MENJAWAB SYUBHAT-SYUBHAT TENTANG MAULID NABI

Posted: Desember 23, 2015 in STOP MENUDUH BID'AH !!
Tag:

Hoax Larangan

Oleh : KH. Bakhtiar,M.Rum,Lc.MA

1. Syubhat pertama:

Maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak juga sahabat serta tabiin. Kalau sekiranya maulid itu satu kebaikan tentu mereka lebih dahulu mengerjakannya di banding kita!!

Jawab:
قصة مشابهة :
قال أبوبكر لعمر- رضي الله عنهما – عندما استشاره في أمر جمع القرآن ، : كَيْفَ أَفْعَلُ شَيْئًا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟»
فَقَالَ عُمَرُ: هُوَ وَاللَّهِ خَيْرٌ.
صحيح البخاري ، باب لقد جاءكم رسول من أنفسكم -.

Abu bakar RA berkata kepada Umar bin Khattab RA ketika mereka bermusyawarah terkait boleh atau tidak al-Qur’an disatukan dalam satu mushaf. Abu Bakar berkata, bagaimana aku melakukan sesuatu yg Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah mengerjakannya. Umar menjawab : Demi allah ini ( mengumpulkan al-Quran menjadi satu) pekerjaan yg baik.
Shahih Bukhari bab : لقد جاءكم رسول من انفسكم

Istinbath hukum dari riwayat di atas: Bahwa setiap kebaikan dianjurkan, meskipun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak melakukan apalagi para sahabat dan tabiin.

2. Syubhat kedua:

Perayaan maulid Nabi, mengurangi kemulian Nabi shallallahu alaihi wasallam, karena hanya mengingatnya pada satu hari tertentu saja tidak di hari-hari yg lain.

Jawab:

Kita tidak mengkhususkan pujian pujian terhadap Nabi shallallahu alaihi wasallam pada hari lahirnya saja. Malah kita menambah pujian pujian terhadapnya pada hari tsb. Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengkhususkan tambahan rasa syukur pada hari kelahirannya dengan puasa sunnah di hari Senin ? ( Shahih Muslim no ( 1162).

Maka apakah kita mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya membatasi rasa syukur terkait hari kelahirannya pada hari tertentu, atau sebaliknya kita mengatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menambah rasa syukurnya pada hari itu??.

Kemudian bagaimana kita menjawab tentang puasa ‘Asyura sebagai tanda syukur Nabi Musa dari kejaran Firaun? Apakah maknanya membatasi syukur atau malah bertambah rasa syukurnya??

3. Syubhat ketiga:

Bagaimana mungkin kita merayakan hari kelahiran Nabi shallallahu alaihi wasallam tanggal 12 Rabiul Awal sementara hari yg sama juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diwafatkan?

Jawaban ringkasnya:

Kesamaan hari lahir dan hari wafat tidak mengurangi keutamaan hari kelahiran.
Berdasarkan hadits dalam Sunan Nasa’i (no : 1374) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda :
إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة فيه خلق آدم عليه السلام ، وفيه قبض”
Sesungguhnya diantara hari yg paling utama adalah hari Jum’at , hari itu Nabi Adam diciptakan dan diwafatkan .

Meskipun hari Jum’at adalah hari yg sama antara hari lahir dan hari wafat Nabi Adam tapi tidak mengurangi keutamannnya.

4. Syubhat keempat:

Sekiranya perayaan maulid ini baik tentu sudah di lakukan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Apakah kalian mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam melebihi sahabat nya ? Padahal tidak satupun sahabat melakukan maulid.?!

Jawaban ringkas:
1. Ada sebuah riwayat shahih:
عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ :
” مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَبَّحَ سُبْحَةَ الضُّحَى وَإِنِّي لأُسَبِّحُهَا ( أي أصليها )

Dari Aisyah RA, beliau berkata : Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam mengerjakan shalat dhuha , tapi saya tetap mengerjakannya.

Kenapa tidak di katakan kepada Aisyah RA : Kenapa kamu tetap mengerjakan dhuha sementara kamu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak mengerjakannya .?! Kalau sekiranya dhuha itu baik tentu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengerjakannya .!( انظر صحيح البخاري، باب من لم يصل الضحى ورآه واسعا رقم 1177)

2. Imam Syafii berkata:

Saya melihat di depan pintu rumah Imam Malik sekumpulan kuda Khurasan dan bighal Mesir. Saya berkata: Alangkah bagusnya hewan-hewan ini!! Imam Malik berkata: Ini hadiah untuk mu. Saya berkata: Tidak … ini untuk mu saja, bisa dipakai sebagai tunggangan sehari hari. Imam Malik menjawab: Saya malu kepada Allah berjalan di tanah Nabi shallallahu alaihi wasallam ini ( kota Madinah) dengan telapak kuda.
Dalam kisah ini Imam Syafii tidak berkata kepada Imam Malik: Engkau mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam melebihi sahabatnya. Sementara mereka mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam tapi tetap berkendaraan kuda. Apakah mereka semua lupa sementara engkau ingat?? (- انظر ترتيب المدارك 2-53 )

3. Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata:

Saya pernah mendengar Ibnu Taimiyah berkata: Siapa yg membiasakan dzikir : يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت setiap hari 40 kali antara qabliyah subuh dan shalat subuh maka Allah subhanahu wata’ala akan hidupkan hatinya.
Imam Ibnu Taimiyah melakukan sesuatu yg tidak ada riwayat dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, juga tidak sahabatnya. Kenapa kita tidak pernah mendengar kicauan mereka yg mengingkarinya?? Kenapa mereka tidak berkata: Kalau sekira itu suatu kebaikan tentu didahului Rasulullah dan para sahabat melakukannya? Apakah mereka lupa sementara kalian ingat?( – انظر مدارج السالكين 3-264).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ulama yg selalu menjadi rujukan “kelompok yang membid’ahkan Maulid Nabi” dalam kitabnya : اقتضاء الصراط المستقيم مخالفة اصحاب الجحيم juz’ 2 halaman 126 menganjurkan perayaan Maulid Nabi. Bagi siapa yg melakukannya dengan niat mengagungkan Rasulullah SAW insyaallah dapat pahala yg besar.
Kenapa mereka tidak mengatakan Syaikhul Islam sebagai pelaku bid’ah??
Sebagaimana mereka membid’ahkan yg Maulid?
Saya coba artikan nash yang tertera di kitab اقتضاء:

 

“Maka merayakan Maulid Nabi dan menjadikannya kegiatan rutin tahunan, dilakukan sebagian kalangan. Insyaallah mendatangkan pahala besar karena baik niat dan maksudnya, apalagi karena mengagungkan Rasulullah SAW. Sebagaimana yang telah saya katakan bahwa maulidan adalah amalan yg baik bagi sebagian kalangan.”
Ibnu Taimiyah menganjurkan perayaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sependapat dengan para ulama besar lainnya dari kalangan ahli hadits.

IMAM IBNU HAJAR AL-HAITAMI: BID’AH HASANAH DI SEPAKATI ATAS KESUNNAHANNYA.

Telah berkata Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitamy As Syafi’i: ” Wal Hasil sesungguhnya bid’ah hasanah di sepakati atas kesunnahannya, dan begitu juga mengerjakan maulid Nabi dan berkumpulnya manusia dalam majlis : Ay Bid’atun Hasanatun = Nadbuha.

Kesimpulan: Imam Ibnu Hajar Al Haitamy mengambil kesepakatan (Muttafaq) bahwasanya bid’ah hasanah itu posisinya seperti Sunnah Manduubun (Sunnah yang di anjurkan), sama halnya dengan perayaan maulid Nabi dan berkumpulnya manusia adalah termasuk perbuatan yang terpuji.

Sumber:
~ Kitab “Al Mausu’ah Al Yusufiyyah Hal: 139 Lil Allamah Al Imam As Syaikh Khattar Yusuf Muhammad
~ Kitab ” Nafasur Rahman fiima Li Ahbabillaah min Uluwwi As Sya’n” Hal 107.

Source: M. Hanafi Ahmad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s