik orang-orang atas dirinya sesudah ia mati adalah juga kesaksian mereka atas dirinya saat ia hidup.

Kala itu Imam Ahmad duduk di majelis ilmu bersama para muridnya. Mereka menyebetkan kisah orang-orang shalih dan zuhud, semisal Fudhail bin Iyadh dan Fath Al Maushili.

Seketika itu, Imam Ahmad terlihat meneteskan air mata. Ia pun menyampaikan,”Semoga Allah merahmati mereka semua. Disebutkan bahwa ketika disebut oerang-orang shalih maka turunlah rahmat” (Manaqib Imam Ahmad, hal. 248).

Wallahu a`lam.*

Source: hidayatullah.com

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s